
Sudah 48 jam berlalu, namun kabar Megi sama sekali belum terdengar. Megi tak bisa di temukan sekeras apapun Sean mencari.
Braak...
Sean menggebrak meja kerjanya, dadanya naik turun karena emosi yang tak lagi bisa ia tahan.
"Arrggggg..." Sean membalikan meja kerjanya.
Dengan cepat tangannya mencengkram kerah baju Deny.
"Kenapa? kenapa kalian gak bisa menemukan dia? apa sekarang kalian gak bisa lagi di andalkan? hah?!" teriak Sean lantang.
"Bos, tenang lah. Bos, jangan seperti ini." tahan Farrel.
"Farrel lu gak tahu, sekarang anak buah elu udah gak ada tajinya. Lu udah bisa ganti mereka!" teriak Sean lantang.
"Bos, tenanglah sedikit. Jika Bos tak bisa tenang, kita gak akan bisa bergerak." ucap Farrel menenangkan.
Dengan keras Sean melepaskan cengkraman tangannya. Kakinya kembali menendang apapun yang ada di hadapannya. Wajahnya memerah padam, emosinya sudah meluap tak tertahan.
"Kalian keluar lah dulu, saat ini Bos butuh ruang untuk melampiaskan emosinya." perintah Farrel pada anak buahnya.
Farrel menutup daun pintu ruangan kerja Sean. Dari luar terdengar suara bantingan barang-barang. Beberapa kali suara tumbukan dan tendangan terdengar. Sudah beberapa menit berlalu namun emosi Sean masih membara.
Farrel kembali masuk dan menahan badan besar Sean yang ingin kembali menumbuk dinding beton.
"Bos cukup!" teriak Farrel. "Sadarlah Bos, saat ini Nona Megi butuh kepintaran Bos, bukan amarah seperti ini."
Seketika pergerakan tangan Sean yang ingin menumbuk dinding terhenti. Satu persatu tetesan darah dari ruas jemari Sean menetesi lantai keramik putih ruangan kerjanya.
"Kembalilah waras Bos, pikirkan cara yang lebih baik untuk menemukan Nona Megi. Kalau Bos seperti ini, kerja kami juga terhenti."
Sean memalingkan wajahnya kearah Farrel, ia menyisir rambutnya yang berantakan, kebelakang.
"Gue gak bisa waras Farrel. Gue gak tahu Megi sekarang dimana, apa yang mereka lakuin sama dia, bagaimana bisa lu minta gue waras?" tanya Sean membara.
"Terus kalau Bos seperti ini, siapa yang akan menemukan Nona Megi? pikirkan cara Bos, kendalikan emosi, Bos."
Sean terduduk dan memegangi sudut dahinya. Rasa sakit dari jemarinya tak lagi ia rasakan. Kenapa saat semua yang berhubungan dengan Megi selalu membuatnya putus asa.
"Farrel, gak ada cara lain." ucap Sean putus asa. "Cari Hana, buat dia bicara dimana Megi berada." perintah Sean datar.
"Bos, yakin?"
"Kita gak punya pilihan lain. Gue yakin Hana tahu sesuatu tentang ini."
****
Sean terduduk di bibir teras depan apartemennya. Ia memegangi sudut dahinya, kali ini ia benar-benar kehilangan cara.
Hana, juga tak mau menampakan dirinya. Saat ini hanya tinggal Hana lah satu-satunya yang bisa membantu dia.
Adrian telah menyiapkan semuanya dengan sangat matang. Pasti ia juga menyembunyikan Hana di tempat yang tak terjangkau oleh Sean.
Kalau mengharapkan kerja Farrel, mungkin saja Megi di temukan hanya tinggal nama. Saat ini anak buah Farrel telah bekerja ekstra, namun hasilnya masih sama saja.
Sean mengeluarkan gawainya, ia menekan sederet angka. Menelpon seseorang yang mungkin gak lagi mau mendengar suaranya.
Sudah beberapa detik tersambung, namun belum ada tanda-tanda telepon terangkat. Sean menjauhkan ponselnya, ia mulai menurunkan ponselnya perlahan. Kali ini dia mulai kehilangan harapan.
"Ya Sean." jawaban dari telepon yang ia panggil terdengar.
Dengan cepat Sean menempelkan ponselnya di telinga kirinya.
"Ada apa, Sean?" tanya lembut seseorang di seberang sana.
"Bisa gue minta bantuan, Hana?" tanya Sean sendu.
