Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
08


__ADS_3

"Laptop kamu aku bawa pulang dulu ya, biar bisa aku tanam virus jadi laptop kamu lebih tahan sama virus-virus luar." ucap Rezi sambil membetulkan laptop Shenina.


Setelah menunggu beberapa detik, namun Shenina tak memberi respon. Rezi membuang pandangan, melihat kearah Shenina.


"Shenina." panggil Rezi lembut.


"Hey." sentuh Rezi lembut di tangan Shenina.


"Eh." Shenina terkejut dan membuang pandangannya yang sedari tadi terus terfokus oleh Rezi.


"Kan, bengong lagi. Kebiasan."


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Shenina malu.


"Aku mau tanam virus di laptop kamu, tapi aku gak bawa laptop aku. Jadi laptop kamu aku bawa pulang dulu, boleh?" tanya Rezi cepat.


"Oh boleh." balas Shenina langsung.


"Lama gak kak?" tanya Seta


"Tergantung." jawab Rezi lembut.


"Tergantung apa?" tanya Seta kembali.


"Tergantung waktu aku, tapi aku usahain dalam 2 hari ya."


"Seta, jangan begitu. Mas Rezi mungkin lagi sibuk, kamu harus sabar."


Rezi meraih pucuk kepala Seta dan mengacak rambut Seta. Tersenyum lembut melihat wajah Seta.


Rezi melihat jam di tangan kirinya, ia menutup laptop Shenina dengan cepat.


"Aku balik ya, ada kelas siang ini di kampus."


"Oh iya, hati-hati ya, Mas. Dan juga terima kasih." ucap Shenina lembut.


Rezi hanya tersenyum dan memakai kembali sepatunya. Berjalan dengan santai keluar dari rumah Shenina.


"Aku bawa ya." ucap Rezi sebelum keluar dari rumah Shenina.


"Iya, Mas."


Rezi berjalan keluar dengan menenteng laptop Shenina. Baru berjalan tiga langkah keluar dari rumah Shenina, Rezi kembali berjalan ke depan Shenina.


Rezi mengeluarkan ponselnya dan. memberikan ke hadapan Shenina.


"Nomor ponsel kamu, nanti aku hubungi saat laptopnya sudah selesai aku perbaiki."


Shenina melihat ponsel itu lalu mengalihkan pandangannya kearah Rezi. Sedikit tersenyum, Shenina mengambil ponsel Rezi dan menuliskan nomornya.


"Oke, nanti aku hubungi ya."


***


Rezi meletakan tasnya diatas meja. Ia membantingkan badannya dengan kasar diatas kasur. Menutupi dahinya dengan lengan tangan. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamarnya.


Pikirannya mengawan jauh, bayangan mata bening milik wanita itu. Senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.


Rezi menggelengkan kepalanya dan bangkit dari duduknya. Ia masih benar-benar ingat bagaimana pandangan mata wanita itu di toko buku beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Jernih dan sangat tenang. Seperti ada sesuatu dari bola matanya yang terus menarik perhatian Rezi.


"Dasar, kenapa sulit sekali melupakan dia?" ucap Rezi lirih


Rezi bangkit dan mengeluarkan laptopnya dari dalam tas. Menghidupkan laptopnya dan menyiapkan beberapa tugasnya.


"Gawat, laptop Shenina!" ucap Rezi terkejut.


Dengan cepat Rezi berlari menuruni anak tangga, membuka pintu mobilnya dan mengambil laptop Shenina yang masih ia tinggalkan di mobil.


Saat ingin masuk, tanpa sengaja Rezi melihat Soraya yang menangis di halaman rumahnya.


Perlahan Rezi berjalan mendekati Soraya dan duduk di sebelah Soraya. Soraya memalingkan wajahnya, melihat Rezi yang duduk si sebelahnya.


Beberapa kali Soraya menghela nafasnya dan kembali menjatuhkan buliran air matanya. Rezi hanya diam, ia tak membuka suaranya sama sekali


Untuk beberapa lama, suasana diantara mereka hanyalah keheningan. Hanya desis angin malam yang menemani mereka berdua.


"Sudah malam, jangan di luar lagi. Ayo masuk." ucap Rezi memecehkan suasana.


"Ari selingkuh, Rezi."


Rezi hanya menghela nafasnya, ia mengambil kepala Soraya dan menjatuhkannya di atas bahunya.


"Ari tak sebaik itu untuk mendapatkan air mata kamu."


"Untuk kesekian kalinya, Ari hanya bisa mematahkan hati gue berulang kali."


Rezi hanya mengelus kepala Aya dengan lembut, membiarkan Aya mengeluarkan seluruh kesedihannya.


"Sudahlah Aya, gak perlu lagi kamu bertahan. Lepaskan saja."


"Aku tahu gak mudah, tapi bertahan dalam luka seperti ini apa mudah? enggak kan?" Rezi menghela nafasnya dan mengambil kepala Aya.


