Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 70


__ADS_3

Megi menyilangkan kedua tangannya di depan dada, bibirnya mengerucut panjang. Sesekali ia melirik jam di tangan kanannya.


Sudah tiga puluh menit ia menunggu di depan toko camilan di dalam mall. Namun teman janjinya juga belum menampakan batang hidung mancungnya itu.


"Dasar lelaki bengis, singa jelek. Kapan sih aku bisa jadi prioritas buat dia!" umpat Megi kesal setengah mati.


Sementara di sudut toko, Sean menumpuhkan sebelah bahunya, tersenyum simpul mendengar ocehan Megi. Sudah lima belas menit dia tiba, tetapi menggoda Megi lebih membuat ia bahagia.


"Ih ..." Megi menghentakan kedua kakinya "Sebenarnya kak Sean itu niat gak sih ajak aku jalan. Lama banget sih."


Kembali tawa Sean pecah, menampilkan lesung di pipi kanan nya yang tak terlalu dalam. Lucu melihat Megi marah-marah begitu.


"Huft." Megi menghela nafasnya dan mengelus dadanya. " Sabar Megi sabar, kak Sean gak mungkin lupa. Cuma keasyikan ngobrol sama client aja." kembali Megi cemberut.


Sementara Sean sudah tertawa terpingkal melihat ulah Megi.


"Client mana yang mampu buat gue lupa sama elu, Megi. Elu gak sadar, saat ini elu adalah pusat perhatian gue." ucap Sean lirih.


Sean menyilangkan kedua tangannya di dada. Belum ada keinginan ia untuk menyudahi segala permainan ini. Biarkan saja, sampai mana Megi bertahan sendiri.


"Ih ... Aku gak tahan lagi. Aku harus telepon kak Sean." Megi merogo tas kecil yang ia pakai, namun tangannya terhenti sebelum ia sempat menelpon Sean.


"Nanti kalau kak Sean sedang sama investor gimana dong?" ucapnya lemas, Megi memutar bola matanya, menepuk-nepuk dagunya dengan ponsel yang ia pegang.


"Ih ... Gak tahu ah." Megi mengacak-acak rambutnya, melepaskan ikatan rambutnya dan membiarkan rambut hitamnya terurai indah.


Di sudut sini, Sean sudah tak kuat lagi menahan tawanya. Ia memegangi perutnya karena tawa yang tak mampu lagi ia hentikan. Sudut matanya mengeluarkan cairan bening karena geli melihat ulah Megi.


"Gak, gak. Aku harus telepon. Ia harus telepon, tapi kalau kak Sean marah gimana?" kembali ia menimbang-nimbang, harus berbuat apa.


"Ah biarkan saja, palingan kalau dia marah, nanti ngajakin liburan di Afrika, bareng singa-singa."


"Puft ... Ha ha ha." kembali tawa Sean meledak. "Pede banget elu bakalan gue ajakin liburan di Afrika, singa juga ogah lihat badan elu yang kecil kayak kuaci."


Belum selesai tertawa, ponsel Sean sudah bergetar. Di lirik nama yang tertera, Sean mengatur nafasnya den berdehem kecil sebelum ia mengangkat panggilan Megi.


"Kak!" teriak Megi spontan.


"Hem." Sean menjauhkan ponselnya seketika, karena suara Megi yang melengking luar biasa.


"Kakak dimana sih?"


"Di apartemen, kenapa?" jawab Sean berbohong.


"Apa? kenapa masih di apartemen?" tanya Megi mulai panas.

__ADS_1


"Jadi mau di mana? di Afrika, ups." Sean menutup mulutnya, ia hampir saja keceplosan.


"Kakak kan janji sama aku bakalan nemeni aku nyobain cupcake baru di toko kue yang launcing minggu lalu. Masak kakak lupa sih?" ucap Megi kesal.


"Kapan gue janji?" tanya Sean berbohong. Ia menahan nafasnya agar tak kembali tertawa melihat ekspresi Megi yang semakin lucu, karena menahan amarah.


"Ya ampun kakak, kok bisa lupa sih? yasudah cepetan kesini!"


"Gue gak bisa Meg, lain kali aja ya. Gue udah di tunggu sama investor dari Afrika." ucap Sean menggoda, namun Megi tak sadar juga.


"Terus aku sama siapa disini kak?"


"Yaudah sendiri aja bisa kan, sorry gue matiin dulu ya, udah di tunggu Farrel ini."


Tut ... Tut ... Tut....


Seketika Sean mematikan ponselnya, disini Megi kembali meradang. Ia mengenggam kuat ponselnya dan ingin membanting ke lantai, kesal setengah mati karena Sean yang ngebatalin janji.


