
Megi membuka matanya, melihat langit-langit kamar rumah sakit. Megi memiringkan badannya, melihat suami garang yang sedang tertidur pulas di sebelahnya.
Megi tersenyum, ia menunjuk pipi Sean dengan satu jarinya. Lalu jarinya ia tempelkan di pipi Sean, menekan pipi Sean dengan ujung jari mungilnya.
"Apa sih Megi?" tanya Sean malas. Ia memalingkan badannya, tidur membelakangi Megi.
"Kak aku udah cukup tidur, dua hari tidur aja di rumah sakit. Jadi aku gak bisa tidur." ucap Megi sambil terduduk diatas kasurnya.
"Tapi gue udah dua hari gak tidur, ngantuk banget."
Megi menumpuhkan dagunya diatas badan Sean yang saat ini sedang membelakanginya.
"Kakak bohongi aku, kan? kakak juga udah dua hari tidur terus bareng aku. Ayo bangun!" perintah Megi kasar.
Namun tak peduli Sean hanya kembali tertidur. Megi menghela nafasnya dan bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan ke sisi kasur satu lagi.
Membungkukkan badannya, untuk melihat wajah Sean yang sedang tertidur kembali.
"Kak, bangun!" Megi menusuk kulit pipi Sean dengan ujung jarinya.
"Kak bangun ih, bangun." Megi kembali menusuk-nusuk kulit pipi Sean dengan jari mungilnya.
Geram melihat ulah Megi, dengan cepat tangan Sean mengambil jari Megi dan memasukannya kedalam lubang hidungnya.
"Ah ...!" teriak Megi lantang.
"Kakak jorok ih." Megi memandangi jari mungilnya yang baru keluar dari lubang hidung Sean.
"Itu wangi, coba cium." ucap Sean dengan tersenyum.
"Iyuh ... Jorok ih." Megi masih memandangi jari mungilnya.
"Bandel sih, orang mau tidur ganggu aja." Sean membalikan badannya dan kembali tertidur.
"Seneng banget sama upil gue, sampek gak rela di cuci dan di pandangi terus. Lu masukin kulkas aja biar awet."
Mendengar ucapan Sean, Megi langsung berlari ke kamar mandi. Mencuci jarinya yang di masukan Sean kedalam lubang hidungnya.
Megi kembali dan duduk di bibir ranjang. Ia melihat wajah Sean yang sedikit tersenyum, Sean belum benar-benar tidur. Kali ini ganti ia yang mengerjai.
Megi mengambil jemari Sean dan mengelusnya, mencium telapak tangan Sean lalu memasukan jari telunjuk Sean kedalam lubang hidungnya. Namun perbedaan besar jari, membuat jari Sean tak muat di lubang kecil hidung Megi.
"Kok gak muat sih?" tanya Megi polos.
Sean membuka matanya dan terduduk seketika. Tertawa sekeras-kerasnya.
"Puft ... Ha ha ha. Ya Tuhan, kuaci satu ini, kadang kepintarannya sungguh di luar dugaan." kembali tawa Sean pecah, memenuhi ruangan kamar rumah sakit.
Megi menyilangkan kedua tangannya di dada. Bibirnya mengerucut panjang, sebal oleh tingkah Sean yang tak bisa ia balas.
"Hey gadis kecilku, lihat badan elu dan badan gue. Lu masih bocah, jangan suka ngelawan orang dewasa. Ha ha ha." Sean kembali tertawa gembira.
Sean menarik selimutnya dan memasukan badan mereka berdua kebawah selimut.
"Ih kakak. Sana jauh-jauh." teriak Megi berontak.
Tangan Sean menarik Megi dan mendekapnya erat.
"Udah bobok aja ya kuaci, Sayang. Bobok!" Sean menguatkan pelukannya.
Megi tak bisa lagi melawan, tenaga Sean tak bisa ia tandingi.
Mata Megi mengerjap, saat ia merasakan ada sebuah kitikan di telapak kakinya.
Megi terbangun dan langsung terduduk. Melihat Sean yang sedang asyik mengkitik telapak kakinya.
"Hah, akhirnya bangun juga ratu kuaci." ucap Sean saat melihat Megi terduduk.
"Kakak gak ada cara lain apa buat banguni aku?" tanya Megi ketus.
