Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 49


__ADS_3

Sementara disisi lain, Sean tak kalah hancurnya dengan Megi, ia melemparkan bokongnya kembali ke bibir ranjang. Sean mengacak rambutnya, ia terlalu bodoh. Rasa cemburu membuatnya kehilangan kendali.


Sean merapikan penampilannya sebelum ia turun kelantai dasar, bukan saatnya untuk lemah karena seorang wanita. Banyak hal yang masih harus ia kerjakan.


Sean mulai menstarter motor besarnya, ia melihat paper bag kecil yang masih tersangkut di setang motornya. Padahal niat ia kembali ke hotel karena ingin memberikan kalung itu buat Megi, ingin membuat suasana hati Megi kembali ceria. Namun kenapa malah jadi melukai hati Megi.


"Huft..." Sean menghela nafasnya dan kembali membuka helm yang sempat ia gunakan tadi.


Sean kembali turun dan mencari Megi dibalik kounter, tapi gadis kecil itu tak ada di tempatnya.


"Dimana Megi?" tanya Sean spontan.


"Megi langsung pergi habis Tuan Muda bawa tadi."


"Kemana?"


"Gak tau, Tuan. Tas nya saja masih disini."


"Yaudah, mana tasnya?"


Sean memasukan paper bag itu kedalam tas Megi. Namun saat ia ingin pergi entah kenapa ada rasa yang mengganjal dihatinya.


Sean kembali ke apartemennya, niat hati ingin meminta maaf, bagaimana juga Megi pasti terluka. Tapi Sean tak menemukan Megi di setiap sudut ruangan. Bahkan ponselnya saja masih ada di dalam tas.


Sean melempar tas Megi di atas kasur Megi, ia merebahkan badannya diatas kasur Megi.


"Kemana elu Meg?" ucapnya depresi.


****


Megi membersihkan seluruh debu di rumah itu, berusaha mengembalikan kebersihan rumah ini. Berharap agar cahaya yang pernah ada dirumah ini akan kembali tepancar.


Namun seberapa besar usaha Megi, rumah ini tetap terlihat tanpa cahaya. Tak pernah akan terlihat bercahaya lagi, karena rumah ini sudah kehilangan sinarnya.


Kembali Megi merebahkan badannya di atas kasur bekas Affandy tergolek selama setahun. Terbayang kembali saat ia memeluk tubuh gempal Affandy setiap malam.


Canda tawa yang selalu terselip saat waktu dini hari pagi. Kadang mereka tak tertidur sampai pagi karena keasyikan bercanda.


Bibir Megi tersenyum namun matanya terus berair, apalagi mengingat saat terakhir Affandy memeluknya sebelum keadannya drop.


Megi ingat, ia melepaskan pelukan Affandy yang mencoba membuka mulutnya untuk bercerita tentang masalahnya dengan Mirza.


Megi tak pernah tahu, itu adalah pelukan yang di berikan Affandy untuk terakhir kali.


Megi bersimpuh di bawah bayang kosong milik Affandy.


Megi menyenderkan kepalanya ke sisi bayang, tangannya mengelus papan-papan bayang itu.


"Andai waktu bisa di putar, Pa. Megi tak akan pernah melepaskan pelukan Papa." ucap Megi parau.


"Sekarang Megi tak tahu harus mencari kemana, Pa. Saat Megi rindu hangat pelukan Papa. Kemana Megi harus mencari?" tangisan Megi semakin pecah. Tak kuasa menahan kesedihan yang hadir menyapa jiwa.


"Megi rindu saat-saat itu, Pa. Saat Papa memeluk Megi disini. Megi tak ingin menjadi dewasa, Pa. Megi akan menjadi gadis kecil Papa. Asalkan Papa terus berada disini, disisi Megi."


"Saat ini Megi hanya merasa hampa, Pa. Megi hanya merasakan kekosongan, bisakah Papa kesini? jemput Megi untuk hadir bersama Papa, bersama keluarga kita Pa." Megi kembali menangis pilu, rindu hatinya ini hampir membuat ia gila.


Perih yang ia rasakan, tak ada tempat untuk ia bercerita, hatinya terluka, hatinya tersiksa. Namun Megi berusaha kuat, hanya untuk bertahan. Bertahan dari kerasnya takdir yang menghantam jiwanya tanpa ampun.

__ADS_1


"Pa, Megi rindu, Papa jemput Megi ya."


"Tidak sekarang, Megi. Ini belum waktunya." suara barito seorang lelaki, membuat Megi kaget setengah Mati.


"Kak Mirza." ucap Megi sambil menghapus jejak bulir air matanya.


Megi bangkit dari duduknya, ia menutup pintu kamar Papanya sebelum Mirza masuk.


Megi mendorong buffet di samping pintu untuk menahan Mirza agar tidak masuk, Megi menutup semua jendela yang mungkin bisa Mirza masuki.


Megi meraba saku roknya, sial ia meninggalkan ponselnya di hotel. Perlahan keringat mulai mengalir dari pelipis matanya.


"Kak Mirza pergi, jangan dekati aku!" teriak Megi dari dalam kamar.


"Kenapa? apa sekarang lu udah benci kakak lu ini?"


"Aku gak benci kakak, tapi aku mohon jangan deketi aku lagi, Kak!"


"Kenapa, Sayang? apa kamu tidak kangen sama kakakmu ini?"


Braaakkkkk


Suara tendangan daun pintu membuat badan mungil Megi terlompat.


"Kak Sean bisa membunuh kakak, kalau kakak berusaha jual aku lagi."


Mirza kembali menendang keras pintu kamar, namun pertahan yang di buat Megi masih bisa menahan pintu agar tetap tertutup.


