
"Ya Tuhan, Evgen!" Teriak Shenina terkejut.
Evgen hanya tersenyum dan duduk dengan santai.
"Jangan panik, kalau elu ada kotak p3k, bawa kesini dan juga gunting,"
Shenina langsung berlari kerumah tetangga, meminjam kotak p3k untuk Evgen. Tidak peduli saat ini sedang hujan deras, Shenina terus berlari.
Perasaan takut dan juga khawatir menghantui dirinya. Jika tahu Evgen terluka karena dia, mungkin orang tua Evgen akan menuntut dia.
Shenina memasuki rumahnya dengan cepat dan mengambil bantal. Menidurkan Evgen agar dia bisa mengobati luka di kepala Evgen secepatnya.
"Evgen, lu gak mau kerumah sakit saja?" gue takut elu kenapa-kenapa?"
"Cari saja lukanya, gunting sedikit rambut gue dan perban saja. Jangan repot-repot, gue gak akan gegar otak hanya karena plafon tua seperti itu,"
Shenina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bahkan saat terluka saja Evgen masih bisa bersikap sombong seperti itu.
Mungkin juga suatu saat nanti, ia akan mati dengan kesombongannya itu sendiri.
Sedikit gemetar, jemari Shenina mengunting rambut hitam Evgen. Shenina membersihkan lukanya dan meneteskan obat.
Memang kepala Evgen tidak terluka besar, tapi tetap saja Shenina khawatir karena lukanya berada dibagian belakang kepalanya.
Shenina membalut kepala Evgen dengan perban. Sementara Evgen sudah tertidur karena nyeri pada lukanya membuat kepalanya berdenyut.
Shenina membalikan kepala Evgen saat ia sudah selesai membalut kepala Evgen. Melihat wajah Evgen yang sedang tertidur.
Ada rasa bersalah yang menyelimuti hati Shenina saat melihat wajah Evgen tertidur seperti ini.
Padahal selama ini, mereka sering bertengkar dan berkata kasar. NamunĀ kenapa Evgen rela membahayakan nyawanya hanya demi Seta.
Shenina memperhatikan wajah Evgen yang sedang tertidur dengan sangat pulas. Meraih setiap jengkal kulit putih wajah Evgen.
Shenina tersenyum saat menyentuh ujung hidung mancung Evgen.
"Sebenarnya anak ini ganteng sekali saat dilihat dari dekat, tapi kalau dia bangun nyebelinnya luar biasa," lirih Shenina lembut.
"Evgen, gue pernah bilang kalau gue gak akan pernah anggap elu teman, tapi sekarang elu bukan hanya teman gue, tapi lebih dari itu, gue hanya mengatakan sekali saja, jadi lu harus ingat walaupun elu tidur saat ini."
***
Neha kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Sendiri mengurus kebun dan juga bunga.
Sudah beberapa hari setelah kejadian itu, Rezi tidak lagi menampakan sosoknya kembali.
__ADS_1
Neha berjalan kesisi kolam teratai yang dibuat oleh Rezi, beberapa bibit teratai itu mulai menampakan tanda-tanda kehidupan.
Neha tersenyum dan menyentuh permukaan air kolam itu. Ia rindu pada sosok Rezi. Tapi ia sadar, bahwa rasa rindunya saat ini hanyalah menyiksa batinnya.
Disisi lain, Rezi hanya termenung sendiri. Ia mengoyangkan badannya yang sedang duduk diatas sebuah ayunan.
Matanya menatap lurus kedepan, entah kenapa, ia masih belum menadapatkan jawaban antara cinta dan obsesi itu.
Namun jika mengingat Neha saat ini, hatinya terasa sangat nyeri. Ia telah menyakiti perasaan Neha, ia telah nekat mendekati Neha. Perasaan kecewa yang mendalam, itu yang membuat ia tersiksa.
Melihat keadaan Rezi yang seperti itu beberapa hari ini, membuat Soraya tidak tega.
Perlahan Soraya datang dan mendekati Rezi, duduk disebelah Rezi. Soraya menjatuhkan kepalanya dibahu Rezi.
Menenami Rezi dalam kesepian dan kesunyian dunianya.
Beberapa lama, mereka hanya diam. Seperti masuk pada dunianya masing-masing.
"Aya," panggil Rezi setelah lebih dari satu jam berdiam.
"Hem,"
"Kamu bisa gak bedakan cinta dan obsesi itu bagaimana?" Tanya Rezi lembut.
"Terus kalau obsesi?" Tanya Rezi kembali.
