
Rezi memberikan segelas air kehadapan Evgen. Membiarkan Evgen untuk bisa lebih tenang, terlihat penyesalan Evgen setelah ia menyelesaikan ceritanya.
"Mama bahkan gak mau lihat aku, Kak. Mama gak pernah semarah ini saat aku merusak desain Mama sebelumnya."
Rezi tersenyum dan mengelus pundak Evgen.
"Kamu memang salah Dek. Sekesal apapun kamu sama wanita, kamu gak boleh pakai tangan. Papa paling gak suka lihat lelaki main tangan, lihat Papa yang keras begitu, apa pernah dia main tangan sama Mama? enggak kan?"
Evgen hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jadi aku harus gimana Kak?" tanya Evgen bingung
"Kamu minta maaf sama cewek itu dan juga sama Mama."
"Tapi aku lagi di skors, aku gak tahu juga rumah dia dimana."
"Yasudah, nanti saat masuk sekolah, kamu langsung minta maaf sama dia."
ucap Rezi lembut.
"Terus Mama bagaimana?"
"Ganti baju, terus ikut Kakak." perintah Rezi lembut.
Tak lagi banyak bertanya, Evgen langsung mengganti bajunya dan menemui Rezi yang sudah siap di mobilnya.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Evgen penasaran.
"Jemput Niki."
"Hah? cuma jemput Niki kenapa harus ajak aku?" tanya Evgen kesal.
"Sudah ikut saja."
Rezi hanya tersenyum dan melajukan mobilnya, menjemput Niki yang masih berada di kelas 6 SD.
Beberapa kali Evgen menghela nafasnya, bosen menunggu Niki yang belum juga keluar.
"Kak, memang Niki kapan keluar? kenapa lama sekali?" tanya Evgen tak sabar.
"Kamu ini, semakin besar semakin mirip sama Papa. Tunggu saja." ucap Rezi lembut.
Evgen kembali menyilangkan kedua tangannya didada. Membuang pandanganya keluar jendela. Bosan sekali kalau harus menunggu seperti ini.
Setelah lima belas menit menunggu, Niki keluar dari gerbang sekolahnya dan langsung menaiki mobil Rezi.
"Eh, kok ada kak Evgen?" tanya Niki bingung.
Biasanya jangankan untuk jemput, bahkan menemani Niki main saja Evgen ogah.
"Diam anak kecil, jangan berisik!"
"Evgen!" tekan Rezi lembut. "Jaga sikapmu sama adikmu. Jangan selalu ketus sama orang lain, apalagi itu keluargamu."
"Iya, iya, yasudah ayo kita pulang."
"Siapa bilang kita mau pulang?"
__ADS_1
"Jadi mau kemana lagi?" tanya Evgen tak suka.
"Sudah ikuti saja."
Rezi kembali melajukan mobilnya, tak berapa jauh dari sekolah Niki. Rezi memberhentikan mobilnya di barber shop yang berada di pusat pertokoan.
Mata Evgen langsung membulat saat melihat Rezi memarkirkan mobilnya di depan toko barber shop.
"Kakak mau potong rambut?" tanya Niki bingung.
"Iya, kak Evgen mau potong rambut." ucap Rezi dengan tersenyum
"Apa? aku? enggak, aku gak mau potong rambut." elak Evgen ketus.
"Evgen, mau sampai kapan kamu panjangi itu rambut. Mama sudah bolak balik di panggil ke sekolah karena ulahmu."
"Iya, aku gak akan buat ulah lagi, tapi aku gak mau potong rambut. Kakak gak bisa paksa aku." ucap Evgen ketus.
"Beberapa hari yang lalu, Mama pulang marah-marah karena kamu kabur dari barber shop. Kalau kamu mau Mama maafin kamu, potong rambut kamu."
Evgen menekuk wajahnya, ia menghela nafasnya dan menatap lekat ke kaca barber shop itu. Tak rela jika rambut gondrongnya di potong.
"Evgen." panggil Rezi lembut.
"Iya, iya." Evgen melepaskan seat beltnya dan jalan memasuki barber shop.
Walaupun sebenarnya ia malas sekali kalau harus mengubah tampilan gaya kerennya ini. Demi membujuk Megi, ia merelakan rambut indahnya terpotong pendek.
Setelah melihat Evgen masuk kedalam toko barber shop. Rezi dan Niki memasuki toko kue di jejeran yang sama dari toko barber shop itu.
Memilih kue yang menarik pandangannya.
"Stroberi Chese cake." jawab Niki cepat.
"Anak pintar." Rezi tersenyum dan mengelus lembut kepala Niki.
Rezi berjalan ke depan display dan memesan kue stroberi kesukaan Megi. Mata Rezi teralih pada toko bunga yang berada di depan toko kue itu.
