Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
121


__ADS_3

Rezi menghela napasnya, ia menarik tangan Shenina untuk ikut dengannya. Menghirup udara luar agar bisa membuat perasaan gadis itu sedikit lebih tenang.


Rezi menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Shenina. Membiarkan gadis itu untuk meluapkan segala beban hatinya.


Setelah beberapa lama, Shenina kembali tenang. Hanya tersisa isakan yang sesekali terdengar.


"Shenina, aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Namun Evgen bukan orang yang mudah percaya sama kata-kata orang lain. Walaupun itu aku sendiri yang mengatakan padanya," ucap Rezi lembut.


Shenina tersenyum, jemarinya meremat botol air mineral itu dengan erat.


"Aku bukan mengatakan hal ini agar mas Rezi menyampaikannya sama Evgen. Aku hanya ingin mengungkapkan, setidaknya setelah ada yang tahu isi hatiku. Perasaanku bisa sedikit lebih lega," jawab Shenina lembut.


Rezi tersenyum dan menganggukan kepalanya. Mengelus pucuk kepala gadis itu dengan lembut.


"Saat ini semua sudah terlewatkan, Shenina. Tetaplah semangat dan jangan berhenti berharap. Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya, jadi ...." Rezi tersenyum dan menatap wajah Shenina dengan lekat.


"Teruslah mengejar apa yang seharusnya kamu pertahankan. Ingat Shenina, jodoh memang tidak akan kemana. Tetapi kalau jodohmu tidak diperjuangkan, maka dia juga akan terlepas dari genggaman."


Shenina tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.


"Hem, kesalahan aku telah melewatkan Evgen. Seandainya aku punya kesempatan sekali lagi. Mungkin aku akan berusaha memperbaiki, walau pada akhirnya hubungan kami juga akan berakhir kecewa. Namun setidaknya aku tidak akan menyesal seperti saat ini. Menyesal untuk sebuah rasa yang tidak pernah terungkap sebelumnya."


Rezi melirik ke arah gadis itu, melihat wajah sendu Shenina yang berusaha tersenyum di atas lukanya saat ini.


Sering kali perasaan itu terungkap saat orang yang penting tidak lagi berada di sisi.


Mungkin, yang namanya perpisahan akan menimbulkan sebuah jarak. Namun jarak juga akan menampilkan kekuataannya.


Rindu dan juga kesetiaan, setiap kali sebuah hubungan diuji oleh jarak. Maka cinta itu semakin terlihat, akankah ia semakin erat atau semakin memudar.


Entahlah, terkadang jalan cinta itu rumit. Tetapi cinta tak pernah tersesat untuk menemukan jalan pulang.


Karena serumit apapun likunya, cinta akan menemukan jalannya sendiri untuk bisa kembali.


***


Evgen menyodorkan sebuah es krim ke hadapan Krystal. Gadis itu melirik dan mengambil uluran tangan Evgen.


Membuka perlahan bungkus es krim yang ada di tangannya.


"Ini, aku sudah mencatat beberapa alamat perpustakaan yang ada di kota. Kakak bisa kunjungi kapan pun yang Kakak mau," ucap Krystal sembari memberikan sebuah nota ke tangan Evgen.


Lelaki itu membaca sekilas isi nota tersebut, lalu menyimpannya di dalam saku jaket.


"Thank's ya," jawab Evgen lembut.


Krystal hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Kembali sibuk pada cone es krim yang ada di tangannya.


"Ngomong-ngomong Kakak mau kuliah jurusan apa?" tanya Krystal basa-basi.


"Kecantikan," jawab Evgen ketus.


"Hah?" Krystal membuka mulutnya dengan lebar. Tak percaya jika lelaki tampan yang ada di depannya itu seorang lelaki dengan hobi tersendiri.


"Kakak gak salah?" tanya Krystal kembali.


"Kenapa? Gak boleh kalau gue punya cita-cita punya salon sendiri?" jawab Evgen ketus.


"Bukan ... bukan." Krystal mengubah posisi duduknya, menghadap ke arah Evgen.


"Aku hanya gak percaya saja. Kakak? Maksud aku, lelaki sekeren Kakak, punya cita-cita buka salon sendiri?" Krystal tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Oh my ... yang benar saja," ucap Krystal tak percaya.


Evgen hanya tersenyum, melirik ke arah gadis itu yang masih bingung sendiri.


