Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
17


__ADS_3

Rezi memandangi rumah sederhana yang di masuki oleh Neha tadi. Rumah yang tidak terlalu besar, namun memiliki halaman yang begitu luas tanpa pagar pembata.


Rezi menstater mobilnya dan kembali kerumah besarnya. Dengan sedikit bersiul, Rezi berjalan memasuki rumah Sean.


"Kok malam sekali baru pulang?" Tanya Sean yang tanpa Rezi sadari sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Eh, Papa. Itu, aku tadi."


Sean menajamkan matanya dan berjalan mendekati Rezi. Memandang wajah Rezi lekat dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kenapa pulang telat? telat sekali malah?" Tanya Sean dingin.


"Emh, maaf Pa. Tadi aku harus siapin beberapa rancangan dulu."


"Benarkah?" Tanya Sean mendekatkan wajahnya ke Rezi. "Tapi kelihatannya dari wajah kamu, bukannya kelelahan, tapi malah bahagia." Sean menyipitkan matanya.


"Kamu habis kencan ya?" Tanya Sean dengan memainkan kedua alis matanya.


Seketika wajah Rezi memerah padam, Rezi menggaruk tengkuk lehernya dan berusaha untuk tetap tenang.


"Eh, mana mungkin. Aku kencan sama siapa?" Tanya Rezi bingung.


"Sama siapa, ya mana Papa tahu."


"Tapi beneran aku gak lagi kencan, kok."


"Gak kencan? jadi kamu sedang jatuh cinta sama seorang wanita ya?" Tanya Sean kembali.


"Eh, mana mungkin. Enggak, bukan begitu, Pa."


Sean melepaskan senyumnya dan menepuk bahu Rezi lembut.


"Sudahlah, naik dan bersihkan dirimu. Istirahat yang cukup ya."


"Baik, Pa." Rezi langsung berlari menaiki anak tangga dengan sedikit tergesa.


"Rezi." Panggil Sean lembut.


"Iya, Pa."


"Akan Papa tunggu kamu membawa calon menantu kerumah ini," goda Sean kembali.


"Papa!" Tekan Rezi malu.


Rezi langsung menaiki anak tangga dengan cepat. Menghindari godaan Sean yang sangat tepat menembus hatinya.


***


Neha menyirami beberapa pot bunga yang tergantung di kebun bunga miliknya.


Memandangi pohon-pohon bunga yang akan segera tumbuh besar. Saat Neha tengah asyik menyirami bunga-bunga itu, suara berisik dari halaman depan rumahnya memalingkan perhatian Neha.


Dengan berjalan santai, Neha pergi ke halaman depan. Melihat situasi yang terjadi.


Neha terkejut saat melihat tubuh tinggi seorang lelaki yang terduduk di halaman depan rumahnya.


Perlahan Neha mendekati lelaki itu dan melihat wajahnya. Lelaki itu langsung berdiri saat Neha berada di sampingnya.


"Oh, hai, Neha," ucap Rezi sedikit malu.

__ADS_1


Neha tersenyum dan memainkan jarinya, menunjuk kearah bawah.


"Oh, kamu nanya kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Rezi saat melihat gerakan tangan Neha.


Neha tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Aku lagi nyari alamat rumah teman aku, tapi malah nyasar kesini." Rezi memalingkan wajahnya ke rumah Neha.


"Hem, ini rumah kamu?" Sambung Rezi lembut.


Neha menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Oh, bisakah aku menumpang kamar mandi? aku numpang bersihin celana aku boleh?" Tanya Rezi sambil melihat jeansnya yang kotor karena terkena lumpur.


Neha menatap wajah Rezi, lalu turun ke pakaian Rezi yang sedikit kotor. Neha memandang kearah langit, hari begitu cerah, kenapa baju Rezi bisa berlumpur?


"Hey, Neha." Rezi melambaikan tangannya di depan mata Neha, saat Neha memandang ke langit luas.


Neha tersenyum dan menangkupkan tanganya di dada. Lalu ia membalikan badannya dan melambaikan tangannya. Mengajak Rezi untuk masuk kedalam perkebunan bunganya.


Mata Rezi tak bisa lepas dari pandangan indah dari berbagai tanaman hias dan juga beberapa jenis bunga yang berada di dalam kebun bunga besar milik Neha.


Semuanya tersusun sangat cantik dan rapi, bahkan warna bunganya saja bisa senada, walaupun jenisnya berbeda.


Neha membuka pintu belakang rumahnya, ia berjalan dengan cepat dan membuka pintu kamar mandi. Mempersilahkan Rezi untuk masuk ke kamar mandi.


Kembali mata Rezi takjub saat memasuki kamar mandi rumah Neha. Kamar mandi yang berukuran kecil, namun tata letaknya sangat rapi dan juga sangat bersih. Bahkan harum bunga, terasa sangat menyengat di kamar mandi Neha.


Rezi melepaskan ransel yang ia gunakan dan mengeluarkan beberapa pasang baju. Trik ia untuk mendekati Neha, ternyata berjalan dengan muda.


Rezi menyisir rambutnya dan merapikan kembali bajunya sebelum ia keluar dari kanar mandi.


"Ini, kebun bunga milikmu?" Tanya Rezi sambil menatap kesekeliling.


