
"Eh ... Suster, maaf numpang tanya, gadis kecil disini kemana ya?" Farrel menghentikan seorang suster yang lewat di depannya.
"Oh... Itu disana." suster itu menunjuk arah taman belakang rumah sakit.
"Ngapain dia disana?" Tanya Farrel penasaran.
"Lagi main sama anak-anak penderita kanker."
"Oh... makasih ya, Sus."
Suster itu mengangguk dan berlalu pergi. Farrel mengetuk pintu kamar Megi, tapi tak ada jawaban. Ia kembali mengetuknya dan membuka pintunya sedikit.
"Bos, Nona kecil ada di taman belakang, Bos." Ucapnya sambil berlalu masuk.
"Kenapa gak di suruh kesini?." Sean masih berkutat di depan laptopnya.
"Dia lagi main sama bocah, Bos."
"Emm." Jawab Sean cuek.
Wajah Sean menatap serius laptopnya, kali ini fikirannya terfokus pada proyek pembangunan yang akan ia dirikan.
Masuk sebuah pesan di emailnya, ia membuka emailnya dengan cepat, dan isi pesannya mampu mebuat ia berdecak kesal.
"Kenapa profit terus menurun, Farrel?" Tanya nya dengan mata yang masih menatap lekat ke laptopnya.
"Itu, Bos. Akhir-akhir ini ada hotel baru yang mengusung konsep modern. Ada beberapa pernak-pernik dan desain model terbaru mereka mampu menarik wisatawan kesana, Bos. Sepertinya kita harus mengubah konsep hotel biar lebih fresh, Bos." Jelas Farrel rinci.
Sean menggebrak meja kayu itu dengan kuat. Membuat Farrel sedikit terlompat.
"Gue stres banget Farrel. Gue gak sanggup mikir." Sean memegang dahinya.
Setelah melamun beberapa detik. Ia memilih keluar dan menyusul Megi ke taman belakang Rumah Sakit.
Ia menghentikan langkahnya di ujung koridor rumah sakit. Ia menatap Megi yang sedang bermain, tertawa dengan beberapa anak kecil di taman.
Sean menyilangkan kedua tangannya dan menempelkan sisi bahu kanannya di tiang penyanggah. Bibirnya menyungging saat melihat Megi tertawa riang.
Megi menceritakan sebuah dongeng dan membuat delapan orang anak kecil tertawa terpingkal. Namun ada satu anak kecil perempuan yang hanya menampakan ekspresi sedih.
Menyadari itu, Megi mencoba untuk mengajaknya berbicara.
"Sayang, kenapa sedih? Kan akhirnya pangeran dan putri hidup bahagia."
"Aku teringat ayah, kak." Jawab gadis kecil itu polos.
"Ayah? Memang ayah kamu dimana?"
"Ibu bilang ayah sedang menjalankan tugas sekarang kak."
"Benarkah? Ayah kamu seorang Tentara?" Tanya Megi antusias.
Anak kecil itu hanya mengangguk pelan.
"Jadi kenapa sedih? Harus bangga dong, berarti ayah kamu itu keren, dan juga hebat kan?"
"Aku kangen ayah kak."
__ADS_1
"Memang ayah kamu udah lama gak pulang ya? Ayah kamu tugas dimana?" Tanya Megi penasaran.
"Kata Mama, ayah lagi jadi Tentara di langit kak. Ayah pulangnya nanti, tunggu aku dan Mama menyusul kesana."
Mendengar perkataan anak kecil itu membuat Megi terdiam. Sesaat raut wajahnya menjadi sendu, ia juga sedang merindukan Papanya.
Di peluknya tubuh gadis kecil itu, matanya perlahan berembun, tapi ia berusaha untuk menutupinya.
Sean yang memandang kejadian itu dari kejauhan hanya mampu menghela nafas panjang. Ia tahu Megi pasti mengalami banyak kesulitan saat ini.
Tetapi gadis itu terlalu kuat, ia tak pernah mengeluh atas apa yang ia alami. Ia juga tak pernah mencari tempat untuk melampiaskan kesedihannya. Ia hanya menangis di waktu tertentu dan tertawa di sepanjang harinya.
Sungguh, ia lebih kuat dari pada yang terlihat. Tubuh kecilnya itu sanggup menanggung beban yang lebih besar dari badannya.
Tak lama berselang seorang anak lelaki datang dengan menenteng gitar di tangannya.
"Kak, katanya mau nyanyi, ini aku udah bawa gitarnya. Kok malah peluk-pelukan sih?" Seorang anak remaja lelaki datang mendekati mereka.
"Iya, sini. Kalian mau nyanyi lagu apa?"
"Apa aja deh kak?" Jawab lelaki itu cepat.
Megi mulai memetik perlahan senar gitar itu, sebelum ia benar-benar memainkannya.
Angin berhembus membuat rambut hitam Megi menutupi sebagian wajahnya. Mulai terdengar alunan sendu dari permainan gitar Megi. Bibirnya tersenyum namun matanya memancarkan kesedihan.
Perlahan, matanya mulai mengembun saat ia menyanyikann lirik lagu Kemarin dari Seventeen.
Wajahnya mulai memperlihatkan ekspresi sedih yang mendalam. Terkadang bibirnya bergetar saat menyebutkan bait demi bait.
Suara seraknya yang indah kini berganti dengan nada parau yang sumbang.
