Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 82


__ADS_3

Sean menyerahkan beberapa dokumen ke atas meja Rayen. Dengan cepat Rayen membuka dokumen itu, sedikit terkejut dengan laporan yang di bawa oleh Sean.


"Orang yang paling Papa percaya, adalah dalang di balik ini semua." ucap Sean datar.


"Tapi bagaimana bisa? dia orang yang sudah Papa anggap seperti saudara sendiri."


"Papa percaya atau enggak, tapi dari awal dia memang ingin menjebak kita. Memanfaatkan retaknya hubungan aku dan Papa untuk menyerang Papa dari dalam."


Huh, Rayen menghela nafasnya, ia memegang dahinya yang terasa begitu sakit menghadapi kenyataan ini. Matanya menatap Sean dengan sangat lekat.


Sean, putra sulungnya ini memang sangat luar biasa hebat. Menghilang beberapa waktu dan kembali dengan hasil yang akurat dan lengkap. Walaupun gebrakan yang ia buat terlalu bahaya, terlalu ekstrim mengambil resiko.


Namun itulah yang membuat lawan terkecoh, semakin ekstrim tindakan yang ia buat, maka semakin besar kemenangan berada di tangannya. Tak pernah takut untuk kalah, langkahnya selalu pasti dan tak pernah ragu-ragu.


"Bos, maaf." Farrel membuka pintu ruangan Presdir dengan sedikit tergesa.


"Ada apa, Farrel?" tanya Sean kaget.


"Gawat Bos, Bos suruh saya mengirim Deny untuk mengawasi Nona kecil. Tapi saat Deny sampai di apartemen Nona kecil sudah gak ada Bos. Kamar Bos kosong dan resepsionis bilang Nona kecil memang belum ada pulang, Bos."


"Apa?!" tanya Sean kaget. "Bagaimana bisa, gue sendiri yang antar dia ke apartemen."


"Saya sudah cek cctv di lobi, Bos. Nona kecil pergi dengan seorang wanita yang membawa bayi, lalu belum kembali."


Sean memeggang sudut dahinya, apalagi ini?


"Lacak ponsel, Megi." perintah Sean ketus.


"Ponsel Nona Megi sepertinya di hack, gps nya terhenti, Bos."


Sean bangkit dan mengacak rambutnya. Ia memegang dahinya, mengusap wajahnya kasar.


Ting ...


Notifikasi pesan masuk kedalam ponsel Sean. Dengan malas Sean membuka pesannya, sebuah pesan terkirim dari nomor Megi. Sean menaiki sebelah alis matanya saat melihat foto yang terkirim kedalam gawainya.


"Arrggh..." Sean menumbuk sisi dinding beton ruangan Rayen.


"Dasar pengecut, lagi-lagi gunakan perempuan buat ngancem gue." ucap Sean membara.


"Deny, cari dimanapun keberadaan Megi secepatnya. Gue gak mau tahu, gunakan segala cara untuk menemukan dia." perintah Sean tegas.


"Farrel, siapkan beberapa berkas. Kita akan berkunjung."


"Baik, Bos." ucap Farrel berlalu pergi.


Sementara gretakan rahang Sean terdengar. Rasa sakit di ruas jemarinya yang pecah tak lagi bisa ia rasakan.


"Kali ini Papa gak boleh bantah, Papa ikuti cara aku." ucap Sean membara.


"Sean, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rayen khawatir.


"Apa yang aku lakukan, akan menjadi mimpi terburuk buat mereka."


"Sean, tenanglah." ucap Rayen menenangkan.

__ADS_1


"Aku gak akan bisa tenang, Pa. Karena mereka telah bermain pada ranah yang salah. Apapun yang menyangkut Megi, mereka akan membayar dengan harga yang tertinggi." ucap Sean membara, wajahnya memadam. Amarahnya kembali berkobar sempurna.


