
Rezi berlari saat Rayen membuka pintu rumah Sean. Mendekati Sean yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Papa." teriak Rezi mendekat.
"Hei, anak Papa. Ternyata masih ingat rumah." Sean mengambil badan kecil Rezi dan menidurkannya di sofa.
Menggelitiki badan Rezi dengan tangannya, seketika tawa Rezi pecah. Geli oleh kitikan tangan Sean.
"Sebulan gak pulang-pulang, bahkan telepon Papa juga enggak, sekarang rasakan ini." Sean mengkitiki Rezi semakin cepat.
"Sean, hentikan! Rezi bisa kehabisan nafas kalau begitu." Ucap Miranda kesal.
"Hukuman untuk anak lajang yang gak ingat Papanya." tawa Rezi semakin kencang terdengar.
"Rezi nanti siap makan malam pulang sama Opa saja ya. Papa kamu gila." ucap Rayen datar.
"Eh ... Enak aja." dengan cepat Sean mengangkat tubuh anak nya dan memeluknya dalam pangkuannya.
"Papa itu sudah harus kembali ke perusahaan. Aku kewalahan dua bulan ini. Jangan main-main terus lah Pa. Bantu aku." ucap Sean kesal.
"Papa ini sudah tua, Sean. Sudah harusnya menikmati hari tua, bermain bersama cucu dirumah."
"Terus mau ninggalin perusahaan gitu aja? aku yang ngurus semua?" sanggah Sean ketus.
"Sudah saatnya kamu yang mengurus semuanya Sean. Kamu kan anak Papa."
"Anak Papa bukan cuma aku aja, suruh Rena kesini, bantu aku di perusahaan."
"Eh ... Mana bisa. Rena sudah nyaman di sana. Anaknya cantik Sean mirip sama kamu waktu kecil." jawab Miranda sambil memainkan ponsel.
"Mirip aku bukan cantik Ma, tapi ganteng." sanggah Sean ketus.
"Lihat ini." Miranda menunjukan layar ponselnya yang berisi foto bayi Rena.
Kembali mata Sean berbinar saat melihat bayi di dalam ponsel Miranda.
"Eh, aku juga belum sempat bilang. Rezi juga bakalan punya adik."
"Haduh ... Akhirnya masa itu tiba?" ucap Rayen sambil menepuk dahinya.
"Maksud Papa begitu apa?" tanya Sean kesal.
"Kalau sampai anakmu punya sifat sepertimu Sean, Papa ampun lah. Papa lebih baik pindah ke kampung sama Mama berdua. Menikmati masa tua yang indah."
"Sifat aku gak seburuk itu juga, Pa." sanggah Sean kesal.
"Aish, sudahlah. Anak belum lahir tapi doanya sudah begitu." tengah Miranda.
"Megi mana?" tanya Miranda kembali.
"Di dapur, Ma."
"Mama mau kedapur, kalian lanjutkan saja jika ingin bertengkar." Miranda bangkit dan berjalan kedapur.
Menyusuli Megi yang masih asyik dengan kegiatannya di dapur.
"Megi, lagi apa Sayang?" tanya Miranda mendekat.
"Mama." senyum Megi merekah lebar melihat Miranda datang.
"Kamu lagi masak apa? baunya wangi sekali."
"Ah ... Aku lagi belajar buat cake, Ma."
"Wah pasti enak." ucap Miranda dengan senyum melebar.
"Apanya yang enak? dari tadi siang buat cake bantat semua." sambung Sean yang datang mengambil air di dalam lemari es.
"Kan aku lagi belajar kak."
"Iya, terserah lah. Tapi jangan suruh aku coba lagi ya."
Di saat bersamaan suara mikrowavenya berbunyi.
"Nah, suruh Mama yang coba. Jangan aku yang jadi tumbalnya lagi." ucap Sean sambil berlalu pergi.
Megi mengeluarkan hasil cake buatannya, saat melihat hasilnya Megi tersenyum kuda melihat Miranda yang berdiri di depan pantry.
"Gak apa-apa. Sini Mama bantu ajarin ya." jawab Miranda melemah.
Miranda dan Megi asyik mengobrol sambil memasak di dapur. Miranda membuat cake dan Megi yang menyiapkan makan malam.
"Mama senang akhirnya kamu kembali menjadi menantu rumah ini, Megi." Miranda mendekati Megi yang sedang memotong sayur dan mengelus rambutnya.
"Aku juga senang bisa kembali di sisi kak Sean, Ma."
"Sean bilang kamu lagi hamil ya?"
"Iya." jawab Megi malu.
"Baguslah, akhirnya setelah bertahun-tahun Mama bisa melihat darah daging Sean menghiasi rumah kita."
Bersamaan suara mikrowave kembali berbunyi, Miranda mengeluarkan cake yang ia buat.
