
"Lu khianati gue, Sean. Lu nikahi adik gue, tanpa sepengetahuan gue!" teriak Mika.
Sean membalikan badannya dan kembali duduk disebelah Mika.
"Sorry, Sob. Gue bisa jelasin semuanya."
"Megi udah jelasin semua sama gue, dan gue gak butuh penjelasn dari elu."
"Mik, gue ..."
"Kenapa lu rahasiain ini dari gue?" Mika memutuskan kalimat Sean.
"Gue gak enak hati sama elu, Mik. Jujur gue ngerasa buruk saat berhadapan sama elu." ucap Sean bersalah.
"Lu cinta kan sama adik gue?"
Sean hanya mengangguk pasrah.
"Kalau gitu gue gak akan bawa dia pergi."
"Maksud lu?" tanya Sean bingung.
"Gue ingin lihat adik gue bahagia Sean. Kalau dia bahagia sama elu, kenapa gue harus pisahin kalian?"
"Jangan Mika, jangan seperti ini, tetaplah pada rencana awal."
"Kenapa, Sean? lu gak serius sama adik gue?" Mika menarik kerah jaket Sean.
"Gue serius benget Mika, tapi gue gak bisa egois."
"Maksud lu?" Mika mengendurkan cengkramannya.
"Megi itu masih terlalu muda, Mika. Masa depan dia panjang, jangan lu sia-siain bakat dia, dia punya segalanya, Mik. Tuhan memberikan anugerah terindahnya di dalam diri Megi. Gue gak mau cuma gara-gara gue, dia menyia-nyiakan anugerah yang ada dalam diri dia."
"Tapi, Sean. Megi sayang banget sama lu, buat gue gak masalah elu sama dia, apalagi elu sama dia udah disatukan dengan hubungan ini."
Sean menghela nafasnya berat, ia mengacak rambut gondrongnya.
"Bawa Megi pergi, buat dia meraih mimpinya Mika. Buat dia jadi wanita yang luar biasa, saat ini kesuksesan Megi sudah berada di ujung jalan. Megi hanya perlu berjalan sedikit lagi untuk meraihnya. Jangan biarkan, hanya karena kerikil kayak gue, Megi harus kehilangan masa depan dia, Mika."
"Tapi Megi sayang banget sama elu, Sean."
"Gue tau, Mika!" ucap Sean kesal.
__ADS_1
"Gue tau, tapi bukan berarti gue harus egois kan? bukan karena gue sayang terus gue harus miliki Megi saat ini juga kan?" sambungnya kesal.
Sean kembali terdiam, ia menatap kearah jalanan malam yang semakin padat.
"Biarin Megi mengejar impiannya dulu, biarkan dia menikmati kesuksesannya, kelak jika memang gue dan dia di pertemukan kembali, gue gak akan melepaskan dia lagi." ucap Sean lemah.
"Bagaimana kalau kalian gak di pertemukan lagi?"
"Simpel, Mika. Berarti Tuhan gak mengizinkan kami bersatu."
"Sean, lu yakin sob? Megi dan Gue akan menetap lama disana." Mika menepuk bahu Sean.
Sejenak Sean hanya terdiam, matanya menatap kosong kedepan. Menghela nafas panjangnya.
"Gue yakin, Megi akan lebih bahagia disana, Mika."
"Tapi perpisahan ini akan menyakitkan buat kalian berdua."
"Yang terpisah akan tetap berpisah Mik. Tanpa gue pun hidup Megi akan terus berjalan."
"Gue gak paham jalan pikiran lu, Sob. Setiap orang ingin bersama, tapi elu?" Mika menggelengkan kepalanya.
"Seandainya gue dan Megi di pertemukan lima atau enam tahun kedepan, mungkin gue gak akan lepasin dia, Mika. Saat ini Megi terlalu muda, banyak hal yang bisa diraihnya, dan semua itu gak akan terjadi jika dia tetap berada disisi gue."
"Elu udah berjuang demi masa depannya, Mik. Jangan biarin Megi hancur hanya karena ini. Jadikan Megi wanita yang luar biasa, jangan sia-siain pengorbanan gue."
Mika hanya bisa menghela nafasnya panjang. Apapun yang dikatan Sean memang harus terjadi, Sean selalu begini.
Pemikirannya lebih terfokus oleh masa depan. Analisanya selalu terpikir jauh kedepan.
"Terus bagaimana dengan elu? gue kenal elu Sean. Bukan hal mudah buat elu jatuh cinta, apa lu gak mau pikiri lagi." bujuk Mika sekali lagi.
