
"Kalau gitu ceritakan masalah elu, biar gue tau, gue gak berjuang sendiri."
Megi menghembuskan nafasnya, ia kembali duduk di samping Sean. Matanya menatap rembulan separuh di hadapannya dengan tatapan kosong.
"Kakak tahu?" ucap Megi berusaha membuka kembali luka yang selama ini berusaha ia samarkan.
"Dari kecil aku selalu bermimpi kak, aku bisa memakai gaun pernikahan rancangan Mommy, menikah dengan pangeran berkuda putih, dengan senyum bahagia yang terukir di setiap bibir orang-orang yang aku sayangi. Mommy, Papa, dan kakak-kakakku." Megi menghela nafas beratnya.
Sean menatap wajah Megi yang kini mulai memancarkan aura sendu, mata Megi menatap kosong kedepan. Mencoba membuka kembali kisah masa lalunya yang mungkin akan kembali membuat ia terluka.
"Aku tak pernah merasa sedih saat jauh dari Papa, kak. Karena Mommy menyanyangi aku lebih dari apapun. Mommy bahkan memilih untuk tidak menikah karena ia berpikir, jika ada aku, maka dia tak perlu siapapun lagi. Aku terbiasa hidup mewah dari kecil. Karena Mommy juga seorang desainer terkenal di Beijing bahkan sampai ke Macau, kak."
Megi menatap Sean dengan senyum pahitnya, Megi meletakan kepalanya di atas bahu Sean. Sekedar untuk mencari tempat bersandar saat lelah hatinya kembali ia buka.
"Kenyataan selalu menampilkan dirinya walaupun aku menolaknya, kak. Sekeras apapun aku berusaha lari, namun ia akan tetap datang."
Megi menghela nafasnya berat, matanya mulai mengeluarkan bening cairan itu. Mengingat indah masa lalu hanya menambah luka di hatinya saat ini.
"Kakak pikir mudah hidup setelah Mommy pergi kak? Aku gak tau kalau Mommy sakit, Mommy kehilangan satu persatu asetnya untuk biaya pengobatannya, saat Mommy meninggal, Mommy tak meninggalkan apapun untuk aku kak." kini bibir Megi mulai bergetar saat mengungkap satu persatu lembaran catatan masa lalunya.
"Maksud kamu? tante Fera bangkrut?"
"Iya, tapi aku gak bilang sama Papa kalau aku hidup sendiri di kontrakan kecil di Beijing kak. Bahkan aku juga gak bilang sama Papa kalau aku bekerja di club malam sebagai penyanyi."
"Apa?" Sean sedikit berteriak mendengar ucapan Megi.
"Tapi bagaimana mungkin, Meg? bukannya om Fandy selalu mengunjungi kamu di Beijing ya?"
"Tidak, kak. Setelah Mommy pergi, Papa jarang sekali ke Beijing, karena perusahaan Papa juga lagi oleng kan! Aku cuma tahu bekerja dan kuliah, walau sebenarnya aku mendatangi kandang singa setiap malamnya."
Megi mengusap wajahnya, ia menumpuhkan dagunya diatas bahu Sean. Bibirnya tersenyum saat menatap wajah tampan suaminya, namun senyumnya terasa sangat menyiksa.
"Masa-masa itu sangat sulit buatku, kak. Kehilangan Mommy, seperti kehilangan seluruh duniaku, aku terbiasa hidup mewah, namun sekejap mata aku harus bisa berada di titik paling terendah dalam hidupku, kak." kembali mata Megi mengawan jauh, mencari setitik cerita indah di balik kelamnya masa itu.
"Terus apa kakak pikir aku gak marah? apa kakak pikir aku gak depresi kak? jelas aku marah, jelas aku kecewa. Tapi aku mau nyalahin siapa? nyalahin keadaan? atau nyalahin Tuhan?"
Sean hanya terpaku memandang Megi, pantas saja ia bisa bijak dalam bersikap walaupun umurnya yang terbilang masih sangat muda. Tapi kehidupan yang ia jalani tidak semuda umurnya.
__ADS_1
"Tak ada yang salah kak, semua berjalan atas kehendak-Nya. Semua berjalan pada garisnya. Saat aku terpuruk dan terjatuh sangat dalam, aku hanya tahu satu hal kak. Saat aku lemas terduduk dan tidak mampu bangkit lagi, aku masih punya tempat untuk bersujud."
Megi tersenyum simpul dan menegakkan kepalanya, matanya masih menatap kosong ke hamparan langit luas. Buliran itu terlihat samar, melintasi pipi mulus Megi.
Sean menghapus jejak buliran bening itu dengan jarinya, berusaha untuk memberikan kekuatan kepada gadis kecil di sebelahnya ini.
"Setelah itu apa semuanya akan baik-baik saja?" ucap Megi getir, lalu ia menggeleng pasrah.
"Ini hidup kak, bukan drama cinta. Setelah semua itu pun aku masih sering terluka, aku masih terus kehilangan, aku masih sering terjatuh dan kembali terjatuh lagi. Kehilangan Papa, adalah puncak segalanya, kak. Aku bahkan tak mampu membayangkan bagaimana hidupku selanjutnya." Megi menutup kedua kelopak matanya, kembali cairan itu jatuh dari mata indahnya.
