
"Megi." ucap Sean lirih.
"Kak Sean."
Sejenak mereka berdua terdiam, hanya saling pandang tanpa suara. Semilir angin membawa helaian rambut Megi terbang menutupi sebagian wajah Megi.
Reflek tangan Sean meraih helaian rambut Megi yang menutupi sebagian wajahnya. Tak suka jika pandangannya terhalang oleh helaian rambut Megi.
Sesaat Megi tersadar dan menundukan pandangannya. Merapikan kembali topi dan helaian rambutnya.
"Kakak kok disini?" tanya Megi memecahkan suasana.
"Liburan."
"Oh..." Megi mengangguk, matanya mencari seseorang di belakang Sean.
"Istri kakak mana?" tanyanya lagi.
"Gak ikut." jawab Sean spontan.
"Oh ... Ini lagi hujan, aku mau ke cafe. Mau ikut minum teh?" tanya Megi langsung.
"Gak usah, kami mau jalan lagi." tolak Sean langsung.
"Yaudah." jawab Megi sambil membalikan badannya.
Megi berjalan menjauh perlahan, meninggakan Sean di belakangnya.
Tetapi anak tadi kembali berlari mengejar Megi, dan memeluk badan Megi.
"Tante cantik ikut aku pulang ya." ucap Rezi sambil menempel di badan Megi.
Megi memalingkan wajahnya kebelakang, melihat Sean yang berdiri terpaut jarak lima meter darinya.
Sean hanya memandangnya pasrah, ia menghela nafas panjang dan menggaruk rambutnya yang kini tak lagi gondrong.
"Minum teh?" tanya Sean malu.
***
Megi memandang suasana luar yang masih hujan dari kaca cafe. Sudah beberapa menit, namun mereka berdua saling diam. Entah sejak kapan, suasana menjadi canggung antara mereka berdua.
Sean hanya memandang Megi yang berada di hadapannya. Gaya Megi sudah berbeda, kini rambut hitamnya tak lagi lurus seperti lima tahun yang lalu. Walau wajahnya tak berubah sama sekali.
"Bukannya elu ada di Beijing ya, Meg?" tanya Sean sambil memainkan jarinya di gelas teh miliknya.
"Enggak kak. Aku menetap di Shanghai." jawab Megi mengalihkan pandangannya. "Aku membuka perusahaan kecil di Shanghai." sambungnya lembut.
"Emh, Mika apa kabar?" tanya Sean basa basi.
"Baik." Megi menganggukan kepalanya dan meraih gelas tehnya.
"Baik sekali, malah. Sekarang kak Mika juga sudah punya anak, sebaya an dengan anak kakak, namanya Soraya."
"Oh," jawab Sean datar, Sean menatap Megi dengan mata tajamnya. "Terus ... Lu apa kabar?" sambungnya lembut.
"Aku..." Megi mengangguk perlahan. "Ya ... sangat baik." sambungnya dengan senyum getir.
__ADS_1
"Sekarang elu tinggal sama, Mika?"
"Enggak, aku tinggal sendiri di Shanghai, kak Mika masih di Beijing."
"Oh..." Sean membuang pandangannya ke sisi jendela. Melihat rintik hujan yang masih setia menghiasi langit indah Macau. Sean menyeruput tehnya perlahan.
"Istri kakak kenapa gak ikut?"
Sontak tangan Sean seperti bergetar, ia menumpahkan sedikit tehnya ke jaket tebal yang ia kenakan.
"Gak bisa ikut, lagi ada urusan." ucap Sean sedikit gugup.
Megi menaiki sebelah alis matanya, seperti ada yang aneh dari gelagat Sean. Megi memandangi wajah kecil lelaki di samping Sean. Walaupun tampan, anak lelaki itu sama sekali tak mirip dengan Sean. Megi malah melihat lelaki ini seperti orang lain.
"Anak kakak siapa namanya?" tanya Megi mengalihkan pembicaraan.
"Fachrezi." jawab Sean santai.
"Ganteng banget, lucu lagi." Megi mentoel pipi cubby Facrezi di depannya.
"Iyalah, mirip Papanya." jawab Sean angkuh. Ia tersenyum dan kembali meraih gelas tehnya.
"Kok aku lihat malah mirip Farrel ya, kak?" tanya Megi spontan.
Kembali Sean menumpahkan teh yang akan ia minum. Sean menatap Megi tajam, ia menaruh kembali gelas tehnya dan tidak jadi meminumnya.
