
"Kenapa elu bisa tertinggal? padahal temen elu udah gue balikin ke Tuannya." ucap Sean sambil memandang bintang-bintang kecil itu.
Senyumnya terasa begitu pahit, sampai saat ini pun Sean masih terasa sesak jika mengingat Megi. Semua yang diberikan Megi sungguh sangat berarti buatnya.
Sean berjalan menuju balkon kamarnya, masih ada baju ia yang terkena darah Megi. Sean mencium bau darah itu kembali, walaupun baunya sudah tak terasa di hidungnya, tapi bagi Sean baju inilah yang telah menyadarkan ia. Menyadarkan ia akan arti Megi dalam hidupnya.
Sean kembali menghela nafas panjang, kapanpun itu. Saat ia mengingat Megi, maka semua akan terasa menyesak.
Sean memandang kamarnya kembali, ia menjalankan kakinya ke depan kaca. Masih ada bunny head yang dulu pernah mengukir senyum di wajah Megi.
Sean berdiri di depan kaca, ia memakai bunny berwarna pink itu. Menarik satu kakinya untuk membuat kupingnya berdiri. Sean asyik memainkan bunny itu dan tersenyum sendiri.
Sepintas kenangan indah tentang bunny ini muncul menghiasi imajinasinya. Seketika senyum itu berubah menjadi tangisan.
"Meg, gue rindu banget sama elu. Kapanpun itu, saat gue rindu akan hadir lu, nafas dan senyum gue terasa sangat menyakitkan." ucap Sean sambil menaruh lemas bunny itu diatas kasurnya.
Sean membuka pintu kamar Megi, sekelibat bayangan Megi terlihat saat ia membuka pintu kamar Megi. Sean menjejaki kamar yang sudah tak berpenghuni ini, membuka lemari Megi yang saat ini sudah benar-benar kosong.
Sean selalu memasuki ruangan ini saat ia rindu, membuka lemari Megi adalah cara ia untuk menyadarkan. Bahwa saat ini Megi tak ada lagi di sampingnya.
Sean menarik tali gordennya, membuka bentangan kaca kamar Megi, menatap luas kota tempat ia lahir dan di besarkan. Sean memegang kaca itu, senyumnya kembali getir.
"Pandangan ini yang selalu elu lihat saat bangun pagi kan, Meg?" Sean menghela nafas panjangnya.
"Saat ini gue cuma ngerasa hampa, kekosongan yang elu tinggali di hati gue gak pernah terisi."
Sean menjatuhkan bokongnya dilantai, ia memutar siaran radio tempat dulu Megi sering siaran.
"Andai saat ini gue masih bisa denger suara elu, mungkin sedikit sesak ini akan berkurang."
Sean mengeluarkan gawainya, ia memutar lagu yang pernah Megi request di radio untuknya dulu.
Indah hari-hari itu masih sangat terlihat di pelupuk matanya. Semua yang terindah dalam hidup Sean adalah saat bersama Megi.
Senyum Sean kembali merekah lebar, saat mengingat segala tingkah dan kekonyolan Megi. Megi menganggap Sean adalah segalanya, segala pusat perhatian Megi adalah ia.
"Elu adalah orang yang paling mengerti isi hati gue Megi, elu adalah orang yang paling peduli sama gue, tapi gue malah nyakiti elu." Sean menarik nafasnya dalam.
Megi hanya sebentar singgah dalam hidupnya, namun kenapa kenangan yang ia tinggalkan sangat banyak. Sampai setiap hari Sean tak cukup walau hanya mengenang tentangnya.
Sean mulai menguatkan kakinya kembali, ia berjalan keluar dari kamar Megi. Lagi-lagi langkah nya terhenti di ruang tengah. Ia masih memajang foto pernikahan mereka.
Kalau mengingat hari itu, Sean hanya bisa tersenyum geli. Bahkan di hari pernikahannya saja mereka masih bisa bertengkar. Kenapa sekarang pertengkaran itu yang sangat di rindui Sean.
__ADS_1
Sean menangkupkan tangannya di depan dahinya, menundukan pandangannya jauh kebawah.
"Gue merindui elu sampai gue hampir gila, gue baru menyadari saat ini, setelah kepergian elu, gue gak memiliki apapun lagi, Megi." Sean menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan Megi yang terus bermain dalam ingatan.
"Gue baru berani mengakuinya sekarang, gue gak memiliki apapun lagi, selain cinta elu, maaf Megi. Maaf gue membiarkan elu hilang begitu saja."
Sean memejamkan matanya, ia mengusap kasar wajahnya.
"Gue terlalu bodoh, gue bodoh menyia-nyiakan semua perasaan elu. Padahal bagi elu gue adalah segalanya, di mata elu gak ada yang penting selain gue." Sean mengangkat kepalanya, melihat foto Megi yang sedang tersenyum dengan balutan gaun putih pengantin mereka.
"Sekarang gue rindu segalanya, gue rindu saat elu perhatiin gue, seakan-akan gue adalah dunia elu." ucap Sean pahit.
"Maaf, Megi. Tapi gue gak bisa lepasin elu dari dalam ingatan gue." sambung Sean.
