Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Extra Part 02


__ADS_3

"Tara, Nao, ayo turun!" perintah Chen lembut.


Chen menutup pintu mobilnya dan mencium dahi Soraya.


"Aku jemput kalian setelah pulang kerja ya, tiga wanitaku," ucap Chen lembut.


"Hati-hati ya, Chen."


"Selalu, Sayang."


Chen menyentuh pipi Soraya, melajukan mobilnya untuk kembali ke aktifitasnya.


"Chen mau kemana?" tanya Mika dari sudut teras.


"Ada meeting sama clien."


"Sabtu pagi begini?" tanya Mika kembali.


Soraya hanya menganggukan kepalanya, memasuki rumah orang tuanya itu.


Soraya menepuk kepala Putra dengan lembut. Geram melihat tingkah adiknya yang selalu sibuk pada game onlinenya.


"Putra, Evgen sudah menikah. Kamu kapan lagi?" tanya Soraya ketus.


"Biarkan saja kalau dia menikah, dia ya dia. Aku ya aku," jawab Putra masih sibuk pada gawainya.


Soraya hanya menggelengkan kepalanya, menyalakan tivi di ruangan tengah.


"Aya, apa kamu dan Chen baik-baik saja?" tanya Mika penasaran.


"Tentu saja, Pa."


"Papa lihat beberapa minggu ini Chen selalu sibuk, bahkan saat weekend sekalipun. Apa Chen masih baik-baik saja?"


"Maksud Papa?" tanya Soraya bingung.


"Biasa Chen tidak pernah sesibuk ini sebelumnya. Aya, Chen masih sangat muda, Papa hanya khawatir padamu, Nak."


"Aku yakin Chen tidak akan macam-macam, Pa. Chen hanya sibuk saja belakangan ini," jawab Aya lembut.


"Syukurlah jika memang begitu."


Soraya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Perlahan perasaannya mulai curiga. Memang biasanya Chen tidak pernah sesibuk ini.


Meninggalkan dia dan anak-anaknya saat hari libur.


Soraya mengirimkan pesan, mencoba untuk menenangkan perasaannya yang mulai mengawan pada kecurigaan.


Namun sampai tengah hari siang, Chen bahkan tidak membaca pesannya.


Soraya menghela napasnya, duduk di depan kaca besar kamarnya. Memperhatikan wajahnya yang mulai nampak menua.


Mulai ada keriput di sudut mata dan bentuk badan yang tidak sebagus dulu.


Jika bersanding dengan Chen yang saat ini masih berada dalam usia matang. Mungkin perbedaannya akan jelas terlihat.


Soraya kembali memeriksa ponselnya, mulai curiga pada apa yang dikerjakan suaminya di luar sana.


***


Soraya memperhatikan dua wajah putrinya yang sudah tertidur pulas di kamar rumah papanya. Terlalu aktif bermain, membuat dua buah hatinya itu langsung lelap dalam mimpinya.


Soraya mengelus lembut pipi chubby, Nao. Betapa mirip wajah putri pertama itu dengan sang ayah.


Sebuah langkah memasuki kamar gelap itu, meraih pinggang Soraya dan mencium kulit mulus bahunya.


Aya melepaskan pelukan tangan itu, memperhatikan wajah suaminya yang terlihat letih dengan baju kusutnya.


"Mandi dan istirahatlah. Malam ini kita menginap saja."


"Kenapa?" tanya Chen bingung.


"Nao dan Tara sudah tidur. Aku takut mereka terbangun."


"Biasa juga gak apa-apa, aku angkat Nao dulu ya."


"Eh ... tunggu!" tahan Soraya cepat.


Soraya mendekati Chen, menggeser badan Chen yang ingin mendekati Nao.


"Kamu mandi saja dulu, malam ini nginap saja. Aku lelah," ucap Soraya dingin.


"Hem, baiklah."

__ADS_1


Soraya memeluk badan Nao yang sedang tertidur pulas. Entah kenapa, ia tidak rela jika Chen mendekati putrinya itu.


Ada rasa curiga yang muncul saat melihat suaminya itu. Tidak seperti biasa, Chen terlihat lebih lelah dari sebelumnya.


Chen membuka matanya, melirik arloji di tangannya. Sedikit tergesa, ia bangun dan memasuki kamar mandi.


"Aya," panggil Chen dari dalam kamar mandi.


"Ada apa?" tanya Soraya ketus.


"Siapin baju aku dong, Sayang."


"Mau ke mana?"


