Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
90


__ADS_3

Evgen mengacak rambutnya, ia memandang Shenina dengan sengit. Sudah keadaannya runyam begini, malah di buat makin rumit oleh gadis di sebelahnya ini.


"Dasar perempuan barbar, gue gak salah selalu saja kena imbas sama elu," rutuk Evgen geram.


"Heh, gak usah sok-sokan bilangi gue barbar deh elu. Kalau elu gak ngintipin dalaman gue, juga gak bakalan gue tampar elu," ucap Shenina ketus.


"Siapa yang lihat dalaman elu Shenina? Siapa?" Evgen mengacak rambutnya dengan kesal.


Kali ini ia benar-benar kesal di buat oleh perempuan yang ada di depannya itu.


"Gak usah banyak ngeles deh elu, kalau elu gak lihat, gak mungkin elu tahu warna dalaman gue!" bentak Shenina lantang.


"Heh, siapa suruh elu pakai dalaman warna nya norak! Norak tahu gak elu, dalaman kok warna putih? Sekalian saja kain kafan elu jadikan dalaman," balas Evgen sengit.


"Sekarang gue tanya sana elu, dalaman elu ada gak yang warnanya putih?"


"Ya mana ada, gue gak suka dalaman warna norak begitu!"


"Terus kenapa kaos elu putih?"


"Ini kaos Shenina, bukan dalaman. Elu bisa gak bedain kaos sama dalaman? Hah?" tanya Evgen ketus.


Seketika wajah Shenina memadam merah kerena menahan malu. Ia mencubiti pinggang Evgen dengan membabi buta.


"Ah, au, sakit, sakit!" teriak Evgen saat mendapati cubitan tangan Shenina.


Beberapa kali Evgen menggeliat menghindari tangan Shenina. Namun gerakan tangan gadis itu lihai menarik kulit lelaki itu.


Evgen mencengkeram kedua tangan Shenina, mencoba menahan gerakan gadis itu untuk kembali menyentuh kulit pinggangnya.


Berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Evgen. Shenina beberapa kali menghempaskan pegangan tangan Evgen.


Tetapi tangan lelaki itu lebih kuat menahan tangan Shenina. Karena kesal tak bisa bergerak, Shenina mendorong dada Evgen dengan kuat.


Bugh.


Badan Evgen mendarat di atas rumput taman, dengan posisi Shenina yang berada di atas dadanya menimpahi badan bidang milik lelaki angkuh itu.

__ADS_1


Sesaat mata mereka saling bertemu, menatap lekat dan dalam,.kedalam binar milik lawan.


Shenina tersenyum tipis dan menundukan pandangannya, mencoba untuk bangkit dari atas dada evgen. Namun tangan Evgen menarik pinggang Shenina agar tidak bergeser dari atas badannya.


Mendekap pinggang ramping itu dengan satu tangannya. Satu tangan yang lainnya menyentuh belakang kepala Shenina.


Menarik kepala gadis itu untuk mendekat perlahan pada wajahnya.


"Sumpah gue gak lihat warna dalaman elu. Tapi karena elu bilang apa warna dalaman elu, bisakah gue anggap elu sedang menggoda gue?" bisik Evgen lembut di telinga kanan Shenina.


Shenina memejamkan matanya, seketika wajahnya bersemu merah kerena malu. Padahal ia tidak berniat seperti itu, tapi kenapa malah menjadi seperti ini.


Evgen tersenyum lembut, melebarkan bibirnya hingga kedua matanya menyipit.


Evgen menyentuh ujung hidung Shenina menggunakan ujung hidung mancungnya. Memainkan antara ujung hidung mereka, mencoba membuka mata Shenina yang masih terpejam.


Terasa embusan napas Evgen menembus kulit pipi Shenina. Menciptakan kehangatan yang menjalar mengikuti aliran darahnya.


Perlahan Shenina membuka matanya, menatap mata jernih Evgen dengan dalam.


Evgen kembali tersenyum, menarik kepala Shenina perlahan. Mencium bibir mungil gadis itu dengan lembut. Memainkannya sesaat, lalu meleraikannya.


Evgen melirik kearah Shenina, memperhatikan wajah gadis itu yang terus memerah padam.


