
Sean menuangkan segelas air dan menyodorkan kehadapan Rezi. Secepat kilat, Rezi meneguk air itu sampai setengah.
Rezi memandang Evgen dan Sean secara bergantian.
"Rezi, kamu mau menikah? kok Papa gak tahu?" tanya Sean sinis.
"Eh, itu, Pa, aku, aku." Rezi melirik kearah Evgen, ia masih bingung mau berkata apa.
"Mana perempuannya? perkenalkan sama Papa," tekan Sean, lembut.
"Perempuan apanya? ya calon istrinya pasti virus pita ungu. Ha ha ha," tawa Evgen memecah.
"Evgen kamu yang benar?" tanya Sean malas.
"Pasti benar lah, Pa. Seperti kak Rezi peduli saja sama wanita? dia kan hanya tertarik sama virus dan jaringan saja."
Rezi menghela nafasnya, ia sedikit lega saat mengetahui Evgen hanya bercanda. Ia mengacak rambut Evgen dengan sedikit geram.
"Kamu ini, Dek. Jangan suka bercanda begitu," ucap Rezi geram.
"Oh, Papa pikir kamu beneran mau nikah. Papa harus lihat dulu calon kamu, cocok gak dia sama anak Papa yang hampir sempurna ini," ucap Sean lembut.
Rezi tersenyum kaku dan menganggukan kepalanya pasrah. Mendengar ucapan Sean, membuat ia lemah. Bagaimana jika Sean mengetahui keadaan Neha yang seperti itu.
***
Rezi mendorong troli dengan sedikit melamun. Sementara Evgen malah asyik memilih buah sambil berceloteh gembira.
Beberapa kali Rezi menghela nafasnya karena merasa terbebani oleh perkataan Sean tadi.
"Kak," panggil Evgen lembut.
"Kak!" teriak Evgen kembali.
"Hah? kenapa?" tanya Rezi kembali sadar.
"Kakak kenapa sih? apa Kakak beneran mau nikah sama virus pita ungu?"
"Hah? pita ungu siapa?"
Evgen tersenyum lembut dan menggandeng bahu Rezi.
"Kak, Kakak beneran mau nikah ya?" tanya Evgen menggoda.
"Eh ... nikah sama siapa?" tanya Rezi terkejut.
"Ya mana aku tahu? coba ceritakan padaku, bagaimana sih rupa virus pita ungu itu?" tanya Evgen sambil memainkan kedua alis matanya.
"Virus pita ungu apanya? sudah cepat pilihkan sayurnya, Kakak masih harus ke kampus untuk mengurus persiapan sebelum libur semester."
Rezi menghempaskan tangan Evgen dan berjalan sambil mendorong troli menjauh dari Evgen.
Evgen hanya mengerdikan bahunya, ia tak peduli pada pribadi Rezi. Asalkan Rezi jangan mendekati Shenina lagi. Apapun terserah mau lakukan apa.
Evgen bersiul sambil menggoyangkan kakinya, ia sesekali melirik jam yang ada ditangannya. Menunggu Shenina yang ia suruh datang tiba-tiba.
__ADS_1
Shenina datang dengan berlari kencang, ia membungkukkan badannya sambil mengambil nafas yang memburu.
"Kenapa elu nyuruh gue kesini?" tanya Shenina ketus.
"Nih buat elu." Evgen memberikan sekantung belanjaan ketangan Shenina.
"Kenapa? elu mau nyuruh gue masak?"
"Kalau elu bersedia, gimana kalau malam ini kita dinner di rumah elu?"
"Enggak ah, gue malas masak," ucap Shenina malas.
"Jangan malas-malas, elu kan bakalan jadi calon bini gue." Evgen mencubit ujung hidung Shenina lembut.
"Apa? gue gak salah dengar? elu? gue? nikah?" Shenina menggelengkan kepalanya dengan pasrah.
"Ogah!" sanggah Shenina kesal.
"Kenapa? apa gue gak cukup baik buat elu? atau sebenarnya lelaki itu, yang masih elu harapkan?" tanya Evgen lembut.
Shenina menundukan pandangannya, ia merasa kaku menjalani kisah ini dengan Evgen. Disatu sisi ia nyaman jika berada di samping Evgen, tapi di sisi lain ia masih berharap bahwa Rezi akan memandangnya.
"Bukan begitu, Evgen. Gue ...,"
"Hah ... baiklah. Bagaimana jika kita dinner di restoran hotel milik Papa gue?" tanya Evgen memutuskan kalimat Shenina.
"Enggak ah, gue gak enak sama Tuan Sean, nanti Tuan Sean pikir gue ini deketi elu hanya karena mau nikmati fasilitas elu," jawab Shenina sungkan.
"Memang elu deketi gue untuk itu?" tanya Evgen datar.
"Kalau begitu kenapa harus pusing dengan pemikiran orang? Shen, apa yang kita lakukan mau baik atau buruk jika pemikiran orang itu dari awal sudah buruk ya buruk saja. Dia anggap elu sampah, mau elu bilang elu itu emas dia tetap akan anggap elu sampah. Jadi, buat apa elu pusingin pendapat orang lain? toh elu gak akan mati jika dia berpendapat buruk tentang elu," jawab Evgen datar.
"Memang gue, elu? yang sama sekali gak peduli sama image elu di sekolah? gue peduli sama hidup gue, Evgen."
"Kalau elu memang peduli sama hidup elu. Elu cukup buat bahagia diri elu sendiri, gak harus bahagia karena pendapat orang lain. Apa pandangan orang lain itu bisa buat elu bahagia?"
