Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 69


__ADS_3

Sean akan terus kembali pada sifatnya, kalau dalam keadaan terdesak ia seperti menghilang. Megi memutuskan untuk kembali pada pekerjaannya.


Percuma kalau hanya menunggu Sean pulang, ia bisa pergi sampai berminggu lamanya.


"Megi...!" teriakan riuh wanita-wanita cantik dari balik konter Resepsionis.


Mereka datang mendekat dan memeluk tubuh mungil Megi berbarengan.


"Kangen banget tahu." ucap Mia sambil menggandeng tangan Megi.


"Iya, aku juga kangen kalian."


"Kalau gitu Megi harus teraktir kita makan enak, nih. Buat nebus kesedihan kita selama ini." usul Tessa gembira.


"Wih ... Jangan dong. Nanti tabungan aku bisa menjerit, kan aku sudah lama gak kerja."


"Masak sih Nyonya Sean Rayen Putra bisa kehabisan uang?" senggol Nina lembut.


Disambut riuh dari teman-teman seperjuangan mereka. Kembali ada tawa yang menghiasi konter itu. Sebelumnya konter hanya garing karena tak ada yang berani bercanda. Bahkan kalau gak ada Megi, hanya sekedar bergosip pun sulit.


"Megi." suara ngebass lelaki memanggil namanya.


Menghentikan riuh canda tawa para gadis cantik itu.


Seketika mereka semua saling tunduk, merapikan barisan.


"Kok disini, sih?" tanya Rayen sambil mengernyitkan dahinya.


"Megi, bosen di apartemen, Pa. Makanya kesini, jumpa temen-temen." jawab Megi canggung.


"Yasudah pulang kerumah Papa saja. Ada Mama disana, Sean lagi sibuk sama pembangunan gedung di barat kota, pasti dia lama disana."


"Nanti Megi kesana." ucap Megi melembut.


Setelah mendengar ucapan Megi, Rayen berlalu pergi. Kembali menaiki lift dan bekerja pada kesibukannya.


"Eh, mbak Della gak masuk?" tanya Megi berusaha mencairkan kembali ketegangan mereka.


"Lu gak tau Meg? Della kan udah gak jadi Resepsionis lagi." ucap Mia santai.


"Eh ... kenapa?"


"Setelah mendonorkan darahnya buat elu  Tuan Rayen memindahkan Della ke kantor pusat. Menjadi salah satu manager disana." ucap Tessa.


"Donorin darahnya buat aku?" tanya Megi bingung.


"Tuan Muda gak ada cerita ya? kalau saat elu koma banyak banget yang berubah, Megi."


"Maksud nya?" tanya Megi semakin bingung.


"Iya, selama elu koma banyak perubahan yang terjadi Meg. Dari hotel yang diambang kehancuran, Nona Muda yang masuk penjara sampai hubungan Tuan Besar dan Tuan Muda semakin membaik."


"Apa? gimana bisa?" Megi sedikit berteriak.


Seketika para gadis Resepsionis itu saling pandang. Mereka saling menutup mulut untuk tidak bercerita. Namun karena desakan Megi, akhirnya mereka menceritakan semua dengan detil.


Megi terduduk lemas, ia tak sanggup mencerna segala kejadian ini. Namun satu yang pasti, kini ia benar-benar yakin akan perasaan Sean terhadapnya.


Megi berlari, menaiki lift dan membuka kamar hotel pertama kali mereka bertemu. Megi menangis sejadinya, bagaimana mungkin ia akan kembali meninggalkan Sean.


Sean benar-benar jatuh cinta padanya, Sean mungkin akan kembali hancur jika kehilangan ia. Megi memutar otaknya, mencari cara agar pendirian Sean melemah.

__ADS_1


Megi mengeluarkan gawainya, menekan nomor ponsel Sean. Namun berkali-kali Megi menelpon tak diangkat.


Megi menghapus buliran airmatanya, ia membuka pesan Chat Wa nya dan merekam suaranya.


"Kak." Megi mengirimi pesan suaranya yang sedang tergugu menahan tangis.


