Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Season 2 (07)


__ADS_3

Rezi memundurkan mobilnya, keluar perlahan dari halaman luas rumahnya. Tak sengaja matanya melihat Siera yang sedang berdiri di depan pagar rumahnya.


"Siera." panggil Rezi lembut.


"Iya, Kak."


"Mau kemana?"


"Aku mau ke toko buku, ada janji sama teman."


"Kok sendiri? Siena mana?"


"Siena sama Putra, mereka lagi kerjain tugas berdua."


"Ehm, mau kakak antar sampai depan?"


"Boleh deh."


Siera dengan cepat berjalan dan masuk kedalam mobil Rezi. Kebiasaan, Siera dan Siena tak pernah duduk di depan saat naik mobil.


Karena kebiasaan si kembar ini selalu berdua kemana-mana, jadi mereka selalu duduk di belakang walaupun sendiri.


Rezi langsung melajukan mobilnya, menembus jalanan padat pagi hari. Tanpa banyak bicara, Rezi hanya fokus menyetir, karena Siera tidak seperti adiknya. Siera lebih seperti Nona muda dan Rezi hanyalah supirnya.


Rezi memberhentikan mobilnya tepat di depan toko besar di kota.


"Makasih ya Kak, aku masuk dulu." ucap Siera sambil membuka pintu mobil.


"Kakak juga mau cari buku, ikut ya."


"Yasudah."


Siera dan Rezi masuk kedalam secara bersamaan, namun Rezi dan Siera pisah pada lorong-lorong rak buku.


Rezi berkeliling beberapa kali, mencari buku keluaran terbaru tentang windows dan juga jaringan komputer.


Setelah puas berkeliling, namun buku yang di cari tidak ada. Rezi kembali mencari Siera, memberi tahu Siera sebelum ia benar-benar keluar dari toko buku itu.


Bibir Rezi tersenyum saat melihat Siera berada di paling ujung lorong rak. Dengan santai Rezi berjalan melintasi lorong itu.


Begitu sampai di tengah, perhatian Rezi teralih pada wanita bertopi bundar berwarna merah, tangan pendeknya mencoba meraih buku di rak bagian atas.


Ujung jemari lentik wanita itu hampir mengenai buku yang ingin dia ambil. Lebih cepat tangan Rezi meraih buku itu.


Seketika wanita itu mendongakan kepalanya, menatap wajah Rezi diatasnya.


Rezi tersenyum dan mengeluarkan buku itu dari dalam rak. Memberikan, buku itu ketangan gadis manis yang berdiri tepat didepannya.


Dengan tersenyum lebar, wanita itu mengambil uluran buku yang di berikan oleh Rezi.


"Kak." panggil Siera mengalihkan perhatian Rezi.


"Tolong aku ambilin buku di rak atas." ucap Siera sedikit berteriak.


"Sebentar ya." ucap Rezi pada gadis itu.


Rezi langsung berlari kearah Siera. Mengambilkan buku yang di tunjuk dengan Siera dan kembali ke tempat tadi.


Namun gadis yang ia tolong tadi sudah tidak ada lagi.  Secepat kilat, Rezi keluar dari toko buku dan melihat kesekeliling.


Matanya mencari sosok gadis yang mengacaukan pikirannya beberapa hari ini. Namun kali ini ia pun kehilangan jejak wanita itu.


"Lagi, aku kehilangan wanita itu." Rezi menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit.


"Siapa gadis itu? kenapa begitu sangat misterius?"


Rezi mengusap kasar wajahnya dan berjalan lambat, kembali menuju parkirannya.


"Mas Rezi." panggil seorang wanita di seberang sana.


Rezi menyipitkan matanya, mencoba melihat wajah seseorang yang memanggilnya itu.


Dari seberang sana, wanita itu berlari tanpa melihat keadaan. Saat wanita itu hampir sampai ke tempat Rezi tanpa sengaja lengan tangannya terserempet dengan mobil.


"Shenina." tarik Rezi cepat.


"Auw." rintih wanita itu dengan memegangi lengan tangannya.


"Kenapa ceroboh banget sih?" ucap Rezi sedikit cemas.


