Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
03


__ADS_3

Suara sorakan terdengar dari seluruh siswi yang berada di bibir lapangan saat Evgen berlari sambil mendrible bola.


Pesona Sean turun seluruhnya ke Evgen, bahkan dengan sifat Evgen yang angkuh dan sombong saja ia masih banyak di gemari siswi-siswi di sekolahnya.


"Yeah!" Evgen melompat kesenangan saat bola yang ia lempar masuk ke keranjang basket.


"Huhh!" Evgen melepaskan ikatan rambutnya dan mengkibaskan rambut basahnya.


Sontak seluruh siswi yang melihat itu langsung bersorak. Melihat pesona Evgen yang begitu kuat, dengan tubuh tinggi dan juga paras yang tampan, siapa yang tak jatuh cinta dengan putra Sean itu.


Evgen mencium tangannya dan melambaikan tangannya ke penonton. Membuat penonton itu berteriak histeris.


"Ah, au, ah." teriak Evgen saat telinganya di tarik dengan keras. Teriakan histeris siswi-siswi tadi berubah menjadi kekehan para penonton.


Melihat sang bintang lapangan di jewer dengan keras oleh guru olahraganya.


"Evgen, kamu pikir ini sekolah Bapak kamu? sudah di kasih peringatan berulang kaki, itu rambut kenapa masih gondrong begitu?" tanya guru lelaki itu garang.


"Kalau di potong nanti gak keren lagi, Pak."


"Oh jadi kamu mau keren? kalau gitu ikut saya biar keren!" tarik guru lelaki itu kencang.


"Aduh, aduh, ampun Pak!" teriak Evgen saat telinganya di tarik dengan keras melewati koridor sekolah.


Sementara dirumah, Megi sedang asyik membereskan peralatan makan sehabis sarapan tadi.


Deringan ponsel berbunyi, mau tak mau, Megi menghentikan pekerjaannya dan mengangkat ponselnya segera.


"Hallo selamat pagi."


"Pagi." jawab Megi lembut.


"Benar ini dengan Ibu Megisia?"


"Iya, saya sendiri. Ada apa ya Bu?"


"Saya mau memberitahu, bahwa Evgen masuk ke kantor kepala sekolah."


"Lagi?" tanya Megi tak percaya.


***


Megi menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri dengan menekuk wajahnya di depan pintu kelas. Menunggu putra nakalnya itu membereskan barang-barangnya di kelas.


"Evgen, enak banget elu, pagi begini sudah pulang ya." ucap teman sebangku Evgen.


"Yoi, Bro. Lu harus pakai cara gue biar bisa pulang cepet, gimana?" tanya Evgen dengan memainkan kedua alis matanya.


"Evgen!" panggil Megi ketus.


"Iya, iya, sebentar, Ma."


"Woy, bro. Gue pikir itu kakak elu, masih muda, cantik lagi." goda teman sepermainan Evgen yang lain.


"Tapi sayang, cerewetnya minta ampun, Bro." balas Evgen malas.


"Evgen." panggil Megi kembali.


"Iya, iya. Sabar Mama."


Evgen menarik tali ranselnya dan menyelempangkan di salah satu bahunya. Berjalan dengan cepat mengikuti langkah Megi menuju ke parkiran sekolah.


Megi mengambil nafasnya dengan sedikit memburu. Sejenak Megi terdiam, sebelum ia meledakan amarahnya pada putra tercintanya itu.

__ADS_1


"Sudah Mama bilang kan, ini rambut di potong!" tarik Megi di ujung rambut hitam Evgen.


"Nanti kalau di potong aku gak ganteng lagi, Ma."


"Kamu pikir begini keren? ganteng? malah seperti gembel, tahu kamu!"


"Tapi, Papa muda rambutnya gondrong juga, kenapa Mama jatuh cinta?" tanya Evgen datar.


"Evgen!" teriak Megi lantang. Ia benar-benar kehabisan kesabaran menghadapi anak Sean yang satu ini.


Megi mendorong badan besar Evgen memasuki barber shop, mendudukan Evgen dengan paksa.


"Pak, buat botak saja sekalian." ucap Megi geram.


"Mama gak mau ah." dengan cepat Evgen bangkit dari kursi barber shop, namun bahunya di tahan keras oleh Megi.


"Saya tinggal dia disini dulu, nanti saya balik dia sudah rapi ya, Pak." pinta Megi tegas.


"Baik, Bu."


"Evgen, kalau kamu buat ulah lagi, Mama potong uang saku kamu!" ancam Megi tegas.


Begitu Megi keluar dari barber shop itu, Evgen juga ikut keluar dari barber shop. Ia tidak rela jika rambut panjang lurusnya di potong dulu. Ia masih ingin tampil keren untuk pentas seni sekolah yang di adakan 2 bulan lagi.


Saat berjalan melewati pertokoan, tanpa sengaja mata Evgen terpaut oleh mainan yang terpajang di atas display toko mainan.


Mata Evgen langsung berbinar saat melihat mainan robot-robotan itu.


"Wah ... Keren ini, Niki pasti nangis kalau gue punya yang beginian." dengan tersenyum sinis Evgen masuk dan mengambil mainan tersebut.


Saat Evgen ingin meraih mainan itu, tangan seorang cewek juga meraih mainan itu. Seketika Evgen memalingkan pandangannya kearah pemilik tangan itu.


