
Di taman belakang rumah Mika, mereka duduk sambil memandang Rezi dan Aya yang bermain di taman hijau milik Mika.
Mirza, Sean, dan Mika duduk bersama menikmati waktu senggang di belakang rumah. Sedangkan para istri masih sibuk di dapur.
"Gue seperti pernah lihat istri lu sebelumnya." ucap Sean memecahkan keheningan suasana sore itu.
"Pasti lah, dia Tamara. Perawat yang ambil darah gue waktu Megi koma."
"Ya, gue ingat sekarang." ucap Sean sambil mengangguk. "Kenapa elu bisa jadi sama dia?" tanya Sean penasaran.
Mirza tersenyum dan memalingkan pandangannya kearah Sean.
"Perkataan dia waktu ngambil darah gue, buat jiwa gue tertampar Sean. Hanya sepatah kata dari dia, mampu membuka seluruh pikiran sesat gue."
"Memang dia bilang apa?" tanya Sean penasaran.
"Dia bilang gue kakak yang baik, Megi beruntung punya kakak seperti gue." Mirza tersenyum pahit dan mengelengkan kepalanya.
"Dulu waktu gue mau jenguk Megi, ternyata dia sudah sadar. Sesuai janji gue sama elu, gue harus pergi saat dia sadar, jadi gue mau nemui dia untuk pamit. Tapi Tamara bilang Megi sedang hilang ingatan karena kelamaan koma. Saat itu gue hanya berani diam-diam memperhatikan Megi dari kejauhan, gue cari semua informasi tentang kesehatan Megi dari Tamara."
"Padahal saat itu gue cari elu buat bantuin gue mulihin ingatan, Megi." balas Sean lembut.
"Saat itu gue bersyukur banget Megi kehilangan ingatannya, Sean. Gue bersyukur Megi melupakan semua kenyataan pahit yang gue ukir dalam hidupnya. Gue senang, Megi gak mengingat setiap luka yang pernah gue buat untuk menghancurkannya." Mirza tersenyum dengan getir dan menelan salivanya dengan berat.
"Tanpa sadar, karena gue sering tanyain Megi sama Tamara, gue dan dia jatuh cinta. Tapi gue sadar, gue bukan lelaki baik buat dia, jadi gue pindah ke perkampungan kecil di barat kota untuk menjalani hidup baru."
"Pantes, setiap kali gue ke barat kota selalu jumpa sama elu."
"Iya, langkah gue dan Megi selalu sejalan. Heran gue." jawab Mirza lembut.
"Jadi dia ikut elu pindah ke sana, Za?" tanya Sean penasaran.
"Enggak, gue ninggalin dia gitu saja. Takdir, setelah enam bulan gue jalani hidup di barat kota. Tamara juga pindah kesana sebagai perawat pembantu di puskemas kampung."
Mirza tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mengingat kejadian masa lalu dalam hidupnya yang begitu suram.
"Rena, apa kabar?" tanya Mirza lembut. Mengakhiri kisah masa lalunya.
Seketika Sean memandang wajah Mika yang sedang duduk di depannya. Mika hanya meneguk gelas tehnya, tak peduli pada pertanyaan Mirza.
"Baik." jawab Sean lembut.
"Sekarang dia dimana?"
"Dia ikut suaminya, setahun setelah menjalani hidup di penjara, Rena dimasukin Papa gue kembali ke pesantren. Kemudian ia menikahi seorang ustadz disana, dan menetap disana." jelas Sean.
"Lu baru mau punya anak pertama, Za?" tanya Mika lembut.
"Itu anak ketiga kak, 4 tahun pernikahan kami. Rara dua kali keguguran."
"Kalau gitu tinggal disini saja, biar perawatan Rara juga lebih mudah." bujuk Mika lembut.
__ADS_1
"Kalian sudah cukup bahagia tanpa gue, jadi jangan pikiri gue, kak." tolak Mirza sekali lagi
"Lu gak mau ikut dalam kebahagiaan kami?" tanya Mika kembali.
Mirza tersenyum dan memandang dua bocah kecil yang bermain di taman belakang itu.
"Gue lihat kalian berdua punya hubungan yang sangat akrab, gue gak ingin gara-gara gue lagi, Sean dan elu bertengkar seperti sebelumnya." jawab Mirza lembut.
"Kalau gitu lu harus jadi penengah kami berdua, Mirza." balas Sean datar.
"Sudahlah, hormati keputusan gue ya." putus Mirza langsung.
Sean dan Mika kembali saling bertatapan. Menghela nafas mereka berdua secara bersamaan. Sean memalingkan perhatiannya ke hamparan luas belakang rumah Mika.
"Gue gak pernah bayangin kita akan begini lagi setelah belasan tahun berlalu." ucap Sean menatap kosong ke hamparan luas taman belakang.
"Sekarang kita bisa begini itu karena kehendak Tuhan. Tuhan menyatukan kita semua dalam satu tempat, kenapa elu berusaha untuk menghindar?" ucap Sean kembali mengalihkan pandangannya ke Mirza.