"Ayo ikut aku, kita kerumah sakit." Rezi menarik tangan Shenina dan memasukannya ke mobil.


Melajukan mobilnya dengan cepat mencari rumah sakit terdekat.

__ADS_1


***


"Nasib baik kamu gak kenapa-kenapa, lain kali kalau mau menyeberang itu hati-hati." ucap Rezi lembut.


"Iya, Mas."


"Aku sempat khawatir, takut tangan kamu kenapa-kenapa. Baguslah kalau cuma memar saja. Itu wajah kenapa?" tanya Rezi


"Oh, ini." Shenina tersenyum dan memegangi pipinya.


"Gak sengaja kepentok sama pintu minimarket." jawab Shenina berbohong.


Rezi melepaskan tawanya dan menggelengkan kepalanya.


"Shenina, Shenina. Kamu itu sebenarnya kenapa sih? ceroboh banget jadi perempuan." ucap Rezi sambil mengacak rambut di pucuk kepala Shenina.


Sementara Shenina hanya bisa tersipu malu, ia tersenyum lembut dan menundukan kepalanya. Hangat perlakuan Rezi membuat ia salah paham.


"Eh, iya. Kamu tadi mau kemana? biar sekalian aku antar."


"Tadi aku mau ke toko buku ketemu temen, eh sudah begini, lain kali sajalah." jawab Shenina lembut.


"Kalau gitu aku antar kamu pulang saja mau?" tanya Rezi lembut.


"Gak usah repot-repot, Mas."


"Enggak repot, ayo." ajak Rezi lembut.


Shenina hanya bisa tertunduk malu, tersenyum sambil berjalan mengikuti langkah kaki Rezi.


Tak jauh dari perkotaan, Rezi melajukan mobilnya memasuki area perkampungan. Melewati gang-gang kecil yang hanya bisa di lewati sebuah mobil.


"Stop, Mas." ucap Shenina cepat.


"Eh, sudah sampai?" tanya Rezi sambil melihat kesekeliling.


"Belum, tapi cukup sampai sini saja." ucap Shenina lembut.


"Kenapa?"


"Karena mobil gak bisa masuk."


"Rumah kamu masih jauh?"


"Oh." Rezi melepaskan seat beltnya dan membuka pintu mobilnya dengan cepat.


"Mas mau kemana?" tanya Shenina saat melihat Rezi keluar dari dalam mobil silvernya.


"Antar kamu." jawab Rezi datar.


"Eh, gak perlu Mas. Sampai sini saja, aku bisa jalan sendiri kok. Lagian yang terluka juga tangan, bukan kaki."


"Aku bilang mau antar kamu pulang, jadi gak mungkin aku turuni kamu di tengah jalan kan."


"Tapi beneran gak apa-apa loh, Mas."


"Sudah ayo." Rezi langsung berjalan dengan cepat kedepan.


"Mas." panggil Shenina saat melihat Rezi berjalan kedepan.


"Sudah gak apa-apa, ayo. Aku antar kamu sampai rumah." jawab Rezi kembali melanjutkan langkahnya.


"Mas."


"Ayo, tunggu apa?" ucap Rezi tanpa menghentikan langkahnya.


"Mas tapi rumah aku kesini, bukan kesana."


Seketika Rezi menghentikan langkahnya, ia memejamkan matanya dan berdecak pelan. Malu sekali rasanya.


Rezi menyeringai dan membalikan badannya. Berjalan kembali mendekati Shenina.


"Salah ya? maaf deh." ucap Rezi malu.


Shenina hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Berjalan memasuki gang kecil di antara rumah orang.


Dengan santai Shenina dan Rezi berjalan sambil bercerita ringan. Sesekali Shenina mencuri pandangan ke Rezi.


Rezi terlihat dewasa, lembut, dan juga hangat. Tak heran jika Shenina bisa nyaman di pertemuan keduanya dengan Rezi.


Tak lama Shenina memberhentikan langkahnya di depan rumah kayu sederhana. Shenina membuka pintu kayu rumahnya itu dan berdiri di ambang pintu.


"Mau masuk dulu?" tanya Shenina segan.

__ADS_1


Sementara mata Rezi masih memandang lekat rumah kayu Shenina yang hampir rubuh. Iba sekaligus tak tega melihat rumah Shenina.