Tak perlu waktu lama, pesan itu kini bercontreng dua berwarna biru. Tanda Sean sudah melihatnya. Saat itu juga ponsel Megi berdering keras.


Dengan cepat Megi mengangkat teleponnya.


"Ada apa Meg?" tanya Sean cemas.


"Aku di kamar hotel kakak." Megi mengatakan dengan tangis yang semakin meledak.


Tanpa membuang waktu, Sean langsung meninggalkan lokasi pembangunan. Melajukan motornya dengan cepat. Saat ini dia lebih sering menggunakan motornya, masih ada trauma saat ia menaiki mobilnya.


Kejadian yang Megi alami juga meninggalkan trauma di ingatan Sean. Dalam waktu singkat, Sean kembali ke hotel. Ia menjejaki koridor dengan sedikit berlari.


Saat ia membuka pintu, Megi langsung berlari memeluk badan besar Sean. Menangis sejadi-jadinya.


"Hey ... Ada apa ini?" tanya Sean cemas.


Megi masih terus menangis dalam, ia memeluk tubuh Sean erat. Sean meleraikan pelukan Megi.


"Ada apa?" tanyanya sekali lagi.


"Kakak jahat!" ucap Megi sambil memeluk kembali badan besar Sean.


Sean meraih pucuk kepala Megi, ia menghela nafas berat. Sean kembali melerai pelukan Megi. Ia membungkukan badannya untuk menyamai wajah Megi.


"Sorry, gue bukan mau tinggalin elu. Tapi pembangunan lagi butuh banyak perhatian gue." ucap Sean lembut.


"Kakak pikir aku enggak."


"Kakak cinta aku, tapi kakak berusaha jauhi aku, kenapa?" tanya Megi langsung.


"Maksudnya?" tanya Sean bingung.


"Kakak pikir bisa rahasiain ini dari aku? aku udah tahu semuanya kak."


"Tahu apa?" tanya Sean bingung.


"Aku tahu selama ini kakak berjuang keras selama aku koma." Sean terdiam sesaat mendengar ucapan Megi.


"Tau dari mana?" tanyanya ketus.


"Gak penting aku tahu dari mana, sekarang kakak gak perlu sembunyiin lagi kak. Aku gak mau pergi kak, titik!"


"Gak boleh Meg, lu harus pergi!"


"Kenapa? kakak cinta aku tapi kenapa kakak usir aku?"


Sean berlalu meninggalkan Megi. Ia membuka pintu kaca menuju balkon. Entah kenapa suasana kamar membuat ia merasa sesak.


"Kak..." Megi memeluk Sean dari belakang.


"Aku sungguh ingin hidup sama kakak. Aku janji bakal setia sampai kapanpun! Percaya sama aku kak."


Sean meleraikan pelukan Megi dan membalikan badannya.


"Meg, kalau elu sayang gue, gue mohon kejar impian elu Megi. Kejar cita-cita elu."

__ADS_1


"Aku gak mau kejar itu kak, buat aku saat ini kakak lebih penting dari apapun."


"Itu yang buat gue gak mau elu ada disini, Megi. Elu ada bakat, elu punya kemampuan. Jangan batasi kemampuan elu cuma karena elu harus hidup terkekang sama gue." Sean memegang kedua bahu Megi.


"Bukankah perpisahan ini membuat kakak sakit ya? kakak juga gak ingin pisah sama aku kan? jadi kenapa kak?"


Sean hanya terdiam, ia hanya membuang pandangannya ke pemandangan luar balkon. Menumpuhkan kedua tangannya diatas pagar balkon.


"Kenapa kakak pingin aku pergi menjauh, bukannya kakak juga takutkan kehilangan aku? apa kakak gak takut kalau aku gak akan kembali?" teriak Megi keras.


"Kalau gitu jangan kembali." jawab Sean datar.


"Apa?!" tanya Megi terkejut.