"Kakak ternyata seorang--" Krystal melambaikan tangannya, bertingkah seperti banci.


Evgen memecahkan tawanya, ia menarik ujung topi rajut yang dipakai Krystal, sampai menutupi seluruh wajahnya.


"Ayolah, gue ini lelaki tulen," ucap Evgen geli.


Krystal memukul lengan tangan Evgen sekeras mungkin. Merapaikan kembali topi musim dingin yang ia kenakan.


"Aku serius Kak, aku pikir Kakak beneran mau punya salon sendiri. Kenapa kuliahnya ke London? Kenapa gak langsung ke Paris saja?" tanya Krystal sembari membenarkan topi yang ia kenakan.


Evgen kembali tersenyum dan ikut merapikan helaian rambut pirang gadis kecil itu.


"Gue mau kuliah di jurusan arstiektur. Menurut lu? Gue ada potongan gitu jadi lekong?" Colek Evgen di dagu panjang gadis kecil itu.


Krystal kembali tertawa, ia menjauhkan tangan Evgen dari kulitnya. Geli jika melihat gaya Evgen yang sedikit kemayu begitu.


"Ya mana tahu saja Kakak patah hati sama wanita dan ingin beralih mencintai pria. Ha ha ha."


"Sialan lu, gak segitunya juga lah. Lagian kalau gue patah hati, kan masih ada elu yang nampung gue," ucap Evgen bercanda.


Krystal langsung melirik ke arah Evgen. Jadi saat ini, Evgen sedang patah hati kah? Apa karena itu ia jadi peduli pada perasaannya?


Krystal menghela napasnya sedikit berat. Apapun alasannya, biarlah itu apa adanya. Saat ini ia sedang tidak berpikir untuk kembali jatuh cinta.


Karena ada hal lain yang ingin ia selesaikan dan ada tujuan lain yang harus ia capai.


"Kalau gue boleh tahu, kenapa elu bisa menjadi warga negara Inggris? Sejak kapan elu pindah kesini?" tanya Evgen kembali serius.


"Kenapa? Memang ada yang salah dengan identitas aku saat ini?"


Krystal hanya mengangguk dan kembali memakan es krim yang ada di tangannya. Ia belum ada niat untuk memberi tahu alasan di balik ke pindahannya ke London.


Evgen menghela napasnya, mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.


"Ya ... kalau elu gak mau cerita juga gak masalah sih. Lagian itu urusan pribadi elu, jadi gue coba untuk pahami," ucap evgen kembali.


Krystal menghela napasnya, melihat wajah tampan Evgen yang duduk di sebelahnya. Mungkin dulu ia akan sangat senang bisa sedekat ini oleh pria ini.


Tetapi saat ini perasaannya tentang cinta sudah sirna. Hanya ada dendam yang terus berkobar dalam ingatannya.


"Papa aku, bangkrut karena ditipu oleh sahabatnya," jawab Krystal lemah.


Evgen langsung melirik ke arah Krystal. Sudah bangkrut tapi bisa pindah warga negara, siapa yang akan percaya?


"Saat Papa ditipu, Grandpa mendengar kabarnya. Dan Grandpa langsung meminta kami bertiga pindah ke London dan tidak diizinkan kembali ke Indonesia lagi," jelas Krystal lebih rinci.


Evgen mengernyitkan dahinya, memandang gadis itu kembali.


"Kakek kamu orang London asli?" tanya Evgen langsung.


"Iya, Kakek aku orang Inggris. Kenapa?" tanya Krystal kembali.


Evgen menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.


Pantas saja gadis ini terlihat seperti orang asing saat rambutnya berwarna blonde. Ternyata setengah darahnya memang keturunan Eropa.


"Lalu, sudah berapa lama kamu pindah kesini. Bukannya belum lama ini kita ada bertemu di Indonesia ya?" tanya Evgen kembali.

__ADS_1


"Iya, setelah pertemuan terakhir kita. Aku pindah kesini. Walau sebenarnya aku lebih suka tinggal di Indonesia, tapi aku bisa bilang apa? Tidak ada apapun yang tersisa di sana," jawab Krystal sedih.


Evgen tersenyum tipis dan menarik kepala Krystal. Menjatuhkan kepala gadis itu di atas bahunya.


