
Sejenak Rezi terdiam, berisik lalu lalang kendaraan yang memadati ibu kota sejenak menjadi hening.
Mata Rezi mulai memerah, dengan hiasan lapisan tipis diatasnya.
Perih sekali, perih dalam hatinya terasa sampai membuat matanya berair.
Rezi melepaskan senyum kecutnya dan menggelengkan kepalanya. Mengambil kembali tangkai bunga yang sempat terjatuh dari tangannya.
"Mas Rezi kenapa?" Tanya Shenina yang terkejut melihat perubahan wajah Rezi.
"Gak apa-apa, Shen." Jawab Rezi lembut.
Rezi mengambil ranselnya dan menyerahkan sejumlah uang kepada Shenina. Ia bangkit dan menghela nafasnya dengan berat.
"Aku duluan ya, tolong kamu bayarin minumnya," ucap Rezi dengan meninggalkan Shenina sendiri.
Saat ini dipikirannya hanya ada Neha, Rezi tidak mampu lagi memikirkan apapun selain Neha.
Shenina hanya bisa menghela nafasnya saat melihat Rezi pergi. Ia melihat uang yang di berikan oleh Rezi dengan sendu.
"Sudah lama gak jumpa, sekali jumpa hanya sebentar." Shenina menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.
"Shenina, Shenina, sadarlah. Mas Rezi terlalu sempurna untukmu," ucap Shenina menyadarkan lamunannya.
Shenina bangkit perlahan dan membayar minuman mereka. Shenina langsung berjalan untuk menemui Evgen yang memintanya datang ke mall lagi.
Evgen melirik ke jam tangannya, melihat jam yang ada di tangan kirinya.
"Tumben gak telat?" Tanya Evgen lembut.
"Kenapa? lu berharap kalau gue telat lagi?"
"Yah, kalau elu telat lagi kan jadwal elu bertambah lagi."
"Gue gak sudi lama-lama nemeni elu begini," ucap Shenina jutek.
Evgen hanya tersenyum dan bangkit dari kursinya. Merangkul bahu Shenina sambil berjalam memasuki mall.
"Apaan elu?" Shenina menghempaskan tangan Evgen yang merangkul bahunya.
"Sudah masuk saja, ayo," kembali Evgen merangkul bahu Shenina dengan lembut.
Evgen dan Shenina kembali memasuki zona game didalam mall tersebut. Kali ini Evgen mencoba permainan yang lain berdua dengan Shenina.
Yang awalnya Shenina hanya mengikuti Evgen dengan malas, lama kelamaan Shenina mulai menikmati permainan disana.
Shenina beberapa kali menjerit saat mobilnya kembali menabrak. Tanpa Shenina sadari ia bisa tertawa dengan ceria saat bermain game disini bersama dengan Evgen.
Setelah puas bermain, Evgen memasuki restoran mewah didalam mall tersebut, tanpa banyak bertanya Shenina hanya mengikuti langkah Evgen.
Saat menu datang, Shenina membuka menu tersebut. Matanya membulat sempurna saat melihat daftar harga makanan disini.
"Ssttt," panggil Shenina berbisik.
Evgen mengalihkan pandangan matanya kearah Shenina.
"Lu mau ngabisin uang ratusan ribu hanya untuk makan malam?" Tanya Shenina sedikit berbisik.
"Kenapa memangnya? lu takut gue gak sanggup bayar?" Tanya Evgen angkuh.
"Geu tahu elu itu holang kaya, anak sultan. Tapi gak harus makan semahal ini juga," bisik Shenina kembali.
"Gue anak Sean, bukan anak sultan," balas Evgen lembut.
"Ck," Shenina mendecak kesal dan menutup menunya.
"Mbak, aku minta ...." Shenina langsung membekap mulut Evgen yang ingin memesan makanan.
Shenina menyeringai dengan lebar sambil menatap waiters yang menunggu mereka memesan.
"Mbak, boleh pergi sebentar gak? kami masih bingung mau pesan apa, nanti kalau sudah siap kami panggil."
__ADS_1
"Baik," jawab Waiters itu lembut.
