Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
27


__ADS_3

Rezi tersenyum saat mendengar ucapan Evgen. Ia menggelengkan kepalanya dan duduk di kursinya.


"Enggak, Dek. Kakak gak patah hati," jawab Rezi lembut.


'Hanya saja, Kakak kecewa sama diri Kakak sendiri. Kakak terlalu lemah untuk mempertahankan rasa ini,' sambung Rezi dalam hati.


Evgen memanyunkan bibirnya dan mengangguk pasrah. Ia sama sekali tidak percaya oleh ucapan Rezi. Jelas beberapa hari ini, Rezi selalu bertingkah aneh.


"Yah, terserah Kakak saja," ucap Evgen lembut.


"Kak, aku memang masih remaja dan gak mengerti cinta. Tetapi yang aku tahu, Papa selalu bilang, jangan pernah berhenti untuk memperjuangkan sesuatu yang membuat kamu bahagia," Evgen tersenyum dan menepuk bahu Rezi lembut.


"Kak, selamat berjuang ya," ledek Evgen dengan memainkan kedua alis matanya.


Rezi melepaskan senyumnya dan mengangguk dengan pelan. Melihat punggung badan Evgen yang semakin tinggi besar melewati badanya.


"Kakak pasti akan berjuang, Dek," ucap Rezi lembut


***


Neha langsung membalikam badannya saat ia melihat Rezi berada didepan halaman rumahnya.


"Neha, tunggu!" Tahan Rezi cepat.


"Neha, tunggu. Aku mohon jangan seperti ini," ucap Rezi lembut.


Neha melepaskan pegangan tangan Rezi dan mengetik layar ponselnya dengan cepat.


(Rezi aku mohon, tinggalkan aku. Jangan dekati aku lagi.)


"Kenapa? aku hanya jatuh cinta sama kamu, Neha. Kenapa kamu malah ngusir aku begini?" Tanya Rezi lemas.


Neha memberikan setangkai bunga dan mendorong badan besar Rezi keluar dari pekarangan rumahnya.


Rezi hanya bisa menghela nafasnya dan berjalan menjauh dari perkarangan rumah Neha.


Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Neha memberikan bunga tulip berwarna kuning ini untuknya.


Rezi menaikan ranselnya dan berjalan dengan gontai menyusuri jalanan setapak didepan rumah sederhana Neha.


Berjalan tanpa arah, dan tanpa tujuan yang jelas. Sampai akhirnya Rezi berhenti di sebuah halte bis, ia duduk dan hanya terus memandangi setangkai tulip kuning ditangannya itu.


Sampai hari siang berganti sore, tanpa sengaja Shenina melihat Rezi yang sedang duduk termenung di halte bis tempat ia biasa menunggu bis.


Shenina tersenyum dengan lebar dan berlari dengan kencang. Menyusuli lelaki yang sempat ia rindukan beberapa waktu ini.


"Mas Rezi," panggil Shenina lembut.


Rezi mengalihkan pandanganya, ia terkejut melihat Shenina lengkap dengan seragam SMA.


"Shenina, kamu ... Masih SMA?" Tanya Rezi tak percaya.


"Iya, kenapa Mas?"


"Gak apa-apa, kirain kamu itu mahasiswi."


Shenina tersenyum dan ikut duduk disebelah Rezi. Ia menghela nafasnya dan menatap karah jalanan.


"Kenapa? memang wajah aku setua itu ya Mas?" tanya Shenina lembut.

__ADS_1


"Bukan, bukan begitu maksud aku," jawab Rezi cepat.


"Jadi?"


"Jarang ada anak SMA yang mau kerja part time, jadi aku sedikit terkejut saja,"


Shenina tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. Ia teralih pada bunga yang dipegang oleh Rezi.


Sebenarnya ia penasaran, namun ia tak berani untuk menanyakan.


"Mas Rezi kenapa bisa ada disini?" Tanya Shenina kembali.


"Iya, habis pulang dari rumah teman,"  jawab Rezi lembut.


"Oh," Shenina melirik kearah jam tangannya, masih ada waktu sebelum temu janji ia dengan Evgen.


"Mas,"


"Iya."


"Aku punya hutang kan sama Mas,"


Rezi memutar bola matanya, berusaha mengingat-ingat.


"Hutang apa?" tanya Rezi lembut.


"Hutang untuk traktir Mas kopi," jawab Shenina lembut.


"Oh, itu. Lupakan saja, aku juga gak berharap kok,"


'Tapi aku berharap Mas,' lirih Shenina dalam hati.


Shenina memanyunkan bibirnya dan menghela nafasnya sedikit kecewa.