"Ada apa?" tanyanya sendu.
"Ayah angkat elu menculik Megi, bisakah elu mencari tahu dimana Megi di sembunyikan?"
"Kenapa gue harus membantu Megi? dia adalah rival gue?"
Sejenak ucapan Hana membuat putus asa dalam diri Sean semakin besar. Satu-satunya hal yang bisa membuat Sean putus asa adalah Megi.
"Ya, lu memang gak harus membantu. Sorry." jawab Sean sendu.
"Sean." panggil Hana lembut.
__ADS_1
"Hem."
"Kembalilah sama gue. Akan gue cari dimana keberadaan Megi."
Sean kembali terdiam, ia tahu dimana pun ia meminta bantuan pasti akan ada sesuatu yang di korbankan. Namun tak mungkin Ia mengorbankan Megi.
Semuanya pasti sudah di susun secara matang, semua yang bersangkutan dengan Adrian adalah jebakan. Sean tersenyum getir dan menggeleng pasrah.
"Hana, gue..."
***
"Ayo makan ini?" seorang lelaki menyodorkan sebungkus nasi kehadapan Megi.
Sudah dua hari Megi tak memakan apapun, namun tubuh kecilnya masih sangat sadar.
"Cuih." Megi meludahi wajah lelaki di depannya itu. "Aku gak sudi." jawab Megi ketus.
"Dasar wanita kurang ajar! plaakk." tangan besar lelaki itu menampar pipi mulus Megi. Membuat sudut bibir mungil Megi mengeluarkan darah.
"Biar lu mati kelaparan gue gak peduli!" lelaki itu meninggalkan Megi kembali sendiri.
Megi menghela nafasnya, ia menyandarkan kepalanya ke sisi dinding.
"Maafin aku kak Sean. Aku pasti membuat kakak susah saat ini." Megi menghela nafasnya.
"Pasti kakak lagi kebingungan cari aku, maaf." Megi memejamkan matanya.
Membayangkan hari-hari indah yang pernah ia lewati dengan Sean beberapa hari belakangan.
"Aku mencintaimu kak." ucap Megi lirih.
Brakkkk...
Daun pintu terbuka lebar, Megi membuka matanya. Silau cahaya mentari membuat pandangannya tak jelas. Ia mengernyitkan dahinya untuk melihat bayangan seseorang yang saat ini sedang menghajar beberapa orang berbadan besar yang menjaga Megi.
"Gue mau mereka semua lenyap, termasuk kepala dari semua ini. Buat mereka tak bersisa walau menjadi debu sekalipun!" suara ngebas milik seseorang terdengar.
Senyum Megi merekah lebar, tanpa melihat siapa wajah pemilik suara itupun, ia tahu suara itu milik Sean.
"Megi!" teriak Sean lantang.
"Aku disini, Kak!"
"Megi." Sean mendekat dan memeluk badan mungil Megi. Melepaskan ikatan di badan Megi.
"Bibir lu kenapa?" tanya Sean menghapus sudut bibir Megi yang berdarah.
"Ini lipstik, biar bibir aku merah saat bertemu kakak." jawab Megi sambil tersenyum lebar. Wajah putihnya kini terlihat pucat, entah kenapa setelah bertemu Sean tubuhnya mulai melemah karena dua hari tak mendapat asupan.
Megi meraih pipi Sean, bibirnya kembali tersenyum saat tangannya menyentuh kulit pipi Sean.
"Maaf gue terlambat." ucap Sean meraih jemari Megi yang menyentuh kulit pipinya.
"Selama apapun pasti akan aku tunggu, kak."
Sean tersenyum dan menarik pipi Megi mendekat. Mencium bibir Megi dengan lembut.
Langkah kaki Hana terhenti saat melihat Sean dan Megi di sudut ruangan. Ada denyutan yang terasa di dalam dadanya.
Hana membalikan badannya dan berjalan menjauh.
Hana menghapus buliran air matanya dan memasuki mobil Sean.
"Megi, Megi!" Sean menggoyangkan badan Megi yang terjatuh sesaat setelah ia melepaskan ciumannya.
"Megi bangun!" ucap Sean dengan sedikit cemas.
Tanpa menunggu lagi, Sean mengangkat tubuh mungil Megi dan belari dengan menggendong Megi yang sedang pingsan.
Dengan langkah cepatnya ia keluar dari dalam gudang yang mengurung Megi. Sean memasukan tubuh mungil Megi kedalam mobil dengan cepat.
