Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
139


__ADS_3

"Evgen, bisa gak lu lepasin tangan gue dulu? Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Shenina yang mulai lelah mengikuti langkah besar Evgen.


"Kita mau ke temu Seta," jawab Evgen enteng.


"Emang elu tahu Seta di mana?" tanya Shenina kembali.


Evgen menghentikan langkahnya, melihat ke arah Shenina dan tersenyum malu. Ia meraih tengkuk lehernya dan mengelus lembut.


"Memang Seta ada di mana?" tanya Evgen malu.


Shenina melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau gak tahu, kenapa elu narik gue?" tanya Shenina lembut.


Evgen hanya menyeringai pasrah, kalah malu oleh Shenina.


"Seta ada di cafe Star, seharusnya cafe Star ada di arah yang berlawanan. Ayo kita kembali dan nunggu bis saja. Lagian hujannya juga masih agak deras," ucap Shenina lembut.


Evgen menganggukan kepalanya, mengikuti langkah Shenina yang lebih dulu berjalan di depannya.


Shenina menepuk kursi yang ada di sampingnya saat mereka berdua menaiki bis.


Gadis itu mulai mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Membuka lembaran itu dan mulai membacanya.


Perlahan bisikan kecil dari cewek-cewek yang ada di dalam bis itu mulai terdengar di telinga Shenina.


Ia memalingkan wajahnya, melihat Evgen yang duduk tenang di sampingnya.


Tak salah jika saat ini ia menjadi pusat perhatian. Wajah tampannya semakin terlihat mempesona saja, semakin ia dewasa wajahnya semakin terlihat manis.


Kulit putih dan mulus seperti salju. Bola mata cokelat seperti madu. Hidung mancung dan alis yang saling bertautan satu sama lain.


Shenina menghela napasnya dan melirik ke arah bangku sebelah, melihat dua orang gadis yang sedang berbisik sembari melihat ke arah Evgen.


"Evgen," panggil Shenina lembut.


"Hem."


"Soal omongan elu itu, elu serius?" tanya Shenina.


"Setelah ketemu Seta, elu tahu gue beneran serius atau hanya main-main."


"Maksud gue, kita baru ketemu. Apa elu gak mau pikiri lagi?" tanya Shenina kembali.


"Apa lagi yang harus gue pikiri?"


"Elu, yakin? Bisa saja gue ini, gak sebaik apa yang elu pikiri," ucap Shenina terus menatap ke arah dua gadis yang ada di kursi seberang.


Evgen melirik ke arah Shenina dan mengernyitkan dahinya. Ia mengalihkan pandangannya saat melihat mata gadis itu terfokus pada kursi seberang.


Evgen melihat dua gadis itu, di balas senyuman dan lambaian tangan dari gadis yang ada di sana.


"Ehem." Evgen berdehem pelan dan membetulkan posisi duduknya.


Membuka jaketnya, meninggalkan kaus ketat yang membentuk lekuk tegap badan lelaki itu. Evgen meletakan jaketnya di atas badan Shenina, menutupi badan mungil gadis itu dengan jaketnya.


"Udara di luar dingin. Jangan sampai istriku jatuh sakit karena kedinginan," ucap Evgen membesarkan suaranya.


"Hah?" Shenina langsung melihat Evgen, terkejut dengan ucapan lelaki itu.


Evgen tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.


"Hem," jawab Evgen lembut.


"Cih." Shenina tersenyum dan menggelengkan kepalanya, membuang pandangannya ke jendela.


Perlahan bibirnya mulai melengkung, dengan rona merah yang menghiasi kedua pipinya.

__ADS_1


Walaupun hanya sebuah kebohongan, tapi hatinya merasa sedikit lebih tenang. Evgen, telah berubah menjadi lebih peka.


Evgen mengulurkan tangannya saat menuruni tangga bus.


"Evgen, sudah gue bilang kita gak bisa bersentuhan," jawab Shenina sedikit kesal.


"I know. Tapi gue minta jaket gue. Lu rela kalau badan atlteis calon suami elu ini terus dipandangi gadis lain?" tanya Evgen angkuh.


Shenina menyunggingkan sebelah bibirnya dan menyerahkan jaket itu ke tangan Evgen.


"Ternyata elu masih sombong saja," ucap Shenina ketus.


"Bukan sombong, tapi elu juga gak rela kan kalau gue dilihati sama wanita lain?" Evgen menundukan badannya, menyamai wajah Shenina.


"Hem?" tanya Evgen memainkan kedua alis matanya.


Shenina hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan memasuki cafe tempat ia dan Seta berjanjian.


Sudah ada Seta yang menunggunya di sudut cafe.


"Seta, sudah lama?"


"Eh, Kak. Kamu sudah datang?" tanya Seta saat melihat Shenina datang mendekatinya.


Matanya langsung tertuju pada lelaki yang mengikuti Kakaknya itu.


"Elu ... bukannya teman Niki?" tanya Evgen saat melihat Seta.


Seta tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.


"Ayo duduk, aku tadi hanya pesan makanan untuk kak Shen. Kak Evgen mau makan apa?" tanya Seta basa-basi.


"Gak perlu, gue ke sini hanya mau bicara sama elu dan Shenina."


"Kalian sudah pernah ketemu sebelumnya?" tanya Shenina bingung.


"Pernah," jawab Seta dan Evgen serentak.


"Kakak ingat waktu aku kasih kabar soal reuni SMA kakak?" tanya Seta lembut.