"Lihat saja, akan ku buat mereka menyesal bahkan sampai di kehidupan yang selanjutnya."


Sean menggepalkan kedua jemari tangannya. Rahangnya mengatup dengan keras. Wajahnya memerah madam, amarah yang telah lama terpendam kembali membara.


Dengan langkah cepat ia meninggalkan kantor utama.


***


Braakkk


Kaki panjang Sean menunjang daun pintu, membuka pintu selebarnya. Mata Sean menatap tajam ke lelaki paruh baya yang berada di balik meja.


"Sean, selamat datang. Ada angin apa yang membuat Tuan Muda sepertimu berkunjung kesini?" tanya lelaki di balik meja Presdir itu dengan senyum ramah.


"Gak usah banyak drama, katakan apa yang elu inginkan dari gue?" tanya Sean langsung.


"Jangan terburu-buru, ayo duduk dan minum dahulu." jawab lelaki paruh baya itu dengan senyum menyunging, penuh makna.


"Dasar pengecut, selalu gunakan perempuan untuk menekan gue. Jangan banyak basa basi, karena gue gak sudi terlalu lama berhadapan dengan elu."


Lelaki paruh baya itu tersenyum dengan penuh makna. Mengubah posisi duduknya menjadi tegak.


"Ternyata gadis kecil itu punya tempat spesial di hatimu, Sean. Saya gak menyangka secepat ini reaksimu." ucap lelaki itu dengan senyum kemenangan.


"Cepat katakan apa yang elu inginkan dari gue, dan lepaskan wanita gue!" ancam Sean kasar. Matanya memandang lelaki paruh baya itu dengan sangat tajam.


"Ayo kita bicarakan bisnis dengan tenang Sean. Duduklah dulu, aku akan bilang bagaimana permainannya."


Sean tak lagi menjawab, ia tak bergeming dari tempat berdirinya. Hanya menatap tajam tanpa suara.


"Cepat katakan!" teriak Sean lantang.


"Huh, sabarlah anak muda. Jangan terlalu menggunakan amarahmu itu. Itu gak bagus."


"Baiklah cukup, Farrel kita membuang waktu disini." Sean berbalik dan ingin melangkah pergi.


"Kenapa terburu-buru? apa kamu tak ingin melihat keadaan gadismu itu dulu?"


Langkah kaki Sean terhenti, ia kembali membalikan badannya dan menggebrak meja di hadapannya. Mencengkram kerah kemeja lelaki paruh baya itu.


"Kalau elu gak mau katakan saat ini juga, lu akan gue bakar di alun-alun kota!" ancam Sean kasar.


"Sabarlah Sean, bagaimana jika kita bicara dengan santai. Duduklah, aku akan jelaskan."


Sean menghempaskan cengkraman tangannya dan duduk berhadapan dengan lelaki paruh baya itu.


Lelaki paruh baya itu mengendurkan kancing kemejanya dan merapikan kerahnya yang berantakan karena cengkraman tangan Sean.


"Bagaimana jika wanita di tukar dengan saham?" tawar lelaki paruh baya itu.


"Berapa banyak yang elu mau? tapi bawa wanita itu kesini?"


"Huh, jangan terburu-buru Sean. Biarkan wanitamu menikmati liburan sebentar."

__ADS_1


"Cepat katakan atau mulut lu akan gue ledakin sekarang juga!" bentak Sean kasar.


"Baiklah, baiklah. Aku mau seluruh saham yang telah kamu kumpulkan beberapa hari belakangan ini."


"Hanya itu?" tanya Sean.


"Iya, semua saham yang berada di tanganmu saat ini dan juga seluruh saham di perusahaan Rayen menjadi atas namaku? bagaimana?"


"Dasar rubah tua licik, bawa Megi kesini dan akan gue berikan yang elu mau."


"Saham nya dulu, baru wanitanya!"