"Niki, kakak mau cari bunga dulu di toko depan. Kamu tunggu sini dulu ya." ucap Rezi sambil menaikan badan Niki keatas kursi.
"Iya, kak."
"Kamu kalau mau makan kue pesan saja, nanti kakak kesini lagi, jangan nakal." ucap Rezi sambil mentoel ujung hidung Niki.
Rezi membuang pandangannya kesisi kanan sebelum ia menyeberangi jalanan. Begitu jalanan sepi, Rezi langsung berlari kedepan toko bunga itu.
Mencari bunga favorite Megi, mata Rezi menelisik satu persatu bunga di depannya. Tak lama keluar seorang wanita penjaga toko bunga tersebut.
"Cari bunga apa, Mas?" tanya wanita itu lembut.
"Bunga apa, ya?" Rezi memutar bola matanya, mengingat bunga apa yang pernah di belikan Papanya untuk Mamanya.
Tapi selama ini Sean hampir tidak pernah membawakan Megi bunga. Tapi sedikitpun Megi tak pernah mengungkit hal itu.
"Mawar, lily, garbera, daisy, atau ..."
"Piony." putus Rezi lembut.
__ADS_1
Wanita penjaga toko bunga itu tertawa saat mendengar ucapan Rezi.
"Piony gak ada Mas, mau mas cari di toko bunga seluruh kota juga gak bakalan ada." ucap cewek itu lembut.
"Kenapa?"
"Piony bukan bunga yang hidup di iklim seperti disini." ucap wanita itu lembut.
"Oh, tapi Mama saya sukanya bunga piony."
"Oh buat Mamanya ya? bagaimana jika bunga anyelir dan juga mawar, atau tulip juga bagus."
"Oh, bentar ya saya lihat-lihat dulu."
"Silahkan." penjaga toko wanita itu meninggalkan Rezi sendiri. Memberikan ruang untuk Rezi memilih bunganya sendiri.
Dari dalam toko seorang wanita yang lain keluar. Matanya menyipit saat melihat Rezi yang sedang asyik memilih bunga di depan toko.
Saat wajah Rezi menghadap kedalam, bibir wanita itu tersenyum dengan lebar. Mengenali wajah manis milik Rezi.
"Mbak, kasih saya bunga ini ya." tunjuk Rezi di jejeran bunga tulip berwarna pink.
"Boleh, ada yang lain lagi, Mas?" tanya penjaga wanita itu.
"Campur sama mawar bisa?" tanya Rezi kembali.
"Bisa, sebentar ya."
"Buat dalam buket besar ya Mbak."
"Iya, Mas."
Wanita itu membawa beberapa tangkai bunga yang di pilih Rezi. Sambil menunggu siapan buket bunganya. Rezi mengeluarkan ponselnya dan memainkannya sebentar.
(Evgen, kalau sudah siap potong rambut ke toko kue di sebelah ya, ada Niki disana.) dengan cepat Rezi mengirimkan pesan itu ke Evgen yang berada di seberang jalan.
Sebuah tangan menepuk bahu Rezi dari belakang, Rezi membalikan badannya dan melihat siapa pemilik tangan tersebut.
Seorang wanita dengan rambut yang panjang sebahu, tersenyum manis padanya.
Mata bulat dan juga hidung yang bangir, tampilan sempurna dari wajah seorang wanita.
Wanita itu menyodorkan sebuah kantungan kehadapan Rezi. Tetapi Rezi masih terdiam, ia terpesona oleh paras cantik wanita yang ada di hadapannya.
Bibirnya yang sedikit agak tebal, namun kecil. Sangat manis saat ia tersenyum dan menampilkan jejeran giginya.
Wanita itu menarik tangan Rezi dan memberikan kantungan itu ke tangan Rezi. Kembali tersenyum lalu pergi menyeberangi jalanan raya.
Rezi masih terus melihat gerakan gadis itu, Sampai akhirnya bayangan gadis itu menghilang setelah tertutup oleh bis yang melintas.
Rezi tersenyum dan membuka kantungan yang di berikan oleh wanita itu. Matanya membulat saat melihat sebuah payung dan kemeja miliknya.
Rezi berlari, menyeberangi jalanan dan mencari kembali wanita yang tadi. Namun wanita itu sudah berlalu dan menghilang.
Rezi mengambil nafasnya dan tersenyum pahit.
"Bodoh, kenapa aku gak sadar kalau dia wanita di tengah hujan saat senja kala itu." Rezi menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Ternyata, dia terlihat sangat cantik saat di pandang dari dekat." Rezi menggaruk kepalanya dengan kasar.
"Rezi, Rezi, kali ini kamu yang melewatkannya."