
Megi duduk di atas ranjangnya, satu tangannya mengelus dahi Rezi. Sementara matanya masih fokus kedalam tabletnya menonton film di dalam tabletnya.
"Meg, kita kok belum belanja perlengkapan bayi sih?"
"Belum boleh kak. Katanya tunggu kehamilan aku tujuh bulan dulu, sekarangkan masih enam bulan."
"Oh gitu, berarti siapin kamarnya juga gak boleh?" tanya Sean kembali.
"Enggak." jawab Megi datar.
Sean menganggukan kepalanya dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Kakak yakin gak mau lihat jenis kelaminnya dulu? nanti kan bisa tentuin warna buat belanja keperluan anak kita."
"Setiap barang yang mau di beli pilih warna cokelat muda dan putih saja. Jadi lelaki dan perempuan juga gak masalahkan?" ucap Sean datar.
"Ehm."
"Kenapa belum tidur? ini sudah hampir tengah malam, Megi."
"He he he." Megi menyeringai kuda. "Sebentar lagi." sambung Megi lembut.
"Jangan sampai aku hancurkan tablet mu itu, Megi." ucap Sean ketus.
"Iya, iya." Megi menghela nafasnya dan meletakan tabletnya di atas nakas samping tempat tidurnya.
Menarik selimutnya untuk bersiap-siap tidur. Saat Megi ingin berbaring, getaran dari ponselnya berdering. Megi meraih ponselnya dan melihat notif yang masuk.
Matanya langsung membulat saat melihat layar ponselnya. Memandang Sean yang masih duduk di sofa kamarnya.
"Ada apa?" tanya Sean saat menyadari tatapan Megi.
"Gak ada apa-apa." jawab Megi sambil menyeringai kuda.
Megi menarik selimutnya dan memeluk badan Rezi yang sudah tertidur pulas.
Megi berdecak kesal dan menepuk dahinya.
"Kenapa aku bisa lupa ulang tahun kak Sean. Padahal sengaja jemput Rezi buat kasih kejutan untuk kak Sean. Megi bodoh." lirih Megi pelan.
"Mana aku gak ada siapin apa-apa, masa harus ucapin gitu aja sih?" Megi kembali memandang Sean yang masih duduk di sofa, bekerja dengan laptopnya.
Megi menendang-nendang selimutnya kerena kesal sendiri. Pandangan Sean teralih saat mendengar keributan yang di buat Megi.
"Ada apa, Megi? perutmu sakit?" tanya Sean mendekat.
"Enggak, aku mau tidur di kamar tamu sama Rezi ya. Gak bisa tidur karena kakak lagi kerja."
"Yaudah tidur lah dulu, aku akan kembali kerja saat kamu sudah tertidur." ucap Sean mengalah.
"Enggak mau, aku mau pindah."
"Ya baiklah, terserah."
Megi membuka selimutnya dan mengangkat tubuh kecil Rezi. Dengan cepat Sean menahan dan mengambil Rezi kedalam gendongannya.
Mengantarkan Rezi ke kamar lainnya.
Megi memandangi wajah Rezi yang sedang tertidur, memutar otaknya mrncari cara.
"Rezi." Megi mengelus pipi Rezi lembut.
"Sayang bangun!" Megi mendudukan badan Rezi yang sedang tertidur pulas.
Mau tak mau Rezi membuka matanya dan menangis merengek. Dengan sabar Megi mengelus pundak Rezi, menyadarkan Rezi dari alam bawah sadar.
"Sayang, Mama lupa ulang tahun Papa. Kita harus gimana?" tanya Megi saat Rezi mulai sadar dari alam bawah sadarnya.
Rezi mengerdikan bahunya, tak peduli pada kesusahan Megi.
"Kamu sama sekali gak membantu, Mama." ucap Megi putus asa. "Ayo kita ke bawah, temani Mama cari sesuatu buat kejutan untuk Papa."
Megi membuka lemari es dan juga beberapa lemari makanan di dapurnya. Selain buah dan sayur tak ada apapun lagi dalam lemari es nya.
Megi mengeluarkan beberapa buah dan meletakannya di atas meja. Memandang buah-buah itu dengan sangat menyedihkan.
"Mama." tarik Rezi di baju Megi.
