Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 101


__ADS_3

Sedari pagi Megi menyibukan dirinya di dapur. Menyiapkan sarapan untuk dua lelaki kesayangannya yang masih main di atas.


"Meg, lagi buat apa?" tanya Irena yang baru datang dan duduk di meja makan.


"Lagi buat bom." jawab Megi ketus.


"Lu mah sekarang gitu, semenjak nikah jutek banget." jawab Irena melas.


"Tante cantik." langkah kaki kecil Soraya datang mendekat.


"Hey, anak gadis Tante yang cantik." jawab Megi dengan mengelus pucuk kepala Soraya yang datang memeluk badan Megi.


"Ayo duduk sini, Tante siapin sarapan buat keponakan Tante yang paling cantik." Megi menarik sebuah kursi di meja makan dan mengangkat tubuh mungil Soraya untuk duduk.


"Sekalian masak buat gue dan kakak lu juga ya?" ucap Irena dengan menyengir kuda.


"Aku udah tahu kalau kakak pagi-pagi kesini pasti mau nitip masakan, iya kan. Males banget jadi perempuan, aku jadi khawatir bagaimana gizi kak Mika kalau begini." jawab Megi jutek.


"Ya ampun Megi, lihat dong perut gue lagi besar begini. Lu pikir mudah ngurus Aya saat hamil besar begini?"


Megi hanya menggeleng pasrah, tak akan ada habisnya jika berdebat dengan Irena. Selalu ada jawaban yang keluar dari dalam bibirnya itu.


Cepat tangan Megi memotong dan juga memasak makanan dengan lihai. Seperti terbiasa menyiapkan makanan untuk beberapa orang.


"Satu ... Dua ... Tiga ... Lari ..." suara teriakan dan langkah kaki berlari terdengar menuruni anak tangga.


Sean dan Rezi turun dengan bercanda dari lantai atas. Saat ini, kehidupan yang di jalani Sean sangat berbeda dengan lima tahun yang lalu.


Lebih banyak bercanda dan bermain bersama putra semata wayangnya.


"Eh Rezi lihat, ada cewek cantik di meja makan. Ayo main sana." Sean menuruni Rezi dari atas pundaknya.


Rezi langsung berlari memeluk badan Megi yang sedang memasak di dapur.


"Aku mau sama Tante cantik aja." peluk Rezi erat di pinggang Megi.


"Iya, nanti main sama Mama, sekarang Mama masak dulu ya." bujuk Megi lembut.


"Enggak mau!" sanggah Rezi mengeratkan pelukannya.


"Eh Rezi dengar Mama, duduk dulu disini sama Aya, nanti kamu kena minyak panas."


"Enggak!"


Megi menghela nafasnya dan melirik kearah Sean yang sedang santai melipat roti di meja makan.


"Aish, Kak." panggil Megi kesal.


"Rezi ayo duduk sini sama Papa." perintah Sean datar.


"Enggak!" Rezi semakin mengeratkan pelukannya.


"Ish di ambil dong!" bentak Megi kesal.


"Iya, iya." dengan malas Sean bangkit dan menarik Rezi menjauh.


Sean menarik paksa Rezi untuk menjauh dari Megi. Dengan menangis Rezi memukuli badan Sean dengan membabi buta.


"Sedih amat nasib lu Sean, bersaing rebutan Megi sama anak sendiri." ledek Irena saat melihat Sean yang kelimpungan mendiamkan Rezi.


"Sssttt ... Ssstttt." ucap Sean sedikit kesal. "Jangan ganggu pawang singa lagi masak, nanti kamu di makan singa mau?" tanya Sean garang.


"Ha ha ha. Untung saingan lu masih bocah Sean, kalau dia udah dewasa kalah elu sama dia."


"Lu pikir Sean Putra kaleng-kaleng apa? mau bocah ataupun dewasa gak ada yang bisa nyaingi gue."


Tangan mungil Rezi kembali memukuli badan Sean dengan membabi buta. Kesal oleh sikap Sean yang terus berebut Megi dengannya.


"Haish ... Diam." bentak Sean.

__ADS_1


"Ha ha ha. Untung anak lu ganteng Sean, muka dia bisa buat Megi jatuh cinta." jawab Irena memanasi.