"Lu pikir gue takut sama si Sean itu? dia gak akan berani bunuh gue, karena adik dia saat ini tak bisa hidup tanpa gue!"


"Lu pikir ada yang bisa ngelarang gue? Megi buka!" perintah Mirza kasar.


"Kakak butuh uang? bilang jumlahnya aku akan berikan kak, tapi biarin aku keluar."


"Cih ... Gue gak butuh uang dari Sean. Gue cuma mau uang dari kehancuran elu, Meg. Seperti elu yang udah hancurin hidup gue."


Mirza mendobrak kuat pintu kamar, semakin kuat dobrakannya, semakin kuat debaran jantung Megi. Saat ini dia terhimpit, tak ada apapun yang bisa membantunya.


"Papa tolong, Megi. Megi terjebak disini." ucap Megi lirih.


Sean kembali ke hotelnya saat ia tak menjumpai Megi di apartemennya, Sean juga tak menemui Megi di balik konter Resepsionisnya.


"Kemana gadis itu?" decak Sean kesal.


Nada dering ponselnya berbunyi, di lihat nama yang tertera di ponselnya. Ia lupa saat ini Farrel dan investor sedang menunggunya di lokasi pembangunan.


Tanpa mengangkat telepon itu, Sean langsung melajukan motornya ke lokasi pembangunan. Namun saat ini pemikirannya bercabang ke Megi.


Entah kenapa hatinya merasakan sesak saat mengingat gadis itu. Sean membelokan motornya ke pemakaman, sekedar untuk bercerita kepada Affandy.


Sean mengusap nisan Affandy, bibirnya tersenyum pahit saat melihat kuburan Affandy.


"Om, maafkan Sean yang sudah melukai hati anak perempuan kesayangan Om." ucap Sean lirih.


"Sean bukan lelaki yang baik, Sean harap Om bisa mengerti."


Sean terdiam sesaat, pikirannya melayang jauh ke masa silam. Andai dia tidak membeli Megi malam itu, mungkin takdir ia dan Megi saat ini berbeda.

__ADS_1


Jalan yang mereka tempuh pasti berbeda, mungkin sudah takdir, atau memang ada rancangan Tuhan di balik ini semua.


Sean tak paham jalan ini, ia hanya mengikuti permainan takdir. Sean memakai kacamatanya kembali, ia berjalan cepat keluar dari pemakaman.


Kembali ponselnya menjerit keras, Sean mengusapnya tanpa melihat nama yang tertera.


"Bos, dimana?" tanya Farrel di seberang sana.


"Lagi dijalan."


"Investor sudah datang, Bos. Bos mau kesini atau saya yang handle semuanya?"


"Gue segera kesana." Sean menutup ponselnya dan kembali melajukan motornya dengan kecepatan maksimal, menyusul Farrel di lokasi pembangunan


*****


"Kak Mirza, aku mohon kak. Lepasin aku, bukan aku yang buat hidup kakak begini."


"Cih ... Gue sampek mati pun gak akan lepasin elu."


"Kak, sebenarnya aku salah apa sama kakak? kenapa kakak gak pernah sayang sama aku?" kembali Megi bertanya untuk mengulur waktu. Otaknya terus berputar, mencari celah yang mungkin bisa menyelamatkannya kembali.


"Kesalahan elu, huh ... Kenapa elu harus lahir ke dunia ini Megi?" teriak Mirza lantang.


Braaak brakkk


Mirza kembali menendang pintu kamar dengan kuat. Mata Megi kembali mengelilingi kamar, mencari celah untuk ia kabur. Jendela di kamar ini memakai jeruji dari kayu, bagaimana ia bisa membuka jeruji itu.


Megi menendang jeruji kayu itu, namun tenaga ia tak sekuat tenaga Mirza. Apa yang harus ia lakukan, jika terus seperti ini, buffet itu juga akan hancur.


"Bukan aku yang minta lahir ke dunia ini kak, kenapa kakak gak mau mengerti?" Megi menggoyang-goyangkan jeruji kayu itu sekuat tenaganya.


"Megi, gue bilang buka!" kembali teriakan Mirza terdengar lantang.


"Oh ayolah," ucap Megi lirih sambil menarik jeruji kayu jendela kamar Papa nya.


Braaakkk Braaakkkk


Kembali daun pintu di tendang kuat, sedikit demi sedikit buffet penghalang pintu mulai bergeser. Kembali keringat dingin mengalir di dahi Megi melihat itu.


Megi mengenggam kedua jemarinya, tangannya mulai begetar karena takut.


Brakkkk


Megi terkejut dan langsung terlompat dari atas bayang tempat tidur. Ia menahan buffet itu agar tetap rapat. Mendorong kembali buffet itu agar rapat dengan pintu. Belum sempat Megi mendorong buffet itu agar kembali rapat, Mirza kembali menendang daun pintu dengan keras.


Braakkkk


Kembali Mirza menendang daun pintu dengan sekuat tenaganya, seketika badan Megi sedikit bergeser karena hentakan kaki Mirza.


Sedikit terbatuk karena nafasnya tersengal akibat benturan badannya dengan buffet yang ia tahan.


"Apa yang harus aku lakukan?" Megi memejamkan matanya, kini ia benar-benar kalut tak ada lagi yang bisa menyelamatkan nyawanya kali ini. Selain...


"Kak Sean aku mohon tolong aku." ucap Megi sambil memejamkan matanya. Ia membayangkan wajah Sean, semoga Sean bisa mendengar jeritan hatinya.


Semoga ikatan diantara mereka berdua cukup kuat untuk menarik langkah Sean kesini.

__ADS_1


__ADS_2