"Ada beberapa hal yang harus aku urus. Cepat sedikit ya, aku kesiangan."


Dengan sedikit kesal, Aya mengeluarkan sepasang pakaian dan meletakannya di atas kasur. Turun ke bawah untuk menghindari interaksi dengan suaminya itu.


Kesal, bahkan saat Minggu pagi saja. Chen masih terlalu sibuk pada pekerjaannya.


***


"Assalamualaikum," ucap Chen saat membuka daun pintu rumah mertuanya itu.


"Chen, tumben kamu mampir?" tanya Irena lembut.


"Iya, Aya sama anak-anak mana, Ma? Sudah tidur?" tanya Chen lembut.


"Loh, bukannya Soraya sudah pulang ya dari pagi? Dia gak ngabari kamu?"


"Enggak."


"Soraya kembali setelah kamu pergi, dia gak bilang apa-apa sama Mama, bahkan dia gak peduli sama tangisan Nao yang tidak mau pulang."


Sejenak Chen terdiam, ia teringat akan perlakuan Aya yang sudah mendingin dari semalam.


Ia berpikir bahwa Aya hanya cuek karena ia tinggal selama hari libur. Tetapi sepertinya, Aya marah pada hal lain.


Chen membuka pintu kamarnya yang sudah gelap. Tidak seperti biasa, Soraya tidak pernah mematikan lampu kamarnya sebelum dirinya pulang.


"Aya," panggil Chen lembut.


Soraya menghapus sudut matanya, memejamkan kelopak mata. Berpura-pura tertidur.


Aya hanya terdiam, di tengah sepinya suasana malam, Chen masih bisa mendengar dengusan napas Aya yang terasa berat.


"Kamu nangis?" tanya Chen langsung.


Tujuh tahun menikahi gadis ini, ia paham sekali dengan sifat angkuhnya. Selalu diam saat bermasalah, bahkan sikapnya bisa dingin berminggu-minggu lamanya.


"Aku buat salah?" tanya Chen kembali.


Tetapi Soraya hanya terdiam, berusaha menahan isaknya agar tak bersuara.


Chen menghidupkan lampunya, membalikan badan istrinya agar bisa berhadapan wajah dengannya.


"Aya aku perintahkan buka matamu!"


Soraya membuka matanya, bersamaan dengan genangan air yang lepas dari binar matanya.


"Kamu kenapa?" tanya Chen bingung. "Aku buat salah?"


Soraya menggelengkan kepalanya, kembali menutup kelopak matanya. Tidak ingin menjelaskan dan tidak ingin berbicara.


Berusaha meredam rasa khawatirnya sendiri.


"Aya, kenapa kamu selalu seperti ini? Sudah tujuh tahun kita menikah, namun sikapmu masih tidak berubah."


"Memang aku seperti ini, kenapa? Kamu menyesal?" tanya Soraya sengit.


"Astagfirullah Aya, aku gak pernah berpikiran seperti itu. Kenapa kamu seperti ini?"


"Benarkah? Apa kamu tidak melihat? Aku tua dan sangat jelek saat ini? Apa kamu gak malu?"


Chen menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Lelahnya bertambah saat menghadapi sikap istrinya yang seperti ini.


Soraya mengubah posisinya, terduduk di atas ranjang dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.


"Ada apa ini, Aya? Kenapa kamu tiba-tiba marah?"


"Menurut kamu?"


"Aya ayolah, kita bukan lagi anak remaja yang main tebak-tebakan saat marah."

__ADS_1


"Bodo!"


"Aya, aku sungguh lelah. Bisakah kamu jangan menambah lelahku?" tanya Chen mulai kesal.


"Oh ya? Lelah ya? Memang aku yang menyuruhmu kerja di hari Minggu? Memang aku yang memintamu bekerja sampai lupa waktu?"


"Aya aku bekerja demi kamu dan anak-anak kita. Haruskah kamu bersikap begini?"


"Anak yang mana?" tanya Soraya ketus.


Chen menajamkan matanya, melihat Soraya yang terduduk di sebelahnya.


"Jangan bilang kamu curigai aku selingkuh?" tanya Chen sengit.


"Menurut kamu? Kantor mana yang bekerja saat hari libur? Meeting saat weekend? Chen, aku tahu aku tidak secantik dulu, tetapi bisakah kamu jangan melakukan ini padaku?" pinta Aya sendu.


Chen mengacak rambutnya dan bangkit dari atas kasur. Membuka lemarinya dan melemparkan jaket ke tangan Soraya.