"Jadi lu mau nya bagaimana?" Sean berjalan mendekat dan meraih kedua ujung bahu Megi.
Menjatuhkan badan Megi kembali ke kasur, dan membiarkan Megi berada di bawahnya. Sean mencium bibir Megi lembut.
"Jadi mau gue banguni dengan cara ini?" tanya Sean sesaat selesai melepaskan ciumannya.
"Ayo bangun, katanya bosen di rumah sakit aja." Sean bangkit dan duduk di bibir ranjang.
"Mau kemana kita?"
"Pulang ke apartemen lah. Jadi mau kemana? ke neraka?" tanya Sean ketus.
Megi bangkit dan menemplok mesra di punggung belakang Sean.
__ADS_1
"Tapi sebelum pulang kita jalan-jalan dulu ya." Megi mengecup lembut pipi kiri Sean.
"Males ah. gak bosen apa lu? jalan-jalan mulu." tanya Sean ketus.
"Enggak kak, ya kak. Boleh ya, boleh ya Suamiku." Megi melingkari bahu Sean dengan manja.
"Kemana? berkunjung ke tempat tuan Hades kah?" tanya Sean menggoda.
"Eh jangan..."
"Kenapa?"
"Nanti raja neraka bisa kalah, kalau kakak ngamuk di neraka."
Sean melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah.
"Dasar." ucap Sean sambil mengelus kepala Megi.
"Yaudah mandi gih, gue suruh Farrel anter motor kesini."
"Oke." Megi mengecup kembali pipi Sean. Dengan cepat ia melompat dari kasur dan memasuki kamar mandi.
Sean memakaikan helm full face ke kepala Megi. Mengaitkan talinya dan mengetuk kaca helm untuk menggoda Megi.
"Udah?" tanya Sean.
"Udah." jawab Megi pasrah.
"Apanya yang udah?"
"Udah siap, kakak."
"Kalau udah siap yaudah lari sana!" perintah Sean datar.
"Ih kakak ayo." Megi mencubit pinggang Sean kuat.
"Iya ayo. Jangan peluk gue ya, gue gak suka di sentuh." ucap Sean sambil menaiki motornya.
"Oke."
Namun belum lagi Sean melajukan motornya, badan Megi sudah menempel mesra di punggung badan Sean.
"Hey." Sean menggoyangkan punggung badannya.
"Ih kakak apaan sih? kakak kotorannya!"
"Elu apanya?" tanya Sean kembali
"Ih kakak, udah. Kok ngomong jorok sih?"
"Dari pada pikiran gue yang jorok?"
"Ih ayo, kapan jalan nya?" tanya Megi kesal.
"Iya, iya. Siap jalan tuan putri."
Sean melajukan motornya, menembus jalan raya dan memasuki area barat kota.
Sean menghentikan laju motornya di area pembangunan gedung apartemennya. Bibir Megi memoyong seketika.
"Bentar ya." ucap Sean sambil membuka helmnya.
"Hem, saat jalan-jalan pun masih ingat kerjaan." Megi menyilangkan kedua tangannya di dada.
Sean tersenyum dan meraih pucuk kepala Megi.
"Cuma sebentar." bujuk Sean.
Megi membuang pandangannya keseberang jalan, ia berjalan menyeberangi jalan raya.
Megi mendekat perlahan ke pesisir pantai. Matanya menatap hamparan luas air biru di depannya. Megi membuka alas kakinya dan menginjak pasir putih di pantai itu.
Berjalan mengikuti langkah kakinya, sambil menikmati hempasan air laut yang terdorong ombak menyentuh kakinya.
Setelah lelah berjalan, Megi berhenti di bawah pohon cemara, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Sebuah tangan melingkari bahu Megi, memeluk Megi dengan tiba-tiba, dan mencium sisi kepala Megi. Dengan sedikit terkejut, Megi memalingkan wajahnya.
"Dicari in kemana, tahu nya kesini." ucap Sean lembut.
"Udah siap kak?"
"Ehem."
__ADS_1
"Main air yuk." ajak Megi langsung.
"Gak mau!" ucap Sean spontan.
"Kenapa?"
"Waktu terasa lebih indah saat kita begini, kemanapun kita pergi, gue cuma ngerasa waktu itu berjalan indah saat tangan gue meluk badan elu."