"Hem," Sean menyungging bibirnya sebelah. "Elu sedang berhadapan dengan gue, jangan lupa, apa elu pikir gue akan percaya? elu terlalu memandang tinggi diri elu sendiri." jawab Sean datar.


"Sean, kamu memang sangat pintar, karena itu dulu saya juga sangat ingin menjadikan kamu menantu saya. Tapi sayang, kepintaranmu itu di satukan dengan sifat kebrutalanmu. Bahkan Hana saja tak mampu mengendalikanmu."


"Gue, juga tak sudi memilik mertua seperti elu. Seorang pengecut!"


"Ya terserah kamu, saat ini yang memegang permainan adalah aku. Jika kamu tak menurut maka gadis itu akan menjadi korban."


Sejenak Sean terdiam, matanya menatap lawannya dengan sangat tajam. Sementara lelaki yang sedang berhadapan dengan Sean saat ini hanya tersenyum.


"Ya lakukan saja. Lagian seharusnya elu mengerti kenapa gue meninggalkan Hana dulu?" ucap Sean sambil merenggangkan badannya.


"Gue gak suka di sentuh. Maka jika elu cukup pintar, seharusnya elu tahu. Jika gadis itu tersentuh sedikit saja, maka dia tak berguna apa-apa lagi buat gue." Sean menyungging sebelah bibirnya, mengedipkan sebelah matanya lalu membalikan badannya.


"Farrel, bawa kembali dokumen kita. Sayang, saat ini tawaran mereka masih tidak menggiurkan." ucap Sean melangkahkan kakinya.


"Sean tunggu!"


Sean hanya melambaikan tangannya tanpa membalikan badanya.


"Sean kamu akan menyesal, karena gadis itu tak akan pernah aku lepas!" teriak lelaki itu lantang.


Dengan cepat Sean berjalan meningglkan kantor itu. Tak peduli pada ancaman lelaki itu. Bukan tak takut, tapi jika dia menyerahkan saham perusahaan Rayen, maka Rayen akan ikut terseret masalah ini.


"Farrel, apa Deny belum menemukan dimana Megi?"


"Belum, Bos."


Sean memejamkan matanya, ia menyandarkan kepalanya ke jok belakang mobil. Menutupi matanya dengan tangkupan tangannya.


"Bos, kenapa Bos malah pergi, bagaimana jika dia melukai Nona kecil, Bos?" tanya Farrel sambli melihat Sean dari spion mobilnya.


"Adrian itu licik Farrel, jika kita masuk ke perangkap dia, maka kita akan hancur tak bersisa." jawab Sean lemas.


"Tapi bukankah dokumen ini juga jebakan Bos? kenapa gak Bos berikan saja?"


"Megi gak ada disini, saat kita memberikan dokumen itu, maka Megi juga akan di bawa pergi olehnya. Megi akan di jadikan bahan negosiasi bisnis, seperti anaknya. Gue gak bisa biarkan itu, Farrel. Karena saat ini yang dia inginkan bukan sahamnya, tapi kehancuran gue."


"Tapi Bos jika kita melawan apa Nona kecil gak kenapa-kenapa, Bos?"


"Sementara ini dia akan baik-baik saja. Apa yang gue katakan cukup untuk menekan dia beberapa hari. Tapi temukan Megi secepatnya, kalau terlalu lama, maka Megi juga akan menderita."


Sekilas bayangan Megi melintas di pikiran Sean. Senyum gadis kecil yang manis itu, segala kekonyolan dan juga canda tawanya yang masih terbayang di pikiran Sean saat ini. Pasti saat ini Megi sedang menangis dan ketakutan, pasti saat ini dia sedang di tekan dan di siksa.

__ADS_1


Sean tersenyum pahit, dan menggeleng. Ia mengusap wajahnya kasar.


"Dasar gadis bodoh, kenapa gak pernah nurut kata gue. Kenapa selalu saja buat gue hilang kendali dan putus asa begini?"


__ADS_2