
"Iya kan, Kak Mika minta kakak buat cerai sama aku?" tanya Megi sambil mengernyitkan dahinya.
Sean menghela nafasnya dan ikut duduk di samping Megi.
"Enggak Megi." jawab Sean lembut.
"Jangan bohong terus Kak. Jangan sembunyiin apapun lagi sama aku." genangan air mulai menghiasi mata Megi.
"Mika gak minta aku buat cerai sama kamu." ucap Sean lembut.
"Tapi, Mika akan bawa kamu dan anak kamu menjauh dari aku, saat bayi kita lahir."
Mata Megi menatap Sean dengan lekat, tak percaya jika Mika bisa mengatakan hal mengerihkan seperti itu.
Tanpa sadar air mata Megi melintasi pipinya. Bukan lagi terkejut, namun sakitnya langsung menusuk ke relung hatinya.
Megi mengambil nafasnya yang sedikit memburu, nafasnya sempat terhenti saat mendengar ucapan Sean.
"Enggak, kak Mika gak bisa lakuin ini sama aku, kak." ucap Megi panik.
"Aku gak akan biarin Mika pisahin kita, Sayang. Tenang saja, aku akan kembali bicara sama Mika saat perasaannya mulai membaik."
"Aku gak bisa nunggu ini lebih lama lagi, aku yang akan bicara sama kak Mika." dengan cepat Megi menyingkap selimutnya dan berlari keluar kamar.
Sean mengejar langkah kaki Megi, menarik tangan Megi yang berlari semakin jauh.
"Megi, dengar aku." ucap Sean lembut.
"Enggak, aku gak mau dengar kak. Aku mau bilang sendiri sama kak Mika."
"Megi, Mika itu orang yang sangat keras pada perbedaan. Mika itu jarang sekali marah, saat dia kecewa, di butuh waktu yang lebih lama untuk kembali waras. Selama itu, jika kita terus memaksanya ia hanya akan semakin meradang, Megi."
"Aku gak peduli, kak Mika gak berhak memutuskan pernikahan kita." Megi melepaskan cengkaraman tangan Sean dan berlari memasuki lift.
Saat pintu lift terbuka Megi langsung berlari keluar dari lobi.
"Megi!" panggil Sean mengejar langkah Megi yang kian menjauh.
"Bos." tahan Yohan saat Sean keluar dari lobi hotel.
"Ada apa Yohan?" tanya Sean ketus.
"Pertemuan beberapa client sore ini?"
"Handle saja, jika mereka memaksa untuk ketemu sama gue, ajak Lena untuk mengaturnya kembali minggu depan."
"Baik, Bos." jawab Yohan menurut.
"Jangan ada yang telepon gue sore ini sampai besok pagi, paham!" tekan Sean keras.
Sean langsung berlari menuju parkiran mobilnya. Mengejar taksi yang di naiki Megi.
Megi langsung membuka pintu rumah Mika dengan kasar saat ia datang.
"Kak Mika!" panggil Megi lantang.
"Kak Mika." kembali Megi memanggil sambil berjalan memasuki rumah Mika.
"Apa semenjak menikah dengan Sean sopan santunmu menghilang?" tanya Mika yang duduk santai di ruang baca.
__ADS_1
Megi menggelengkan kepalanya dan memandang wajah Mika dengan sedikit sinis.
"Apa maksud kak Mika bicara seperti itu sama kak Sean?" tanya Megi lembut.
"Apa suamimu sudah cerita?" tanya Mika datar. "Apa kamu yang memakasanya bercerita? kenapa lama sekali kamu baru bereaksi, Megi?" tanya Mika sinis.
"Megi." Sean mendekati Megi yang berdiri berhadapan dengan Mika.
Mika tersenyum saat melihat Sean yang baru muncul di hadapannya. Dengan peluh keringat yang membanjiri dahinya.
"Suamimu masih menyimpan semua masalahnya darimu kan?" tanya Mika menutup bukunya. "Itu artinya gak ada kejujuran dalam pernikahan kalian, Dek. Jadi lepaskan saja dia." Mika meletakan bukunya dengan sedikit membanting di atas meja.
"Kakak memang wali untuk aku, tapi kakak gak berhak untuk memutuskan ikatan di antara aku dan kak Sean. Aku yang menjalani Kak." ucap Megi sedikit berteriak.
"Terus apa kamu pikir, kakak mau membiarkan kamu menjalani hidup dengan orang yang berdarah sama dengan pembunuh kamu? hah?" tanya Mika ketus.
"Aku dan Rena saja sudah berdamai, Kak. Sudah tidak ada masalah di antara kami, itu hanya terjadi di masa lalu." jelas Megi lembut.
"Terus, jika sekali membunuh, apa di masa depan ada yang bisa menjamin dia tidak akan membunuh kamu?"
"Kak Mika, itu hanya salah paham. Kak Sean memasukan adiknya sendiri kepenjara untuk keadilan aku. Terus kakak mau apa lagi?"
"Kakak mau kamu tinggalin dia." jawab Mika ketus.
"Itu gak mungkin!" Megi menghempaskan semua buku yang berada di atas meja Mika dengan keras, membuat semua buku-buku Mika berserakan di lantai.
Megi menahan buruan nafasnya, menahan gejolak amarah yang berkobar dalam dirinya. Megi menatap Mika yang berseberangan meja dengannya, mata Megi memerah dengan lapisan bening di atasnya.
Sean menjatuhkan kembali badannya, berlutut di depan Mika.