"Lu mau bilang istri gue selingkuh sama Farrel?" tanya Sean ketus.
"Udah bertahun-tahun kak. Masih aja nge gas." ucap Megi menggeleng pasrah.
"Lu sendiri?" tanya Sean mengalihkan pembicaraan. "Belum nikah?" sambungnya lembut.
"Kak." panggil Megi lembut.
"Hem."
"Wǒ xiǎng nǐ." (Aku rindu kamu) ucap Megi lirih.
"Nà nǐ ne?" (Bagaimana dengan kamu) sambung Megi lembut.
"Ngomong apa sih? gue gak ngerti." jawab Sean datar.
Megi melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah. Sean pasti tak akan mengerti, namun ia terlalu takut untuk mengatakan dengan langsung. Sudah ada pembatas yang jelas di antara mereka berdua saat ini.
"Lu sendiri disini?" tanya Sean kembali.
"Jadi mau sama siapa?"
"Pacar atau suami." jawab Sean santai.
Megi tersenyum dan menghela nafasnya.
"Kan aku bilang aku belum menikah, kak."
"Oh iya."
"Lagian aku udah janji sama seseorang untuk mengejar impian aku dulu, Kak."
__ADS_1
"Sekarang udah tercapai?"
"Udah, tapi belum sempurna." Megi menatap wajah Sean yang saat ini sama sekali tak berubah, malah tampak lebih muda karena gaya rambut yang lebih keren.
"Gue minta nomor Mika dong, rindu."
Megi mencatat nomor ponsel Mika dalam sebuah tisu. Sean hanya memandang wajah Megi yang saat ini masih tak berubah, walaupun tampilannya lebih dewasa, namun makin cantik karena wajahnya semakin terlihat lebih kalem.
"Nih." Megi menyodorkan tisu dengan nomor Mika ke hadapan Sean.
Sean mengambilnya dengan cepat, tanpa sengaja tangan Sean menyentuh kulit tangan Megi. Megi mengalihkan pandangannya, menatap Sean yang wajahnya masih datar.
Ada getaran yang kembali hidup saat tangan Sean menyentuh tangannya. Namun Megi berusaha untuk meredam segalanya, saat ini semua tak lagi sama.
Sean melihat kearah luar, bibirnya tersenyum saat rintikan hujan mulai mereda.
"Hujan udah mulai reda, gue balik ya." pamit Sean.
"Oh iya, aku juga mau balik ke Shanghai."
"Kok cepet banget?"
"Iya, lagi banyak kerjaan di perusahaan. Aku kesini cuma karena ada tender."
"Kalau gitu, selamat jalan." Sean tersenyum dan mengangkat tubuh anaknya yang sudah tertidur.
Sean keluar dari cafe itu dengan menggendong anak lelakinya yang tertidur. Mengucapkan kata pisah dan berjalan saling terpisah. Sean menghela nafasnya dan berjalan menjauh dengan langkah besarnya.
Baru berjalan beberapa langkah, terdengar langkah kaki yang mendekati Sean dan putranya. Langkah kaki itu sedikit berlari. Megi menarik pergelangan tangan Sean dan mencium bibir Sean secara paksa.
Seketika dahi Sean mengernyit, matanya terbuka dengan sangat lebar. Terkejut oleh pergerakan Megi yang luar biasa di luar dugaannya.
Sean tak bisa mengelak karena saat ini ia sedang menggendong putranya.
Sesaat kemudian Megi melepaskan pegangannya pada pipi Sean.
"Gak waras lu, Megi." ucap Sean spontan. Wajah Sean memerah padam seketika.
"Kak, izinkan aku jadi ibu sambungnya." pinta Megi spontan.
Sean hanya terdiam, ia menggeleng bingung.
"Udah bertahun-tahun masih gak sembuh juga elu ya, Meg." ucap Sean ketus, dengan wajah yang semakin memerah karena menahan amarah.
"Kak aku serius. Izinkan aku jadi istri kakak lagi."
"Terus istri gue mau dikemanain?" tanya Sean ketus.
"Aku yakin kakak gak punya istri saat ini."
"Tau dari mana?"
"Kakak pikir bisa bohongi aku?"
"Udahlah, gue gak mau debat sama elu, gak ada habisnya." Sean berjalan kembali.
Kembali Megi menarik tangan Sean dan memutar badan Sean agar kembali berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Kali ini aku gak akan lepasi kakak lagi, gak akan!"