Ia berjalan mendekat dan menarik paksa permainan gitar Megi. Sontak Megi terkejut dan memandang Sean kesal.
"Adik-adik mau gue nyanyiin lagu gak? Yang pasti lebih bagus dari permainan dia." Sean melirik Megi dengan ujung matanya.
"Kakak, apa an sih?" Megi mencoba mengambil gitar itu, namun Sean mengangkat gitar itu tinggi-tinggi.
"Udah, duduk disitu dengerin gue nyanyi. Jarang-jarang lu bisa lihat cowok keren kayak gue konser." Sean memainkan kedua alisnya.
Sementara Megi memutar bola matanya malas. Bibirnya menyungging malas, namun ia mengikuti perintah Sean.
Sean memainkan musik ceria, anak-anak yang tadi diam mendengarkan peemainan Megi, kini mulai menari ria. Bersama dengan Sean yang berdiri memainkan gitar sembari menyenderkan bahunya di batang pohon.
Sesekali badannya bergoyang mengikuti irama, rambut gondrongnya di biarkan terurai. Tergiup angin dan membuat helaian nya menari-nari tertiup angin.
Kembali bibir Megi tersenyum manis, melihat Sean yang seperti itu. Jantungnya berdegub kencang tak beraturan. Wajahnya merona saat Sean mengedipkan sebelah matanya kearah Megi.
Sean hanya berniat untuk menghibur Megi, namun lagi-lagi Megi salah mengartikannya.
Setelah lelah menari-nari, grup menari dadakan mereka di bubarkan paksa oleh suster-suster disana. Takut kalau-kalau anak kecil itu kelelahan dan kondisinya semakin drop.
Megi dan Sean kembali ke kamar mereka. Sesekali Megi menggoda Sean yang sedang bernyanyi tadi.
Sean hanya tersenyum puas, syukurlah jika gadis ini tidak jadi menangis.
Sean kembali berkutat serius di depan laptopnya. Wajah cerianya berganti dengan wajah mematikan. Mata tajamnya menatap serius ke layar datar itu.
__ADS_1
Sementara Farrel keluar membeli beberapa makanan atas perintah Sean. Megi mulai merasakan bosan, ia meniup-niup poni di dahinya untuk menghilangkanrasa suntuknya.
Sampai akhirnya ia menyerah dan duduk mendekat ke Sean. Di perhatikannya Sean yang saat ini membuat rincian pembangunan gedung.
"Kak, Kakak bisa desain?"
"Dikit." jawab Sean cuek.
"Aku baru tau, kirain kakak preman doang."
Seperti tak peduli, Sean masih terfokus pada gambar yang ia kerjakan.
"Kak, itu terlalu monoton gak sih? Gedung yang kakak buat terlalu biasa."
Sean menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan Megi.
"Itu kan ada sisi pantai, kenapa gak kakak buat gedungnya itu membelakangi atau memiringkan sisi gedungnya. Sisi pantai nya jangan di depan gedung gitu kak."
"Kenapa?" Tanya Sean mencoba mengorek isi pikiran Megi.
"Itu kan pantai yang kakak jadikan objek. Kalau kakak letakan gedungnya berhadapan dengan pantai berarti daya tariknya hilang dong." jelasnya rinci.
"Lalu, bagaimana?"
"Kakak jadikan pantainya di sisi samping atau belakang aja kak. Tapi menurut aku lebih bagus di samping deh kak, biar pintu utama gedung menghadap jalan raya. Terus kakak buat kolam berenang di lantai atas yang langsung menatap ke pantai kak."
Megi memegang dagunya seakan berpikir, sementara Sean mencoba menangkap isi pikiran Megi. Ia mencoba membayangkan ucapan Megi.
"Terus kakak tambahin beberapa ruangan yang memang khusus untuk melihat sunset dan pemandangan pantai kak."
'Hebat, Gadis ini memang berbakat di bidang desain. Apa yang di ucapkan Farrel benar.' puji Sean dalam hatinya.
Sean hanya mendengarkan dengan seksama beberapa gagasan yang di utarakan Megi. Di umurnya yang masih begitu belia bagaimana bisa dia memiliki pemikiran yang luar biasa.
"Bagus, boleh gue pake pemikiran lu?" ucap Sean saat Megi berhenti menjelaskan idenya.
"Boleh dong, kan aku memang kasih ide itu buat kakak."
"Hmm, berapa lu minta bayaran untuk ide lu itu?"
Megi mengernyitkan kedua alisnya, Ia hanya niat membantu, tapi kalau Sean memang ingin membayarnya, maka ia harus membayarnya dengan harga yang sesuai.
"Aku gak yakin kakak mampu membayarnya."
Sean tersenyum kecut mendengar ucapan Megi. Gadis kecil ini terlalu meremehkan kemampuan ia.
"Bilang saja berapa jumlahnya, gue akan berikan saat ini juga." ucap Sean sombong.
"Bener nih? Kakak gak akan nyesel kalok aku minta bayaran?"
"Lu nantang gue?" ucap Sean kesal.
Sean masih terfokus oleh laptopnya, sementara jantung Megi sudah bertaluh kencang sedari tadi. Ia mencoba untuk menyusun peekataannya.
"Jangan bayar aku dengan uang kak, tapi cukup hati kakak." ucapnya cepat.
"Hah? Maksud lu?" Sean tak mampu lagi memecah pikirannya, ia di kejar waktu untuk menyelesaikan proyeknya.
__ADS_1
"Jadi pacar aku kak."