"Farrel ke rumah sakit segera!" perintah Sean langsung.
"Baik, Bos."
"Megi, Megi. Bertahanlah sedikit lagi." ucap Sean cemas.
Sean menaruh Megi dalam dekapannya, tangannya meraih pipi Megi. Ibu jari tangan Sean mengelus lembut pipi Megi.
__ADS_1
Sean memeluk Megi yang pingsan di atas pangkuannya dengan erat. Beberapa kali ciuman ia daratkan di pucuk kepala Megi.
"Bertahanlah Megi. Bertahan sayangku." ucap Sean cemas.
Sementara Hana yang saat ini duduk di sebelah Sean, hanya membuang pandangannya ke sisi luar jendela. Tak sanggup melihat Sean yang seperti itu.
Air matanya mengalir deras, namun Hana mencoba diam. Posisi ia yang saat ini membuat ia sadar. Selama ada Megi, maka Sean tak melihat siapapun selain Megi.
Sean menatap Megi yang terbaring lemas di atas kasur. Sudah dua jam berlalu namun Megi masih belum sadarkan diri.
Dehidrasi dan kekurangan nutrisi, membuat keadaan Megi melemah. Dengan sabar Sean menunggu Megi sadar, ia mengenggam jemari Megi dan tak melepaskannya.
"Bos, saya belikan Bos makanan. Ayo makan Bos, sudah dua hari Bos gak makan, nanti Bos bisa dirawat juga."
"Lu aja yang makan Farrel, gue baik-baik saja." ucap Sean tanpa mengalihkan pandangannya dari Megi.
"Baiklah Bos, saya letakan makanan nya disini ya Bos, kalau tak ada yang Bos perlukan saya permisi."
Farrel membuka pintu kamar Megi dan berlalu pergi. Sean kembali memandang wajah mungil Megi yang masih tertidur lelap. Terlihat ada pergerakan dari bola mata Megi, Sean mentoel pipi Megi manja.
Bibirnya tersenyum saat bola mata Megi kembali bergerak. Tak lama mata bulat Megi terbuka lebar. Bola matanya mengelilingi sesisi kamar.
"Kak." panggil Megi lemas
"Hem."
"Kok aku bisa ada disini?" tanya Megi bingung.
"Lu lupa ingatan lagi? hem?" tanya Sean dengan menaiki sebelah alis matanya.
"Ha ha ha. Mana mungkin." Megi bangkit dan mencoba untuk duduk.
Langsung Sean bangkit dan membantu Megi untuk duduk.
"Uhhh." Megi memegangi sudut dahinya yang sedikit berputar.
"Lu mau makan?"
Megi hanya mengangguk pasrah, Sean megambil makanan yang di bawa Farrel tadi dan menyuapinya perlahan kedalam mulut Megi.
"Kak."
"Hem."
"Apa kakak kenal sama penculik-penculik itu?"
Sean hanya menghela nafasnya dan menggeleng pasrah.
"Jujur sama aku."
"Kalau sama penculikanya gak kenal, tapi kalau sama Bosnya, gue kenal." jawab Sean pasrah.
Megi menarik sisi kemeja Sean dan membenamkan wajahnya di dada Sean.
"Jangan takut, gue disini."
"Aku gak takut kok kak." jawab Megi mendongakan kepalanya. "Karena aku tahu kakak pasti akan nyelamati aku, makanya aku gak takut." jawab Megi menyeringai.
Sean melepaskan senyumnya, ia membalas pelukan Megi. Meletakan dagunya di atas pucuk kepala Megi.
"Dasar gadis nakal." ucap Sean menguatkan pelukannya.
"Kan udah aku bilang kak. Jangan memaksakan yang bukan takdir kakak."
"Gue gak pernah memaksakan takdir Megi. Gue hanya melindungi apa yang menjadi milik gue."
"Termasuk aku?" tanya Megi menatap mata Sean.
"Elu gak termasuk, Megi."
Megi mengernyitkan dahinya. "Kenapa gak termasuk?"
"Karena elu bukan salah satunya, tapi elu segalanya." jawab Sean sambil mencubit pipi Megi.
"He he, dasar gombal." Megi kembali membenamkan kepalanya di dada bidang milik Sean.
"Jangan buat gue kacau lagi Megi, jangan buat gue khawatir lagi."
"Enggak akan kak."
__ADS_1
"Kalau gitu berjanjilah untuk pergi."
"Apa?"