
"Hem, Shen," panggil Evgen lembut.
"Iya."
"Terus kalau elu tahu kenyataannya, bagaimana elu akan bersikap sama dia selanjutnya?"
"Bagaimana apanya? Ya biasa sajalah," jawab Shenina lembut.
"Biasa saja, maksud elu?" tanya Evgen kembali.
"Evgen, kalau elu sayang sama seseorang apa butuh alasan untuk elu berbuat baik sama dia? Kalau elu sayang sama dia, kenapa harus elu permasalahi hubungan sedarah atau tidak? Dalam dunia ini Evgen, ada hubungan yang lebih erat dari sebuah hubungan darah saja."
"Apa?"
"Cinta," jawab Shenina dengan tersenyum.
"Kalau elu punya cinta, elu akan tahu bagaimana rasa sayang itu bisa melebihi saudara."
Shenina tersenyum dengan lembut, matanya menatap kosong kedepan. Mengingat beberapa hal yang menyenangkan dalam hidupnya.
"Evgen elu tahu gak, ada satu tempat di mana elu bisa lihat banyak cinta tanpa ikatan darah sama sekali," ucap Shenina kembali.
"Di mana?"
Shenina melirik ke arah Evgen dan tersenyum. Ia bangkit dan membereskan tasnya.
"Kalau elu mau tahu, besok pulang sekolah elu ikut gue ya. Gue akan kasih lihat sama elu, bahwa ada tempat dimana banyak sekali cinta namun tanpa ada hubungan darah."
Shenina tersenyum lembut dan berjalan menjauh, beberapa langkah berjalan, ia kembali berhenti dan melihat ke belakang.
Kembali angin berhembus dengan kencang, membawa sebagian helaian rambutnya terbang.
"Untuk sekarang ini, ayo kita pulang," ajak Shenina lembut.
Sejenak Evgen terdiam, ia masih terpesona oleh wajah manis Shenina yang tertutupi oleh sebagian helaian rambutnya.
Evgen tersenyum lembut dan mengikuti langkah kecil gadis itu.
Mungkin, bertemu dengan Shenina adalah hal berharga dalam hidupnya.
***
Evgen membuka pintu lemari esnya, menuang air es dari dalam botolnya. Perlahan Rezi mendekati Evgen, meperhatikan setiap gerakan adik tersayangnya itu.
"Dek," panggil Rezi lembut.
Evgen mengalihkan pandangan matanya, menatap Rezi yang sedang duduk di balik pantry dapur.
"Kenapa?" tanya Evgen ketus.
"Kakak ada salah ya sama kamu? Akhir-akhir ini, kamu berbeda, Dek. Kalau kakak ada salah, Kakak minta maaf ya, Evgen."
"Kakak gak salah apa-apa kok, aku hanya lelah karena banyak belajar untuk fokus ke ujian," jawab Evgen berkelit.
"Mau Kakak ajarin?"
"Gak perlu, aku bisa dan aku mampu," ucap Evgen meninggalkan Rezi sendiri.
Evgen berlari menaiki anak tangga rumahnya, ia menutup daun pintu kamarnya dan menempelkan punggung belakangnya pada daun pintu.
Evgen mengacak rambutnya dan terduduk lemas di depan pintu. Ia masih tidak bisa bersikap biasa saja dengan kenyataan yang sudah terbuka.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, namun Rezi sangat asing dalam hatinya saat ini. Rezi, bukan lagi Kakak yang ia kenal selama ini.
Sebenarnya bukan Rezi yang berubah, namun perasaan ia terhadap Rezi yang sudah berbeda, ia tidak bisa lagi mengangap Rezi saudaranya seperti biasa.
Evgen mengacak rambutnya dan menumbuk lantai keramik kamarnya. Ia kesal sendiri, saat ia tidak mampu mengendalikan perasaan dalam hatinya.
"Maaf Kak, maafin aku yang tidak bisa lagi bersikap seperti adikmu. Karena pada kenyataannya, kita bukanlah Kakak dan adik yang sebenarnya," lirih Evgen sendiri.
...
Shenina memberikan beberapa kantungan ketangan Evgen. Dengan sedikit malas Evgen menerima kantungan itu dan menyatukannya dengan kantungan yang lain.
