Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
22


__ADS_3

Mendengar ucapan Evgen, Shenina kembali menatap wajah Evgen dengan binar kemarahan. Evgen, si lelaki berhati beku ini memang tidak mengenal belas kasih.


"Evgen, gue tahu kita selama ini hanya bermusuhan. Tapi tidak bisakah sedikit saja elu pakai nurani elu sebagai manusia?" Tanya Shenina ketus.


"Gue gak punya apa-apa lagi yang bisa gue jual buat bayar ganti rugi ke elu ...."


"Siapa bilang gue minta elu ganti rugi pakai uang," putus Evgen cepat.


"Maksud elu?"


"Kali ini, gue mau elu turuti semua keinginan gue selama 14 hari. Jika elu bisa menjalani semua itu tanpa


mengeluh, bukan cuma hutang hari ini gue hitung lunas. Tapi juga uang yang elu kasih sama gue kemarin, gue balikin. Gimana?" Tanya Evgen santai.


"Tunggu dulu," tahan Shenina cepat


"Nuruti semua keinginan elu?" Sambung Shenina lembut.


Evgen hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis. Menatap lekat kewajah manis Shenina.


"Kenapa gue harus nuruti kemauan elu? dan perasaan gue gak enak untuk hal ini." Jelas Shenina lembut.


"Yah ... Kalau elu gak mau sih gak masalah. Tapi ganti rugi sekarang juga, atau elu gue laporin ke Bu Mega untuk mencabut beasiswa elu." Ancam Evgen lembut.


"Jadi ceritanya elu ngancam gue?"


"Bukan ngancam sih, tapi ini adalah negosiasi antara kita berdua. Bagaimana?"


Shenina memutar bola matanya, ia menatap Evgen yang saat ini sedang tersenyum kearahnya.


Walaupun saat ini ia sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan Evgen. Tapi ia tidak punya pilihan lain untuk menolak.


"Baiklah, tapi gue gak akan nuruti keinginan elu, jika itu melanggar hukum dan juga agama."


"Hey ... Tenanglah. Gue ini bukan lelaki tidak bermoral yang memanfaatkan kelemahan wanita." Ucap Evgen dengan mengelus pucuk kepala Shenina.


Dengan cepat, tangan Shenina menepis tangan Evgen yang menyentuh pucuk kepalanya.


"Baiklah, perintah pertama adalah lu harus datang kedepan mall pusat kota jam 5 nanti. Jangan telat ya, kalau telat hukuman elu akan ditambah 2 hari lagi, mengerti?" Ucap Evgen lembut di depan wajah Shenina.


"Tapi gue harus kerja part time lagi, Evgen."


"Gue gak dengar dan gue gak mau dengar alasan," ucap Evgen sambil berjalan meninggalkan Shenina sendiri di depan toilet.


"Oh, ya. Gue sudah melakukan hukuman gue, sisanya elu ya. Sampai jumpa Shenina." Evgen melambaikan tangannya tanpa menoleh kearah belakang.


Shenina hanya bisa menghela nafasnya. Akan sulit hidupnya jika ia berurusan dengan lelaki kaya, angkuh dan juga sombong itu.


***


Evgen melirik beberapa kali ke jam tangan yang ia gunakan. Sudah 15 menit Shenina telat dari perjanjian.


Mulut Evgen tidak berhenti menggerutu sedari tadi. Kali ini Shenina membuat ia menunggu lama.


Shenina berlari dengan cepat melintasi trotoar jalan raya. Sesekali ia melihat kearah jam tangannya, saat melihat jarum panjang jam tangannya, Shenina mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Sorry," ucap Shenina dengan memburu nafasnya.


"Hari perjanjian elu ditambah 2 hari. Jadi 16 hari dari hari ini," ucap Evgen angkuh.


"Tunggu dulu, gue kan sudah bilang kalau harus part time,"


"Ssstttt ... Gue gak mau dengar alasan. Sekarang ayo masuk!" Evgen menarik tangan Shenina.


Memasuki gedung besar pusat perbelanjaan di kotanya. Evgen menaiki lantai atas dan berjalan ke jejeran permainan.


"Ngapain kesini?" Tanya Shenina sedikit bingung.


"Temani gue main game," jawab Evgen santai.


"Apa?" Tanya Shenina kaget.


"Elu, nyuruh gue kesini cuma buat temeni elu main game?" Tanya Shenina tak percaya.


"Ada masalah?"


Shenina tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.


"Evgen, gue ini bukan elu. Gue gak punya waktu buat main-main seperti ini."


