Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
23


__ADS_3

Evgen menatap lekat kearah Shenina. Melihat bibir Shenina yang tersenyum tipis saat ia membicarakan teman janjinya itu.


"Echem," Evgen mendehem pelan dan meneguk kopinya sedikit.


"Apa teman elu itu cowok?" Tanya Evgen penasaran.


"Iya," jawab Shenina dengan tersenyum tipis.


Sudah lama ia tidak bertemu dengan Rezi, walaupun ia memiliki kontak nomor Rezi, tapi Shenina tak mempunyai keberanian untuk menghubungi lebih dulu.


Sementara Evgen mulai panas saat melihat Shenina yang tersenyum sendiri mengingat lelaki itu.


Ia kesal melihat Shenina yang bisa berubah lembut saat membahas lelaki itu.


Evgen meletakan cangkir kopinya dengan sedikit membanting, seketika tangan Shenina menyenggol cup miliknya karena terkejut.


Tumpahan kopi itu mengenai baju yang di kenakan oleh Shenina.


"Elu, kalau gak suka sama kopinya jangan di buang. Gue belinya juga pakai uang!" Teriak Evgen kesal.


"Elu yang tiba-tiba banting kopi, gue gak sengaja numpahinya," bela Shenina.


"Alasan saja elu, bilang saja elu gak suka sama kopinya karena gue kan?" Tanya Evgen sengit.


"Elu aneh tahu gak?"


"Ah dasar, gue mau balik. Males gue ngobrol sama elu." Evgen bangkit dari kursinya dan berjalan dengan cepat meningalkan cafe.


"Evgen, mau kemana elu?" Tanya Shenina sedikit berteriak.


"Bukan urusan elu!" Teriak Evgen kesal.


Evgen berjalan dengan sedikit menggerutu kesal, bisa-bisanya Shenina mengingat lelaki lain saat bersama dengannya.


"Kapan bisa ketemu dia lagi?" Ucap Evgen mengikuti gaya bicara Shenina.


"Kapan mau ketemu itu bukan urusan gue, kenapa malah nanya sama gue?" Tanya Evgen kesal.


Ia memasukan kedua tangannya di kantung jaket dan berjalan keluar dari mall.


Kesal setengah mati di buat oleh Shenina yang bahkan tidak menganggapnya ada, walaupun Evgen duduk tepat didepannya.


***


Rezi membuka daun pintu rumah Sean dengan sangat pelan, menutup kembali pintu itu dengan sangat lembut.


Agar tidak menimbulkan suara sama sekali. Rezi mengernyitkan dahinya saat daun pintu beradu, takut jika Sean dan Megi mendengar ia yang pulang terlalu malam.


Sejenak Rezi terdiam, melihat situasi rumah yang masih sepi dan tenang. Rezi menghela nafasnya dan mengelus dadanya, sedikit lebih lega.


Padahal ia hanya memakai alasan mengerjakan project, tetapi siapa sangka bahwa kampus benar-benar memberikannya sebuah project yang terbilang besar.


"Mati saja kau Rezi, berbohong sama orang tuamu, dan dapat azab secepat kilat," lirih Rezi dengan membuang nafasnya.


Rezi berjalan kearah dapur dan mengambil segelas air dingin untuk menyegarkan badannya.


Rezi kembali menarik nafasnya, memijat tengkuk lehernya yang pegal. Badannya terasa sangat pegal, istirahat yang kurang dan kerjaan yang bertambah banyak.


Braaakkk


Suara daun pintu terbanting dengan keras. Rezi menghela nafasnya dan menepuk dahinya.


"Duuhhh, aku susah-susah masuk pelan-pelan, biar gak mancing Mama dan Papa, kenapa malah berisik sekali?" Lirih Rezi pelan.


"Arrrrggggg!" Evgen membuka jaketnya dan membanting ke lantai.


Ia melemparkan bokongnya dengan kasar keatas sofa.

__ADS_1


Rezi datang mendekati Evgen dengan segelas air.


"Kenapa ini? pulang telat terus malah ngamuk dirumah?" Tanya Megi diujung anak tangga.


"Gak apa-apa, Ma," jawab Evgen datar.


"Jam berapa ini? kenapa kamu baru pulang?" Tanya Megi ketus.


"Aku habis main sama teman, Ma. Gak nyadar kalau sudah gelap."


"Kamu gak main sama teman-teman dan berbuat kenakalan kan Evgen?" Tanya Megi menyelidik.


"Enggak, Ma," jawab Evgen lembut.


"Dan kamu, Rezi. Kapan pulang?"


"Eh, aku sudah pulang dari tadi, Ma. Tapi Mama sama Papa lagi istirahat, aku gak berani ganggu," jawab Rezi dengan sedikit menyeringai.


"Bohong kan?" Tanya Megi dengan menyilangkan tangan didada. "Kamu bohong kan, Rezi?"


Rezi menundukan kepalanya dan mengangguk pasrah.


"Maaf, Ma." Ucap Rezi bersalah.


Megi mengehela nafasnya dan berjalan mendekati kedua putranya itu.