"Heh, Shen. Elu mau masak besar apa? Belanja sebanyak ini?" tanya Evgen rewel.
"Iya, gue mau masak besar. Jadi elu cukup ikuti gue dan jangan rewel," ucap Shenina sedikit menekan.
"Dan jangan beli ayam warna-warni lagi," ancam Shenina ketus.
Evgen tertawa dan mendekatkan bibirnya ke telinga Shenina.
"Kalau bebek warna-warni boleh gak?" bisik Evgen lembut.
"Enggak! Kecuali domba warna-warni, boleh elu beli," jawab Shenina ketus.
"Domba Hago--permainan online-- kali, warna-warni," balas Evgen sewot.
Evgen kembali membenarkan letak kantungan plastik yang ada di dalam genggaman tangannya.
Walaupun ia tidak tahu maksud Shenina apa belanja sebanyak ini. Namun ia juga tidak banyak bertanya, karena ia tahu benar. Wanita itu tidak akan bertindak sembarangan.
Shenina membuka pintu rumahnya, seperti tidak lelah, ia kembali berkutat dengan barang belanjaannya di dapur. Menyiapkan beberapa masakan dari tangannya sendiri.
"Selesai, ayo bantu gue bungkus ini terus kita lanjut."
"Lanjut kemana?" tanya Evgen bingung.
"Sudah bungkus saja, jangan banyak tanya," perintah Shenina sambil merapikan masakannya.
Shenina melirik kearah jam di dinding dapurnya. Ia bergegas menyiapkan masakan itu sebelum jam makan malam berlangsung.
Secepat yang ia bisa, Shenina berlari kecil melewati jalanan kecil dari rumahnya.
Tak menempuh jarak yang terlalu jauh, Shenina memberhentikan langkahnya di rumah kayu sederhana. Beberapa anak kecil berhamburan dari dalam rumah saat menyadari Shenina datang.
"Kak Shen, Kakak bawa apa?" tanya beberapa gadis kecil itu riang.
"Hem, bawa apa ya? Bagaimana kalau kita periksa sama-sama di dalam?" tanya Shenina senang.
"Ayo, Kak. Ayo kita kedalam," sambut riuh para penghuni kecil rumah itu.
Sementara Evgen hanya terpaku di tempat ia berdiri. Ia tidak percaya, Shenina memasak sebanyak itu untuk mereka semua.
Evgen menatap lekat papan nama yang berdiri di depan rumah itu. Dengan besi yang mulai berkarat, bahkan sebagian nama yang tertera dalan papan itu sudah memudar.
Tetapi Evgen masih bisa membaca nama papan itu dengan jelas. Di sana tertulis panti asuhan Cahaya Bunda.
Evgen kembali menatap kearah rumah itu, melihat Shenina yang bisa begitu akrab berbaur dengan anak-anak itu tanpa ada rasa canggung dan juga risih.
Seorang gadis kecil menarik ujung sisi jaket Evgen. Evgen memalingkan pandangannya, melihat wajah polos gadis kecil berumur enam tahunan, mungkin.
Mata bulatnya menatap wajah Evgen dengan binar jernihnya. Tidak berkata apa-apa, namun dari sorot matanya, terlihat banyak kesedihan yang gadis kecil itu sembunyikan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Evgen berlutut di depan gadis kecil itu.
"Kakak, kenapa Kakak ganteng sekali, apa Kakak itu artis?" tanya gadis kecil itu polos.
Evgen melepaskan senyum pahitnya dan menggelengkan kepalanya. Ia mengangkat tubuh kecil itu untuk memasuki rumah sederhana tempat gadis kecil itu berteduh selama ini.
Evgen mengambil sebungkus nasi dan memberikan ketangan gadis kecil itu.
"Makan ini, Kak Shen memasak ini semua untuk kalian," ucap Evgen lembut.
Tangan mungilnya mulai membuka bungkusan nasi itu. Wajahnya langsung berseri saat melihat isi di dalam bungkusan itu.
Tangan mungilnya mulai menyuapi makanan itu kedalam mulutnya. Sekilas, matanya melirik kearah Evgen. Tersodor sebuah suapan nasi ke hadapan Evgen.
Sedikit enggan, Evgen membuka mulutnya dan menerima suapan tersebut. Mengunyah makanan itu dengan sedikit tersenyum.
