
"Apa? Kok bisa kabur, Pak?" Teriak Sean yang kaget setengah mati.
"Maafkan keteledoran kami, Nak. Tapi Nak Sean bisa kesini? Kita bicarakan disini."
"Baik, saya akan segera kesana, Pak."
"Terima kasih sebelumnya, Nak. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Sean menutup pintu mobilnya dengan keras. Ia melajukan mobilnya cepat keluar dari area perkotaan.
Sean menghentikan laju mobilnya sebelum benar-benar keluar dari area perkotaan.
Menelpon Farrel untuk memastikan keadaan Megi. Pikirannya saat ini bercabang, Rena adiknya, Megi tanggung jawabnya. Belum lagi urusannya dengan Rayen dan bisnisnya.
Setelah mencoba beberapa kali, Farrel belum juga mengangkat panggilannya.
"Arrrggghhh...!" Sean menjerit keras.
Ia memukul setir mobil. Kacau, ia tak tahu harus menyelesaikan urusan yang mana lebih dulu.
Sean keluar dari mobil dan menyenderkan badannya di pintu mobil. Mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya perlahan.
Pikirannya berperang, mencari solusi yang paling cepat saat ini.
Di tengah kecamuk pikirannya, ponsel Sean berdering. Di sapu dengan cepat layar ponselnya dan meletakan di telinga kirinya.
"Bos, kami sudah melacak ponsel Nona Kecil. Ponselnya berada di tangan Mirza, Bos. Tapi Nona Kecil tidak berada disini."
"Shitttt... Buat dia bicara!"
"Dia tidak mau memberi tahu, Bos. Kami sudah berusaha membuatnya berbicara, saya takut kalau terlalu lama, Nona Kecil akan terlambat di selamatkan Bos."
"Arrrggghhh...!" Sean menginjak puntung rokoknya.
Sementara yang di seberang sana tercekat mendengar teriakan Sean.
"Share lokasinya, tahan dia sampai gue datang. Farrel, pecah anak buah lu buat nyarik Rena di pesantren."
"Baik, Bos."
Telepon terputus, Sean mengatupkan rahangnya keras. Matanya mulai memerah, menahan gejolak amarah di dalam dirinya.
Ting... Sebuah pesan masuk dari Farrel. Dengan cepat Sean memutar balik mobilnya, melaju cepat memasuki padat perkotaan.
Lima belas menit, Sean sudah sampai di depan tempat perjudian Mirza di tahan.
Dengan segala amarah yang tertahan lama, Sean memasuki tempat perjudian itu.
__ADS_1
Matanya langsung tertuju pada keramaian di sudut ruangan.
Dengan cepat tangan Sean mencengkram kerah baju, Mirza. Menekannya ke dinding, agar tubuh Mirza terpojok.
"Dimana, Megi?" Tanya nya spontan.
"Apa urusan lu? Dia adik gue." Jawab Mirza dengan senyum kemenangannya.
Satu pukulan mendarat di perutnya, cukup membuat Mirza terbatuk karena sengal nafasnya.
"Gue tanya sekali lagi, dimana Megi?" Sean kembali bertanya dengan suara yang lebih lantang.
"Huuh, lu kan Tuan Muda. Coba cari sendiri aja."
Sean memukul lembut pipi Mirza. Geram, perasaannya geram sekali melihat sifat tengil Mirza.
Ia semakin menempelkan badan Mirza ke dinding. Wajahnya mendekat ke wajah Mirza.
"Kalau lu bukan adik gue, udah gue mati in lu saat ini."
"Ha... ha... ha... Cuih, adik lu dari mana?" Mirza meludah ke samping, semakin membuat amarah Sean meledak.
"Farrel, bakar tempat ini jika tidak ada yang membuka mulut!"
Sontak perkataan Sean membuat seisi ruangan saling bertatapan. Ricuh mulai terdengar di antara mereka. Termasuk pemilik tempat itu yang mulai bingung, saat anak buah Farrel menyiramkan bensin di sekeliling tempat.
Farrel membisikan sesuatu ketelinga Sean, membuat bibir Sean tersenyum sinis. Ia melonggarkan cengkramannya dan berniat untuk pergi.
"Lu itu cuma anak pungut Papa, Sean. Lu gak ada hak atas Megi. Gue kakak kandungnya, gue yang lebih berhak atas dia."