"Iya."


"Ternyata kak Evgen ada di sana."


"Dan gue gak menyadari ternyata dia itu adik elu," sambung Evgen lembut.


"Yah ... wajar saja. Seta banyak berubah, gue saja kadang gak percaya kalau dia adik gue. Bahkan badannya saja jauh lebih besar dari gue," jawab Shenina mengacak rambut Seta, geram.


Seta hanya tersenyum dan meneguk gelas jusnya. Matanya masih memandangi wajah Evgen dengan lekat.


"Kamu ada apa? Katanya ada hal yang mau dikatakan sama Kakak?" tanya Shenina penasaran.


"Oh itu--" Seta kembali menatap wajah Evgen yang begitu tenang.


Mana mungkin dia bilang, kalau ia menyuruh Shenina karena ia jumpa dengan Evgen.


Seperti yang ia tahu, bahwa selama ini Shenina selalu menanti Evgen. Seta berniat untuk memberikan kabar, agar Shenina bisa bertemu dengan lelaki itu.


Tapi siapa sangka, kalau mereka bisa datang berdua ke sini. Kejutan yang lebih dulu disiapkan oleh Tuhan, siapa yang bisa menyangka?


"Seta," panggil Shenina lembut.


"Eh iya."


"Kenapa bengong?" tanya Shenina.


"Kakak kok bisa ke sini sama kak Evgen? Kakak janjian?"

__ADS_1


Shenina tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya.


"Janjian dari mana? Kakak gak sengaja ketemu sama Evgen. Waktu turun bis, tiba-tiba saja dia ada di sebelah Kakak."


"Dalam dunia ini gak ada yang namamya kebetulan, Shenina. Gak ada juga yang namanya tiba-tiba. Yang ada hanya renaca Tuhan. Gue percaya, bahwa hari ini pun terjadi karena Dia yang telah merencanakannya dengan sempurna," jelas Evgen sembari menatapi gadis manis yang berada berseberang meja dengannya.


Shenina kembali tersenyum, ia menundukan pandangannya. Evgen benar, semua sudah terencana dengan sempurna.


Perpisahannya, pertemuannya. Adalah sebuah rancangan yang menjadi kisah indah untuk mereka berdua saat ini.


"Seta," panggil Evgen lembut.


"Iya, Kak."


"Gue mau minta izin sama elu."


"Izin? Izin buat apa?" tanya Seta bingung.


Evgen bangun dari duduknya dan berjalan mendekati kursi Shenina.


"Izin untuk menikahi Kakak elu."


Evgen berlutut di bawah kursi Shenina. Merentangkan satu telapak tangannya, dengan menatap mata gadis itu lekat dan dalam.


"Shenina, maukah elu menerima gue kembali? Ikut berjalan bersama gue kemanapun gue pergi. Setulus hati, gue akan menyanyangi elu, sekuat tenaga gue akan menjaga elu."


Shenina hanya memandangi Evgen yang saat ini berlutut di bawah kursinya. Perlahan ia memalingkan wajahnya, melihat seluruh isi cafe yang tertuju pada dirinya.


"Evgen, elu berdiri dulu," bisik Shenina pelan.


"Shenina, berikan gue kesempatan untuk membuktikan perasaan gue ke elu. Gue tidak akan meninggalkan elu lagi, bahkan jika seluruh dunia dan seisinya diberikan ke gue. Gue gak akan pernah menukar elu dengan apapun."


Terdengar suara sorakan dari seluruh penghuni cafe. Shenina menutupi wajahnya yang mulai memerah padam.


Malu bercampur bahagia. Seharusnya Evgen tidak melamarnya di depan semua orang begini.


"Evgen, gue malu. Bisakah elu hentikan ini?"


"Kenapa harus malu? Gue gak akan malu berjuang untuk elu. Karena gue hanya ingin seluruh dunia tahu, kalau gue hanya akan berada di sisi elu, selamanya."


Suara sorakan dari seluruh penghuni cafe semakin terdengar riuh. Ada yang ikut bahagia dan juga iri melihat Shenina.


Dilamar oleh seorang pemuda tampan di depan semua orang. Mata mana yang tidak memandang iri kepadanya.


"Evgen, gue mohon. Gue malu banget," pinta Shenina lirih.


"Kalau begitu, ayo jawab permohonan gue," balas Evgen lembut.


"Permohonan apa?"


Evgen bangkit dari posisinya, mengambil satu tangkai bunga yang ada di meja cafe itu.


Membentuk batang lembut bunga itu menjadi sebuah lingkaran kecil. Menyerahkan lingkaran itu ke depan wajah Shenina.


"Shenina, gue mohon. Menikahlah dengan gue."


Shenina tersenyum dan menundukan pandangannya. Perlahan rona merah menghiasi kedua belah pipinya.


"Baik," jawab Shenina lembut.


Evgen menghela napasnya dengan lega. Ia tersenyum lebar, sampai kedua matanya menyipit.


Evgen menyentuh ujung bahu Shenina dan ingin menariknya ke dalam dekapan. Tetapi lebih dulu Seta menahan gerakan Evgen.


"Kak, tahan! Kalian baru akan menikah, belum menikah. Kak Shen harus istiqomah," ucap Seta menahan gerakan Evgen.


Evgen mengacak rambutnya dan kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


"Maaf," ucap Evgen malu.


"Aku menyetujuinya," balas Seta lembut.


__ADS_2