
"Dia kakak ipar lu, Dek. Bini gue!" ucap Sean dengan nada yang tak bisa di jelaskan lagi.
Rena langsung memeluk betis Sean, memohon di kaki Sean dan menangis sejadinya. Apa yang harus ia lakukan, kenapa semakin terdesak saja posisinya.
Sean menghempaskan kakinya dan menarik Mirza menjauh.
"Tolong lu bawa Rena dari sini. Gue gak sanggup lihat wajahnya." ucap Sean dengan bibir bergetar, menahan emosinya.
"Sean..." Mirza menarik nafasnya. "Baiklah." sambung Mirza melemah.
"Mirza, pastikan dia jangan kabur. Lu awasi dia dua puluh empat jam."
"Lu mau penjarain dia, Sean? dia adik lu, Sean."
"Karena dia adik gue, gue mau dia belajar bertanggung jawab. Kelakuan dia krimanal, Mirza. Gue gak bisa diam."
"Lu yakin? penjara itu kejam, Sean. Penjara bisa merubah orang, iya kalau dia baik, kalau dia makin dendam sama lu gimana?"
"Jadi gue harus bagaimana, Mirza? Megi berjuang maut di dalam, terus yang membuat dia begitu, sedang bebas menikmati hidup?"
Mirza hanya terdiam, Sean benar-benar seseorang yang tegas. Yang salah akan tetap salah, pilihan ini pasti berat buat dia. Mirza menepuk pundak Sean.
"Gue percaya sama keputusan elu, Sean, gue akan awasi Rena."
Mirza berjalan mendekati Rena, menggandeng tangan Rena menjauh dari pandangannya.
Sean hanya terpaku, terlintas kembali malam saat kejadian itu. Amarah Sean kembali meledak, ia menendang pohon kayu yang berada di sampingnya dengan keras.
Beberapa kali ia menumbuk dan menendeng, sehingga kedua jemarinya terluka. Farrel datang dengan dua orang anak buahnya dan memegangi tubuh besar Sean.
"Bos tenang, Bos ... Tenang." ucap Farrel sambil memeluk badan besar Sean.
"Bos, Nona Kecil akan kembali di operasi, sebaiknya Bos kendaliin diri."
Sean membuang nafasnya dengan kasar. Ia menyisir rambutnya kebelakang. Kembali mewaraskan diri dari segala kegilaan ini. Sean duduk di depan kamar operasi.
Miranda yang melihat tangan Sean dan dua orang anak buahnya yang memegangi tubuh Sean. Seketika terbangun dan mencoba mendekat.
"Ma, tolong jangan dekati aku. Aku mohon Ma." ucap Sean lemah.
Rayen menarik tangan Miranda dan menggeleng. Farrel membersihkan ruas tangan Sean yang kembali pecah dengan tumbukannya yang membabi buta.
Berjam-jam Sean hanya menunduk, pikirannya terus berperang. Tak tahu harus memilih jalan yang mana. Sungguh ini membuatnya gila.
"Aargggghhhh..." Sean menendang keras bangku steinless di sampingnya.
__ADS_1
Sontak membuat orang yang menemaninya kaget. Rayen menyenggol lengan Farrel. Namun Farrel hanya menggeleng pasrah. Begitupun kedua anak buah Farrel yang berdiri di hadapannya.
Tak tahu apa yang sebenarnya sedang menimpa pikiran putranya, kali ini matanya tak hanya memancarkan kesedihan, namun juga amarah yang ingin meluap.
Kemudian Megi keluar dalam keadaan yang sama. Sesaat perhatian Sean kembali ke Megi. Sean mengikuti suster yang membawa Megi kembali ke kamar ICU.
Setelah memasang alat, Dokter keluar dengan peluh keringat di dahinya.
"Dok, bagaimana operasinya?" tanya Sean langsung.
"Operasinya berjalan sesuai perkiraan. Tapi saat ini keadaan Megi kritis."
"Kenapa bisa begini, Dok?"
"Benturan di bagian kepala Megi ternyata lebih parah dari yang kami duga. Saat ini Megi dinyatakan Koma."
"Apa?" perlahan kaki Sean melemas.
Ia kembali gamblang dan terduduk di lantai koridor. Farrel berusaha menguatkan Sean, Farrel mendudukan Sean diatas bangku.
"Sabar, Bos. Jangan patah semangat, kita banyak berdoa ya." ucap Farrel lembut.
Namun itu tak bisa mengembalikan kesadaran Sean. Matanya menatap kosong kebawah. Apa dia gagal menjaga Megi? bagaimana jika Megi tak bangun lagi?
"Dok, bisakah gue melihatnya?"
"Baiklah, tapi tak boleh di sentuh ya."
Sean berjalan gontai memasuki ruang sterilisasi. Sean menatap wajah Megi dengan lekat.
"Meg, gue mohon jangan tinggalin gue." ucap Sean parau.