"Enggak sih, tapi omongan orang lain itu bisa buat kita terhina."
"Hina atau enggaknya diri elu itu, tergantung sama pribadi elu, Shen. Jika elu itu bukan sesuatu yang hina, mau elu dipandang buruk sekalipun. Elu akan tetap berharga," balas Evgen ketus.
"Elu ya elu, omongan mereka ya terserah mereka. Jangan berubah hanya karena mereka memandang diri elu buruk. Cukup pandang diri elu dan berusaha buat diri elu bahagia, sisanya itu urusan mereka," sambung Evgen datar.
"Dan satu lagi, Papa gue. Dia gak akan pernah memandang orang lain begitu, karena dia orang yang logis, dia akan memandang sesuatu itu dengan pikirannya, bukan dengan egonya," ucap Evgen lembut.
Shenina memanyunkan bibirnya dan menganggukan kepalanya. Benar juga apa yang diucapkan oleh Evgen. Sean memang terkenal pengusaha yang bijak dan juga tegas.
"Ya ya, tapi sebagai pacar gue boleh dong nolak keinginan elu. Kan gue bukan pembantu elu lagi."
"Kenapa? kok nolak? ayolah Shen, makan malam sama gue," pinta Evgen manja.
"Gue gak bisa Evgen, selama libur gue mau kerja lagi. Gue juga gak mau terima uang dari elu," jawab Shenina lembut.
"Tapi kenapa?"
"Evgen, elu belum kerja. Elu belum berpenghasilan. Duit yang elu kasih ke gue itu bukan nominal yang sedikit. Saat gue bukan lagi pembantu elu, gue gak bisa nerima uang elu lagi. Sayang Papa elu, bebannya bertambah karena gue," jawab Shenina lembut.
__ADS_1
"Hanya segitu, gue rasa Papa juga gak akan perhatian."
"Bagi elu hanya segitu. Buat gue? uang sebanyak itu, gue baru bisa dapeti setelah tiga bulan kerja, ayolah Evgen. Gue mohon lu ngerti ya," bujuk Shenina lembut.
Evgen menghela nafasnya, ia melirik kearah Shenina. Walaupun kesal, namun ia tidak bisa melawan. Ia tidak suka jika melihat kekasihnya itu kerja keras hanya untuk makan saja.
Tetapi Shenina benar, ia belum berpenghasilan. Jika hanya mengandalkan uang jajan, lama-lama Sean juga akan bertanya. Ia tidak mau di bilang lelaki pecundang.
"Baiklah, terus kapan gue bisa jumpa sama elu lagi?" tanya Evgen manja.
"Selama libur mungkin kita gak akan jumpa dulu, nanti kalau sudah masuk sekolah, kita bisa ketemu di sekolah."
"Yah ... kok gitu sih? gue gak mau! memang elu kerja dimana?" tanya Evgen ketus.
"Gue jualan es dipingir jalan dekat taman kota," jawab Shenina lembut.
"Kenapa harus jualan disana? nanti kalau elu digodain bagaimana?" tanya Evgen ketus.
Shenina tersenyum tipis saat mendengar ucapan Evgen. Ia memperhatikan wajah Evgen dengan lekat.
"Jangan bilang elu cemburu?"
"Siapa yang cemburu? lagian kalau gue cemburu, itu mana mungkin," jawab Evgen ketus.
Shenina kembali tersenyum saat mendengar ucapan Evgen. Hanya mengakui kalau dirinya cemburu, kenapa harus gengsi seperti itu?
"Baiklah kalau elu gak cemburu, gue berangkat kerja dulu ya. Sekalian ini kan hari weekend, pasti banyak cowok ganteng yang nongkrong di sana, lumayan buat cuci mata," goda Shenina.
"Memang gue gak cukup ganteng apa? ganjen banget?" tanya Evgen ketus.
Shenina memutar bola matanya dan menggaruk ujung dagu.
"Ganteng sih, tapi kan elu gak ada di sana. Jadi selama elu gak ada di dekat gue, boleh dong gue lirik-lirik dikit," ucap Shenina menggoda.
Evgen menelan salivanya saat mendengar ucapan Shenina. Benar juga, ini weekend, pasti taman kota akan ramai sekali.
Terus gadis ini, bisa saja menemukan lelaki yang seperti Rezi. Lalu jika sudah seperti itu, maka ia semakin tidak terlihat oleh Shenina.
"Tunggu dulu!" tahan Evgen cepat.
"Kenapa?" tanya Shenina ketus.
"Gue ikut, gue gak mau di sini sendiri," jawab Evgen ketus.
"Kenapa? takut? kan masih siang?"
"Gue bukannya takut, gue hanya ...," Evgen melirik kearah Shenina dan memainkan bibirnya.
Mana mungkin ia bilang kalau ia takut Shenina nanti tergoda oleh lelaki lain. Shenina pasti akan besar kepala dan menggoda terus-terusan.
"Kenapa kalau gue mau ikut? gak boleh? lagian hanya jualan es gerobak saja. Kalau gue mau, pabrik es pun bisa gue beli, ayo jalan!" perintah Evgen sedikit berteriak.
Shenina melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepala. Ia hanya berniat menggoda Evgen, tidak menyangka jika Evgen akan bersikap seperti ini.
"Dasar lelaki angkuh, hanya mengatakan gue cemburu saja, dia tidak mampu." Shenina menghela nafasnya, mengikuti langkah Evgen yang berjalan lebih dulu darinya.
__ADS_1