Evgen menghempaskan tangan Shenina saat Waiters itu pergi.
"Apa-apaan elu? gue laper, gue mau makan!" teriak Evgen kesal.
"Tapi disini terlalu mahal, ayo ikut gue!" Tarik Shenina cepat.
Shenina menarik tangan Evgen keluar dari mall tersebut. Walaupun malas, Evgen hanya mengikuti langkah Shenina.
"Lu apa-apaan sih, Shen? lu pikir gue gak sanggup bayar? buat malu saja elu," ucap Evgen tidak senang.
"Bukan begitu, gue tahu kalau elu mau, restoran itu bisa elu beli. Tapi elu terlalu sombong tahu gak? lu pikir orang tua elu mudah ngumpulin uang sebanyak itu?"
"Yah, itu bukan urusan elu, toh semua masih didalam pengawasan Papa." Jawab Evgen tidak mau kalah.
Celetuk
Shenina menyelentik dahi Evgen dengan kuat.
"Heh, Evgen. Elu itu seharusnya bersyukur, elu gak harus susah payah, tapi elu bisa nikmati fasilitas mewah. Ingat, masih ada yang dibawah elu, mereka ngumpulin uang seribu dua ribu hanya untuk makan,"
"Hah, baiklah, baiklah," ucap Evgen dengan mengacak rambutnya.
"Gue lapar, gue gak bisa kenyang kalau hanya dengar ceramah elu itu,"
Shenina menghela nafasnya dan menyilangkan kedua tangannya didada.
"Ikut gue," tarik Shenina di pergelangan tangan Evgen.
Shenina berjalan sambil menggandeng tangan Evgen. Shenina terus berjalan tanpa memperhatikan Evgen yang terus menatap ia sedari tadi.
Shenina menarik tangan Evgen ke warteg di bibir jalan. Evgen hanya berdiri terpaku melihat warteg sederhana didepannya.
Evgen menghela nafasnya dan mengacak rambutnya.
"Lu mau gue makan disini?" Tanya Evgen malas.
"Hah, apa yang harus ditakuti, hanya warteg saja. Gue sering makan disini bareng teman-teman gue," ucap Evgen malas.
"Elu, sering makan disini?" Tanya Shenina tak percaya.
"Iya, kenapa? gak percaya? gue ini orang yang asyik, bisa ngikut kemana saja," ucap Evgen sambil berjalan meninggalkan Shenina di belakangnya.
"Hey, Evgen elu mau kemana?" Panggil Shenina.
"Sudah jalan saja," Evgen berjalan dengan memasukan kedua tangannya disaku jaketnya.
Berjalan memasuki gedung mewah hotel bintang lima terkenal dikotanya.
Mata Shenina langsung takjub melihat bangunan super mewah hotel itu. Dengan desain interior yang sangat elegan.
Ia tidak menyangka bisa masuk ke hotel termewah di kotanya itu.
Evgen nerjalan dengan santai menuju lift untuk naik ke restoran hotel yang berada di lantai 2, ia mencari Shenina yang tidak ada lagi di sebelahnya.
"Hey, Shenina, ayo sini!" panggil Evgen pada Shenina yang masih terpaku melihat interior mewah hotel termegah di kotanya ini.
Shenina berlari menyusuli Evgen yang sudah ada di pintu hotel. Tanpa banyak berucap, Shenina hanya mengikuti Evgen yang membawanya kelantai dua.
Begitu pintu lift terbuka, Shenina langsung menarik tangan Evgen. Menghentikan langkah Evgen yang ingin keluar.
"Evgen, elu gak ada niat jahatkan sama gue?" Tanya Shenina cemas.
"Haish, gue cuma mau makan, jangan berpikir terlalu jauh," ucap Evgen sambil mentoyor kepala Shenina.
Evgen langsung berjalan memasuki restoran mewah hotel ini, matanya kembali takjub pada setiap arsitektur dan juga desain yang begitu megah.
Shenina bagaikan masuk kedunia lain, seumur hidup, baru kali ini dia berada ditempat yang paling mewah.