"Gue gak akan kasar lagi sama lu, tapi gue mohon lu bangun."
Sean tak tahan menahan buliran beningnya, melihat keadaan Megi yang tak berdaya membuat nafasnya tersengal. Ia berusaha menahan tangisannya namun ia tak mampu.
Sean menangis sejadinya, ia bersimpuh di bawah ranjang Megi.
Tak sanggup menahan beban di pundaknya, ia sudah tak memiliki kekuatan lagi. Ia sudah terlalu lemah.
"Meg lu harus bangun, gue harus bilang apa kalau Mika pulang nanti?" Sean masih terduduk di lantai, di bawah kasur Megi.
Sedangkan mata-mata yang memandangnya dari balik kaca tak kuat menahan emosi. Miranda menangis sejadinya, Rayen memeluk badan Miranda erat.
Kali ini, Rayen benar-benar melihat kehancuran putranya. Tapi itu benar-benar tak membuatnya senang. Ia tak kalah hancur dari putranya, bahkan ia lebih hancur karena tak bisa menopang tubuh putranya.
__ADS_1
Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan, pasrah menerima takdir. Akankah takdir membawa Megi kembali, atau memabawa Megi pergi untuk selamanya.
Sean keluar dengan mata yang memerah padam. Dia berjalan dengan cepat, amarahnya kembali tersulut saat melihat keadaan Megi yang tak berdaya.
"Farrel, carik Rena dan penjarakan dia." sontak ucapan Sean membuat telinga yang mendengar terkejut setengah mati.
"Sean apa yang kamu katakan?" tanya Rayen emosi.
"Rena adalah pelaku di balik kecelakaan, Megi."
"Itu gak mungkin, Nak. Rena gak mungkin ngelakuin itu." ucap Miranda terkejut.
"Kamu jangan sembarangan menuduh, Sean. Jangan cari kambing hitam." ucap Rayen tak percaya.
"Haruskah gue menemukan segala buktinya? mobil siapa yang Rena pakai, rekaman CCTV, gue melihat plat nomornya. Rena sendiri yang mengakuinya di depan Mirza."
"Enggak ... Enggak mungkin." seketika Miranda kehilangan kesadarannya.
"Pergi semua! tinggalin gue disini sendiri." ucap Sean tegas.
Rayen hanya menghela nafas panjangnya. Ia memerintahkan Farrel untuk mencari data valid tentang penabrak itu.
Bagaimanapun ia tak percaya Rena mampu berbuat sejauh itu. Mereka kembali kerumah besar itu dengan keadaan kacau. Tak ada Rena di dalam rumah itu.
Miranda hanya bisa menangisi keadaan ini, sementara Rayen mulai pusing dengan tingkah anak-anaknya.
Kalau Rena di penjara, maka karirnya akan terancam. Bisa hancur reputasi yang telah ia bangun dengan susah payah selama ini.
Keadaan ini semakin kacau saja, Sean menarik diri dari bisnisnya, semua bisnisnya mulai kacau balau. Sean hanya duduk diam di depan ruang rawat Megi. Ia tak tidur dan tak makan dengan cukup.
Sean tak meninggalkan Megi sedetikpun, ia hanya pulang untuk mengganti baju dan mandi.
Sepuluh hari berlalu, namun keadaan Megi masih tak mempunyai perubahan. Sean seperti mati, ia hidup raganya namun mati jiwanya.
Bukan hanya perasaan hati, namun juga tanggung jawab yang ia pikul.
Apa yang harus ia katakan dengan Mika jika Megi tak bangun lagi, bagaimana nanti saat ia berjumpa dengan om Fandy di akhirat nanti.
Sean merebahkan badannya diatas kursi penunggu, tempat tidur ia selama sepuluh hari terakhir. Kini aura tampannya mulai menghilang, wajahnya selalu kucel dan muram.
Sean menatap langit-langit koridor rumah sakit. Perlahan matanya mulai terpejam.
Menghilang dari kelelahan yang terus menderanya, berusaha untuk tetap hidup di tengah himpitan kematiannya. Mencoba untuk tetap waras di tengah kedalaman kegilaan hidupnya.
Adzan subuh berkumandang, terdengar samar di telinganya. Sean terduduk dan mengusap kasar wajahnya. Menyisir rambutnya yang semakin panjang tak terurus.
__ADS_1
Entah kenapa, suara adzan kali ini menyentuh hatinya. Sean berjalan menuju masjid rumah sakit. Kali ini langkah kakinya yang berjalan sendiri. Ia mendatangi atas kehendak hatinya sendiri, tanpa dorongan dan ajakan orang lain.
Sean kembali menadahkan tangannya, memohon kehidupan dari Sang Pemilik Hidup. Ia bersimpuh dengan segala dosa yang ia pikul selama ini, berusaha untuk melepaskan beban hatinya satu persatu.