Neha memalingkan wajahnya, ia kembali tersenyum dan berjalan kearah meja santai yang berada di samping kebun.


Neha merangkai beberapa bunga segar yang baru ia petik tadi kedalam vas yang ada di atas meja.


Perlahan Rezi mendekati Neha. Neha menarik tangan Rezi dan mendudukannya di kursi santai itu. Neha mengulurkan bukunya ke hadapan Rezi.


(Minumlah dulu sebelum pergi, lain kali kamu harus hati-hati. Aku tidak melihat hujan, tapi aku bisa menemukan lumpur.) di tambah gambar wajah tersenyum di akhir tulisan Neha.


Rezi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Neha memang bisu, namun Neha bukan gadis bodoh.


Awalnya Rezi mengira bahwa rencananya berhasil, namun ternyata Neha menyadari semuanya.


Rezi meraih gelas teh yang di sediakan oleh Neha. Matanya kembali menatap tubuh proporsional Neha yang sedang merawat bunga-bunga di kebunnya.


Perlahan Rezi mendekatkan gelas tehnya, aroma berbeda dari gelas teh itu membuat Rezi mengurungkan niatnya untuk meneguk isi di dalam gelas itu.


"Neha." panggil Rezi lembut.


Neha memalingkan pandangannya, perlahan ia berjalan mendekati Rezi dan duduk di sebelah Rezi.


"Tulisan tangan kamu indah sekali," ucap Rezi lembut.


Neha tersenyum dan menundukan pandangannya. Neha menarik bukunya dan menuliskan sesuatu kedalam bukunya.


(Terima kasih, tapi kenapa kamu bisa sampai kesini?)

__ADS_1


Rezi menghela nafasnya dan menatap kearah depan saat membaca tulisan Neha. Membuat ekspresi yang menyedihkan dan juga kebingungan.


"Teman aku memberikan sebuah alamat, katanya aku bisa mendapatkan pekerjaan di daerah sini. Tapi sepertinya aku tersesat," jawab Rezi pasrah.


Neha membalikan telapak tangannya dan memainkan kembali jarinya dengan cepat.


Rezi hanya memandang Neha, ia sama sekali tidak tahu kali ini Neha berbicara apa.


(Apa teman kamu tinggal disini?)


"Tidak, aku dan dia tinggal di kos ujung jalan depan. Tapi dia bilang, alamat ini sedang membutuhkan pekerja." Rezi menyodorkan sebuah alamat kehadapan Neha.


Neha membaca alamat yang tertera dan memandang Rezi dengan sedikit bingung.


"Kamu tahu alamat ini dimana?" Tanya Rezi pura-pura bodoh.


Neha kembali membentuk jarinya dan menunjuk kearah bawah.


"Ah, maksud kamu, ini alamat rumah kamu?" Tanya Rezi pura-pura terkejut.


Neha menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Apa kamu butuh seorang pekerja?" Tanya Rezi antusias.


Neha hanya menggelengkan kepalanya pasrah.


"Ah ... Sudah ku duga." Rezi mengusap wajahnya dengan kasar dan menampilkan ekspresi depresi.


"Temanku hanya mengerjai, padahal aku benar-benar serius mencari kerja. Kalau begini, bagaimana aku bisa makan dan juga bayar uang semester," ucap Rezi stres.


Sementara Neha hanya memandang Rezi dengan wajah sedih, ia tak tega melihat wajah Rezi yang terlihat begitu depresi.


"Neha, apa kamu tidak bisa menerimaku bekerja disini?"


Neha langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Huft." Rezi mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya. Menghela nafasnya dengan sedikit berat.


Melihat ekspreamsi Rezi, Neha benar-benar tidak tega. Neha menarik bukunya dan menuliskan dengan cepat. Lalu menyodorkan buku itu ke depan Rezi.


(Maaf Rezi, bukan aku tidak mau membantu. Tapi aku tidak sanggup menggaji kamu. Karena aku hanya menggantungkan hidupku dari jualan bunga-bunga ini.)


Rezi membaca tulisan Neha, tak lama ia menatap Neha dengan bias wajah yang menyedihkan.


"Begitu, ya. Lalu aku bisa apa? apa aku harus kelaparan?" Ucap Rezi melas.


Mendengar ucapan Rezi, Neha bangkit dengan cepat masuk kedalam rumahnya.


Tak lama Neha keluar dengan beberapa makanan di tangannya dan memberikan ke Rezi.


Rezi melihat makanan yang di sodorkan Neha, lalu matanya teralih pada wajah polos Neha yang tersenyum sambil menyodorkan makanan di depannya.


Neha, bener-benar tulus, ia tidak peduli pada dirinya, namun mau membantu orang lain.


Mendapati niat tulus Neha, rasa bersalah menghinggapi hati Rezi. Ia merasa buruk karena telah melakukan ini semua demi mendekati Neha.


Neha terlalu jujur untuk di bohongi, ia terlalu polos untuk di perlakukan seperti ini.


Rezi menundukan pandangannya, tak sanggup melihat wajah Neha yang begitu polos tersenyum dengan tulus.

__ADS_1


'Maaf Neha, aku gunakan trik ini hanya demi mendekatimu. Aku merasa sangat buruk saat berhadapan denganmu,' lirih Rezi dalam hati.


__ADS_2