Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
16


__ADS_3

"Rezi, kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Aku hanya bertanya, Ma? siapa yang akan Mama pilih, jika aku di bandingkan dengan Evgen?"


"Itu, Mama, mana mungkin ...."


"Gak bisa kan? karena aku dan Evgen adalah putra Mama. Walaupun aku tidak lahir dari rahim Mama, iya kan?" Jelas Rezi lembut.


"Ma, di dunia ini ada sebuah hubungan yang bisa erat tanpa hubungan darah, Ma. Seperti aku dan Mama, Evgen dan tante Rara. Kita semua terhubung karena kasih sayang yang melebihi hubungan darah. Aku rasa Mama lebih paham arti semua itu."


"Apa yang di ucapkan Rezi itu benar, Megi. Jangan terus memojokan posisi Evgen, Sayang. Atau gak Evgen akan benar-benar lebih nyaman sama Rara di bandingkan kamu."


Megi hanya terdiam, ia mulai memahami perkataan Rezi. Mungkin Rezi benar, ada hubungan yang tidak bisa di pisahkan, walaupun tanpa terikat sebuah darah.


Megi menghela nafasnya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Sean. Memeluk pinggang Sean dengan erat.


"Kak."


"Iya, Sayang."


"Apa Evgen mau memaafkan aku?"


"Pasti, aku yakin bahwa Evgen dan aku tidak berbeda jauh. Evgen pasti menyanyangi kamu, sama seperti aku menyanyangi Mama. Bahkan mungkin lebih."


Rezi melepaskan senyumnya saat melihat Megi dan Sean. Perlahan ia bangkiy dan menyusuli adik kesayangannya di lantai atas.


Membawa segelas susu untuk di berikan ke pada Evgen.


Rezi tersenyum dan memberikan segelas susu ke tangan Evgen. Rezi menghela nafasnya dan duduk di samping Evgen.


"Minum susu sebelum tidur, itu bisa membuat tidur kamu lebih nyenyak, Dek," ucap Rezi lembut.


"Kak."


"Hem."


"Kenapa Mama terus marah ya sama aku?"


"Mama gak marah sama kamu, Mama hanya cemburu, Dek," jawab Rezi lembut.


"Hah, cemburu? cemburu kenapa?" Tanya Evgen bingung.


Rezi hanya tersenyum dan meraih kepala Evgen. Rezi menghela nafasnya dan bangkit dari ranjang. Rezi membuka gulungan kertas yang berada di atas meja belajarnya Evgen.


"Setelah lulus SMA, kamu mau kuliah dimana?" Tanya Rezi lembut.


"Gak tau dimana, terserah Mama saja."


"Evgen, pernah gak kamu merasa, bahwa kamu dan Mama itu sangat mirip?" Tanya Rezi lembut.


"Mirip dari mana? semua orang bilang aku mirip Papa."


"Karakter kamu itu juga seperti Mama. Kadang cerewet dan juga seperti anak kecil. Kamu juga kadang polos dan juga mudah di tipuin."

__ADS_1


"Masa sih?" Tanya Evgen tak percaya.


"Iya, kamu lebih mudah terbakar amarah, seperti Mama. Mudah sekali mengeluarkan ekspresi. Papa, walaupun dibilang keras, tapi Papa malah lebih tenang di bandingkan Mama."


"Yah ... Tapi aku merasa kalau aku ini sekeren Papa."


Rezi melepaskan senyumnya dan melipat kembali gulungan di tangannya. Rezi menukul kepala Evgen dengan gulungan itu, lembut.


"Dasar, kamu tahu kenapa Mama cemburu?"


"Entahlah?"


"Mama merasa kalau kamu memperlakukan Bunda lebih lembut di bandingkan kamu memperlakukan Mama. Mama cemburu, karena kamu terlihat lebih sayang sama Bunda di bandingkan Mama."


"Sumpah Kak, tapi aku juga sayang sama Mama," ucap Evgen cepat.


"Kakak tahu, tapi di dalam hati manusia cemburu itu pasti ada. Sama sepertimu yang cemburu sama Kakak, kan?" Tanya Rezi lembut.


"Ehm, kalau itu, aku." Evgen menggaruk tengkuk lehernya dan memandang kesana kesini.


Rezi tertawa dan mengusap wajah Evgen dengan kasar.


"Kalau boleh jujur, kakak juga ada rasa cemburu sama kamu."


"Hah? cemburu kenapa? jelas Kakak lebih enak posisinya dari pada aku."


"Evgen, rasa cemburu itu pasti ada di dalam hati manusia. Karena manusia bukan makhluk yang bisa puas dengan sesuatu."


"Tapi aku gak pernah membedakan Mama dan Bunda, Kak."


"Kenapa bisa seperti itu, ya kak?"


"Karena, tanpa kita sadari. Kita memperlakukan seseorang dengan berbeda, hati kita memperlakukan orang menurut karakter orang itu. Walaupun kita merasa sama saja, tapi tetap terlihat berbeda, iya kan?"