"Pakai ini, ikut aku pergi!"


"Kemana?"


"Ikut saja, jangan banyak tanya. Aku terlalu lelah untuk menjelaskannya padamu."


Soraya memakai jaket yang diberikan oleh Chen. Mengikuti perintah Chen dan memasuki mobil hitam suaminya itu.


Perlahan, Chen melajukan mobilnya. Menembus jalanan malam yang semakin gelap. Namun lalu lintas malah semakin memadat.


"Chen kita mau ke mana?"


"Kamu akan tahu setelah melihatnya," jawab Chen lembut.


Chen berhenti di sebuah rumah yang tidak begitu besar. Saat menginjakan kaki di keramik teras, tercium aroma cat baru dari dinding rumah bernuansa modern itu.


Chen membuka pintu rumah itu, menghidupkan lampu dan memperlihatkan isi di dalam rumah berwarna hitam putih itu.


"Chen ini rumah siapa?" tanya Soraya sambil melihat kesekeliling.


"Sebenarnya, rumah ini ingin aku tunjukan minggu depan. Tepat saat hari anniversarry pernikahan kita."


Soraya memalingkan wajahnya, melihat wajah Chen yang berdiri di sampingnya.


"Ini rumah kita?" tanya Soraya bingung.


Chen hanya menganggukan kepalanya. Sedikit kecewa karena usahanya untuk membuat kejutan terbongkar sudah.


"Kapan kamu belinya?"


"Bulan lalu," jawab Chen lemas.


"Kita sudah tujuh tahun menikah dan masih menumpang sama orang tua. Rezi sudah memberikan tempat tinggal bahkan mempersiapkan dengan sangat sempurna. Jelas aku iri, walau aku tidak sebanding dengan dirinya, tetapi aku tidak ingin kalah terlalu jauh darinya."


Chen mengacak rambutnya dan berjalan ke sisi jendela.


"Rumah ini gak sebagus rumah Rezi, gak terlalu besar juga. Tetapi aku ingin berteduh dan menetap di sini sampai menua nanti," sambung Chen kembali.


"Chen, kenapa kamu gak bilang aku kalau mau beli rumah?" tanya Soraya lembut.


"Awalnya aku pikir aku bisa mendekor ini sendiri. Aku ingin memperlihatkan padamu saat semuanya sudah siap. Karena itu aku pergi setiap weekend. Tapi ternyata--" Chen tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.


Soraya menghela napasnya, berjalan mendekati suaminya itu. Melingkari pinggang Chen dengan kedua tangannya.


"Chen, maafkan aku. Aku terlalu takut kehilanganmu. Aku sadar aku lebih tua darimu, aku hanya takut, jika suatu saat nanti, kamu akan berpaling dariku."


"Kamu tahu kenapa aku memilih rumah ini? Padahal jelas ada yang lebih mewah?" tanya Chen lembut.


"Kenapa?"


"Karena saat pertama kali lihat rumah ini, dia terlihat begitu sejuk dan menenangkan. Aku ingin hidup damai dan bisa berteduh di sini. Menghabiskan sisa umurku dan mengukir banyak kenangan di sini."


Chen tersenyum dan meraih kedua pipi Soraya.


"Sama saat aku memilihmu dulu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu dan menjadikanmu tempat yang selalu aku tuju kemanapun aku ingin berlari. Menjadikanmu tempat aku pulang saat aku ingin kembali. Tidak peduli pada apapun yang lebih cantik ataupun yang lebih baik. Bagiku, kamulah tempatku berteduh, Istriku."


Soraya tersenyum manja dan mencubit perut Chen. Tersipu malu saat digoda suaminya itu.


"Chen, aku minta--"


"Aku memaafkanmu," putus Chen langsung.


"Jangan curiga padaku, Aya. Walaupun kamu menua dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin terus berada dalam pelukanmu. Aku hanya akan berada dalam dekapanmu. Percayalah, usaha dan kerja kerasku selama ini, hanya karena aku ingin melihatmu dan anak-anak kita bisa tumbuh bersama. Aku tidak peduli pada dunia, karena semenjak menikahimu. Kamu adalah seluruh duniaku Aya. Aku hanya ingin berada dalam dunia, yang ada kamu dan anak-anak kita di dalamnya."


Soraya memeluk badan bidang lelaki itu dan membenamkan wajahnya di dada. Menikmati hangat dekapan yang tak pernah berubah walaupun setelah tujuh tahun menikah.

__ADS_1


"Chen, aku sangat menyanyangimu,"


__ADS_2