"Cih ... Gak seganteng gue juga. Masih kalah ganteng dia kalau bersaing sama gue."


"Ha ha ha. Gila, pede banget lu jadi laki. Geli gue."


"Halah, banyak gaya lu Irena, padahal dulu lu juga terpesona sama gue kan." Sean memainkan kedua alis matanya, meledek Irena yang berada di depannya.


"Enggak yah, pede gila lu." jawab Irena kesal.


"Kalau gak ada Mika gue yakin lu kejar-kejar gue, yakin gue." jawab Sean angkuh.


Dengan cepat tangan Irena mengambil buah apel di atas meja makan. Melemparkan kearah Sean, karena kesal.


Cepat tangan Sean menangkap apel yang di lemparkan Irena kearahnya. Menggigit apel itu seperti orang tak bersalah.


"Thank's ya." ucap Sean santai dengan memakan apel yang lemparkan Irena.


"Laki lu bener-bener, Meg. Bisa buat orang emosi pagi-pagi."


"Siapa suruh kakak ngomong sama dia?" jawab Megi santai.


"Papa." Rezi kembali menggeliatkan badannya yang berada di dalam dekapan Sean.


Mencoba untuk turun dari atas pangkuan Sean.


"Hey, Rezi. Diam." ucap Sean kesal.


Di tengah pertengkaran Sean dan anaknya, terdengar suara ketukan daun pintu belakang rumahnya. Dengan sedikit malas Sean membuka daun pintu rumahnya.


"Mika."


"Ada Irena sama Aya di dalam?" tanya Mika langsung.


"Tuh." tunjuk Sean dengan dagunya.


Dengan sedikit kesal Mika berjalan mendekati Irena yang sedang duduk santai di meja makan Sean.


"Apa sih kak, pagi-pagi udah ribut aja. Ayo duduk, kita makan." ucap Megi sambil meletakan piring-piring lauk makanan di atas meja.


"Gak usah Megi, kami pulang saja. Ayo Aya." tarik Mika pada anak perempuannya.


"Kayak sama siapa saja sih kak? ayo duduk, aku udah masak banyak." bujuk Megi lembut.


"Sudahlah Mika, lagian kita kan keluarga, kenapa sungkan sih?" ucap Sean kembali duduj di kursinya.


"Jangan kebiasaan Irena, Megi sudah punya keluarganya sendiri." ucap Mika menarik kursi yang berhadapan dengan Sean.


"Iya, Mas." jawab Irena lembut.


Selama makan berlangsung, suasana di meja makan menjadi ricuh dan gaduh. Soraya dan Rezi berebut perhatian Megi, sementara Sean masih santai melahap makanan dalam piringnya. Tak peduli pada kegaduhan yang di ciptakan oleh putra semata wayangnya.


"Lu ada rencana apa setelah ini, Mika?" tanya Sean membuka percakapan.


"Belum tahu, sih. Ya kirim lamaran aja dulu." jawab Mika santai.


"Lu mau balik berlayar? bini lu kan mau melahirkan, anak lu mau dua."


"Jadi mau gimana?"


"Lu bantuin gue di perusahaan mau  gak? lagian gue juga kewalahan ngurus perusahaan sendirian."


"Kalau gue gabung sama perusahaan elu, kira-kira anak sama bini gue di pertaruhkan keselamatannya, gak?" tanya Mika dengan memainkan kedua alis matanya.


"Sialan lu, gue udah gak bekerja gitu lagi. Gue juga punya anak yang harus gue lindungi." jawab Sean datar.


"Tapi elu kan tahu, gue kan gak betah kerja di balik layar. Bosen!"


"Kalau gitu lu jadi tukang pukul perusahaan gue aja. Gue banyak lowongan."

__ADS_1


"Sialan lu, Sean."


Sean memecahkan tawanya dan menggeleng pasrah. Setelah bertahun-tahun pun hubungannya dengan Mika masih sangat dekat. Bahkan ikatan antara ia dan Megi tak membuat hubungan Sean dan Mika menjadi canggung.


Sementara Megi hanya tersenyum bahagia saat melihat Mika dan Sean yang begitu akrab. Matanya memandang kosong kedua lelaki yang sedang bercanda di meja makan itu.