"Benar." Sambung Sean yang masuk ke dalam kamar Evgen.


"Papa." Evgen langsung bangun saat Sean mendekatinya.


"Papa minta maaf atas ucapan Papa yang kemarin ya, Evgen."


"Itu, Papa. Lupakan saja," jawab Evgen sedikit takut.


Sean tersenyum dan menarik Evgen, memeluk bahu Evgen yang hampir sama besarnya dengan dia.


"Jangan takut, Papa gak akan melukai anak-anak Papa sendiri."


"Pa, aku juga minta maaf ya," ucap Evgen lembut.


"Sudahlah, Papa sudah memaafkan kamu."


Sean tersenyum dan mengelus bahu Evgen. Rezi hanya tersenyum melihat Sean dan Evgen yang kembali akur.


Sean mengangkat tangannya, menarik badan Rezi untuk ia peluk juga.

__ADS_1


"Kenapa Mama di tinggalin?" Tanya Megi yang berada di ambang.


Seketika pandangan mereka bertiga teralih pada Megi yang masih berdiri menempelkan satu bahunya di ambang pintu.


"Mama, itu, aku mau minta maaf sama Mama," ucap Evgen sambil menundukan pandangannya.


Megi tersenyum dan berjalan mendekati Evgen. Mengelus pipi Evgen dengan lembut.


"Maafin Mama juga ya, Nak. Kalau selama ini Mama sering kasar sama kamu."


Evgen hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Megi menarik badan Evgen dan memeluknya erat.


"My boys," ucap Megi lembut.


Sean hanya tersenyum dan mengelus pucuk kepala Megi. Sementara Rezi, ikut memeluk badan Megi dari belakang.


"Mama sayang kalian semua."


***


Rezi memarkirkan mobilnya di depan toko bunga tempat ia bertemu dengan Neha hari itu.


Sudah beberapa hari, Rezi selalu menunggu disini setiap sore, namun Neha tak pernah muncul.


Sama seperti saat ini, Rezi sudah menunggu Neha selama tiga jam. Hari juga sudah hampir senja.


Rezi menghela nafasnya, ia menstater mobilnya, namun belum sempat ia menekan gas, Neha datang dengan keranjang bunga di tangannya.


Bibir Rezi langsung melangkung dengan lebar saat melihat gadis dengan topi bundar berwarna cokelat itu berjalan memasuki toko bunga.


Dengan cepat Rezi melepaskan seat beltnya, ingin menemui Neha di toko bunga. Namun tulisan tutup yang tergantung di pintu masuk, membuat Rezi harus kembali mengurungkan niatnya.


Rezi mengacak rambutnya dan kembali ke mobil. Ia hanya ingin bertemu sekali lagi dengan Neha. Untuk memastikan bagaimana rasa hati yang sebenarnya.


Dengan sabar Rezi menunggu Neha, Sampai langit berubah gelap. Neha belum juga keluar, padahal sudah beberapa kali mulut Rezi menguap, namun itu tetap tidak membuat Rezi menyerah.


Tak lama, Neha keluar dan melambaikan tangannya ke penjaga toko bunga itu.


Neha kembali berjalan menyusuri jalanan itu sendiri. Rezi mengikuti langkah Neha dengan mobilnya, memperhatikan setiap gerakan Neha.


Saat melewati halte bis, Neha memberhentikan langkahnya dan duduk di kursi penunggu, menikmati angin malam yang terasa sangat lembut menyapa kulitnya. Neha menghela nafasnya dan membuka buku dalam genggamannya.


Sejenak Neha terfokus pada gambar yang ia coret di atas lembaran buku miliknya itu. Sampai seekor kucing datang dan menempel di kaki Neha, mengelus kepalanya di kulit mulus kaki Neha.


Neha mengalihkan pandangannya, melihat kucing liar di kakinya. Neha tersenyum dan mengangkat tubuh kotor kucing itu, meletakannya di dalam keranjang bunganya yang saat ini sudah kosong.


Neha kembali berjalan, memasuki minimarket yang berada di seberang jalan. Setelah agak lama, Neha kembali keluar, mengeluarkan kucing liar itu dan memberikan makan pada kucing liar itu.


Rezi hanya melihat semua itu dengan binar mata yang begitu takjub. Saat sebagian gadis takut pada hewan liar yang sangat kotor, tapi Neha malah mengelus dan memberikan makan dengan tangan lentiknya sendiri.


Tidak merasa jijik dan juga takut. Neha memang berbeda, mungkin dia memang gadis yang sangat istimewa.


Terlepas dari kekurangan yang ia miliki, Neha adalah satu-satunya gadis yang menarik hati dan perhatian Rezi.

__ADS_1


"Papa, kini aku tahu apa itu namanya hati yang sempurna," lirih Rezi saat melihat Neha mengelus kucing itu dengan lembut.


"Sudah aku putuskan, kali ini aku tidak akan melewatkan cinta yang akan menyempurnakan hatiku, Pa. Aku akan mengejar Neha, tak peduli bagaimanapun keadaannya."


__ADS_2