"Kakak itu kenapa sih? perasaan kakak itu rumit sekali, kita bisa bersama tapi kakak malah milih berpisah. Aku gak ngerti kak, sebenarnya seperti apa cinta itu buat kakak?" tanya Megi tanpa jeda.


Sean hanya terdiam tanpa bergeming, tak ingin menjawab. Semua pertanyaan Megi tak memiliki jawaban apapun.


"Kak, kakak cinta aku gak sih?" tanya Megi melemah.


"Kak!" Megi berteriak memanggil Sean.


"Karena gue cinta sama elu Megi. Gue gak mau elu terkekang. Karena gue cinta sama elu Megi, gue mau elu sambung cita-cita elu, karena gue cinta sama elu, gue mau elu pergi menguatkan hati, meraih mimpi. Gue pingin elu gak pernah sia-siain anugerah yang udah Tuhan berikan sama elu. Dan karena gue sayang sama elu, gue rela lepasin elu, biar elu bisa taklukin dunia!" ucap Sean tegas.


Perlahan buliran air mata Megi mengalir, kenapa kenyataan ini lebih pahit dari kepergian orang-orang yang ia sayangi.


"Gue sayang benget sama elu, kalau elu cinta sama gue. Gue mohon, hiduplah dengan baik, jadilah wanita yang sukses, jangan sia-siain perjuangan Mika, jangan Sia-siain pengorbanan gue, Megi." ucap Sean lemah


Sean beranjak pergi, dengan langkah cepatnya ia menuju pintu kamar yang masih terbuka lebar. Dengan cepat Megi menyusul dan menarik tangan Sean, menjijitkan kakinya, menarik kepala Sean dan mencium bibirnya.


Sean meleraikannya dengan cepat, ditatapnya wajah Megi lekat.


"Kalau gitu berikan aku kenangan yang akan menguatkan langkahku disana kelak, kak. Ukir kenangan indah disisa waktuku bersamamu."


Sean menarik pinggang Megi agar menempel pada tubuhnya. Dengan lembut Sean mencium kembali bibir Megi. Satu kakinya menendang daun pintu agar tertutup kembali. Sean menarik tubuh Megi, ia menempelkan punggung belakangnya di daun pintu yang sudah tertutup.


Perlahan ia membalikan keadaan, Menempelkan tubuh Megi didinding bercat putih.


Setelah sekian menit, Sean menarik dirinya.


"Tolong jangan lakuin ini, Megi" ucap Sean lirih.


"Jangan buat gue semakin berat untuk melepaskan elu." sambungnya.


"Kalau gitu jangan kak, jangan lepaskan aku dari hati kakak." Megi kembali melanjutkan ciuman itu.


Perlahan Sean mulai kehilangan kendali atas dirinya, Sean mengangkat tubuh Megi keatas ranjang. Ia mulai kehilangan kendalinya.


Tapi ada sesuatu yang kembali merasuki pikirannya, Sean melepaskan pelukannya, ia mengurungkan niatnya untuk melakukan itu.


Sean terduduk di bibir ranjang, meninggalkan Megi yang tengah menunggu dia.


"Kenapa kak?" tanya Megi dengan setumpuk kekecewaan.


"Elu masih terlalu muda, Megi. Sebaiknya gue gak pernah lakuin itu sama elu."


"Kenapa, kak? apa kakak gak ingin aku?"


"Gue sangat ingin Megi. Tapi akan lebih mudah elu ngejalani hidup lu, kalau elu belum pernah ngecoba itu."


Sean membuang pandangannya, meraih pucuk kepala Megi. Mencium dahi Megi lembut dan menempelkan dahinya pada dahi Megi.

__ADS_1


"Saat elu udah pernah ngerasain hal itu, gue takut elu akan mencarinya lagi. Tetaplah seperti ini, jaga dirimu sampai kamu menemukan laki-laki yang tepat kelak."


Sean berjalan meninggalkan Megi sendiri. Sungguh pemikiran Sean tak pernah dapat di tebak. Pemikirannya terlalu detil, tapi saat ini pengakuan Sean saja sudah cukup buat Megi


__ADS_2