
Sean mengambil sebuah anggur di atas meja makan dan melambungnya keatas, menangkap langsung dengan mulutnya.
"Lu bisa gak?" tantang Sean dengan memainkan kedua alis matanya kepada Mika yang duduk di sampingnya.
"Bisa!" jawab Mika tak mau kalah.
Mika mengambil anggur itu dan melakukann hal yang sama dengan Sean. Mika menyilangkan kedua tangannya dan memainkan alis matanya, menantang Sean dengan mengunyah buah yang masuk kedalam mulutnya.
Sean dan Mika beradu, sama-sama melambungkan buah itu keatas, saat mau menangkap dengan mulutnya, kepala Sean dan Mika berbenturan.
"Aduh." Sean dan Mika berucap serentak.
Jedukk.
Mirza membenturkan kedua kepala kakaknya itu dengan sedikit kuat.
"Lu apa-apaan sih Mirza?" tanya Mika sambil mengelus samping kepalanya yang sakit.
"Gila adek lu itu, Mik." sambung Sean kesal.
"Kalau kejedut sekali harus di jedutin sekali lagi, biar Mama elu dan elu gak gempet." jelas Mirza senang.
"Gempet kepala lu? Mama gue sama Mama Mika kan sudah beda alam." ucap Sean kesal.
"Oh iya ya."
Jeduuuk.
Kembali Mirza membenturkan kepala Mika dan Sean.
"Aduh." ucap Mika dan Sean kembali serentak.
"Mirza lu cari mati sama gue ya." Mika menarik kera baju Mirza dan melilitkan tangannya di leher Mirza.
"Heh, Sean, lu jitakin kepala adik gak tahu diri ini sampai botak!" perintah Mika.
"Dengan senang hati." Sean mengepalkan tangannya dan menjitak kepala Mirza beberapa kali.
"Ampun, woy ... Ampun!" teriak Mirza lantang.
"Siapa suruh elu cari mati sama kami berdua? Ha ha ha." Sean tertawa dengan gembira
"Hais kalian bertiga ini, gak bisa apa bersikap seperti lelaki dewasa? seperti bocah TK saja." ucap Megi yang baru datang dengan semangkuk nasi di tangannya.
Mendengar ucapan Megi, Mika dan Sean kembali duduk dengan tenang di kursi meja makan, saling melirik satu sama lain.
"Ayo makan, sarapan sudah siap." ucap Rara sambil meletakan piring-piring lauk di atas meja hidangan.
"Kakak mau aku ambilin apa?"
"Aku mau ..." Mika dan Sean menjawab dengan serentak. Tak lama mereka berdua kembali terdiam, saling melemparkan pandangan.
"Begini, kalau sudah buat ulah, diem kayak bocah di marahi emaknya." ketus Megi, geram.
"Kak Mika, mau aku ambilin apa?"
"Yang itu saja, Dek." tunjuk Mika ke makanan di depannya.
__ADS_1
"Kak Sean?" tanya Megi ketus.
"Terserah kamu saja." jawab Sean menyeringai lebar.
"Kak Mirza?" tanya Megi mengalihkan pandangan matanya kearah Mirza yang duduk di depan Sean dan Mika.
"Gak usah, biar Rara saja yang ambilin."
"Gak apa-apa, biar aku saja?"
"Terserah kamu saja." jawab Mirza lembut.
Mirza menundukan pandangannya saat Megi meletakan piring makanannya di hadapan Mirza.
Ia merasa malu, tak ada hal baik yang pernah ia lakukan untuk Megi. Namun kenapa Megi masih mau melayani dia dengan sangat baik.
"Aya, Rezi! ayo sini makan!" teriak Megi lantang.
Langkah kaki kecil Rezi dan Aya datang berlari dan langsung memanjat kursi di meja makan.
"Papa aku mau itu," tunjuk Rezi ke deretan lauk sarapan mereka.
"Rezi duduk yang benar, biar Mama yang ambilin." Megi membenarkan posisi duduk Rezi dan meletakan piring makanan di depannya.
"Rezi makan yang benar, pawang singa lagi hamil besar emosinya juga besar, nanti kamu di telan sama dia?" bisik Sean di telinga Rezi.
"Kak Sean mau aku tambahi sambal?" tanya Megi garang.
"He he, gak perlu Sayang. Ini saja sudah cukup pedas kok." jawab Sean menyeringai.
"Mbak Rara tinggalin saja dulu itu, ayo makan sama-sama."
"Besar banget, ini berapa bulan?" tanya Megi menyentuh perut Rara.
