Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 87


__ADS_3

"Apa kabar? Mika?" tanya Sean gagu.


"Baik, Bro." ucap Mika sambil menumbuk dada bidang Sean lembut.


"Lu udah lama pulangnya?"


"Sebenarnya sudah dari kemarin, tapi masih ada urusan di asrama, jadi baru datang hari ini."


"Oh, ayo masuk dulu, Mik. Lu pasti lelah kan."


Sean menggandeng bahu Mika, matanya memandang Megi yang saat ini berdiri terpaku. Mulai ada rasa takut yang bersarang di dada mereka.


Sean membuka pintu kamarnya, ia menaruh tas Mika di dalam lemarinya.


"Lu istirahat aja disini, nanti gue peseni makanan buat elu."


"Thank's ya, Bro." ucap Mika sambil memukul bahu Sean.


"Welcome, Sob." ucap Sean sambil memaksakan senyumnya.


Sean dan Mika duduk di bibir ranjang dan bercerita ringan, sampai akhirnya rasa kantuk membawa kesadaran Mika menghilang.


Sean membuang nafasnya, ia berjalan perlahan keluar dari pintu kamarnya. Saat Sean menutup pintu kamarnya, bersamaan Megi keluar dari kamarnya.


Dengan langkah besarnya Sean mendekat.


"Sssttt..." Sean meletakan satu jarinya di depan bibir.


Menarik tubuh Megi dan kembali masuk kedalam kamar. Sean mengunci kamar Megi. Tangannya membalik badan Megi dan memeluk badan Megi dari belakang, mencium tengkuk leher Megi lembut.


"Ada apa kak?" tanya Megi sambil memegang pipi Sean lembut.


"Ingin begini aja." jawabnya sambil membenamkan wajahnya ke bahu Megi.


Megi hanya tersenyum lembut, memegang tangan Sean yang melingkari bahunya. Sean menarik Megi keatas kasur, meletakan Megi dalam dekapannya.


Seperti ada perasaan takut yang sangat mendera perasaannya. Walau selama ini ia selalu meminta Megi untuk pergi, namun saat ini, melihat Mika ada di depan matanya, membuat perasaan Sean tak menentu arah.


Megi hanya membiarkan Sean memeluk badannya erat. Dia pun merasakan takut yang sama dengan Sean.


"Kak,"


"Hem"


"Kabur yuk."


"Gak usah ngaco, Mika itu bukan Tuan Takur yang melarang cinta kita."


"Jadi kenapa kakak takut?"


"Gue cuma gak enak hati aja sama dia, dia percayain elu sama gue. Eh ... malah gue sikat."


"Kamar mandi kali, di sikat!"


"Kamar mandi apa kali?" tanya Sean setengah bercanda.


"Kali." dengan sedikit terkekeh Megi menjawab.


Megi membalikan badannya dan memandang wajah Sean, Megi memindahkan badannya keatas badan Sean.


Sean melipat satu tangannya dan menjadikannya bantal.


Megi tengkurap diatas badan Sean, ia menumpuhkan kedua sikunya diatas dada Sean. Mengangkat kepalanya dan memandang Sean.

__ADS_1


"Kak, kalau kak Mika bangun gimana?"


"Makanya jangan berisik."


"Kita ini suami istri kan kak? kenapa mesti ngendap-ngendap kayak orang mesum aja?"


Sean mengernyitkan dahinya, ia seperti berpikir keras. Tapi hatinya tak enak kalau sampai Mika tahu.


Sean mengelus poni Megi dengan satu tangannya, menyingkap rambut Megi ke balik telinga. Sean mengangkat sedikit kepalanya, Megi mulai memonyongkan bibirnya. Sean tersenyum dan mentoyor kepala Megi.


"Dasar, mesum aja maunya." ucap Sean geli.


Megi hanya mengerucutkan bibirnya, meletakan kepalanya diatas dada bidang Sean. Menempelkan telingannya untuk mendengar degup jantung Sean. Sean kembali mengelus kepala Megi, kembali mengangkat kepalanya untuk mencium pucuk kepala Megi.


"Ah..." spontan Megi mengangkat kepalanya, menghantam keras dagu Sean yang tadi berusaha mendekat kekepalanya.


"Aduh Megi." Sean menjatuhkan kepalanya, mengelus lembut dagunya yang terantuk kepala Megi.


"Lasak banget sih!" Sean kembali mentoyor kepala Megi.


"Maaf kak." Megi turun dari badan Sean dan duduk di samping kepala Sean. Mengelus dagu Sean lembut.


"Sakit ya kak?" tanya Megi bersalah.


"Banget." jawab Sean kesal.


Sean duduk dan beranjak bangkit dari kasur Megi. Dengan langkah cepat memasuki kamar mandi dan meludah. Gusinya terluka karena benturan itu.