"Obsesi itu seperti keinginan kan, saat elu menginginkannya lebih besar dari apapun, itu artinya elu terobsesi padanya,"
"Apa cinta itu seperti kamu dan Ari? kamu tetap bertahan walaupun Ari sudah mengecewakanmu berkali-kali?" Tanya Rezi lembut.
Soraya terdiam sejenak, ia memandang wajah manis Rezi dengan jarak dekat.
'Cinta itu seperti perasaan gue ke elu, bodoh. Gue tetap menunggu walaupun gue gak tahu ini mungkin atau enggak,' lirih Soraya dalam hati.
Soraya tersenyum dan memandang kosong kedepan. Sebenarnya saat ini dadanya terasa sangat menyesak, ia sakit hati saat Rezi bisa seperti ini hanya karena terlalu cinta dengan seorang wanita.
"Sebenarnya yang memahami cinta itu Om Sean dan Tante Megi. Bahkan sampai dewasa pun, gue masih kagum sama perjalan cinta mereka, Rezi."
Soraya kembali tersenyum dan menelan salivanya yang terasa sangat pahit.
"Mereka pernah saling menyakiti, mereka juga pernah saling mengingkari, mereka pernah saling melepaskan dan juga meninggalkan satu sama lain. Bahkan mereka berdua saling membunuh perasaan yang pernah ada diantara mereka. Tapi pada akhirnya, takdir menyatukan mereka kembali, bahkan kehidupan mereka sangat damai sampai saat ini. Coba pikirkan, jika itu terjadi pada elu, bisakah elu menerima dan tetap mencintainya seperti semula?"
Soraya kembali menatap kearah Rezi dan tersenyum dengan lembut.
"Rezi, setiap orang mencintai dengan caranya sendiri. Jika elu mencintainya, mungkin elu akan memperlakukannya dengan cara elu juga. Tidak harus seperti orang lain, Rezi," ucap Soraya kembali.
__ADS_1
"Aya, pernahkah kamu sangat mencintai seseorang, tapi kamu tidak bisa meraihnya?"
"Pernah," jawab Aya langsung.
"Eh, sama siapa?" Tanya Rezi penasaran.
"Rahasia dong,"
"Sekarang kamu main rahasiaan sama aku ya?" Rangkul Rezi di bahu Soraya.
"Kenapa? memang elu saja yang bisa punya rahasia? elu saja tidak memberitahu gue siapa wanita itu?"
Rezi tersenyum dan mentoel ujung hidung Soraya. Rezi meletakan dagunya diatas bahu Soraya.
"Dia itu spesial Aya, dia itu sesuatu yang tidak pernah gue temui sebelumnya." Rezi tersenyum dan melihat kewajah Aya.
"Aya, jika elu gak bisa meraih cinta itu, apa elu akan menyerah dengan mudah?"
"Selama gue masih berdiri, harapan itu masih selalu ada. Gue punya cara gue sendiri untuk berjuang, Rezi," jawab Soraya lembut.
'Walaupun gue tahu, harapan itu adalah kebohongan yang gue ciptakan sendiri. Cara gue berjuang, adalah dengan menyembunyikan perasaan ini,' lirih Aya dalam hati.
Soraya menghela nafasnya dan bangkit perlahan.
"Gue sudah mulai ngantuk, gue masuk duluan ya," pamit Aya lembut.
Soraya berjalan dengan santai meninggalkan Rezi sendiri.
"Aya," panggil Rezi lembut.
Soraya memalingkan kepalanya, melihat kearah Rezi kembali.
"Lu bukan hanya sepupu aku, tapi juga sahabat terbaik buat aku. Terima kasih Soraya," ucap Rezi lembut.
Soraya hanya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya. Perlahan air matanya melintas di pipinya.
Kenapa sakit sekali rasanya saat mendengar ucapan Rezi yang hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Mau seperti apa dipalingkan, ia dan Rezi sama sekali tidak memiliki ikatan darah.
"Bertahun-tahun gue yang disamping elu, tapi elu malah jatuh cinta sama gadis yang elu temui, Rezi. Seandainya kita bukan sepupu, apakah elu akan melihat gue, seperti elu melihat wanita itu, Rezi?"
Soraya memejamkan matanya, meneteskan kembali air matanya. Dadanya terasa sangat sesak, sekeras apapun ia berusaha mempersiapkan hati untuk menyambut hari ini, ternyata luka yang terkoyak lebih dalam dari perkiraannya.
"Rezi, cinta ini tidak salah. Tapi posisi aku yang membuatnya dipandang sebagai sebuah kesalahan. Maaf Rezi, aku tidak sanggup menjadi sahabatmu lagi," lirih Soraya perih.
__ADS_1