Sean hanya mendengarkan tanpa menoleh, ia kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Gue akan penjarain lu, Sean. Atas kasus penculikan, gue akan buat lu bayar ini semua!"
Sean menolehkan kepalanya, menatap dengan ujung matanya. Ia menggretakan jemari tangannya sambil berjalan kembali mendekat.
"Gue pingin lihat, setelah ini apa masih mau lu sama perempuan itu?" ucap Mirza sinis.
Sean mencengkram kuat leher, Mirza. Perlahan wajah Mirza memucat karena oksigen yang di ambil Mirza terlalu sedikit.
"Gue bisa matiin lu dalam waktu beberapa detik, gak percaya?" Bisik Sean di telinga kanan Mirza.
Ia kembali melepaskan cengkramannya, Mirza terbatuk karena nafas yang sempat tertahan. Sean menepuk pipi Mirza sembari tersenyum sinis.
***
"Aku, mohon om. Jangan sentuh aku." Megi menangis di sudut ruangan.
Badan kecilnya gemetaran, ia memeluk kedua lututnya erat. Luka lebam telah menghiasi kulit putihnya.
__ADS_1
"Lu itu gak usah sok suci. Gue udah bayar lu mahal. Jangan buang waktu lagi." ucap pria paruh baya berbadan gempal.
Pria itu mencoba mencolek lengan Megi, dengan perasaan geli Megi menghindar.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, matanya terus mengeluarkan air mata. Tetapi pria paruh baya itu tak sedikitpun punya rasa iba.
"Ayolah, Sayang. Aku udah gak sabar."
Pria itu menjalankan jemarinya di sepanjang lengan Megi. Megi mencoba menghindar, mengesot untuk menjauh.
Tangan lelaki itu mencengkram kuat lengan Megi. Menyeret tubuh Megi paksa keatas kasur.
Mencoba untuk meraih tubuh mungilnya. Megi berusaha lari, namun jemari lelaki itu dengan cepat merobek beberapa bagian baju Megi.
Semakin kalut, pria paruh baya ini tak memeliki perasaan. Megi kembali meringsut di sudut kamar, nafasnya mulai terengah-engah karena rasa takutnya.
Pria paruh baya itu mencengkram pipi Megi kuat. Memaksa Megi untuk mendongakkan kepalanya.
"Aku udah cukup bersabar, tapi sepertinya kamu suka cara yang kasar."
Plaaakk... Sebuah tamparan mendarat di pipi Megi.
"Aku suka warna merah. Sayang, kau membuatku lebih bergairah."
Pria paruh baya itu mencoba untuk mendekati Megi. Dengan sisa tenaganya Megi berusaha mendorong tubuh gempal pria itu.
Sedikit terdorong ke belakang, pria itu semakin memanas.
Ia menghempaskan badan mungil Megi dengan kuat, sampai meninggalkan lebam di lengan Megi yang terkena dinding.
Megi terduduk lemas, kembali pria paruh baya itu meraih rambut Megi. Memaksa Megi untuk mendongak, Megi hanya bisa menahan tangis karena sakit yang ia rasakan.
Kepala Megi di hempaskan kuat, dahinya kembali terluka. Kini perlahan kesadaran Megi mulai melemah.
Pusing yang menderanya hampir membuat matanya tertutup.
Pria itu mulai membuka belt yang ia gunakan. Dengan samar, Megi melihat pergerakannya. Saat ini kulit mulus Megi berhiaskan biluran merah karena sabetan belt lelaki itu.
"Kamu terlihat lebih menggoda, Sayang." ucap pria paruh baya itu.
"Kak, Mika. Tolong aku." Lirih Megi mengucapkan kalimat itu.
Penglihatannya perlahan mulai meremang, ia melihat wajah lelaki itu dengan samar. Sudah tak sanggup lagi ia mempertahankan tubuhnya.
Megi hanya bisa pasrah, tubuhnya mulai lemas karena siksaan itu.
Bahkan untuk mengembalikan kesadarannya ia butuh waktu. Megi menarik kakinya, melipat kedua kakinya dan memeluk kedua lututnya.
Membuat benteng pertahan terakhir sebelum kesadarannya mulai menghilang sepenuhnya.
__ADS_1