
Soraya menghela napasnya dan menegakan langkahnya, menggenggam jemari Ari untuk melanjutkan langkahnya.
"Yakin elu akan pergi? Jika ingin pergi, maka jangan pernah berhenti lagi Soraya," ucap Chen tanpa membuka kedua belah matanya.
"Maaf, bukan gue tidak ingin menahan elu, tapi gue terlalu lelah untuk bertahan dalam angan-angan cinta yang semu. Gue sudah pernah berada di posisi ini selama bertahun-tahun Soraya. Jadi jika elu bahagia, elu boleh pergi, tapi gue akan disini, gue akan menunggu elu berbalik dan melihat gue yang masih setia menunggu hati elu disini," ucap Chen pahit.
Soraya memalingkan kepalanya, ia melihat Chen yang masih berdiri dengan menutup kedua matanya. Terlihat ia sedang menelan saliva pahitnya sendiri.
"Soraya, gue mencintai elu," sambungnya lembut.
"Bisakah, suatu hari nanti elu kembali. Karena gue, masih disini, menunggu elu tanpa letih."
Soraya melepaskan genggaman tangannya, berlari mendekati Chen. Langsung tangan Soraya memeluk bahu Chen dan mendaratkan ciuman di atas bibir Chen.
Seketika mata Chen terbuka dengan lebar, ia tak percaya bahwa Sorayalah yang berada dalam pelukannya kini.
Plaaak
Soraya menampar pipi Chen dengan kuat.
"Dasar bodoh, kenapa gak tahan gue kalau elu suka? Kenapa elu diam saja di sini kalau elu cinta? Elu bodoh Chen, elu bodoh!" teriak Soraya lantang.
"Soraya, maksudnya ini?" tanya Chen terbodoh.
"Maksud apa? Memang gue buat apa? Dasar lelaki bodoh, sudah begitu pun masih gak paham!" ucap Soraya geram.
"Soraya, elu, kita?"
"Kita apa? Gak ada lagi kita, hanya elu dan gue saja. Gue benci elu, gue benci elu. Dasar lelaki bodoh, kenapa elu harus sebodoh ini?" Soraya berjalan melewati Chen.
Meninggalkan dua lelaki yang masih terdiam, terbodoh, oleh sikap gadis itu yang begitu spontan.
Chen menatap Ari yang sedang memerah padam. Chen tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Kali ini Soraya yang memilih, gue mohon teman. Jangan ganggu kami lagi," ucap Chen sambil melambaikan tangannya.
Ia berlari mengejar langkah Soraya, mengangkat tubuh Soraya dan menggendong Soraya di atas pundak kekarnya.
"Aaahhhh ...." jerit Soraya saat badannya mengudara seketika.
"Ternyata pacaran sama orang dewasa mengerikan ya, Aya. Gimana kalau kita lanjutin di mobil gue?" tanya Chen menggoda.
"Apanya yang mau di lanjuti? Turuni gue Chen! Turuni!" perintah Soraya dengan berteriak.
Namun bukannya menuruni Soraya, Chen malah berlari sambil menggendong Soraya di atas bahunya.
"Cheeennnn!" teriak Soraya lantang.
***
Megi merapikan sisi bahu kemeja yang dikenakan oleh Sean. Memandang lekat wajah suaminya yang bertambah beribawa saat umurnya semakin tua.
Megi tersenyum simpul dan menarik pipi Sean. Menciumnya dengan sedikit geram.
"Kenapa? Kok tumben cium-cium segala?" tanya Sean sambil merapikan kancing lengan kemejanya.
"Kak, gak kerasa ya kalau anak kita sudah dewasa. Hari ini Rezi yang bawa calon menantu, beberapa tahun lagi Evgen, disambung Niki. Terus kita sama siapa?" tanya Megi sedikit cemberut.
"Kan ada aku, kenapa? Gak suka kalau hanya berdua sama aku?" tanya Sean datar.
"Bukan, aku rasanya gak rela Kak. Aku gak rela lelaki tampan milikku akan dimiliki wanita lain," ucap Megi kesal.
"Tapi kan kamu masih punya yang paling tampan diantara yang lain," ucap Sean sambil memainkan kedua alis matanya.
