Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
102


__ADS_3

Shenina mengerjapkan matanya, ia tersadar dari tidurnya saat bis sudah melewati halte daerah rumahnya.


Cepat, Evgen menarik tangannya dan memakai topi jaket menutupi sebagian wajahnya. Menyembunyikan dirinya dari pandangan Shenina.


Shenina langsung berlari keluar saat bis berhenti di halte selanjutnya. Ia berlari melewati jalanan yang mulai sepi karena malam semakin larut.


Evgen menghela napasnya dan menggeleng pasrah.


"Dasar gadis ceroboh, walaupun barbar, tetap saja dia bodoh," ucap Evgen saat melihat Shenina dari balik kaca jendela bis.


***


Evgen membanting dua lembar tiket di atas meja Shenina. Gadis itu langsung berdiri dan menatap wajah Evgen dengan sedikit bingung.


"Temeni gue nonton, nanti sore," ucap Evgen ketus.


"Hah? Lu sehat?" tanya Shenina bingung.


"Kenapa? Apa yang gue bilang gak cukup jelas?"


"Heh Evgen, makin lama elu makin aneh tahu gak? Gak jelas elu," ucap Shenina geram.


"Gue sudah sebesar ini, apanya yang enggak jelas?"


"Sikap elu gak jelas, lelaki sombong!"


"Gue gak mau dengar alasan, lu harus temeni gue nonton."


"Gue gak mau!"


"Harus mau!"


"Enggak!"


"Mau!"


"Gue bilang gue gak mau Evgen, kenapa maksa banget sih?"


"Yasudah kalau gak mau." Evgen mengambil tiket tersebut dan membuangnya ke dalam tong sampah.


Ia melirik kesal kearah Shenina.


"Sudah selesai, kan?" ucap Evgen sambil berlalu pergi.


"Heh, elu--" Shenina menggeratakan giginya, ia benar-benar kehabisan kesabaran menghadapi lelaki itu.


Shenina menghela napas dan mengambil kembali tiket itu. Melihat kearah Evgen pergi, namun lelaki itu sudah tidak ada lagi di sana.


"Tiket ini bukan barang murah, kenapa dia suka sekali menghabiskan uang hanya untuk hal begini?"


Shenina menggelengkan kepalanya dan menyimpan tiket itu.


"Eh, Putra," panggil Shenina saat lelaki manis itu berjalan melewatinya.


"Hem kenapa?"

__ADS_1


Shenina menyerahkan dua tiket itu ke hadapan Putra. Putra mengernyitkan dahinya, menatap wajah gadis manis itu dengan sedikit bingung.


"Lu ngajakin gue nonton? Sorry gue gak minat," tolak Putra langsung.


Shenina berdecak kesal dan kembali menghela napasnya.


"Menurut elu gue sanggup beli tiket ini? Ini punya Evgen, lu tolong balikin sama dia ya."


Putra tersenyum lembut dan menolak tangan Shenina.


"Jangan selalu menolaknya, Shen. Berikan dia kesempatan, Evgen tidak pernah main-main sama wanita sebelumnya. Jika dia memperlakukan elu begini, itu artinya dia beneran suka sama elu," jelas Putra lembut.


Shenina menundukan pandangannya dan menatap kedua tiket yang ada di dalam genggamannya.


Ia tahu bahwa perasaan Evgen terhadapnya benaran nyata. Namun ia masih terlalu takut untuk mengakuinya.


Takut untuk terluka lagi oleh perlakuan Evgen yang terkadang bisa menyakiti tanpa ia sadari.


"Gue tahu Evgen memang menyebalkan dan juga kasar. Dia bukan orang yang bisa memendam perasaan. Apapun yang ia rasakan, akan ia keluarkan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Tapi gue rasa elu juga paham kan, Shen. Kalau Evgen bukan lelaki yang buruk, walaupun terkadang ia kasar."


Shenina melihat kearah Putra dan tersenyum tipis. Menganggukan kepalanya perlahan.


Putra ikut tersenyum dan meraih pundak Shenina. Berjalan menuju bangkunya.


Membiarkan gadis itu untuk berpikir sendiri, menentukan sikapnya pada lelaki angkuh itu.


Shenina menggebrak meja di depan Evgen yang sedang santai duduk di kantin sekolah.


"Nih, gue balikin tiket elu. Lu itu mau pamer sama gue? Beli tiket cuma buat menuhi tong sampah," ucap Shenina jutek.


"Ngapain lu pungut itu tiket, sudah gue buang kan. Kalau elu ambil ya itu berarti milik elu," jawab Evgen ketus.


Shenina menggenggam kedua tangannya, mencoba menahan kesal melihat tingkah lelaki yang satu ini.