Shenina membalikan badannya dengan cepat dan meninggalkan Evgen. Secepat mungkin Evgen menarik tangan Shenina dan menghentikannya.


"Gue cuma minta elu temani main game, bukan untuk berkomentar. Ikut gue!"


Evgen menarik tangan Shenina memasuki zona permainan. Walaupun tidak suka, Shenina hanya bisa mengikuti keinginan si lelaki sombong ini.


Shenina menghela nafasnya dan menyilangkan kedua tangannya didada. Melihat Evgen yang bermain dance di depannya.


Evgen menghapus dahinya dan menyisir rambutnya kebelakang.


Ia kembali mengambil posisi untuk memulai permainan kembali.


"Evgen mau berapa lama lagi? gue bosan!" teriak Shenina malas.


Evgen membalikan pandangannya dan melihat Shenina.


"Kalau bosan, ayo main bareng gue!" Ajak Evgen lembut.


"Gue gak ada waktu," jawab Shenina malas.


Tak mendengar ucapan Shenina, Evgen menarik tangan Shenina dan mengajaknya untuk dance bersamanya.


Dengan sedikit malas, Shenina hanya menggerakan tangannya dan kepalanya beberapa kali.


"Jangan lemas, ayo keluarin semangat elu," ucap Evgen yang terus berjoget ria di sebelah Shenina.


"Sudah gue bilang, gue gak ada waktu." Jawab Shenina malas.


Evgen meraih kedua tangan Shenina dan berdiri di belakang Shenina. Menggerkan tangan Shenina mengikuti dance challenge  yang terpampang dilayar monitor.


Saat musik dance berhenti, Evgen menepukan tangan Shenina dan menjerit pelan.

__ADS_1


"Lu gak lelah apa?" Tanya Shenina malas.


"Sedikit lelah, ayo cari tempat duduk dulu."


Evgen berjalan memasuki cafe di sebelah permainan itu. Memesan dua cup coffe latte dan membawanya kehadapan Shenina.


"Gue gak tahu selera elu apa, gue peseni mocca latte buat elu," ucap Evgen lembut.


"Hem, iya. Makasih," jawab Shenina, dengan meraih cup yang di berikan oleh Evgen.


Evgen meneguk kopi miliknya perlahan, matanya terus mentap wajah Shebina yang terlihat begitu suntuk dan juga lelah.


"Lu gak suka ya pergi sama gue?" Tanya Evgen lembut.


"Sebenarnya sih gak suka, tapi apa boleh buat. Gue punya hutang sama elu." Jawab Shenina lembut.


Evgen meneguk kopinya dengan sedikit berat. Shenina, jujur sekali. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan Evgen saat ini.


"Shen."


"Hem,"


"Kalau boleh jujur, dari awal gue gak pernah anggap elu musuh. Ya walaupun kita sering bertengkar, tapi gue gak pernah benci dan berniat untuk bermusuhan sama elu," ucap Evgen lembut.


Shenina membuang pandangannya kerah Evgen. Ia memainkan jarinya di atas permukaan cup kopi itu.


"Lu gak percaya sama gue?" Tanya Evgen ketus.


"Bukan gak percaya, tapi gue berharap satu hal saja."


"Apa?"


"Walaupun elu gak menganggap gue musuh, tapi gue juga gak mau menganggap elu teman."


"Apa? kenapa begitu?" Tanya Evgen yang mulai meradang.


"Gue punya alasan sendiri, Evgen. Dan gue rasa juga, elu gak butuh teman miskin seperti gue," ucap Shenina lembut.


Evgen menundukan pandangannya, ternyata seperti ini ia di mata Shenina selama ini.


Evgen menghela nafasnya dan kembali meneguk kopi ditangannya. Matanya teralih, saat Shenina hanya memainkan jarinya dibibir cup tanpa meminumnya sedikitpun.


"Jangan takut, gue gak kasih racun kok!"


Shenina tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Lu emang buruk Evgen, tapi gue tahu elu juga gak seburuk itu kok," ucap Shenina lembut.


"Jadi kenapa elu gak minum kopinya? elu takut gue suruh bayar?"


Shenina menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Bukan,"


"Jadi?"

__ADS_1


"Gue hanya ingat, gue pernah janji mau traktir secangkir kopi sama seseorang, tapi sampai saat ini gue gak pernah jumpa dia lagi," Shenina membuang pandangannya ke kaca jendela cafe dan menatap kosong keluar.


"Apa kabar ya dia saat ini?" Lirih Shenina dengan tersenyum lembut.


__ADS_2