Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
18


__ADS_3

Rezi menolak uluran tangan Neha dengan lembut.


"Enggak Neha, jika kamu berikan ini padaku. Nanti kamu makan apa?" Tanya Rezi sambil menundukan pandangannya.


Ia tak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Neha. Ia terlalu malu hanya untuk melihat mata Neha yang begitu jernih.


Neha tersenyum dan membalikan telapak tangan Rezi. Memberikan kantungan itu di tangan Rezi.


Neha duduk dan kembali menuliskan kalimat di dalam bukunya.


(Jika aku memberi, itu artinya aku masih ada sesuatu untukku sendiri. Ambil saja, aku masih bisa usaha, setelah hari ini.)


Rezi langsung menatap wajah Neha saat selesai membaca tulisan itu. Neha hanya melepaskan senyumnya saat Rezi menatapnya.


Kembali Rezi terdiam, ia tak habis pikir, Neha memiliki kekurangan. Namun Neha masih mampu bertahan dan berusaha sendiri.


"Kalau kamu saja bisa usaha, bagaimana bisa aku makan dari belas kasihan orang?" Ucap Rezi malu.


"Jelas aku ini sehat, dan aku ini lelaki. Masa aku harus kalah sama kamu." Rezi meletakan kantungan itu di atas meja dan kembali memandang wajah Neha.


(Rezi, jangan seperti itu. Kamu sudah beberapa kali menolong aku. Biarkan kali ini aku membalasmu.)


"Kamu ingin membalasku?" Tanya Rezi lembut.


Neha hanya menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Bagaimana jika kamu biarkan aku bekerja di kebun bunga milikmu. Gak perlu gaji aku dengan uang, cukup kasih aku makan 2x sehari. Bagaimana?" Tanya Rezi lembut.


Neha terdiam sejenaknya, ia menundukan pandangannya. Berfikir tentang tawaran Rezi.


Tak lama, Neha kembali memandang ke wajah manis Rezi. Neha memutar bola matanya, kemudian ia menganggukan kepalanya.


"Eh, ini serius Neha?" Tanya Rezi senang.


Neha hanya menganggukan kembali kepalanya.


Rezi tersenyum dengan lebar dan meneguk gelas tehnya yang sudah dingin. Dahinya mengernyit saat merasakan teh yang di suguhkan oleh Neha.


Rezi membuang pandangannya kearah Neha, Neha hanya tersenyum dan menyodorkan bukunya ke Rezi.


(Beda ya? itu teh kamomil, aku harap kamu suka aromanya.)


Rezi tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Aku berterima kasih atas bantuanmu. Neha, besok pagi aku akan kesini, aku akan bantu kamu disini, tapi aku masih harus kuliah. Kamu gak masalahkan jika aku, bekerja sambil kuliah?"


Neha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Rezi mengambil tasnya dengan cepat dan bangkit dari kursi. Rezi mengambil kedua jemari Neha dan berlutut di depan Neha.


"Neha, aku sangat-sangat berterima kasih sama kamu. Aku pasti akan bekerja dengan baik, percaya sama aku ya." Rezi mencium kedua jemari tangan Neha karena rasa senang dalam hatinya.


Sementara Neha hanya diam melihat ulah Rezi yang seperti itu. Walaupun Neha tidak tahu, kenapa Rezi bisa segembira ini hanya karena bekerja di kebun miliknya.


"Neha, aku balik dulu ya. Besok pagi aku pasti sudah ada disini."


Neha hanya tersenyum dan menganggukan kepalanyanya.


Rezi bangkit dan menyelempangkan ranselnya di bahu.


"Bye Neha." Rezi langsung berlari meninggalkan perkarangan rumah Neha.


Neha hanya melepaskan senyumnya dan melambaikan tangannya. Lucu melihat perubahan sikap Rezi yang begitu drastis.


"Uhuuuuy." Rezi melompat kegirangan dan menjerit dengan kuat.


Suasana hatinya berubah gembira, saat ia bisa bertemu dengan wanita pujaannya itu setiap hari nantinya.


***


Prannkkk


Suara pecahan beling membuat seisi kantin terdiam.


Evgen mengenggam nampan di tangan dengan kuat.


Evgen hanya terdiam, menahan panas di kulit mulusnya.


"Kak sini aku obati."


"Lepas!" Teriak Evgen saat tangannya di sentuh oleh wanita itu.


"Jangan sembarang sentuh-sentuh kulit gue!" Teriak Evgen di depan wajah gadis itu.


"Evgen ada apa?" Tanya Shenina yang datang mendekati Evgen.


Evgen hanya memalingkan wajahnya dan mengenggam nampan di tangganya.


"Aku gak sengaja numpahi makanan ke tangan kak Evgen," ucap wanita itu lembut.


"Heh, elu pikir gue gak tahu, kalau elu sengaja numpahi kuah ini ke tangan gue!" Teriak Evgen lantang.


"Evgen tahan!" Shenina menahan bahu besar Evgen yang ingin menumpahi amarahnya ke gadis itu.


Shenina menarik badan Evgen, menjauh dari kantin sekolah. Shenina menarik tangan Evgen kearah belakang kantin.

__ADS_1


Shenina menghidupkan keran air di belakang kantin dan menyiramkan ke tangan Evgen yang terkena kuah bakso panas.


"Kalau terkena air panas elu harus bilas dengan air, biar panasnya gak berkepanjangan," ucap Shenina lembut.


Shenina terus menyiramkan air ke tangan putih Evgen. Dengan lembut, tangan Shenina mengelus punggung tangan Evgen.


Sementara Evgen hanya melihat wajah Shenina yang terus terfokus oleh tangannya.


Kenapa Shenina bisa menjadi sangat lembut begini?


"Sudah," ucap Shenina sambil mengibaskan tangan dan mengelapnya di rok sekolahnya.


"Hey, jangan seperti itu, lihat rok elu jadi basah."


"Ini gak masalah."


"Terserah," jawab Evgen cuek.


"Hem, Evgen," panggil Shenina lembut.


"Apa?"


"Gue rasa, elu sudah cukup bantuin gue di kantin."


"Hem, kenapa?" Tanya Evgen bingung.


"Gue rasa elu sudah terlalu lama bantu gue, dan ini sudah cukup untuk menebus kesalahan elu," jelas Shenina lembut.


"Tapi dahi elu?"


"Oh ini," Shenina meraih sudut dahinya yang masih memar.


"Ini kan cuma kecelakaan."


"Oh, baguslah jika gue gak harus repot-repot lagi. Kalau gitu gue duluan," ucap Evgen sambil berjalan melewati Shenina.


"Evgen," panggil Shenina lembut.


"Kenapa?"


"Jangan lupa, pulang nanti kita masih harus pel toilet."


Evgen hanya melambaikan tangannya dan memasukan salah satu tangannya di kantung celana. Berjalan dengan santai meinggalkan Shenina di belakang kantin.


Evgen memandang pungung tangannya yang tersiram oleh kuah, tak lama bibirnya tersenyum. Mengingat bagaimana perlakuan Shenina tadi, membuat hatinya senang.


Padahal selama ini ia dan Shenina tak pernah akur. Tapi ternyata Shenina bisa bersikap lembut dan perhatian juga.

__ADS_1


"Ternyata, wanita itu bisa juga bersikap lembut," lirih Evgen pelan.


Evgen melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya. Kenapa ia bisa jadi memikirkan Shenina?


__ADS_2