Rezi menghapus buliran air mata Aya dan mengelus pipi Soraya dengan lembut.


"Jangan di tahan lagi, Soraya. Jika memang gak sanggup, lepaskan saja. Tak ada baiknya, memaksakan diri padahal kamu sudah tidak mampu."


"Tapi tidak semudah itu Rezi. Gue sama Ari sudah berjalan hampir 3 tahun."


"Sudah 3 tahun kan, bukankah waktu itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa Ari itu bukan pilihan yang baik untuk kamu."


"Tapi elu gak mengerti Rezi."


"Soraya, dengarkan aku. Jika Ari itu memang pantas untuk kamu pertahani, seharusnya selama ini Ari bisa membuktikan bahwa dia pantas untuk di perjuangin. Tapi Ari tak pernah membuktikan apapun, seharusnya kamu bisa membuka matamu, sudah cukup Soraya. Jangan siksa dirimu lagi." balas Rezi tegas.


Soraya menarik ingusnya yang ingin keluar dan menghapus buliran air matanya.


Percuma ia menjelaskan dengan Rezi, toh Rezi sama sekali gak ada pengalaman apapun dalam hubungan kisah cinta.


"Itu laptop siapa?" tanya Aya mengalihkan perhatian Rezi.


"Oh, ini punya teman. Padahal aku janji sama dia cuma dua hari, eh malah lupa." jawab Rezi dengan menggaruk kepalanya.


"Cewek?" tanya Aya lemas.


"Iya, cewek."


"Temen atau pacar?" tanya Aya dengan senyum sendu.

__ADS_1


"Hanya teman biasa." jawab Rezi tersenyum lembut.


Rezi mengelus pucuk kepala Aya, sedikit geram.


"Jangan pikiri yang aneh-aneh. Aku belum kepikiran cewek dulu saat ini." sambung Rezi lembut.


"Evgen apa kabar?"


"Ha ha ha, padahal tadi sore kata Mama kalian habis bertengkar, masih tanya apa kabar?"


"Resek banget sih, beda banget sama elu." jawab Aya malas.


"Evgen itu menyenangkan ya kan, seru kalau berteman sama dia."


"Apanya yang menyenangkan? kata om Sean selama dia di bawa ke kantor kerjanya cuma main game saja."


"He he he. Tapi dia keren kan dengan rambut barunya."


"Mau keren juga, dia tetap hanya seorang bocah." jawab Soraya lembut.


Aya menghela nafasnya dan kembali membuang pandangannya. Menatap ke hamparan luas depan rumahnya.


"Padahal gue mau minta bantuan Evgen buat manas-manasi Ari, tapi kalau dia gak gondrong lagi, mukanya semakin terlihat muda."


"Hem, masih mikirin Ari lagi?"


Celetuk.


Rezi menyelintik dahi Soraya dengan kuat.


"Jangan pikiri dia lagi, pikiri kuliahmu dan segera susul aku."


"Elu mah gak bakalan bisa di susuli, mau belajar sampai tua pun kapasitas otak kita berbeda."


"Dari pada energi kamu habis buat mikirin Ari, mending kamu belajar buat virus sama aku."


"Ah, ogah deh. Elu ajak Evgen saja."


"Ha ha ha." Rezi melepaskan tawanya dan kembali mengelus pucuk kepala Soraya.


Perlahan Rezi bangkit dan mengambil laptop Shenina.


"Aku balik deh, mau istirahat."


"Yasudah istirahat gih."


"Kamu juga, jangan pikiri Ari lagi. Aku tahu yang namanya cinta itu buta, tapi jangan sampai kamu bodoh karena cinta."


"Hem elu bisa ngomong begini karena elu belum jatuh cinta, awas saja saat elu jatuh cinta dan elu jadi bodoh. Saat itu, gue akan ledekin elu habis-habisan."


"Ha ha ha. Aku mungkin akan jatuh cinta, tapi aku gak akan jadi bodoh. Karena aku mencintai pakai ini." ucap Rezi sambil menetuk satu jarinya di dahi.


"Ingat itu, cinta harus pakai ini." kembali Rezi berucap dan menetukan jarinya di dahi.


"Ha ha ha, iya iya, sudah." Aya memukul lengan tangan Rezi, mengusir Rezi secepat yang ia bisa.


Rezi hanya tersenyum dan berjalan kembali kehalaman rumahnya. Soraya menghela nafasnya saat melihat Rezi pergi.


"Gue gak bodoh Rezi, selama bertahun-tahun gue pacaran sama Ari hanya sebagai samaran atas perasaan gue ke elu." lirih Soraya lemas.

__ADS_1


"Seandainya gue gak pakai otak dalam perasaan gue, mungkin gue sudah dari dulu nyatain perasaan ke elu. Karena ngelupain elu juga butuh waktu yang sangat lama."


__ADS_2