"Terkadang hidup memang seperti ini Krystal. Apa yang kita sukai, lebih sering untuk kita lepasi, karena tidak selamanya apa yang kita ingini, bisa kita raih."


Evgen mengelus kepala Krystal lembut. Sebenarnya dibandingkan memberikan solusi untuk orang lain. Ia lebih meratapi nasib hatinya.


Sama seperti Krystal. Ia juga kecewa oleh kenyataan.


"Kakak boleh aku bertanya?" tanya Krystal menarik kembali kepalanya.


"Tanya saja."


"Kakak itu anak pengusaha Sean Rayen Putra kan?"


"Kenapa memangnya?"


"Aku ingin tahu saja, benarkah Kakak itu anak dari pengusaha paling kaya di kota."


"Benar. Memangnya kalau gue anaknya Sean kenapa?" tanya Evgen kembali.


"Kakak tahu gak? Sahabat yang menipu Papa aku itu--"


"Jangan bilang Papa gue?" putus Evgen langsung. "Papa gue gak seburuk itu Krystal. Papa gue juga bukan pengusaha abal-abal. Lu pikir Papa gue mau menipu uang orang lain?" tanya Evgen tanpa jeda.


"Aku gak bilang itu Papa Kakak. Tetapi banyak pengusaha kecil yang menggunakan nama Papa Kakak untuk menipu orang lain. Termasuk sahabat Papa aku sendiri."


"Terus ... hubungannya sama Papa gue apa? Apa Papa gue harus bertanggung jawab untuk hal buruk yang dilakukan orang lain menggunakan namanya?" tanya Evgen kembali.


"Kak, bukan itu maksud aku," ucap Krystal lemah.


"Lalu?"


"Perusahaan Papa Kakak adalah perusahaan yang paling kuat. Banyak orang yang menggunakan nama Papa Kakak untuk menipu orang. Lambat laun, nama Papa Kakak akan tercoreng akan hal ini, apa Kakak bisa diam saja melihat hal ini?"


"Lalu gue bisa apa?"


"Papa Kakak harus tahu hal ini. Kakak harus bisa ambil tindakan pada orang-orang yang akan merugikan perusahaan Papa Kakak itu."


"Krystal, gue masih delapan belas tahun, gue belum paham tentang dunia bisnis itu bagaimana. Jika apa yang elu bilang itu benar, otomatis Paman Yohan dan Om Bima akan lebih tahu. Mereka gak akan biarin hal ini terjadi."


"Jadi Kakak mau bilang kalau apa yang aku ucapkan itu kebohongan?" tanya Krystal sengit.


"Gue gak bilang itu bohong. Tetapi ini bukan lagi ranah kita untuk ikut campur. Gue dan elu, kita gak bisa ikut campur tentang apa yang di kerjakan oleh orang tua kita," jelas Evgen ketus.


Krystal tersenyum kecut, menggelengkan kepalanya. Ia bangkit dan merapikan tas bawaannya.


"Kakak bisa gak peduli karena saat ini Kakak sedang menikmati hasil kekayaan orang tua Kakak. Tapi aku gak bisa, Kak. Papa aku membangun usahanya dari nol, dan saat ini Papa aku sedang ditipu dan dirampas segalanya. Aku gak bisa diam Kak, aku akan cari tahu itu dengan atau tanpa bantuan dari Kakak."


Krystal menarik tali tasnya dan berjalan menjauh dari kursi duduk mereka.


Ia kesal karena jawaban Evgen yang terlalu cuek dengan masalah orang lain.


Krystal berharap bahwa Evgen mau membantu kesulitannya sedikit saja. Tetapi ia terlalu menaruh harapan besar pada lelaki angkuh itu.


Evgen menjatuhkan kepalanya di atas sandaran kursi. Menghela napasnya sedikit lelah.


Bukan tidak ingin membantu, namun ia tidak berdaya melawan apapun saat ini.


Ia sadar, ia masih bukan siapa-siapa. Jika ia terlalu banyak ikut campur dalam masalah ini. Yang ada konsentrasinya untuk masuk ke universitas akan terpecah.

__ADS_1


Itu, akan berpengaruh buruk untuk masa depannya. Karena saat ini, kembali ke Indonesia dengan menggenggam kesuksesan di tangannya, adalah satu-satunya jalan ia untuk bisa kembali pulang.


__ADS_2