Evgen menarik kepala Shenina dan membenamkan di dadanya. Mencium pucuk kepala Shenina.


"Gue benar-benar minta maaf atas kejadian malam itu, Shen. Maaf karena gue sudah bertindak layaknya seorang pecundang, yang meninggalkan elu di tengah hujan," ucap Evgen lembut.


Shenina hanya menghela napasnya dengan sedikit berat. Merapikan helaian rambutnya yang sedikit berantakan.


"Maaf, gue terlalu egois. Gue gak pernah nanya apapun sama elu dan menyimpulkannya sendiri. Maaf karena sikap gue, gue menyakiti elu," kembali Evgen berucap dengan lembut.


"Emh, gue sudah maafin elu Evgen. Sekarang bisa gak elu lepasin gue?" tanya Shenina kaku.


Evgen kembali mendaratkan ciuman di pucuk kepala Shenina. Meleraikan dekapannya dan tersenyum dengan lembut.


Evgen meletakan kepalanya diatas pangkuan Shenina. Memejamkan matanya dengan menarik napas berat.

__ADS_1


Walaupun sempat menghilang, kini perasaan dan pertanyaan itu kembali hadir dalam benaknya.


Masih ada beban yang terasa mendera perasaannya saat ini.


"Shen," panggil Evgen lembut.


"Kenapa?"


"Elu, pernah gak berpikir jika suatu saat nanti orang yang paling elu sayangi bukanlah orang yang seharusnya elu sayangi?" tanya Evgen lembut.


"Hah, maksudnya?" tanya Shenina bingung.


"Misalnya, bagaimana jika Seta itu bukanlah adik kandung elu, apa elu akan tetap bisa menyanyanginya dan berjuang untuknya?"


"Bisa!" jawab Shenina langsung.


"Heh, kenapa?"


"Jika dua orang yang gak saling mengenal saja bisa saling jatuh cinta dan menikah. Sang lelaki rela bekerja siang dan malam untuk sang wanita, dan wanita rela mengurus lelaki yang menjadi suaminya tanpa lelah. Padahal awalnya mereka adalah asing, kenapa gue gak bisa sayang sama Seta yang dari kecil sama gue, walaupun dia bukan dari darah yang sama dengan gue, iya kan?"


Sejenak Evgen terdiam, apa yang di ucapkan Shenina memang ada benarnya.


"Terkadang di dunia ini ada ikatan yang lebih erat dari pada sekedar hubungan darah, Evgen. Kadang kita yang asing bisa saling menyanyangi lebih dari seorang saudara satu sama lain. Iya kan," ucap Shenina lembut.


"Tapi Shen, apa elu gak merasa kecewa jika orang yang elu sayangi hanyalah orang asing dalam kehidupan elu?"


"Sebenarnya yang di sebut asing itu apa sih Evgen? Jika asing itu hanya antara hubungan darah, bukankah Mama elu juga asing buat Papa elu? Bukannya Mama elu juga asing buat keluarga Papa elu? Walaupun menikah, bukankah tetap tidak sedarah?"


Evgen kembali terdiam, ia masih mencerna ucapan Shenina.


"Gue gak tahu bagaimana tanggapan elu tentang hubungan yang asing itu seperti apa. Tapi menurut gue yang di sebut asing itu, adalah saat elu harus menerima orang yang sama sekali tidak bisa elu sayangi dan elu terima dalam hati. Itu yang namanya asing, karena menurut gue, asing itu bukan tentang hubungan darah. Tetapi tentang sebuah rasa." Shenina menghela napasnya, menyisir rambutnya yang terbang terbawa angin.


"Evgen, asalkan elu bisa sayang dan elu punya rasa simpati pada orang itu. Maka orang itu bukanlah orang asing, karena di dunia ini, rasa kasih dan sayang itu lebih penting dari sekedar ikatan darah."


Evgen terduduk, ia menatap ke wajah Shenina, memang apa yang di ucapkan oleh Shenina ada benarnya.


Memang, di dunia ini terkadang kita bisa menganggap saudara adalah orang asing. Namun orang asing bisa lebih dekat dari saudara.

__ADS_1


Bukan hanya tentang sebuah darah yang mengalir dalam diri. Namun juga tentang rasa sayang yang mengalir dalam hati.


__ADS_2