Namun pergerakannya terhenti sebelum ponsel itu benar-benar ia banting ke lantai.


"Eh ... Jangan di banting deh, Sayang. Ada foto kak Sean." ucap Megi sambil mengelus permukaan ponsel.


Sementara Sean yang melihat di sudut sini kembali tertawa terpingkal-pingkal. Tak tahan lagi melihat ulah Megi yang semakin konyol.


Bersamaan dengan ponsel Megi kembali berdering, secepat kilat Megi menjawab saat melihat nama 'My Lion Husband' yang memanggilnya.


"Kenapa gak jadi banting ponselnya?" tanya Sean menahan tawa.


"Sayang ada foto kakak." jawab Megi polos.


"Eh ... Tunggu dulu." ucap Megi spontan.


"Kakak kok tahu aku mau banting ponsel?" tanya nya penasaran.


"Menurut lu?" jawab Sean datar.


Megi membuang pandangannya kesekeliling. Bibirnya tersenyum manis saat melihat lelaki yang ia tunggu sedang menyandarkan badannya santai di sudut toko.


Dengan kemeja hitam yang tak terkancing, celana jeans biru dengan sobekan dan rambut gondrongnya yang terikat sebagian. Berjalan mendekat kearahnya sambil mengenakan kacamata hitamnya kembali.


Bukan hanya Megi, namun sebagian cewek yang berada di sekitar juga memandang Sean dengan binar kagum. Di balik sikap kerasnya, Sean masih memiliki gaya yang luar biasa mempesona.


Sesaat Megi terpaku melihat Sean yang datang menghampirinya. Kapan pun itu, Sean selalu terlihat menggoda di matanya.


Sean menyingkap kacamata hitamnya saat berdiri di hadapan Megi, mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Megi yang masih terdiam terpaku memandangi dirinya.

__ADS_1


"Ih jahat!" Megi mencubit kulit perut Sean, sesaat setelah Sean berada di hadapannya.


"Uhhh." ucap Sean menahan sakit.


"Kakak sejak kapan ada disitu?"


"Sejak dua hari yang lalu." jawab Sean datar.


"Ih kakak kerjain aku!" Megi menghujani cubitan di kulit perut Sean.


"Wep." Sean mengambil kedua pergelangan tangan Megi. "Kalau nyuruh gue kesini cuma buat nyubitin perut berharga gue, pulang nih!" ancam Sean setengah bercanda.


"Iya, iya maaf. Habisnya kakak, suka banget ngerjain aku." ucap Megi sambil mengurucutkan bibirnya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Maaf, Sayang..." Sean menarik ujung hidung Megi.


"Ih ... Kakak lepas!" Megi memukul tangan Sean untuk melepaskan tarikan pada hidungnya.


"Ayo, jadi masuk gak?"


"Jadi dong." Megi mengambil lengan tangan Sean dan memeluknya erat. Berjalan menggandeng lengan kekar Sean dengan mesra.


Sesuai keinginan Megi, kali ini mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu. Mengukir kenangan indah berdua sebelum takdir membawa Megi pergi menjauh darinya.


Sean melipat kedua tangannya diatas Meja. Memperhatikan Megi yang sedang menikmati cupcake yang tertata rapi di meja.


Hampir semua jenis cupcake di pesan oleh Megi, entah mana yang harus ia makan lebih dulu. Karena tergoda oleh bentuk dan warna yang cantik nan imut, Megi memesan semua yang menarik di matanya.


"Wah ... Imut banget kan kak." ucap Megi dengan mata berbinarnya.


"Hem, imut."jawab Sean dengan menyungging sebelah bibirnya.


Ia tak mengerti apa yang dilihat wanita dari benda seperti itu. Kenapa hanya melihat makanan berbentuk karakter saja, sudah mampu membuat Megi begitu bahagia.


Sean meneguk soft drink yang ia pesan. Matanya menatap kesekeliling cafe, dengan sedikit berat, ia meneguk sisa minuman di dalam mulutnya.


"Meg, elu gak salah? disini perempuan semua. Cuma gue yang lelaki sendiri." tanya Sean ketus.


Sesaat Megi membuang pandangannya saat mendengar ucapan Sean. Ia melihat kesekeliling cafe, memang hanya Sean seorang yang lelaki disini.


Megi kembali menatap Sean yang saat ini berseberangan meja dengannya. Wajah Sean sudah memerah, sementara Megi hanya bisa tersenyum kuda. Menampakan sederat giginya yang sebagian sudah berubah warna karena krim cupcake yang ia makan.


Sean menghela nafasnya dan mengusap kasar wajahnya.


"Jangan main-main sama gue, Meg." ucapnya sengit.

__ADS_1


__ADS_2