Suara jeritan ponsel Sean berdering keras. Sesaat Sean tersadar, ia mengangkat telepon itu segera, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Sean kamu dimana?" suara panik dari seberang sana.
"Aku lagi cari dokumen di apartemen, Pa." jawab Sean datar.
"Cepet ke lokasi pembangunan, Nak!"
"Ada apa, Pa?"
"Apa?"
******
Megi menikmati semilir angin sore hari, matanya menatap gedung tinggi di depannya. Tangan lentik Megi asyik mencoret-coret karton di tangannya.
Sudah dari pagi Megi berada di luar rumah, mencari ketenangan di alam luar.
Setelah mendengar berita yang di sampaikan Mika pagi tadi, membuat dada Megi terasa begitu sesak.
Memang sudah setahun berlalu, namun perasaan nya pada Sean masih kuat bertahta di hatinya.
Kehilangan harapan di tengah keputus asaan, itu yang saat ini sedang Megi jalani. Tangannya tak berhenti menggambar, mengeluarkan segala kekesalan dalam hatinya.
Kenapa ia begitu tak berdaya melewan ini semua, kenapa semua harus berakhir seperti ini saja.
Tes ... Tes ...
Satu persatu air mata Megi saling bersambut, membasahi karton putih yang saat ini sedang berada di atas pangkuannya. Sesaat tangisan Megi kembali pecah, sakit di hatinya masih terasa sangat nyata, entah sampai kapan rasa ini bertahan, namun saat ini semua bagaikan beban yang sama sekali tak ingin lepas.
__ADS_1
Megi memandang kertas karton yang berada di tangannya saat ini. Karena rasa kesal di hatinya, tanpa sengaja Megi melukis wajah Sean.
Wajah Sean saat pertama kali mereka bertemu, wajah Sean yang dingin dan angkuh. Sean yang masih berantakan dan brandalan tak menentu.
Megi tersenyum dan memejamkan matanya, bahkan alam bahwa sadarnya saja masih sangat merindukan Sean.
Perlahan Megi membuka kedua kelopak matanya, kembali air mata menetesi karton di tangannya. Tangan lentiknya menyentuh permukaan karton itu, bibir Megi tersenyum. Namun semakin air mata itu di tahan, semakin dalam pula tangisan Megi yang keluar.
Beberapa saat Megi larut dalam kesedihannya, sekilas memori indah yang pernah mereka lewati bersama berputar berurutan dalam ingatan.
Megi mengambil nafasnya dalam, perlahan ia menghembuskannya. Megi menghapus buliran air matanya yang sempat mengalir dengan deras. Kembali Megi menatap lukisan di tangannya.
"Baiklah, Sean Rayen Putra." ucap Megi sambil melihat lukisan wajah Sean.
"Mulai hari ini aku akan berjalan tanpa impian. Mencoba bertahan tanpa harapan. Aku akan terus berusaha, walau aku tahu, kamu tak akan pernah kembali ke sisiku." ucap Megi dengan menahan sengalan nafasnya yang terasa sangat sulit untuk ia hirup.
Megi menatap lukisan wajah Sean yang sedang tersenyum sinis. Wajah Sean yang ia gak mungkin lupakan, senyum Sean yang jarang sekali terukir dari wajah garanganya. Sekali tersenyum malah lebih sinis dari seorang pembunuh.
"Kenapa wajah kamu itu selalu datar, Sean? kenapa aku malah melukis senyum sinismu itu?" tanya Megi sendu.
"Karena, karena saat wajahmu tersenyum manis itu sangat jarang. Karena jika aku mengingat wajahmu saat tersenyum dengan manis, hatiku akan tersakiti, aku akan terus tersakiti." Megi meletakan lukisannya di atas kursi tempat ia duduk dan berlari menjauh.
Meninggalkan lukisan tangannya begitu saja, seperti ia yang meninggalkan Sean di bandara setahun yang lalu.
Megi menangkupkan tangannya di depan bibir, tangisnya kembali pecah. Perlahan kekuatan dari kedua kakinya mulai hilang.
Megi menumpuhkan salah satu tangannya di batang pohon besar di tengah taman. Perlahan Megi terduduk, ia menarik kedua lutut kakinya dan membenamkan wajahnya di atas kedua dengkulnya.
Kembali memecahkan tangisnya yang semakin dalam, semakin banyak bayangan Sean yang melintas, semakin perih hatinya.
Sebuah tangan menyentuh pundak Megi, dengan cepat Megi mengangkat kepalanya. Seorang lelaki tersenyum dan menyodorkan lukisan tangan Megi tadi.
Dengan menghapus buliran air matanya, Megi meriah lukisan itu kembali.
"Xié xié. (Terima kasih)" ucap Megi lembut.
Lelaki itu hanya mengangguk dan pergi. Megi menghela nafasnya dan melihat kembali lukisan wajah Sean.
Megi tersenyum pahit, kembali matanya mengeluarkan cairan bening itu. Megi meletakan lukisan wajah Sean diatas rumput, jemarinya kembali meraih wajah Sean.
"Sean Rayen Putra." ucap Megi lirih.
"Asa yang tertunda." sambung Megi pahit.
__ADS_1