
Sean melepaskan cengkraman tanganya di kera kemeja Evgen dan tersenyum sinis.
"Jika tidak mengingat beratnya perjuangan Mama kamu saat melahirkan kamu, Papa gak akan segan-segan sama kamu."
"Pa, Papa maafin aku, Pa," ucap Evgen gemetar.
Sean membentangkan telapak tangannya di depan wajah Evgen dan mengeluarkan ponselnya. Menelpon asistennya.
"Bima, tolong ambil mobil gue di SMA Bina Bangsa. Tolong handle kerjaan gue sementara. Mungkin gue gak akan ke kantor pusat beberapa hari ini, karena ada yang harus gue buat jera beberapa hari ini," ucap Sean sambil melirik kearah Evgen.
Sementara Evgen tak henti-hentinya mengeluarkan keringat dingin. Ia benar-benar takut melihat ekpresi Sean yang garang sekali.
Tak lama Sean menutup ponselnya dan kembali menatap kearah Evgen. Sean menghela nafasnya dengan berat.
"Ambil buku-bukumu, ayo kita pulang!" Ajak Sean kembali lembut.
Dengan sedikit gemetar, Evgen memunguti satu-persatu bukunya. Mengenggam dengan erat di depan dadanya.
***
Megi berdiri di ruang tengah dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Menepuk-nepuk satu kakinya di lantai.
Wajahnya berubah garang seketika, melihat putra kandungnya itu dengan sangat lekat.
"Setelah ini apa lagi, Evgen? apa lagi?!" Teriak Megi lantang.
Seketika teriakan Megi membuat Rezi tersadar. Ia menutup laptopnya dan turun dengan cepat. Bergabung dengan Megi dan Sean di ruang tengah.
"Apa untuk ini kamu Mama lahirkan? apa untuk ini kamu Mama besarkan? apa untuk ini kamu Mama rawat? iya?" Tanya Megi lantang.
"Ma."
"Diam! Mama belum siap bicara!" Tekan Megi keras.
Sementara Sean hanya diam, ia hanya melihat Megi dan Evgen secara bergantian.
"Evgen, apa kamu mau buat Mama mati lebih cepat? hah? kalau gitu ambil saja pisau dan bunuh Mama detik ini juga!"
"Megi!" Tekan Sean tak suka.
"Mama," ucap Rezi lembut.
Sementara Evgen hanya bisa tertunduk, ia sama sekali tak bisa memandang wajah Mamanya.
Rezi dengan cepat berjalan ke dapur, mengambil segelas air dan memberikannya ke Megi.
"Ma, duduk dan minumlah ini dulu." Tarik Rezi cepat, Rezi mendudukan Megi di sofa dan mengelus punggung Megi dengan lembut.
Memberikan ruang untuk Megi agar bisa lebih tenang sedikit.
__ADS_1
Tak lama, Rezi memalingkan pandangannya ke arah Evgen. Melihat wajah Evgen yang begitu sendu. Ia tak tega jika melihat adik yang tumbuh besar bersamanya itu terus di rundung masalah.
"Evgen, sebenarnya apa yang terjadi, Dek?" Tanya Rezi lembut.
Evgen hanya tertunduk, ia sama sekali tak menjawab pertanyaan Rezi.
"Evgen, coba ceritain ke Kakak. Ada masalah apa?" Tanya Rezi kembali.
"Aku buat masalah lagi di sekolah, Kak." Jawab Evgen tanpa melihat Rezi.
"Kenapa bisa? memang kamu buat apa?"
"Sebenarnya bukan aku, tapi teman aku."
Sejenak, Megi dan Sean mengalihkan perhatiannya ke Evgen yang terus tertunduk lesu.
"Coba ceritakan ke Kakak, seperti apa kejadiannya. Hem." Bujuk Rezi lembut.
Evgen menghela nafasnya, ia menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.
"Sebenarnya itu gak sengaja, teman aku mau melempar sepatu itu ke aku. Tapi salah sasaran ke Bu Mega."
"Kamu bertengkar sama teman kamu?"
"Bukan sih Kak, lebih tepatnya hanya main-main saja. Sebenarnya beberapa hari ini aku jadi pelayan di kantin sekolah," jelas Evgen lemas.
"Iya, itu aku lakukan untuk minta maaf sama cewek yang aku pukul minggu lalu. Dia bilang akan maafin aku, kalau aku gantikan dia jadi pelayan sampai memar di wajahnya hilang."
"Terus?"
"Setiap pulang sekolah aku cuci mangkuk, setiap istirahat aku juga jadi pelayan. Aku gak tahan dan aku ngeluh sama dia, jadi aku senderan ke bahu dia karena aku kelelahan. Rupanya dia gak terima, dan nolak aku, Kak," jelas Evgen lembut.
Evgen menceritakan detil ceritanya ke Rezi. Tanpa ada di tambahi dan juga di kurangi.