Evgen menarik tangan Shenina yang beberapa kali terpaku memandangi ruangan restoran ini. Ia mendukukan Shenina dan memanggil salah satu Waiters disana.
__ADS_1
Waiters itu mengantarkan menunya kehadapan Evgen, tanpa membuka menunya Evgen langsung memesan beberapa minuman.
"Gak usah buka menu, bawakan saja sop iga, iga bakar dan juga lobster." Perintah Evgen lembut.
"Baik, ada lagi, Mas?" Tanya Waiters itu lembut.
"Sekalian dessert-nya juga deh."
"Itu saja?"
"Shenina," panggil Evgen lembut.
"Hah,"
"Lu mau tambahi makanannya?"
"Gak perlu, gue gak ngerti juga," ucap Shenina malu.
"Yasudah, itu saja,"
Waiters itu mengangguk dengan cepat dan pergi. Shenina masih asyik melihat ornamen yang berada di restoran ini dan juga beberapa barang klasik lainnya.
Sunguh, benar-benar hotel mewah yang bukan hanya dari tampilan luarnya saja. Bahkan didalammya jauh lebih menarik dari tampilan luarnya.
Sementara Evgrn hanya bisa menghela nafas, melihat Shenina yang begitu takjub pada desain hotel ini.
"Evgen, gila gak sih yang buat ini hotel? keren banget inspirasinya," puji Shenina kagum.
Evgen menyungging bibirnya sebelah, dan menganggukkan kepalanya.
"Tunggu saat gue sudah lulus kuliah, gue juga akan membuat bangunan lebih bagus dari ini,"
Shenina memandang kearah Evgen dan memutar bola matanya malas.
"Gak usah mimpi deh elu," ucap Shenina malas.
Evgrn hanya mengerdikan bahunya, tak peduli. Ia kehabisan tenaga untuk bertengkar dengan Shenina, tunggu sampai perutnya kenyang. Shenina akan menemukan lawan yang seimbang.
Tak lama, makanan yang di pesan Evgen datang, dengan telaten para Waiters yang mengantarkannya menyusun dengan sangat rapi diatas meja.
Kembali mata Shenina membulat sempurna saat melihat pesanan yang dipesan Evgen.
Ia begitu terkejut, beberapa makanan mewah yang bahkan di tivi saja ia hanya berani lihat. Kini terhidang didepannya.
"Evgen, elu habisim beberapa banyak uang untuk makan ini? apa ini seharga motor?" Tanya Shenina tak percaya.
Evgen melepaskan senyumnya dan hanya memakan makanan lezat didepannya. Sementara Shenina masih enggan untuk memakan makanan yang bahkan harganya tidak bisa ia bayangkan itu.
"Jika uang nya di belikan beras dan sembako, apa cukup untuk aku dan Seta selama setahun?" Tanya Shenina lembut.
"Hey, sudah makan saja, kenapa banyak sekali pertanyaan sih?" Ucap Evgen yang mulai kesal.
"Evgen, gue ajak elu keluar dari restoran mahal, kenapa malah makan di tempat yang lebih mewah dan mahal. Elu gak sayang sama uang elu?habis hanya untuk sekali makan?"
"Susah memang ngajakin orang kayak elu makan, bayak banget bicaranya. Makan saja, semua ini gratis." Ucap Evgen malas berdebat.
"Maksudnya gratis?" Tanya Shenina bingung.
"Gratis, ya gratis lah."
"Lu menang undian ya? bagi kuponnya dong, gue juga pingin bawa Seta kesini," pinta Shenina manja.
"Heh, elu pikir gue sudi ikut-ikutan promosi murahan seperti itu?"
"Jadi? apa jangan-jangan elu habis makan mau niat kabur?"
"Heh, Shenina elu pikir gue ini seburuk itu apa? kalau harus bayar semua makanan ini pun gue sanggup!" Ucap Evgen keras.
"Jadi maksud elu gratis apa?" Tanya Shenina penasaran.
"Gratis, karena hotel ini milik Papa gue,"
__ADS_1
"Apa?" Teriak Shenina terkejut.