Sean hanya menggeleng pasrah, ia kembali meludahkan liurnya yang terasa sedikit anyir. Sean menyambar sebuah gelas dan mengisinya dengan air. Meneguk dengan tergesa, kenapa saat ini dadanya kembali terasa sesak.


Takut kalau sampai Mika salah paham bagaimana? Sean memilih untuk pergi, melajukan motornya menembus gelapnya malam.


****


Sebuah tangan melingkar di bahunya, Sean kembali meletakan dagunya diatas pucuk kepala Megi. Menikmati pemandangan pagi bersama.


"Kak Mika mana?"


"Lagi keluar, ngurus visa."


Pernyataan Sean kembali membuat dada Megi sesak. Ia membalikan badannya dan melingkari pundak Sean.


"Jujur aja ya sama kak Mika. Aku yakin kak Mika pasti restui." bujuk Megi manja.


"Udah janji kan sama gue, jangan minta untuk tetap tinggal."


"Tapi aku gak mau kehilangan kakak."


"Gak ada kata kehilangan Meg. Selagi kita melepaskan dengan indah, hati gue, cinta gue masih akan jadi milik lu."


"Tapi aku juga mau raga kakak jadi milik aku."


Sean tersenyum dan mengelus pucuk kepala megi, mendaratkan kepala Megi kedada bidang Miliknya.


"Jangan egois, gak semua yang kita inginkan bisa kita miliki. Perpisahan tak selamanya menyakitkan kok, Meg. Janji sama gue untuk meraih mimpi ya."


"Aku janji kak." Megi meraih pipi Sean dan mendekat perlahan.


"Gak mau, lu bau belum mandi." ucap Sean spontan.


"Mau mandi bareng?"


"Gak usah ngaco!" Sean mentoyor dahi Megi dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Pergi keluar kamar, sementara Megi hanya tersenyum pahit.


Suasana kembali tegang saat makan bareng bertiga dengan Mika. Sean dan Megi hanya bisa melemparkan pandangannya. Sementara Mika masih mengoceh menceritakan pengalamannya.


"Dek, besok pesawat kita take off ya." ucap Mika spontan


Seketika Sean dan Megi tersedak bersamaan. Mika hanya menatap bingung, ia menyambar air dan memberikannya pada Sean yang ada di hadapannya.


"Kok buru-buru banget sih kak?" tanya Megi spontan.


"Iya, kakak lihat jadwal pendaftaran di universitas Tsing Hua akan segera di tutup. Jadi kita harus segera berangkat."


"Emm." jawab Megi lemas.


Megi memandang Sean yang saat ini berada di hadapannya, Sean pun membuang pandangannya ke Megi. Mata Mika menangkap jeli antara pandangan dua orang itu.


Seperti ada sesuatu yang terjalin diantara mereka berdua.


"Habis makan kita ke makam Papa dan Mama ya."


Megi hanya mengangguk pasrah, ia melepas beban nafasnya berat.


"Lu pake aja mobil gue, gue masih ada urusan di hotel." ucap Sean datar.


"Thanks ya, Sean."


Sean hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Selesai makan kakak beradik itu melanjutkan rencananya untuk pergi ke makam.


Memohon izin untuk menetap di negara orang.


Megi mengeluarkan seluruh bebannya di nisan sang ayah. Ada setumpuk rasa tak ingin pergi dari kota ini. Dia bagai berdiri diujung jurang, tak bisa mengelak dan juga tak bisa kembali.


Setelah di rasa cukup, Mika beranjak dari posisinya. Ia mencium nisan Papanya sebelum pergi.


"Kak." panggil Megi sebelum Mika berjalan jauh.


Mika hanya berhenti tanpa Menoleh.


"Aku mau buat pengakuan."


Mika membalikan badannya dan mendekat kearah Megi.


"Kita gak perlu pindah, karena aku dan kak Mirza udah berdamai."


"Maksud kamu, dek?"


"Aku sempat koma tiga bulan kak, karena ditabrak saat ingin menyeberang. Kak Mirza yang menyelamati aku, kak."


"Benarkah?" tanya Mika ragu.


"Benar kak, saat ini kak Mirza pergi tak tahu kemana, dia hilang dari pandangan aku karena rasa bersalahnya."


"Tapi kamu tetap harus melanjutkan kuliahmu, dek."


"Aku bisa kuliah disini."


"Dek, kakak mau yang terbaik, masa depan kamu akan lebih baik saat belajar disana." Mika berjalan meninggalkan Megi kembali.


"Kak!" panggil Megi kembali, namun itu tak bisa menghentikan langkah Mika.


"Aku mencintai kak Sean, kak." teriak Megi lantang. Kali ini Mika kembali dengan wajah yang memerah padam.


"Maaf kak. Tapi aku dan kak Sean sudah menikah." ucap Megi sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2