Sean menghela nafasnya dan menatap Evgen sendu. Ia merasa bersalah atas perbuatannya tadi ke Evgen.
"Jadi kenapa kamu gak jelasin ke Papa tadi?" Tanya Sean lembut.
"Memang kalau aku jelasin, Papa akan percaya?" Tanya Evgen mengalihkan pandangannya ke Sean.
"Selama ini Papa dan Mama hanya memandang aku sebagai si pembuat masalah. Mau aku salah atau enggak, buat Mama dan Papa hanya aku yang salah," jelas Evgen pahit.
"Walaupun aku berubah jadi anak baik, aku jelasin aku gak salah, Papa tetap akan lebih percaya sama kepala sekolahkan? iya kan?"
Sean dan Megi hanya terdiam, mereka tak bisa menjelaskan apapun lagi pada Evgen.
Mungkin mereka berdua selama ini telah salah menilai Evgen. Mungkin juga terlalu keras pada Evgen. Mungkin jika bukan karena sikap Megi dan Sean selama ini memperlakukan Evgen.
Evgen tak akan seperti sekarang ini. Mungkin Evgen masih bisa menjadi sedikit penurut dan mudah diatur.
__ADS_1
"Jadi kenapa gak kamu jelasin sama kepala sekolah, Dek?" Tanya Rezi lembut.
"Satu sekolah juga gak akan percaya sama aku Kak."
"Tapi gak ada salahnya kan kamu berusaha menjelaskan."
"Buat apa? cuma ngabisin energi saja. Jika semua orang mau nilai aku begitu ya terserah. Buat aku yang penting hanyalah memikul tanggung jawabku, berusaha untuk meminta maaf, dan memperbaiki kesalahanku sama cewek itu. Mungkin memang akunya saja yang bawa masalah Kak. Sampai aku tak melakukan apa-apa juga tetap kena masalah."
"Evgen, Papa ...."
"Gak usah," putus Evgen sebelum Sean sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Aku selama ini cukup sadar diri kok, Pa. Aku hanyalah bayangan kak Rezi selama ini. Aku si pembuat masalah ini, hanya bisa menarik perhatian dari masalah-masalah yang ku buat saja." Evgen melepaskan tawanya dan menggelengkan kepalanya.
"Aku, tak punya prestasi, aku juga tak punya IQ tinggi. Aku hanya bisa bertengkar dan buat masalah, inilah aku, Evgen Aulia, pecundang yang tak punya apa-apa." Evgen membereskan bukunya dan bangkit perlahan.
Sementara Sean dan Megi hanya bisa memandangi Evgen dengan binar sedih. Ada kesalahan yang tak pernah mereka sadari selama ini.
Selama ini apa yang di buat Evgen hanyalah pelarian untuk menarik perhatian mereka berdua. Selama belasan tahun, perhatian Megi dan Sean lebih banyak tercurah pada Rezi
Bukan karena mereka tak menyayangi Evgen dan Niki. Namun karena Mereka takut Rezi akan merasa asing jika mereka memperhatikan Evgen dan Niki dengan lebih.
Tanpa mereka sadari, ternyata sikap mereka yang ingin menjaga Rezi malah membuat Evgen menjauh. Sikap mereka yang terkesan lebih menyanyangi Rezi, malah membuat Evgen yang merasa tersisih.
Setelah ganti baju, Evgen turun dan berjalan melewati Sean dan Megi.
"Mau kemana kamu, Dek?" Tanya Rezi saat melihat Evgen berjalan keluar.
"Mau nginep tempat Bunda, Kak."
"Gak bisa kamu tinggal dirumah saja?" Tanya Rezi lembut.
"Aku cuma mau nginep tempat Bunda, kenapa?"
"Tapi keadaan rumah lagi panas karena kamu, kan."
"Karena rumah terasa panas karena aku, lebih baik aku nginep tempat, Bunda. Sudah ada kakak, Mama gak akan kehilangan kok walaupun gak ada aku." Evgen langsung keluar tanpa melihat lagi kearah Megi.
Sementara, nafas Megi terhenti saat mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Evgen. Tanpa terasa, air mata Megi melintas begitu saja.
Megi mengambil nafasnya yang sedikit memburu. Hatinya terasa sangat sakit, saat Evgen lebih nyaman berada di pangkuan Rara di bandingkan ia.
Ibu yang melahirkan Evgen dengan separuh nyawanya.
Megi menangkupkan tangannya di depan bibir, memecahkan tangisan yang berusaha ia tahan.
Ternyata ia banyak kesalahan, tapi ia yang selalu menyalahkan Evgen. Sebenarnya itu gak adil buat Evgen, tapi Megi tak pernah menyadarinya selama ini.
Itu yang buat Megi semakin masuk dalam penyesalan dan tangisannya.
__ADS_1