"Mas." panggil Shenina kembali.


"Eh, iya."


"Kok bengong? mau masuk dulu?" tanya Shenina kembali.


"Aku sedikit haus, boleh minta air." jawab Rezi lembut.


"Ayo masuk." Shenina membuka pintu rumahnya selebar mungkin.


Mempersilahkan Rezi masuk, sementara mata Rezi tak bisa lepas memperhatikan seisi rumah Shenina. Rumah yang hampir rubuh ini, bahkan jika Shenina bergerak sembarangan saja bisa hancur tak bersisa.


"Silahkan duduk, Mas. Maaf gak ada sofa, hanya ada tikar lusuh."


"Ngomong apa? begini juga sudah bagus." Rezi membuka sepatunya dan duduk lesehan di tikar lusuh milik Shenina.


Rezi meneguk teh yang di bawakan Shenina, matanya masih tak lekat dari penampilan rumah Shenina. Bahkan kamar dia dirumah Sean saja masih lebih bagus daripada rumah Shenina.


"Kamu tinggal sama siapa disini?"


"Berdua sama Seta."


"Seta?"


"Oh, Seta adik aku." jawab Shenina lembut.


"Orang tua kamu?"


"Aku yatim piatu." jawab Shenina sendu.


Rezi terdiam, saat ini pikirannya melayang. Mungkin jika Megi dan Sean tidak membesarkan dia dan membuang dia begitu saja. Hidup dia tak akan jauh beda dari Shenina.


Ia beruntung, dari ribuan anak yatim piatu yang ada di muka bumi ini. Ia mendapatkan keluarga dan kehidupan yang sangat layak.


"Kak, kakak sudah pulang." suara bocah lelaki itu membuyarkan lamunan Rezi.


Rezi tersenyum dan kembali pada Shenina yang ada di depannya.


"Iya, Seta sini." panggil Shenina lembut.


Bocah kecil itu datang mendekat, matanya langsung membulat saat melihat Shenina membawa temannya. Baru kali ini Shenina membawa lelaki kerumah mereka.


"Kenalin, ini teman kakak."


"Teman kakak atau pacar kakak?" tanya Seta kembali.


"Seta siapa yang ngajarin kamu bicara seperti itu?" tanya Shenina malu


Sementara Rezi hanya tersenyum lembut, tangannya meraih kepala Seta dan mengelusnya lembut.


"Kamu kelas berapa?" tanya Rezi lembut.


"Kelas 6 SD, Kak." jawab Seta polos.


"Sama, kakak juga punya adik seumuran kamu."


"Oh ya, kak Shen laptop kakak rusak lagi. Aku gak bisa belajar karena laptopnya rusak."


"Oh, maaf ya Seta. Nanti kalau ada uang kakak benerin deh."


"Buang saja lah, laptop kakak sudah lama sekali, sudah tua."


"Hey, gak bagus bicara seperti itu. Jangan suka membuang barang sembarang, banyak orang yang gak memiliki barang-barang." ucap Rezi lembut.


"Habisnya, setiap bulan laptopnya selalu rusak. Aku kan jadi susah." adu Seta geram.


"Coba ambil laptopmu, biar aku lihat."


"Kakak bisa benerin laptop?" tanya Seta antusias.


"Sedikit." jawab Rezi lembut.


"Sebentar ya." Seta berlari dengan cepat ke kamarnya.


Sementara Shenina dari tadi hanya memperhatikan wajah Rezi. Rezi bukan hanya lembut pada wanita, tapi dia juga sangat lembut pada anak kecil.


"Coba kita lihat ya." ucap Rezi saat memeriksa laptop Shenina.


Wajah lembut Rezi berubah menjadi serius dalam sekejap, matanya menatap lekat ke layar datarnya.


Semakin serius wajah Rezi, semakin Shenina masuk kedalam pesona Rezi. Bahkan sedari tadi, bibir Shenina terus melengkung saat menatap Rezi.

__ADS_1


Tanpa Shenina sadari, bahkan saat ini jantungnya berdebar dengan kencang saat bola matanya melihat Rezi yang begitu serius membetulkan laptop.


__ADS_2