Tangan Evgen mengelus pucuk kepala gadis itu. Entah apa maksud Shenina membawa ia kesini, namun melihat banyak anak kecil di sini, membuat perasaannya lebih membaik saat ini.
Evgen memasukan kedua tangannya kedalam saku jekatnya. Matanya menatap kearah Shenina yang asyik bermain dengan anak-anak di sana.
Sesekali suara jeritan Shenina terdengar saat ia larut dalam permainan.
Sampai matahari mulai berubah warna, meninggalkan kejinggaan di sudut sana. Sebagian anak panti tersebut mulai memasuki kamarnya dan terlelap dalam lelahnya.
Shenina menghela napasnya, ia tersenyum simpul saat melihat anak-anak itu tertidur satu persatu.
"Sejak kapan elu dekat sama mereka?" tanya Evgen lembut.
"Sejak gue dan Seta, kehilangan kedua orang tua gue," ucap Shenina tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kalian pernah tinggal di panti?"
Shenina menggelengkan kepalanya, ia tersenyum kecut dan berjalan keluar dari kamar anak-anak tersebut.
"Gue gak pernah tinggal di panti, tapi saat gue tinggal sendiri, gue banyak dapet bantuan dari panti. Mereka yang sering memperhatikan gue, menemai Seta bermain dan juga membagikan baju untuk kami."
Shenina kembali menghentikan langkahnya di salah satu kamar panti tersebut. Matanya kembali menatap kedalam kamar sempit dengan beberapa orang penghuni di dalamnya.
"Evgen elu pernah bertanya sama gue. Bagaimana kalau tak ada hubungan darah, apakah kita masih bisa menyanyangi?" Shenina menatap Evgen sekilas.
Lalu ia kembali pada sepasang anak yang sedang tidur saling berpelukan.
"Mereka semua disini, tidak ada yang terikat hubungan darah. Tapi mereka semua disini, sangat menyanyangi satu sama lain. Contohnya dia." Tunjuk Shenina ke bangsal sepasang anak yang sedang tertidur menuju lelapnya alam mimpi.
"Yang laki itu namanya Kenda, yang perempuan namanya Nea. Saat itu Nea masih berumur 2 tahun, ia di tinggalkan di depan panti, dan Kenda yang menemukannya."
Evgen mangalihkan pandangan matanya, menatap sepasang anak kecil yang sedang tertidur lelap.
"Karena Kenda yang menemukannya, Nea menjadikan Kenda sebagai Kakaknya, semenjak saat itu Nea tidak ingin berpisah dari Kenda, bahkan saat tidurpun ia harus memeluk Kenda."
Shenina tersenyum kecut, ia menundukan kepalanya. Menarik napasanya yang mulai terasa berat karena menahan tangis.
"Kadang di sini lucu, saat satu anak sakit. Maka yang lainnya bisa ikut sakit. Bukan tertular, tapi karena mereka saling terikat satu sama lain. Elu tahu kenapa panti ini terlalu kumuh?"
Shenina menatap wajah Evgen dengan genangan kaca melapisi netra matanya.
"Karena jarang ada donatur kesini, panti ini hanya berjalan dengan mengandalkan anak-anak yang sudah mereka rawat menjadi dewasa dan mulai bekerja. Mereka jarang sekali mau menerima surat ijin adopsi, karena jika ada yang pergi. Maka suasana panti ini akan menjadi bersedih. Mereka bisa menangis sampai berminggu lamanya, elu tau karena apa?"
Evgen hanya menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak tahu jika ada hubungan seperti itu dalam dunia ini.
"Karena perasaan mereka sangat kuat satu sama lain, mereka tidak mau terpisah oleh temannya. Padahal disini gak ada yang sedarah Evgen. Tapi kenapa mereka bisa sangat saling menyanangi dan mencintai? Itu semua, karena mereka memiliki rasa dan ketakutan yang sama. Mereka merasakan di campakan, dan mereka takut untuk ditinggalkan. Karena hanya alasan itu, mereka bisa saling menyanyangi satu sama lain. Hanya, karena alasan sesederhana itu, mereka menciptakan hubungan yang bahkan saudara kandung saja mungkin tidak seerat mereka."
__ADS_1