"Emh, ini gak adil. Mama hanya sekali buat dan hasilnya bagus." jawab Megi mengerucutkan bibirnya.
"Nanti kamu juga bisa kalau sudah terbiasa." jawab Miranda.
__ADS_1
"Lupakanlah Ma, sepertinya aku gak bakat buat kue." Megi memotong cake yang masih panas itu dan memakannya.
"Megi, sudah terlalu banyak bakat yang ada di tanganmu, kalau semua mau kamu ambil, terus orang lain bisa apa?"
Megi tersenyum dan memotong kue itu, mengantarkannya ke ruang tengah. Tempat Rayen dan Sean yang sedang bertengkar berdua.
"Rezi, ayo peluk Mama." ucap Megi mendekati Rezi yang sedang duduk di pangkuan Sean.
"Sebulan gak jumpa Mama cantik, rindu gak?" tanya Megi sambil mencium dua belah pipi Rezi.
"Kangen." jawab Rezi memeluk bahu Megi erat.
"Rezi akan punya adik, senang gak?" tanya Megi kembali.
"Enggak." jawab Rezi polos.
"Eh ... Kenapa? Mama sedih loh dengarnya."
"Enggak mau." Rezi menggelengkan kepalanya.
Megi melepaskan senyumnya dan kembali mencium anaknya. Gemas dengan wajah Rezi yang putih dan juga chubby.
"Ayo makan, Kak, Papa, makan malam sudah siap."
"Mama gendong." Rezi mengangkat tangannya dan menatap wajah Megi polos.
"Jangan minta gendong Mama, ada adik di perutnya, nanti adiknya sakit, Sayang." jawab Sean lembut.
"Gak apa-apa kak. Sini Rezi sama aku, perut aku juga belum besar."
"Enggak." sanggah Sean ketus.
Dengan cepat Sean mengangkat Rezi dan berjalan menuju ruang makan.
"Ah ... Akhirnya anak itu bisa waras." ucap Rayen yang ikut bangkit berjalan ke meja makan.
Suasana di rumah Sean kembali menghangat. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, Sean bisa kembali merasakan hangat keluarganya yang sempat berantakan tak karuan.
"Rezi ikut Opa pulang, yuk."
"Enggak." sanggah Sean keras. "Papa udah dua bulan gak ngurus perusahaan, mau main terus?" tanya Sean ketus.
"Sean, Papa masih mau main sama Rezi. Kamu gak boleh memonopoli Rezi begitu."
"Papa yang memonopoli Rezi." jawab Sean ketus.
"Rezi, Opa mau naik pesawat, Rezi ikut gak?" Rayu Rayen kembali
"Ikut." jawab Rezi cepat.
"Rezi kita jalan-jalan ke Bangkok yuk. Lihat gajah besar disana."
"Papa aku mau ikut Opa." rengek Rezi kembali.
"Papa hentikan! aku gak mau dengar alasan, pokoknya Papa besok pagi harus berada di kantor pusat. Jangan main terus, ninggalin aku sendiri." ucap Sean tegas.
"Miranda lihat, sekarang Putramu sudah berani memerintah Papanya."
"Kapan dia yang gak berani merintah orang seenaknya?" jawab Miranda lembut.
"Papa aku serius, kalau besok pagi Papa gak ada di kantor. Aku jual semua aset perusahaan." ucap Sean kesal.
"Miranda, Putramu itu hebat. Merintah orang dan mengancam seenaknya, seakan dunia di bawah kendali dia."
"Ah ... Terserahlah." ucap Sean sambil berjalan meninggalkan meja makan, menaiki anak tangga dengan cepat.
"Papa pikir setelah menikah denganmu emosinya akan membaik, Megi. Ternyata masih sama saja." ucap Rayen lembut.
"Kak Sean memang sudah begitu, mau diapakan ya tetap begitu."
"Yasudah kalau begitu Mama sama Papa pulang ya."
"Hati-hati, Ma, Pa." Megi meraih tangan Miranda dan Rayen, menciumnya bergantian.
"Opa, aku ikut." rengek Rezi kembali.
"Rezi Papa lagi marah, jangan buat Papa makin marah. Naik keatas, bujuk Papa sana." perintah Rayen tegas.
Dengan cepat langkah kecil Rezi berlari, menaiki anak tangga. Setelah Rayen dan Miranda pulang, Megi mengejar langkah kaki anaknya.
Dengan cepat Rezi membuka daun pintu kamar, berlari mendekati Sean yang sedang bekerja di balik layar datarnya.
"Papa." teriak Rezi senang.
"Masih ingat Papa? kenapa gak ikut Opa pulang saja sana?" jawab Sean datar, ia menumpuhkan dagunya diatas telapak tangannya.
"Kakak gak baik ngomong gitu sama anak." jawab Megi yang baru datang dari luar.