"Kalian sudah makan malam?" Tanya Megi melunak.


Evgen dan Rezi hanya menggelengkan kepalanya, gak berani menatap wajah Megi. Mereka hanya saling tunduk.


"Mandi dan ganti baju sana, biar Mama hangatkan makan malam buat kalian berdua."


Evgen tersenyum dan mencium pipi Megi lembut.


"Aku sayang Mama," ucap Evgen dengan berlari menaiki anak tangga.


"Kenapa? sudah dewasa dan gak mau nyium Mama lagi?" Tanya Megi lembut.


Rezi melepaskan senyumnya dan memeluk badan Megi.


"Mau sedewasa apapun, aku ini tetap bocah kecil Mama kan?"


"Cepat mandi, kamu bau, Rezi."


Rezi kembali tersenyum dan mengecup dahi Megi dengan lembut.


"Aku naik ya, Ma,"


"Iya."


Rezi ikut menaiki anak tangga, menyusuli langkah Evgen yang sudah lebih dulu naik keatas.


"Kalian baru pulang?" Tanya Sean yang sedang bermain dengan Niki di ruang santai lantai 2.


"Iya, Pa," jawab Rezi dan Evgen bersamaan.


"Evgen, sini dulu. Papa ingin bicara sesuatu sama kamu." Panggil Sean lembut.


Evgen berjalan mendekati Sean yang sedang duduk bersama dengan Niki. Evgen menjitak pucuk kepala Niki dengan sedikit keras.


"Ahhhh!" Teriak Niki sambil memegangi pucuk kepalanya.


"Evgen!" Tekan Sean lembut.


"He he he, canda Pa,"


"Sebentar lagi ujian semester kan? Papa ingin tahu sejauh apa kamu sudah mempersiapkan masa depan kamu,"

__ADS_1


"Maksud Papa?"


"Kamu sudah memilih ingin masuk universitas mana?"


"Emh, itu," Evgen memutar bola matanya dan menggaruk kepalanya.


"Aku belum kepikiran, Pa." Jawab Evgen pasrah


Sean menghela nafasnya, dan menggeleng pasrah.


"Kamu ini sebenarnya ingin jadi apa? hanya main saja."


"Aku kuliah di tempat kak Rezi saja, Pa."


"Kamu ini, Papa bertanya serius. Agar kamu bisa mempersiapkan nilaimu untuk memasuki universitas pilihanmu. Bukan malah pasrah begitu," ucap Sean ketus.


Evgen hanya menundukan kepalanya dan mengangguk pelan.


"Apa kamu mau kuliah di Beijing?" Tanya Sean kembali.


Evgen menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya.


"Papa kan tahu, aku gak bisa bahasa mandarin. Aku gak mau kuliah disana dan jadi bayang-bayang Mama."


"Terus? bagaimana jika di Rusia?" Tanya Sean lembut.


"Itu ... Pa, aku akan putuskan nanti, saat aku sudah menemukan universitas yang cocok denganku. Masih ada waktu, kan. Papa tenang saja, aku akan memilih yang terbaik."


"Baiklah, persiapkan nilaimu, Evgen. Kalau kamu gak lulus dengan nilai baik, kamu akan Papa jadikan tukang pukul perusahaan."


"Oke, siapa takut!" Ucap Evgen dengan menumbukan kepalang tangannya di telapak tangannya sendiri.


Sean melepaskan senyumnya dan mengelus kepala Evgen.


Anak keduanya nya ini memang benar-benar mirip sekali dengannya.


Bahkan dari emosi dan juga gaya bicaranya, persis seperti Sean.


Selalu ketus dan juga kasar, tapi punya hati yang lembut dan juga hangat.


"Makanan sudah siap, Evgen kamu belum mandi?"


"Iya, aku segera mandi, Ma."


"Makan dulu saja, nanti habis makan langsung mandi dan istirahat."


"Siap, Mama." Evgen kembali turun dengan sedikit berlari.


Megi tersenyum dan berjalan mendekati Sean.


"Evgen pilih dimana Kak? ikuti jejak aku atau jejak Kakak?" Tanya Megi lembut.


"Bukan aku ataupun kamu, Evgen punya jalannya sendiri." Jawab Sean lembut.


Megi menjatuhkan kepalanya di bahu Sean dan menghela nafasnya.


"Evgen, kadang dia terlihat seperti aku, tapi kadang sangat mirip dengan Kakak."


"Evgen, dia lebih mirip dengan aku, Megi. Aku harap, dia juga bisa mengambil langkah tanpa kesalahan seperti aku dulu."


"Mau salah atau tidak, dia tetap anak Kakak, anak kita kan?" Megi meraih sebelah pipi Sean dan mengelusnya dengan lembut.


Sementara, Rezi kembali menutup daun pintu saat mendengar ucapan Megi.


Rezi menghela nafasnya dan menggeleng pelan.


"Jika aku yang buat salah, apa aku bukan anak kalian lagi, Ma, Pa?" Lirih Rezi pahit.

__ADS_1


__ADS_2