Megi tersenyum simpul dan memeluk badan Sean dari belakang. Kapanpun itu, saat ia bersama Sean adalah hal yang paling menyenangkan.
"Megi, ingat kata-kata aku, ya. Bagaimanapun nanti calon yang dibawa oleh Rezi, jangan kamu sakiti dia di depan Rezi," ucap Sean mengingatkan.
__ADS_1
"Iya, aku ingat Kak," jawab Megi malas.
"Yasudah ayo berangkat, panggil Niki dan juga Evgen ya."
Megi hanya menganggukan kepalanya, menemui dua buah hatinya yang lainnya.
Evgen sedang asyik, duduk sambil memainkan game dalam laptopnya. Berusaha untuk menghibur hatinya yang mungkin akan patah malam ini.
"Evgen, kamu kok belum siap-siap, Sayang?" tanya Megi saat mendapati anak lajang tampannya itu tengah asyik memainkan game dalam layar datarnya.
"Males, Ma. Lagian kak Rezi yang mau tunangan bukan aku," jawabnya ketus.
"Ih ... tapi kan kamu anggota keluarga ini Evgen. Ayo cepat ganti baju, Mama tunggu di bawah."
"Aku gak mau ikut, Ma. Mama pergi saja, aku lagi gak mood," jawab Evgen ketus.
"Evgen, dia itu Kakakmu. Dia yang selalu membelamu saat kamu nakal, terus saat dia ingin mengenalkan calonnya pada kita, beginikah sambutanmu sebagai adik?" tanya Megi panjang lebar.
"Gak perlu dikenalin juga, aku sudah kenal," lirih Evgen kesal.
Evgen menekan keyboard laptopnya dengan kesal, beberapa kali ia menghentakan jarinya saat menekan tombol-tombol itu. Hatinya dongkol setengah mati. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Evgen!" panggil Megi ketus.
Namun Evgen masih tidak peduli, ia masih sibuk pada layar datarnya tersebut.
"Evgen!" bentak Megi keras.
Bukannya dengar, Evgen malah semakin asyik memainkan laptopnya.
Megi menghela napasnya dan berjalan mendekati Evgen. Menutup secara paksa laptop yang sedang di mainkan oleh putranya tersebut.
"Mama apaan sih?" tanya Evgen tak suka.
"Kanu yang apaan? Cepat pakai bajumu kita akan berangkat!" perintah Megi kembali.
"Kamu ini kenapa sih? Aneh banget akhir-akhir ini?"
"Mama yang kenapa? Orang gak mau pergi kok maksa."
Evgen menaiki kasurnya dan mengambil gulingnya. Memeluk guling itu sambil memejamkan matanya.
Megi menarik kaki Evgen, mencoba membujuk si keras kepala buah hatinya itu.
"Evgen bangun, Nak. Ayo kita pergi, Evgen!" bentak Megi kembali.
"Megi, apa sih ini? Kenapa ribut sekali," tanya Sean yang baru datang menengahi.
"Ini, Kak. Evgen gak mau pergi, padahal ini acara keluarga kita kan," adu Megi manja.
"Evgen, gak mau pergi?" tanya Sean datar.
"Enggak! Aku mau tidur," jawab Evgen ketus.
"Yasudah, kalau gitu motor Papa jual kembali," ucap Sean melengos pergi.
"Eh ... Papa, kok gitu sih?" tanya Evgen terduduk seketika.
Megi menarik sebelah matanya dan menjulurkan lidahnya, mengejek anak lajangnya itu dengan senang.
Evgen mengacak rambutnya, ia tidak bisa bilang apa-apa kalau sudah sean yang bicara.
Dengan malas Evgen bangkit dan bersiap, menyusul orang tuanya yang sudah lama menunggu dia di bawah.
Evgen memainkan sendok di tangannya, dagunya tertumpu pada telapak tangannya. Dengan mengerucutkan bibir, Evgen menunggu sang Kakak yang telat pada janjinya.
"Rezi kok lama ya?" tanya Megi yang mulai tidak betah.
__ADS_1
"Sabar Megi, mungkin jalanan macet. Ini kan weekend," jawab Sean menenangkan.