"Rezi sikat gigi dan cuci kaki. Mama temani kamu tidur." perintah Megi.
Dengan berlari Rezi memasuki kamar mandi. Megi menghela nafasnya saat melihat Sean yang masih menekuk wajahnya.
Perlahan Megi mendekat dan duduk di sebelah Sean.
"Sudahlah Kak. Kenapa masih kesal saja?"
"Aku sakit kepala Megi. Papa ninggalin perusahaan sebesar itu untuk aku urus sendiri. Sekarang malah mau benar-benar angkat kaki dari perusahaan."
__ADS_1
"Kan usaha Kakak yang buat perusahaan menjadi sebesar sekarang."
"Kalau masih ada Farrel aku sanggup urus semua sendiri."
Megi tersenyun dan mengambil kedua belah pipi Sean. Mencium ujung hidung mancung Sean dengan lembut.
"Mau aku bantu?" tanya Megi lembut.
"Tapi kan kamu lagi hamil."
"Dari pada aku buat kue bantat tiap hari, dan kakak yang harus habiskan. Pilih mana?" tanya Megi tersenyum.
"Baiklah, bantu aku mendesain tiga lantai gedung di selatan kota ya."
"Baiklah, Kakak bilang saja mau konsep apa, nanti aku desain dengan cantik."
"Makasih, Sayang."
Sean mengelus pipi Megi lembut, perlahan ia menarik wajah Megi mendekat. Megi menutup matanya, menikmati hembusan nafas Sean yang terasa hangat menyentuh kulit pipinya.
"Mama." peluk Rezi dari belakang.
"Rezi, lagi-lagi kamu ya." Sean menarik badan Rezi dan menjatuhkannya diatas kasur.
Menggulung badan Rezi dengan selimut. Dengan cepat Megi bangkit dan membuka bungkusan selimut Rezi.
"Kakak jangan bercanda seperti ini. Bahaya buat Rezi." ucap Megi ketus.
Megi menarik Rezi dan memeluk badan Rezi.
"Cuma bercanda, Megi."
"Bercanda gak harus bahaya juga. Rezi masih terlalu kecil, nanti kalau dia gak bisa nafas gimana?"
"Maaf, Megi." jawab Sean bersalah.
"Rezi tidur sama Mama ya, Mama temani kamu tidur." ucap Megi merapikan helaian rambut Rezi yang berantakan.
"Sini, Sayang." panggil Sean lembut.
Dengan cepat Rezi turun dari kasur dan memeluk badan Sean.
"Maafin Papa ya, kamu gak marah kan sama Papa?"
Rezi menggelengkan kepalanya, memeluk badan Sean kembali.
"Anak pintar." Sean mengelus kepala Rezi lembut.
"Kata Opa, Papa gila."
"Apa?" tanya Sean kembali. "Kamu sekarang makin nakal ya." Sean menggendong Rezi, mencium Rezi dengan membabi buta yang berada dalam dekapan hangatnya.
"Kakak ini sudah malam, jangan bercanda lagi." tengah Megi.
Sean menurunkan Rezi, mengelus kepala Rezi lembut.
"Selamat tidur, Putra Papa." cium Sean lembut di kepala Rezi.
"Mamanya, mau di cium juga?"
"Enggak." jawab Megi sambil menarik selimutnya dan tidur di sebelah Rezi.
"Mamanya tidurin Rezi dulu, setelah itu Papa tiduri ya."
"Kakak apaan sih." cubit Megi pada pinggang Sean.
"Sakit banget, Meg." ucap Sean menyengir.
"Jangan tidur terlalu malam, lihat kantung mata itu. Nanti kakak semakin tua."
Sean tersenyum dan ikut merebahkan badannya di sebelah Megi.
"Kalau gue tua, lu gak suka lagi?"
"Mau Kakak tua, atau 300 tahun sekalipun aku tetap suka. Asal muka kakak tetap muda. Ha ha ha."
"Dasar." Sean mengelus kepala Megi lembut.
Tangannya mulai melingkari perut Megi, mendekatkan kepalanya ke bahu Megi.
"Aku melewatkan dekapan hangat ini selama lima tahun." ucap Sean memejamkan matanya.
"Jadi selama lima tahun tanpa aku kakak ngapain aja?"
"Apa yang bisa aku lakuin? hanya bekerja dan bekerja. Mendaki setinggi yang aku bisa."
"Masa sih?"
"Iya, kamu tahu kenapa?"
"Kenapa?"
"Karena kisah hidup aku akan berwarna , hanya jika ada kamu dalam pelukanku, Megi."
Megi tersenyum dan membalikan badannya, melihat wajah Sean yang sedang terpejam. Mencium ujung hidung mancung
"Selamat malam, Sayang." ucap Megi lembut.
__ADS_1