"Ayo, kenapa masih disini, kapan jumpa Papa?" tanya Rezi yang mulai bosan
"Apa yang harus Mama lakukan, Rezi?" tanya Megi bingung.
Rezi kembali mengerdikan bahunya, Megi menghela nafasnya. Ia kembali memandang buah-buah itu.
Perlahan Megi mengambil salah satu buah apel, mengupasnya dengan kulit yang terus panjang tanpa terpotong, membentuk bunga dari kulit apel tersebut.
__ADS_1
Megi membuat beberapa bunga dari kulit buah, dan juga membentuk daging buah menjadi kelopak-kelopak bunga, menyusunnya di dalam piring.
"Bagus gak?" tanya Megi saat kelopak terakhir ia letakan di piring.
Rezi hanya menganggukkan kepalanya saat melihat ukiran buah yang di tata cantik oleh Megi.
"Di China ada kelas mengukir buah seperti ini, Mama pernah ngikuti beberapa hari saja, biasa kelas itu di ikuti keturunan bangsawan."
Rezi hanya diam dan memandangi wajah Megi. Tak mengerti dengan apa yang di ceritakan Megi.
"Sudah, ayo kita naik dan beri kejutan untuk Papa." ajak Megi kembali.
"Keu, lilin mana, Ma?" tanya Rezi polos.
"Rezi, jangan ingatkan Mama soal kue lagi, dong. Mama ini memang bodoh, malam ini kita kasih Papa buah saja ya."
Rezi menganggukan kepalanya, menggandeng tangan Megi kembali. menaiki anak tangga.
Megi menghentikan langakahnya di depan pintu, memberikan piring bersisi ukiran buah ke tangan Rezi.
"Pegang ini dan jangan sampai jatuh, jalan pelan-pelan, Sayang." perintah Megi lembut.
Megi membuka pintu perlahan, saat mendengar pintu terbuka, Sean memalingkan pandangannya ke arah pintu.
"Belum tidur, Meg?"
Megi menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekat, di ikuti Rezi di belakang badan Megi.
"Selamat ulang tahun, Papa." ucap Megi saat berdiri di hadapan Sean.
Sean melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah, melihat tingkah konyol dua orang di depannya ini.
"Siapa yang ulan tahun?" tanya Sean lembut.
"Ya Papa lah." Megi mendekat dan duduk di samping Sean, memberikan piring bersisi ukiran buah ke hadapan Sean.
"Cantik banget, kamu yang buat?" tanya Sean saat melihat buah berbentuk bunga di dalam piring itu.
"Iya, aku gak ingat buat beli kue, kakak juga tahu aku gak bisa buat kue. Cuma bisa buat ini, maaf ya." ucap Megi bersalah.
Sean mengambil piring itu dan meletakannya diatas meja, mencium pipi Megi dengan lembut.
"Makasih ya, Sayang." ucap Sean lembut.
"Rezi sini, cium Papa." perintah Sean. Rezi mendekat dan duduk diatas pangkuan Sean, mencium Pipi Sean dengan lembut.
"Ish gak mau, Rezi juga gak mau kan?" jawab Megi cepat.
"Rezi, mau." jawab Rezi polos.
"Ish Rezi." ucap Megi kesal.
Sean tersenyum dan mengelus kepala Megi, menjatuhkan kepala Megi ke dada bidangnya.
"Baiklah, kalau begitu Mama Rezi maunya gimana?" tanya Sean mengalah.
"Aku mau kita piknik dimana gitu, makan siang sama-sama."
"Baiklah, mau piknik kemana? kebelakang rumah."
"Ish gak mau."
"Jadi?"
"Mau di alam terbuka, gak tau kemana. Kakak cari tempatnya ya."
"Iya."
"Kakak juga yang siapin makan siangnya, soalnya aku gak mau masak."
"Iya." jawab Sean lembut. "Ngomong-ngomong ini ulang tahun ke berapa ya, Megi?" tanya Sean datar.
"Haish, masa kakak gak ingat sih?"
"Enggak, soalnya kan setiap tahun aku gak pernah rayain, gak ada yang ucapin. Jadi ya berlalu gitu aja."
"32 tahun. Ulang tahun sendiri saja gak ingat, apa kakak ingat kapan aku ulang tahun?"
"Enggak." jawab Sean spontan.
"Haish Kakak."