Sesak yang ia rasakan kembali menyengal pernafasannya. Sebenarnya luka ini masih sangat berdarah, tanpa harus di buka pun luka ini sudah sangat dalam.
"Meg, kenapa?" tanya Sean bingung.
"Kenapa apanya?" tanya Megi sambil menghapus jejak bulir di pipinya.
"Kenapa di balik semua derita elu? elu masih bisa berdiri sendiri?"
Megi tersenyum getir mendengar pertanyaan Sean.
"Tak ada yang bisa berdiri sendiri kak, setiap orang butuh pegangan untuk berdiri. Tapi setiap orang bisa bertahan sendiri, kak."
"Ini bukan hanya tentang penderitaan kak. Ini tentang hidup, bukan hanya karena satu air mata hidup kakak akan berakhir. Atau bukan hanya karena satu senyuman hidup kakak akan terus berwarna."
"Meg, lu itu belajar ini semua dari mana sih? gue aja gak pernah berpikir serumit elu."
"Bukan rumit kak, tapi setiap masalah bukan untuk kakak lawan, ataupun kakak tinggali. Tapi untuk kakak ikuti, kakak bermain dengan masalah itu, dan jadilah pemenang di setiap permainan."
"Megi, apa lu gak pernah ngerasa jenuh dan ingin berhenti saja?"
"Apa kakak pikir aku ini bukan manusia biasa? aku bahkan pernah berada di titik ingin bunuh diri kak."
Sean terkejut mendengar ucapan Megi, bagaimana mungkin Megi si otak cerdas memikirkan jalan pintas.
"Terus, kenapa lu masih disini?"
"Karena Mommy pernah bilang sama aku, kita ini muslim, kehidupan kita bukan hanya disini, di dunia ini. Tapi kita masih punya kehidupan lagi setelah ini. Yang pasti kehidupan di sana jauh lebih berat dari pada kehidupan di dunia ini."
__ADS_1
"Pantes lu bisa kayak begini, Meg. elu di besarkan oleh tangan-tangan orang hebat seperti om Fandy dan Tante Fera."
Megi tersenyum simpul mendengar ucapan Sean.
"Kakak salah." ucap Megi getir.
"Salah?" Sean mengernyitkan dahinya.
"Di lahirkan atau di besarkan sama siapa, kita memang gak bisa milih kak. Tapi saat ingin menjadi apa, itu adalah pilihan kita sendiri, kak."
Sean mengangkat kedua alisnya, ia menggelengkan kepalanya. Apa yang ada di dalam pemikiran Megi kali ini. Kenapa sulit sekali menangkap isi dari otak gadis kecil ini.
"Saat kita di besarkan dan di didik untuk menjadi pembunuh bayaran. Maka kita akan banyak mempelajari tentang kekerasan, tapi saat kita di suruh untuk menjadi pembunuhnya, maka pilihan sepenuhnya ada di tangan kita. Mau mengikuti apa yang telah di ajarkan selama ini, atau memilih hati nurani kita. Menjalani hidup seperti apa? itu pilihan kita, kak."
Sean tersenyum simpul dan menarik kepala Megi. Memeluk badan Megi erat, walau sebenarnya kata-kata Megi masih terlalu sulit untuk dia artikan.
"Mika beruntung memiliki adik seperti lu, Meg. Gue bersyukur Mika mau menitipkan elu sama gue."
Kembali kata-kata itu terucap dari bibir Sean, seakan Sean selalu ingin menyadarkan posisi Megi yang tak akan pernah bisa di rubah.
Sampai kapanpun keadaan gak akan pernah berubah, pada kenyataannya Sean masih terus menganggap Megi sebagai adik.
Megi hanya tersenyum getir, ia membalas pelukan Sean. Tak apa jika Sean masih menganggapnya adik saat ini, garis tidak bisa di tentukan saat ini. Ke depannya, siapa yang tahu?
Sean meraih kepala Megi, ia mencium kening Megi. Terasa ujung hidung mancung Sean menyentuh ujung hidung Megi. Megi kembali menutup matanya saat mendapatkan perlakuan Sean.
Terasa hembusan nafas Sean yang memburu kuat, menyentuh hangat kulit wajah Megi. Sean menarik dagu Megi untuk lebih mendekat ke wajahnya, bibirnya tersenyum simpul saat melihat Megi memejamkan kedua kelopak matanya.
Terasa sentuhan tangan Sean menarik pinggang Megi untuk semakin menempel dengan tubuhnya. Sean semakin mendekatkan dagu Megi kewajahnya.
Gruuuuurrrhhh...
Suara gemuruh dari dalam perut Megi membuyarkan segalanya, Sean menggeleng pasrah dan tersenyum geli.
"Laper, Meg? iya, ini udah malam, ya."
Tanpa menjawab pertanyaan Sean, Megi hanya menghela nafas berat, kenapa di saat-saat seperti ini selalu ada saja yang mengganggu.
__ADS_1
Jarang-jarang Sean berlaku hangat seperti ini, Megi merutuk dalam hati. Kesal.