"Elu!" ucap Evgen terkejut.


"Lepas! ini punya gue!" perintah Evgen kasar.


"Elu yang lepas, ini gue duluan yang lihat!" tantang wanita itu galak.


Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Evgen dan wanita itu saling tarik dan menarik satu sama lain.


Tanpa sengaja, wanita itu mencopotkan tangannya.


"Kan rusak. Elu sih." ucap wanita itu melemparkan tuduhan ke Evgen.


"Elu yang salah, ambil ini, gue gak suka barang rusak." Evgen memberikan badan robot itu ke tangan wanita itu dan pergi begitu saja.


"Hey Evgen, tanggung jawab elu!" panggil wanita itu geram.


Evgen hanya membalikan badannya, menarik kulit di bawah matanya dan menjulurkan lidahnya. Mengejek lawannya itu.


Tak lama ia kembali berjalan dengan santai, melambaikan satu tangannya tanpa melihat wanita itu. Benar-benar, seluruh sifat buruk Sean tertanam di dalan diri Evgen.


"Evgen!" panggil wanita itu geram.


Wanita itu menghela nafasnya dan melihat kantungan yang ia bawa. Ia sudah mengumpulkan hasil kerja part time nya selama tiga bulan untuk membelikan mainan ini.


Tapi Evgen malah membuat uangnya terbuang sia-sia. Kembali wanita itu menghela nafasnya, menatap kebalik kaca dengan sedih, andai ia sekaya Evgen, ia tak akan sekecewa ini saat tak bisa membelikan mainan untuk adiknya.


Shenina berjalan dengan lemas keluar dari toko mainan itu. Matanya menatap sedih kebawah, usahanya sia-sia. Apa yang harus ia bilang pada Seta, padahal ia sudah berjanji akan membelikan mainan ini setelah tiga bulan.


"Maafin kakak ya Seta, kakak terlalu lemah." lirih Shenina lemah.


Ia hanya berjalan tanpa arah, tak menyadari saat ini langkah kakinya sedang berjalan menyebarangi jalanan.

__ADS_1


Tinnnnnn


Suara klakson mobil mengejutkan Shenina, sontak ia langsung melepaskan kantungan plastiknya.


Seorang lelaki keluar dari dalam mobil, tanpa sengaja lelaki itu menginjak mainan yang Shenina beli.


Mendengar remukan itu, Shenina hanya bisa teduduk lemas.


"Hancur sudah." lirih Shenina lemas.


Melihat Shenina yang begitu sedih, lelaki itu mengambil kantung itu dan melihat isinya.


Matanya langsung membulat saat melihat robot-robotan itu remuk.


"Maaf, kamu baik-baik saja." lelaki itu menarik lengan tangan Shenina dan membedirikan.


"Iya, baik-baik saja." ucap Shenina dengan menatap kosong ke kantungan plastik yang di pegang oleh lelaki itu.


Menyadari pandangan mata Shenina, lelaki itu tersadar dan menyodorkan kantungan plastik itu ke Shenina.


"Soal ini, maaf. Aku ganti ya." ucap lelaki itu bersalah.


***


Shenina keluar dari toko mainan itu dengan mengangkat tinggi-tinggi robot baru yang di belikan oleh lelaki itu.


"Yeay, akhirnya." ucap Shenina senang.


Sementara lelaki itu hanya tersenyum, melihat tingkah Shenina yang begitu polos.


"Kalau begitu, aku duluan ya." ucap lelaki itu lembut.


"Eh, tunggu dulu." tahan Shenina cepat.


"Shenina." Shenina mengulurkan tangannya kehadapan lelaki itu.


Dengan tersenyum lembut lelaki itu meraih uluran tangan Shenina.


"Fachrezi, panggil saja Rezi."


"Oh, makasih ya Mas Rezi." ucap Shenina lembut.


"Sama-sama, maaf juga sudah menghancurkan mainan kamu." balas Rezi dengan tersenyum lembut.


Melihat senyum Rezi yang begitu manis dan lembut, Shenina menundukan pandangannya.


"Kalau begitu aku duluan, ya."


"Ehm, hati-hati ya." ucap Shenina lembut.


Rezi membalikan badannya dan langsung berjalan menuju mobilnya. Saat Rezi ingin membuka pintu mobilnya, Rezi kembali melihat Shenina yang berdiri terpaku di belakangnya.


"Shenina." panggil Rezi lembut.


"Ya." jawab Shenina cepat.


"Lain kali jangan bengong saat jalan, bahaya." Rezi tersenyum dan langsung masuk kedalam mobilnya.


Sementara Shenina masih terus melihat mobil Rezi berlalu. Bibir Shenina terus melengkung mengantarkan kepergian Rezi.


"Ya Tuhan, lembut sekali nada bicaranya. Bisa gak ya, jumpa dia lain kali?" Shenina meletakan satu tangannya di pipi. Matanya masih menatap mobil Rezi yang sudah tidak kelihatan lagi.


"Mas Rezi, semoga kita bertemu lagi." Shenina membalikan badannya dan berjalan dengan sedikit melompat.

__ADS_1


Selain senang karena bisa membeli mainan baru, ia juga senang karena bisa bertemu dengan lelaki selembut Rezi.


__ADS_2