Megi menghela napasanya, ia kembali menatap wajah anak lajangnya yang sedang melamun dengan menekuk wajahnya sedari.
"Evgen, kamu kenapa?" tanya Megi lembut.
"Gak kenapa-kenapa, lagi males aja," jawab Evgen datar.
Megi menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak bisa mengucapkan apa-apa pada anak lajangnya yang satu ini.
Sementara, Evgen sudah tak tenang menunggu kedatangan Rezi. Ia benar-benar cemas, belum siap melihat Rezi yang datang dengan menggandeng mantan kekasihnya.
Evgen menghela napasnya, jantungnya sudah berdenyut nyeri saat membayangkan itu.
Andai saja bukan Sean yang membujuknya, ia tidak akan sudi datang kesini.
Neha meremat kedua jemari tangannya, ia menatap wajah Rezi yang sama tegangnya dengan ia.
"Kamu sudah siap?" tanya Rezi lembut.
Neha menggelengkan kepalanya, keringat dingin satu persatu mulai mengucur dari dahinya.
Rezi menghapus buliran yang terus keluar dari dahi Neha. Ia menyentuh pipi Neha dengan lembut.
"Hey, tarik napas dan tenanglah, Sayang. Kamu tampil sempurna malam ini, jadi jangan gugup ya."
Rezi menghela napasnya saat pintu lift terbuka. Ia menggandeng tangan Neha dengan sangat erat.
Dengan berbalut drees berwarna gold, rambut yang di sanggul rapi dan sebuah bando sederhana berwarna senada dengan bajunya. Neha memasuki restoran mewah hotel bintang lima tersebut.
Dari ujung restoran, Rezi telah melihat keluarganya berkumpul di dalam meja ekslusif. Ia kembali menghela napasnya, melirik kearah Neha yang kembali banjir keringat.
Sean dan Megi mengalihkan pandangannya saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Mencoba melihat wajah gadis yang sedang Rezi bawa kehadapan mereka.
Neha tersenyum lembut saat melihat Sean dan Megi yang terus menatapnya dengan lekat. Ia semakin grogi saat melihat mata kedua orang itu tak lepas dari dirinya.
'Pantas Rezi sangat menyukainya, ternyata gadisnya secantik ini,' lirih Sean dalam hati.
Megi mengalihkan pandangannya, setelah beberapa detik terhipnotis oleh gadis yang dibawa oleh putra sulungnya itu. Tidak berpenampilan glamour, sederhana namun elegan dengan paduan warna emas pada kulit putihnya itu.
Bahkan Megi saja sangat kagum pada wajah cantik gadis pujaan anak sulungnya itu.
'Jika kak Sean tidak mengatakan kelemahan gadis ini. Maka malam ini aku tidak akan percaya jika dia hanyalah seorang manusia. Bahkan dewi dalam dongeng Mandarin saja tidak ada yang secantik dia,' gumam Megi dalam hati.
"Ayo, silahkan duduk, em--" Sean menggantungkan kalimatnya, bingung memangil gadis itu apa.
"Neha, namanya Neha, Pa," jawab Rezi lembut.
Evgen langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar nama gadis itu. Ia mencoba melihat gadis yang berada di sebelah kakaknya itu.
"Loh, kok?" tanya Evgen bingung.
"Kenapa? Ada apa Evgen?" tanya Sean terkejut.
"Kenapa ceweknya beda?" tanya Evgen bingung.
"Maksud kamu?" tanya Rezi bingung.
"Bukannya tunangan Kakak Shenina, kenapa malah kakak cantik ini yang dibawa?" tanya Evgen semakin bingung.
"Shenina?" tanya Rezi kembali.
"Iya, bukannya tunangan kakak Shenina? Kenapa berubah jadi kakak bidadari surga?" tanya Evgen tanpa jeda.
Neha melemparkan pandangannya kearah Rezi saat mendengar pernyataan Evgen. Wajah tegangnya berubah garang seketika, Neha memandang Rezi dengan binar mata yang bertanya-tanya.
Rezi tersenyum kecut dan menangkupkan tangannya di depan dahi.
__ADS_1
'Allah ... drama macam apa lagi ini?' lirihnya kesal sendiri.