"Aku benar-benar gak tahu, memangnya kapan?" tanya Sean polos.
"Au ah, kapan." jawab Megi merajuk.
__ADS_1
Sean tersenyum dan mengelus kepala Megi lembut.
"Sudahlah, ini sudah hampir pagi. Ayo tidur, Papa selesain kerjaan ini sedikit lagi."
"Rezi ayo kita tidur, Papa selalu lebih tertarik sama pekerjaannya dari pada sama kita." ajak Megi kesal.
Sean hanya tersenyum melihat Megi dan Rezi yang kembali menaiki kasurnya.
Tak lama Sean menutup laptopnya dan mengelus kepala Megi.
"Kamu mau kasih aku kado apa, Megi?" tanya Sean sambil mendekap badan Megi.
"Kakak mau aku kasih hadiah apa?" tanya Megi kembali.
"Gimana kalau berikan aku madu?"
"Apa?" Megi menarik kedua pipi Sean dengan kuat.
"Gak sudi!" ucap Megi ketus.
"Bukan madu itu, tapi madu yang disini." Sean menetuk satu jarinya di bibir Megi.
Megi melepaskan tarikannya dan membelakangi Sean.
"Jangan menggoda aku, Kak. Kakak beneran ingin punya madu?" tanya Megi merajuk.
"Selain dirimu aku tak pernah menginginkan apapun lagi, Megi."
Sean mengelus rambut Megi, mencium kepala Megi dengan lembut.
"Bagaimana jika hadiahku, kamu menyerahkan dirimu padaku malam ini?" bisik Sean di telinga Megi
***
Megi membentangkan alas di atas rerumputan di pinggir danau. Menyiapkan beberapa makanan yang di bawa Sean dari hotel.
"Pa, aku mau itu." tunjuk Rezi ke bebekan air yang melintas.
"Di situ ada hiu nya. Kapan-kapan saja kita main, ya." bujuk Sean datar.
"Kakak, jangan gitu. Kasian Rezi." bela Megi lembut.
"Tapi setelah makan siang aku harus pergi ke tempat lain."
"Hem, kerjaan lagi." ucap Megi malas.
Megi menyiapkan makanan ke dalam piring, memberikan ke Rezi dan Sean.
"Kamu mau aku suapin?" tanya Megi saat memberikan piring makanan ke arah Rezi.
"Gak, aku bisa makan sendiri, Sayang." jawab Sean lembut.
"Rezi kak, aku tanya ke Rezi."
"Oh." Sean menatap kearah Rezi, memperhatikan si kecil itu yang sudah bisa makan sendiri.
"Rezi." panggil Sean lembut.
"Iya."
"Kamu sayang sama Papa?" tanya Sean lembut.
"Ehm" Rezi mengangguk dengan cepat.
"Bagaimana jika Papa bilang, kamu bukan anak Papa."
"Kakak." tahan Megi dengan sedikit menekan.
Rezi memandang Sean dengan mata bulatnya, masih tak mengerti sama ucapan Sean.
"Rezi jangan dengarkan Papa, Sayang. Ayo makan lagi." bujuk Megi lembut.
"Setelah konflik sama Mika, aku gak ingin menyembunyikan apapun lagi, Megi."
"Tapi orang tua Rezi sudah meninggal kak. Jadi gak perlu di kasih tahu juga gak apa-apa."
"Sudah meninggal atau belum, itu tetap gak merubah kenyataan nya, Megi." ucap Sean datar.
"Aku menyadari satu hal, jujur di awal itu lebih baik di bandingkan nanti. Jika memang hasilnya buruk, maka berakhir di awal jauh lebih baik dari pada melepaskan di akhir."
"Saat ini Rezi masih terlalu kecil, Kak. Kakak bilang juga dia gak akan mengerti."
"Karena saat ini dia masih kecil, kita harus kasih tahu dia. Cukup sekali, dia akan mengingat tanpa merasakan sakit."
"Tapi Kak."
__ADS_1
"Status Rezi itu di ketahui oleh banyak orang Megi, jika dia nanti tidak tahu dari kita. Dia akan tahu dari orang lain, kamu mau kehilangan Rezi saat itu?"
Megi menundukan pandangannya sesaat. Apa yang di bilang Sean ada benarnya juga, tapi ia tak tega jika mengatakan itu pada Rezi saat ini juga.