"Yah, aku bosan juga sih. Bagaimana jika kita minum es, tapi biar aku yang traktir," ajak Rezi lembut.


Shenina melepaskan senyumnya dan mengangguk dengan cepat.


Mereka berjalan menyusuri trotoar, mencari es yang terjual di bibir jalan raya.


Rezi memesan dua cangkir es dan duduk bersebelahan dengan Shenina. Menatap padatnya jalanan ibukota saat sore hari.


Sementara Shenina, tidak bisa melepaskan pandangannya dari Rezi. Sedari tadi ia terus memandangi wajah manis Rezi. Seperti tidak ingin kehilangan setiap detik dari waktunya yang ia habiskan dengan Rezi.


"Shenina,"


"Iya,"


"Ngomong-ngomong kamu sekarang kelas berapa?"


"Kelas 12, Mas."


"Hem, sebentar lagi lulusan ya?"


"Iya."


"Tapi kenapa masih part time? gimana kalau sekolahmu gak maksimal?" Tanya Rezi lembut.


"Kalau aku gak part time, nanti Seta bagaimana, Mas? saat ini, Seta hanya mengandalkan aku," jawab Shenina lembut.

__ADS_1


Rezi mengalihkan matanya kearah Shenina, ia tersenyum tipis dan meraih pipi Shenina.


"Hey, jangan sedih. Gak apa-apa, setidaknya masih ada Seta disisimu," hibur Rezi lembut.


Rezi menundukan pandangannya, tangannya terus megelus pipi Shenina tanpa ia sadari.


'Setidaknya kamu tidak sendiri, seperti Neha, tapi walaupun sendiri, Neha selalu saja sok kuat," lirih Rezi dalam hati.


Rezi menghela nafasnya dengan sedikit berat, ia tak sadar jika jarinya masih mengelus pipi Shenina dengan lembut.


Disisi lain, Shenina mulai salah tingkah tidak jelas, wajahnya terus merona merah karena sentuhan hangat tangan Rezi.


Jantungnya mulai bertabuh secepat mungkin, ia tidak pernah membayangkan, bahwa Rezi akan bersikap selembut ini padanya.


"Mas," panggil Shenina lembut.


"Hem," jawab Rezi mengalihkan perhatiannya.


"Kenapa ngelus pipi aku terus?"


Seketika Rezi menarik jari tangannya.


"Eh, maaf. Aku lagi gak fokus," ucap Rezi panik.


"He he, gak apa-apa, Mas." Jawab Shenina tersipu malu.


Sejenak suasana menjadi hening, Shenina hanya tersenyum sambil mencuri-curi pandangan kearah Rezi.


Tetapi Rezi, masih terfokus oleh bunga tulip kuning yang ada ditangannya.


"Mas kok bawa-bawa bunga sih? buat siapa?" Tanya Shenina, yang akhirnya tidak tahan menahan rasa penasarannya.


"Oh, ini dari teman," jawab Rezi lembut.


"Ehm, dari teman. Kok cuma setangkai?"


"Iya, aku juga masih bingung, kenapa cuma setangkai tulip kuning?" Ucap Rezi sambil memandangi tulip di tangannya.


"Tunggu sebentar ya, Mas."


Shenina mengeluarkan ponselnya dan mencari arti dari makna bunga yang saat ini sedang di pegang oleh Rezi.


"Hem, sepertinya teman Mas beruntung bisa mengenal Mas," ucap Shenina lembut.


"Kok, gitu?"


"Iya, arti bunga tulip kuning adalah persahabatan yang erat,"


"Benarkah?"


Seketika wajah Rezi berubah ceria, ia memandangi bunga tulip itu dengan binar bahagia. Ia masih memiliki kesempatan untuk dekat oleh Neha.


"Tapi kalau bunga itu dari pacar atau orang yang lagi Mas taksir, agak berbeda artinya," sambung Shenina lembut.


"Eh, apa artinya?" Tanya Rezi penasaran.


"Itu, artinya penolakan cinta Mas terhadap dia," ucap Shenina lembut.


Seperti ada petir yang menyambar hati Rezi, rasa sakitnya begitu sesak menghimpit dadanya. Tanpa sadar Rezi menjatuhkan tangkai bunga itu, ia sangat terkejut oleh perkataan Shenina.

__ADS_1


Neha gadis lembut dan baik hati itu, ternyata punya cara sendiri menolak hati dan cinta orang lain. Tidak menggunakan kata-kata, tapi dengan makna dari sebuah bunga yang Rezi sama sekali tidak menyadari.


'Neha, inikah pilihanmu?'


__ADS_2