Bibir Megi tersenyum, namun entah kenapa kali ini, air mata ikut mengalir bersama senyum yang terukir. Kenapa saat ini waktu terasa sangat cepat berlalu? Tak bisakah waktu lebih lama berputar, agar kebahagiaan ini tak mudah memudar, belum cukup puas megi merasakan cinta dan hangatnya kasih sayang milik Sean.
Megi hanya bisa memejamkan matanya, merasakan hangat pelukan Sean yang mungkin akan selalu sangat ia rindukan.
"Kak."
"Hem."
"Kenapa aku ngerasa angin kali ini akan membawa luka untuk kita. Seperti angin ketenangan sebelum badai panjang di mulai."
"Ngomong apa sih?" tanya Sean datar.
Saat ini ia tahu, waktu mereka tak akan bertahan lama lagi. Namun bagaimana juga, semua akan berjalan pada rodanya.
Tak lama Sean meleraiakan pelukannya, ia membuka sepatunya dan berjalan tanpa alas kaki.
"Ayo sini," ajak Sean pada Megi.
Dengan sedikit menghela nafas Megi berlari. Begitu saat berada di dekat Sean, Megi melompati punggung badan Sean. Dengan sigap tangan Sean menahan tubuh Megi agar tak jatuh kebawah.
Menggendong Megi di pundak belakanganya lalu berlari kencang menyusuri pesisir pantai.
Sean menjatuhkan badannya di pasir, ia merentangkan tangannya dan mengambil nafasnya yang terengah-engah. Sean memejamkan matanya, mengatur nafasnya yang memburu.
"Gue lelah, Megi." ucap Sean sembari mengatur nafasnya.
Megi menjatuhkan kepalanya di dada bidang Sean mendengarkan detak jantung Sean yang berdetak kencang.
"Kak, kenapa jantung kakak gak ada detaknya?" tanya Megi menggoda.
Sean terduduk dan kembali mengambil nafasnya yang memburu.
"Karena detaknya ada sama elu."
"Ih kakak," Megi mencubit dada Sean dan tersipu malu.
"Sejak kapan kakak bisa berucap semanis itu?"
"Sejak langit berubah warna seperti itu." Sean menunjuk ke ujung langit yang memberikan warna oranye di sudut sana.
"Sunset," ucap Megi berbinar.
"Kayak gak pernah lihat sunset aja, heboh banget. Seminggu tinggal di villa ngapain aja?" tanya Sean ketus.
"Kali ini sunsetnya berbeda."
Megi memindahkan badannya keatas pangkuan Sean. Megi meraih kedua pipi Sean dan mencium bibir Sean.
Menikmati indahnya sunset bersamaan dengan indahnya cinta.
Sean melingkari perut Megi, meletakan dagunya di pucuk kepala Megi. Memandang langit yang cerah berubah warna menjadi jingga, dan perlahan mulai berubah menghitam.
Menikmati penghujung waktu senja berdua.
Sean kembali mengendarai motornya keapartemen saat langit sudah menghitam. Dengan menggandeng tangan Megi, mereka keluar dari parkiran. Bercanda ria, dengan melepaskan tawa mereka masing-masing.
Sambil berjalan masuk kedalam apartemen, sesekali Megi mencubit Sean. Tak ada lagi amarah yang terukir di wajah Sean, apapun yang dilakukan Megi saat ini, hanya akan mengukir senyum di wajah datarnya.
"Sean." panggil seseorang dari seberang jalan.
Mereka berdua saling menolehkan pandangan, melihat dari arah mana suara itu berasal.
Sebuah langkah kaki mendekat, dengan sedikit berlari lelaki itu datang menghampiri.
Seketika senyum yang terukir indah di wajah mereka berdua sirna.
"Megi." Lelaki itu langsung memeluk Megi.
Megi membuang pandangannya ke Sean. Mau tak mau gandengan tangan mereka terlepas.
Setelah beberapa waktu, pelukan itu berpindah ke Sean. Sean membalas pelukan itu dengan erat. Dengan memaksakan senyumnya, Sean merangkul sahabatnya itu.
"Apa kabar?" tanya Sean getir.
"Mika."
__ADS_1