"Biar saja masa lalu kita buruk, Za. Yang penting saat ini, dan kedepannya kita buat seindah mungkin. Menggantikan kenangan buruk dengan kenangan manis." bujuk Mika kembali.
"Gue sama Megi, gue sama Mika. Kami juga mengalami kenangan buruk, konflik yang besar untuk bisa sampai di tahap ini. Jangan hanya karena masa lalu elu, elu ngebuang kami semua dari masa depan elu." bujuk Sean lembut.
"Gue gak ada niat seperti itu, hanya saja ..."
"Hanya apa?" putus Sean langsung. "Beberapa kali kita bertemu, elu selalu menghindari Megi. Oke, gue yang minta elu pergi sejauh mungkin saat itu, kalau saat ini gue minta elu untuk kembali, apa lu bisa pikiri lagi?" tanya Sean kembali.
Sejenak Mirza terdiam, ia melirik kearah Mika yang sedang duduk di sebelahnya. Mirza menghela nafasnya dan meneguk gelas tehnya.
"Mbak Rara setuju kok." balas Megi sambil berjalan mendekati kursi mereka bertiga. Bersamaan dengan Tamara yang ikut keluar.
"Kamu setuju?" tanya Mirza yang tak percaya.
Biasanya Rara yang tak ingin untuk pindah ke kota, bahkan saat Mirza keluar ke barat kota untuk menjual hasil panen mereka, Rara menolak untuk ikut.
Tapi kenapa saat ini Rara malah setuju?
"Iya, Mas. Kita disini saja, kamu sangat merindukan mereka selama ini. Sakarang biarkan rindu yang kamu tahan selama ini menemukan tuannya."
Mirza bangkit dari kursinya dan mendekati Rara, memandang wajah Rara dengan lekat.
"Kamu serius, Ra?" tanya Mirza lembut.
"Aku gak pernah seserius ini sebelumnya, Mas." jawab Rara lembut.
"Makasih ya, Ra." Mirza mencium kedua jemari Rara. Memandang Rara dengan penuh senyuman.
"Ehm ... echm." Mika, Megi dan Sean berdehem serentak.
Seketika Mirza dan Rara tersipu malu.
"Ada Aya dan Rezi disini." ucap Megi sambil memutar bola matanya.
__ADS_1
"Yasudah, pada masuk yuk. Makan malam sudah siap " Rara berjalan menunduk dan masuk dengan wajah malu.
Mirza mengikuti langkah Rara dari belakang dan di susul Mika.
"Aya ... Rezi ... Ayo masuk makan." panggil Sean pada kedua anaknya.
Setelah kedua bocah itu masuk, Megi juga beranjak untuk masuk. Sean menarik bahu Megi dari belakang, melingkari bahu Megi dengan tangannya. Sean meletakan dagunya di atas bahu Megi.
"Apa saat ini kamu sudah bahagia?" tanya Sean lembut.
"Aku bahagia, Kak. Sangat, sangat bahagia. Terima kasih, karena kakak sudah berkorban banyak untuk kebahagianku."
Sean menempelkan pipinya pada pipi Megi, perlahan tangannya mulai jatuh dan melingkari perut besar Megi.
"Apa setelah semua yang aku korbankan, kamu hanya mengucapkan terima kasih?" tanya Sean tak senang.
"Jadi kakak mau apa?" tanya Megi dengan meraih bagian belakang kepala Sean.
"Aku yakin kamu lebih tahu, apa yang aku mau?"
Megi tersenyum, perlahan Megi memalingkan wajahnya agar bisa melihat wajah tampan milik suaminya itu. Megi memejamkan matanya, mendekat dengan perlahan, terasa hangat hembusan nafas Sean menembus kulit putih pipi Megi.
"Echm ... Echm ..." Irena mendehem sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ini masih sore, jangan buat adegan dewasa disini." ucap Irena jutek.
"Memang kenapa?" tanya Sean ketus.
Sean mengecup bibir Megi dengan cepat, lalu menjulurkan lidahnya mengejek Irena.
"Ih ... Sean elu ya, ada Aya didalam!" ucap Irena garang.
"Aya kan di dalam, bilang aja Mama Aya yang kepingin." Sean kembali mengecup pipi Megi beberapa kali.
Irena melepaskan sandal rumahnya dan mengejar Sean. Megi hanya tertawa melihat pemandangan itu, Irena senior yang paling kocak dulu, sifatnya yang spontan itu selalu lucu.
Megi menarik tangan Sean saat Sean berlari menjauh.
"Sudah, sudah." ucap Megi meraih wajah Sean.
"Kapan kalian berdua bisa tidak bertengkar lagi? kalau bertemu selalu seperti ini?"
Sean menarik Megi dan menggendongnya.
"Irena, kami makan dulu ya." Sean berjalan menuju pintu belakang rumahnya.
"Titip Rezi ya!" teriak Sean sambil masuk kedalam pintu rumahnya.
"Dasar lu berdua ya, somplak!" teriak Irena kesal.
"Kembali kalian berdua kesini!"
__ADS_1