Andai ada satu lelaki lagi di tengah mereka berdua. Pasti kebahagiaan ini terasa lebih lengkap. Tanpa sadar air mata melintasi pipi Megi, ada rasa yang kurang saat ini.


"Kamu kenapa nangis, dek?" tanya Mika yang menyadari air mata Megi tumpah.


Dengan cepat Megi menghapus buliran air matanya. Menarik ingusnya yang sempat keluar karena air matanya.


"Aku gak apa-apa, kak." jawab Megi menyeka kedua matanya.


"Rezi buat lu kesal ya?" tanya Sean kembali.


Megi hanya menggelengkan kepalanya, ia memaksakan senyum dari bibirnya.


"Gak apa-apa, kenapa nangis?" tanya Sean kembali.


"Aku cuma berpikir, kalau saat ini kak Mirza ada di tengah kita, pasti suasananya juga lebih berbeda." jawab Megi sendu.


Sementara Mika dan Sean hanya saling melemparkan pandangannya. Sean menarik gelas airnya dan meneguknya sedikit untuk mendorong sisa makanan yang terganjal di tenggorokannya.


"Mirza juga pasti baik-baik saja saat ini, Megi. Jangan khawatir." ucap Mika menenangkan.


"Tapi aku rindu Kak. Aku rindu kak Mirza, bagaimana juga dia masih keluarga kita."


"Tapi Mirza yang ingin pergi, kakak udah berusaha mencari kan. Jadi biarkan sajalah."


"Kakak masih marah sama kak Mirza?" tanya Megi hati-hati.


"Bukan marah, kakak hanya kecewa." jawab Mika melemah.


"Tapi kan kak Mirza udah berubah, kak. Kak Mirza udah menyesali perbuatannya."


"Kita gak tahu Megi. Kita gak lihat perubahanannya, jadi biarkan saja dia mencari jalannya."


"Tapi aku yakin kak Mirza pasti udah berubah, Kak. Setelah aku membuka mata, aku gak pernah lihat kak Mirza lagi. Udah bertahun-tahun, apa kak Mirza baik-baik saja?"


"Kenapa kamu harus peduli? Mirza gak pernah peduli sama hidup kamu Megi. Jangan lupa, karena dia kamu menjalani hidup yang sulit, Dek." ucap Mika menekan.


"Kak Mirza udah nyelamati hidup aku, Kak. Aku yakin kak Mirza pasti sayang sama aku. Bagaimana juga, kak Mirza tetap kakak aku. Adik kakak kan?"


"Kakak kamu cuma aku. Mika, yang lain gak ada." jawab Mika ketus.


"Tapi kak ..."


"Megi." putus Sean langsung.


Megi melemparkan pandangannya kearah Sean. Sean menggelengkan kepalanya, saat ini raut wajah Mika telah berubah memerah, masih ada rasa marah yang tersimpan dalam dirinya.


Bagaimana juga Mika dan Mirza pernah terlibat pertengkaran yang hebat. Tak mudah juga Mika berjuang sampai titik saat ini, apa yang di perjuangkan Mika bukanlah hal yang mudah.


"Kalau mau cari, cari saja sendiri. Jangan ajak kakak berdamai dengannya!" Mika bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh dari ruang makan.


Di ikuti oleh Irena dan juga putri kecilnya.


Megi menghela nafasnya, ia memegang sudut dahinya. Ternyata Mika masih menyimpan bara yang belum padam selama ini.


"Megi." Sean berjalan mendekati Megi, meraih pucuk kepala Megi lembut.


"Apa yang harus aku lakukan kak?" tanya Megi bingung.


"Biarkan saja, Mika akan tenang dengan sendirinya."


"Aku gak nyangka kak Mika masih menyimpan dendam sama kak Mirza."


"Perjuangan Mika itu gak mudah Megi, kamu harus memahami, Mika hanya butuh waktu untuk memaafkan."

__ADS_1


"Ikatan diantara kami sudah tidak memiliki penghubung kak. Jika bukan kami yang menyatukan, maka selamanya aku dan kak Mirza akan terpisah." Megi melingkari pinggang Sean dengan erat.


Saat ini pun, masih ada beban yang belum terlepas dari pundaknya.


__ADS_2