"Gue akan menjamin jika Rena gak akan pernah melakukan itu lagi. Gue akan bertanggung jawab atas seluruh kesalahan keluarga gue. Tapi gue mohon jangan lakukan ini sama gue, Mika. Sakit banget saat elu menuduh adik gue seperti itu."
Siap untuk kembali menghantam wajah Sean yang masih tersisa lebam di beberapa bagian.
Dugh
Megi menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. Kembali berlutut di depan Mika.
"Jangan pukuli suami aku lagi, Kak." Megi menarik nafasnya yang kini mulai terasa sesak.
"Aku mohon, jangan sakiti suami aku." Megi menjatuhkan buliran air matanya. Tak sanggup melihat dua lelaki yang di sayanginya itu bertengkar kembali.
"Kamu memohon untuk dia, Dek?" Mika tersenyum getir dan berjalan menjauh dari Megi.
Megi mengikuti langkah Mika dengan berjalan menggunakan lututnya. Saat mendengar suara benturan dengkul Megi dilantai, Mika menghentikan langkahnya dan membalikan badannya.
Melihat wajah adiknya yang berubah sendu dengan cairan dari matanya yang terus mengalir dengan deras.
"Kak, apa kakak mau anak aku punya nasib yang sama seperti aku?" tanya Megi parau.
"Apa kakak mau anak aku besar dengan orang tua yang tidak lengkap?" tanya Megi kembali
"Jangan takut, kakak akan mengantikan peran Sean untuk anak kamu, Dek." Mika meraih bahu Megi dan membedirikannya.
Namun Megi kembali berlutut di depan Mika.
"Apa selama ini Mommy bisa gantikan Mama buat aku, kak? apa kakak mau lihat anak aku punya nasib yang sama menyedihkannya seperti aku?" Megi menjatuhkan kembali buliran air matanya.
Megi terdiam sesaat, menarik nafasnya yang terasa sangat berat untuk ia hirup.
__ADS_1
"Menunggu hari-hari yang tak pasti, menunggu kapan Papa akan datang menjenguk aku. Sampai saat itu tiba, bahkan Papa hanya menghabiskan satu harinya untuk aku. Apa kakak tega, setelah lihat aku seperti itu, nanti kakak juga lihat anak aku yang seperti itu?" tanya Megi pahit.
"Tapi Dek, kakak gak terima perbuatan adik dia sama kamu."
"Kalau anak aku tahu, aku dan kak Sean pisah karena kakak. Apa anak aku akan terima?" tanya Megi getir.
"Jika kakak gak bisa maafin kak Sean demi aku, tolong maafin dia demi anak aku, Kak." pinta Megi sendu.
"Demi anak yang belum lahir ini, demi anak yang ada di dalam kandungan aku. Tolong, tolong lepasin Ayah dari anak ini, Kak." Megi menjatuhkan buliran air matanya kembali, menundukan pandangannya ke bawah.
Memecahkan tangisannya yang membuat seluruh badannya bergetar
"Kakak akan lepasin dia, jika dia bersedia lepasin kamu." jawab Mika lembut.
Seketika Megi mendongakan kepalanya, menatap Mika di atasnya dengan mata yang masih berlapiskan air mata. Sesaat pandangan sendu Megi berubah menjadi tajam.
"Sumpah demi nama Papa kak, aku gak akan pergi kemanapun tanpa kak Sean lagi. Jika kakak mau buat aku pisah sama kak Sean, maka bunuh aku dan anak aku, itu lebih baik." ancam Megi tegas.
Mendengar ucapan Megi, Irena langsung mendekati Megi. Membedirikan badan mungil Megi.
Dengan memegangi perutnya, Megi bangkit perlahan. Tangan Megi meremat jemari tangan Irena dengan sangat kuat. Perlahan Megi menggigit bibir bawahnya dan menghela nafasnya.
"Kak Irena, perut aku kram. Sepertinya kandungan aku kontraksi." lirih Megi menahan sakit.
"Sean cepat kesini, kandungan Megi kontraksi." panggil Irena.
Sean langsung bangkit dan berlari mendekati Megi. Menarik badan Megi agar menempel di badannya.
"Kita kerumah sakit, ya."
"Bantu aku untuk duduk kak. Sebentar ini juga hilang." tahan Megi.
Sean meluruskan kedua kaki Megi di atas sofa. Mengelus perut Megi dengan lembut.
"Apa ini lebih baik?" tanya Sean cemas.
Megi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Menyeringai menahan sakit.
"Irena ini bagaimana? kandungan Megi apa baik-baik saja?" tanya Sean bingung.
"Sebaiknya kamu bawa kerumah sakit saja. Apa Megi sering kontraksi begini?" tanya Irena cemas.
"Gak pernah, hanya terjadi pagi ini dan saat ini."
Saat Sean dan Irena lagi panik berdua, Mika hanya terdiam dan memandangi mereka. Tak tahu harus berkata dan berbuat apa, Mika hanya diam seribu bahasa.
Pikirannya menjadi kosong saat mendengar ucapan Megi tadi. Ia lupa, bahwa Megi pernah sangat lama terpisah oleh keluarganya.
"Kak," panggil Megi merintih.
"Ada apa, Sayang."
"Coba lihat di paha aku, sepertinya ada aliran air."
Cepat Sean menyingkap dres yang di gunakan Megi, meraih paha Megi untuk mengecek apa yang di katakan Megi.
Sean melihat telapak tangannya, matanya mengerjap beberapa kali. Melihat dengan kedua bola matanya, darah Megi kembali menghiasi jemari tangannya.
"Megi pendarahan, Irena." lirih Sean lemas.
__ADS_1