"Yasudah kalau elu gak mau nonton lagi bareng gue. Gue bisa kasih ini sama bang Angga," ucap Shenina ketus.


"Eh tunggu dulu!" tahan Evgen cepat.


Evgen menarik tiket itu dan memasukannya ke dalam saku kemeja sekolahnya.


"Kalau elu mau nonton sama si Tangga-tangga itu, suruh dia modal. Jangan cuma nerima uluran dari cewek," ucap Evgen ketus.


Shenina menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan membuang pandangannya ke sisi kosong.


"Jam 4, di mall Giant, gue nunggu elu di depan pintu bioskop," jelas Evgen kembali.


"Lu, gak mau jemput gue dulu?" tanya Shenina lirih.


Evgen melihat kearah Shenina dan mengernyitkan dahinya.


"Eh, lu bilang apa?" tanya Evgen sedikit tersenyum.


Shenina membuang pandangannya, berusaha menyembunyikan rona wajahnya yang mulai memerah karena malu.


"Enggak, gue gak bilang apa-apa," jawab Shenina ketus.

__ADS_1


Shenina membalikan badannya dan berniat untuk pergi. Evgen menarik pergelangan tangan Shenina, menahan gadis itu untuk tetap tinggal di tempat.


"Gue, akan jemput elu jam 4 nanti sore. Tunggu gue ya, Shen," ucap Evgen lembut.


"Eh, bukan ... Sayang," sambung Evgen berbisik di telingan Shenina.


Shenina melepaskan pegangan tangan Evgen dan berlari keluar dari kantin. menempelkan bahunya pada dinding kelas.


Shenina menekan dada bagian kirinya, menikmati debaran jantung yang kian menguat karena perlakuan hangat Evgen.


Shenina menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Malu, saat menyadari ia kembali merona oleh tingkah hangat yang diciptakan Evgen.


***


Evgen menyisir rambut hitamnya dengan rapi, bersiul sambil menuruni anak tangga rumahnya. Bersiap untuk memulai kencannya kembali.


"Mau kemana? Rapi banget anak muda?" tanya Sean mendekati putranya yang sedang memakai sepatu sportnya itu.


"Menurut Papa?" tanya Evgen balik.


"Wah ... berarti trik yang Papa ajarkan berhasil dong ya."


"Hah itu, aku belum buat perhitungan sama Papa. Nanti saat aku pulang, Papa harus jelasi sesuatu sama aku," ucap Evgen jutek.


"Jelasi apa?" tanya Sean pura-pura bodoh.


"Papa itu ajarin trik gak mutu, gara-gara trik Papa, Shenina hampir saja ditikung orang," jelas Evgen jutek.


"Hah, kok bisa? Itu bukan trik dari Papa yang salah, tetapi kamunya saja yang kurang menggoda."


"Sudah, aku gak mau debat sama Papa. Pokoknya nanti, Papa harus buat perhitangan sama aku, titik," ancam Evgen ketus.


Evgen meraih kunci motornya dan berjalan keluar rumah. Melajukan motor sportnya menuju gang sempit, perumahan kumuh milik Shenina.


Di depan rumah tuanya, Shenina sudah berdiri dengan dress sederhana miliknya. Melapisi wajah kuning langsatnya dengan riasan tipis.


Sedikit demi sedikit, ia berusaha untuk kembali membuka hatinya menrrima lelaki angkuh itu.


Mungkin benar kata Putra, bahwa Evgen bukanlah lelaki yang buruk. Walaupun terkadang kasar dan menyebalkan luar biasa.


Evgen memberhentikan laju motornya di depan rumah Shenina. Gadis itu langsung berlari mendekati motor hitam milik lelaki itu.


Evgen mengulurkan sebuah helm ke tangan Shenina. Cepat, gadis itu mengambil helm yang diberikan oleh Evgen.


Namun jari mungil gadis itu kesulitan saat membuka kaitan tali helm tersebut. Evgen tersenyum lembut, matanya masih terfokus oleh wajah manis milik gadis itu.


Sederhana, dengan riasan seadanya. Namun mengapa begitu mempesona?


Evgen menarik helm yang di pegang oleh Shenina. Shenina yang masih sibuk oleh kaitan tali helm yang nyangkut itu. Memajukan beberapa langkahnya, mengikuti tarikan tangan Evgen.


Sebuah kecupan mendarat di dahi mungil gadis itu, saat badan Shenina berdiri tepat di depan Evgen.


Shenina melirik kearah Evgen, tak lama ia menundukan pandangannya, kembali tersipu malu oleh perlakuan spontan Evgen.


"Shen, lu cantik banget."

__ADS_1


__ADS_2