"8 bulan lebih." jawab Rara lembut.
"Wah bentar lagi lahiran dong, udah beli perlengkapan bayinya?"
"Sudah, tapi masih setengahnya."
"Mau aku temeni beli sisanya?"
Rara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Nanti saja, lagian yang disini ada dua, jadi kebutuhannya juga lebih besar."
"Wah ... Bayi mbak Rara kembar?" tanya Megi tak percaya.
"Iya, kembar perempuan." jawab Mirza senang."
"Ya Tuhan, aku gak sabar nunggu si kembar ini keluar." Megi kembali mengelus perut Rara, bibirnya tersenyum dengan sumringah.
"Mirza." panggil Sean lembut.
"Hem."
"Lu netap disini kan? gimana kalau lu kerja di perusahaan gue?" tanya Sean lembut.
__ADS_1
"Jangan Za, dia pasti akan manfaatin elu untuk ngurus kegoyangan perusahaan dia. Jangan sampai elu seperti Kakak lu ini."
"Heh Mika, jangan ganggu bisnis gue ya. Mau lu, gue lempar ke perkumpulan mermaid di samudera hindia?"
"Sebelum lu lempar laki gue ke sana, gue jadiin lu umpan dugong dulu, mau?" tantang Irena garang.
"Cih ... Lu pikir gue takut? kita lihat saja, siapa yang lebih dulu terlempar disana!"
"Oke, kita buktikan!" balas Irena tak mau kalah.
Mirza menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Kembali menyuapi makanan kedalam mulutnya. Kemana saja ia selama ini? ia meninggalkan semua kehangatan ini demi sesuatu yang tak pernah ada artinya dalam hidup.
"Sudahlah Sean, gue masih harus kembali ke kampung. Ngurus kebun yang belum panen, lahiran anak gue sudah mau dekat."
"Sudah, lu warisi saja sama tetua desa disana. Sayang bakat elu gak terpakai."
"Dalam ngurusi tanaman bakat juga di perlukan, Sean."
"Nah bener itu kata Mirza, jangan kemakan sama jebakan dia, Za. Sean ini licik sekali." ucap Mika memanasi.
"Kalau lu bisa bantu gue mengembalikan perusahaan gue ke semula dalam waktu satu bulan, semua yang elu tinggalin di kampung, perlengkapan bayi dan biaya rumah sakit untuk lahiran, gue tanggung sepenuhnya."
"Jangan mau Mirza, itu tidak sesuai sama sekali." ucap Mika mengompori.
"Rumah yang di depan, ambil buat elu."
"Hanya sebuah rumah, di kampung elu juga sudah ada rumah kan?" ucap Mika meremehi.
"Mobil dan isi rumah gue akan penuhi semua fasilitas elu." ucap Sean membara.
"Oke deal." ucap Mika senang.
"Heh, gue nawari Mirza, bukan elu."
"Baiklah, gue mau bergabung. Tapi kalau dalam waktu sebulan gue bisa bawa perusahaan elu melambung, gue mau bonus yang lainnya juga."
"He he, ternyata elu masih serakah sama uang. Baiklah, gue terima." ucap Sean senang. "Tapi hari ini juga elu harus kerja!" perintah Sean kembali.
"Apa itu gak berlebihan ya? Mas Sean memberikan terlalu banyak." ucap Rara bingung.
"Hah, Sean itu memang gila." jawab Irena datar.
"Megi, itu semua gak perlu, begini saja sudah cukup kok." ucap Rara lembut.
"Biarkan saja, yang penting jika kita jadi gembel, kita akan jadi gembel bersama." balas Megi cuek.
"Mas Mirza." panggil Rara lembut.
"Gak apa-apa Ra, Sean ini bukan orang sembarangan. Dia pengusaha muda yang paling kejam lima tahun lalu, mana mungkin segitu saja bisa buat dia jadi gembel."
"Walaupun gue jadi gembel, gue akan jadi gembel terhormat." ucap Sean angkuh.
"Gak ada gembel terhormat Kakak, sudahlah, jangan bahas lagi tentang bisnis di meja makan. Aku bosan mendengarnya." celetuk Megi kesal.
"Dan kak Mika, pandai sekali mencari celah dari kesombongan suami aku."
"Ha ha ha, kakak cuma melempar umpan, siapa suruh dia langsung telan?" jawab Mika santai.
__ADS_1
Megi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya.
Mungkin saat mereka bertiga kembali bersama, juga akan banyak benturan yang tidak bisa di hindari.