"Gue udah pikiri ini dari awal Mik. Gue udah siapin mental gue, karena dari awal gue tahu, hari ini pasti akan datang."
"Terus apa lu udah siap?"
Sean hanya menggeleng pasrah, tak akan ada yang siap dengan sebuah perpisahan. Seindah apapun perpisahan itu di bungkus, dia tetap akan menyisakan luka di hati.
"Jangan begini, Sob. Perjuangin cinta elu."
"Setiap orang berjuang dengan caranya masing-masing, Mika. Dan cara gue berjuang adalah ini." ucap Sean sendu.
"Gue berjuang untuk masa depan Megi, gue berjuang untuk impian Megi. Gue harap elu bisa bawa Megi ke tempat itu, tempat dimana Megi berdiri di puncak tertinggi hidupnya."
__ADS_1
"Gue gak yakin, Sean. Apa lu beneran cinta sama Megi?"
Sejenak Sean terdiam, pandangannya tertunduk jauh kebawah. Benarkah jika seseorang melepaskan, berarti ia tidak mencintai?
Sean tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya.
"Gue gak pernah sesayang ini sebelumnya, gue gak pernah merasakan ini sebelumnya, Mika." Sean mengangkat kepalanya, menatap Mika yang saat ini duduk di sampingnya.
"Megi akan terluka jika dia tetap berada di sisi gue. Megi akan sering merasakan penderitaan jika dia ada di samping gue?" Sean mengacak-acak rambutnya, ia pun tersiksa oleh keadaan ini.
"Maksud lu, Sean?"
"Gue punya banyak musuh, Mika. Gue gak bisa biarin Megi nyia-nyiain hidupnya hanya karena cinta. Megi akan selalu ada dalam bahaya saat ada di sisi gue." jawab Sean depresi.
"Beberapa kali Megi terus dalam bahaya, gue gak sanggup. Gue gak sanggup biarin dia di sisi gue dan nanggung semua ini. Gue cuma mau melindungi dia, lu paham kan maksud gue?"
Mika hanya mampu terdiam, ia kenal Sean lebih lama dari Megi, namun kenapa saat ini Sean terlihat asing baginya. Sean bagaikan tak peduli akan lukanya, demi Megi dia mengorbankan hatinya.
"Sebaiknya lu istirahat, pesawat lu akan berangkat besok pagi." ucap Sean sambil berlalu pergi.
Mika hanya bisa menggeleng pasrah, melihat punggung Sean berjalan menjauh. Mika berjalan memasuki apartemen Sean, melihat Megi yang tertidur pulas.
Di kecup lembut dahi Megi, sebenarnya ia tak tega, namun semua ucapan Sean berusaha untuk bisa ia mengerti.
Sean kembali saat keadaan apartemen lebih sepi, ia membuka kamarnya dan memasuki kamar mandi. Mengguyur badannya dengan air, berharap saat ini air itu mampu menyirami hatinya yang panas.
Sean berjalan membuka pintu kamar Megi. Kini gadis kecil ini akan pergi dari hidupnya. Sean berjalan mendekati ranjang Megi. Mencium pipi Megi yang saat ini sedang tertidur pulas.
"Jadilah wanita hebat Sayang. Gue akan berdoa untuk pertemuan kita nanti." kembali Sean mengecup dahi Megi.
"Percayalah, rancangan Tuhan akan jauh lebih indah. Jika kita tidak di pertemukan kembali, maka elu tetaplah satu-satunya orang yang gue cintai."
Sean membaringkan badannya di sebelah Megi, hanya mampu menatap wajah Megi lekat. Saat ini Megi berada di dekatnya, bahkan sangat dekat. Sean hanya mampu memandang tanpa bisa menyentuh.
Sepanjang malam Sean hanya memandangi wajah imut Megi, matanya enggan untuk tertutup. Tak dibiarkan waktu malam ini sedetikpun berlalu tanpa memandangi wajah istrinya.
Megi terkejut saat membuka matanya, ia melihat Sean begitu sangat dekat di hadapannya.
"Andai setiap hari wajah kakak yang selalu aku lihat saat membuka mata."
Sean menarik kepala Megi dan memeluknya erat. Tak bisa lagi di tahan, kini airmatanya mulai membanjiri mata.
"Kak, untuk terakhir kalinya aku bertanya." Megi menahan sengal nafasnya.
__ADS_1
"Tak bisakah kita tetap bersama?"