Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
114


__ADS_3

Rayen memandangai lukisan yang terpajang di paling sudut ruangan galeri pameran.


Entah kenapa, saat melihat lukisan itu ia merasa sangat familier dengan gambarnya.


Rayen memanggil seorang pelayan, menanyakan siapa pelukis di balik indahnya karya seni yang terpajang di pojok galeri tersebut.


Seperti tidak puas memandang, Rayen terus terfokus dengan hasil karya seni itu.


Sebuah tangan menyentuh ujung lengan kemeja Rayen. Seorang gadis cantik dengan balutan gaun putih sederhana, tersenyum lembut kepadanya.


"Kamu siapa?" tanya Rayen saat melihat wanita itu.


Ia menunjuk lukisan itu, memberi tahu bahwa lukisan itu adalah miliknya.


"Oh, ini lukisan kamu?" tanya Rayen dingin.


Wanita itu kembali tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


"Maaf, apa kamu tidak bisa bicara?" tanya Rayen kembali.


Neha menganggukan kepalanya, ia berusaha tetap tersenyum saat pertanyaan itu kembali terdengar di telinganya.


"Berapa kamu menjual lukisannya?" tanya Rayen langsung.


Neha memberikan sebuah memo ke tangan Rayen.


(Maaf, saya tidak menjualnya).


"Kenapa? Bukannya kamu memajang ini untuk menjual karya kamu?" tanya Rayen penasaran.


(Maaf, sebenarnya dari awal saya memang tidak berniat mengikuti pameran ini. Saya ikut hanya untuk menyenangkan hati seerorang).


Rayen menghela napasnya dan kembali melihat lukisan itu. Ia benar-benar suka dengan lukisan buatan gadis itu.


"Sayang sekali, saya padahal ingin membeli lukisan ini dengan harga tinggi," bujuk Rayen lembut.


Neha melepaskan senyumnya dan menangkupkan tangannya di depan dada. Meminta maaf untuk keputusannya yang tidak ingin menjual lukisan itu.


"Mas kamu sudah selesai melihat-lihat?" tanya Miranda yang datang mendekat.


"Ya ... seharusnya ada yang menarik perhatian aku. Tapi sayang, kita tidak bisa membawanya pulang."


"Loh ... kenapa?" tanya Miranda bingung.


"Gadis ini tidak bersedia menjualnya kepada kita," ucap Rayen melirik kearah Neha.


Miranda memalingkan wajahnya, melihat gadis yang di maksud oleh suaminya.


"Lukisan ini punya kamu?" tanya Miranda lembut.


Neha hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Kamu cantik sekali, tidak hanya cantik wajah, tapi juga punya bakat yang hebat," puji Miranda saat melihat gadis bergaun putih itu.

__ADS_1


Entah kenapa, melihat gadis itu ia seperti melihat Megi dahulu. Cantik dengan bakat alami yang ia miliki.


"Miranda, apa yang kamu lihat saat pertama kali memandang lukisan ini?" tanya Rayen lembut. Matanya masih terus terfokus oleh lukisan tangan yang Neha buat.


Miranda melihat lukisan itu dengan lekat, melihat hasil lukisannya ataupun yang membuatnya. Sama-sama mengingatkannya pada menantu kesayangan keluarga mereka.


"Aku seperti melihat Megi dalam lukisan ini," jawab Miranda cepat.


Rayen tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Kenapa kamu bisa mengingat dia?" tanya Rayen kembali.


"Gadis ini seperti Megi dulu, ia seperti asing dalam dunia ini. Berjuang sendiri dari kersanya hidup, berdiri paling tinggi di antara cahaya yang lainnya. Karena pada dasarnya, ialah cahaya yang paling terang itu sendiri," jawab Miranda lembut.


"Sama, aku juga melihat lukisan ini seperti Megi dahulu. Gadis yang mampu bertahan sendiri dalam kekejaman dunianya," jawab Rayen.


Sejenak Neha terdiam, ia ikut memandang lukisan yang ia buat itu. Kembali ucapan Rezi terputar dalam kepalanya.


Rezi mengatakan hal yang sama dengan lelaki tua itu.


Rayen menghela napasnya dan mengelus bingkai lukisan itu.


"Yasudahlah, aku berniat ingin membelikan ini untuk Megi sebagai hadiah kehamilannya. Sudah setua ini tapi dia masih bersedia memberikan cucu baru."


"Yasudah, gadis cantik ini tidak mau menjualnya, jangan dipaksa," bujuk Miranda lembut.


"Baiklah, ayo kita lihat yang lain," ajak Rayen.


Dengan cepat Neha menarik lengan tangan Rayen. Menghentikan langkah Rayen yang ingin pergi.


Neha menggelengkan kepalanya, ia kembali menulis memo untuk Rayen.


(Saya tidak bersedia menjualnya, karena ini saya tujukan untuk perasaan seseorang. Tapi kalau anda ingin membeli lukisan ini sebagai hadiah, maka ambillah, saya menghadiahkan ini untuk anda).


"Kamu serius?" tanya Rayen tidak percaya.


Neha menganggukan kepalanya.


"Tidak mau uang sedikitpun?"


Neha tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Jangan seperti itu, bilang saja berapa harganya. Lagian ini karya seni, tidak mungkin kami hanya mengambilnya cuma-cuma," ucap Miranda lembut.


(Karena ini karya seni pertama saya, saya tidak mau menghargainya dengan uang. Tapi saya menghargainya dengan rasa dan kasih sayang. Bukankah di dunia ini tidak ada yang lebih berharga dari itu? Maka melihat anda yang sangat menyanyangi gadis itu, sudah cukup memberikan harga tersendiri buat saya).


Miranda tersenyum dan meraih sebelah pipi Neha.


"Saat pertama kali saya melihatmu, saya langsung teringat sama menantu saya. Kamu mirip sekali dengannya, tapi semakin melihat kamu berkata, saya merasa kamu adalah wanita yang jauh lebih lembut darinya," ucap Miranda lembut.


Miranda merogo tas kecil yang ada di tangannya. Mengeluarkan dua buah penjepit rambut berwarna emas.


"Ambil ini, anggap ini rasa kasih sayang saya sama kamu. Bukankah kamu menerima kasih sayang seseorang?"

__ADS_1


Neha mengenggam jepitan rambut itu dan mencium jemari tangan Miranda. Kembali tersenyum dengan lebar, setelah bertahun lamanya, beginikah rasanya hangat sebuah keluarga?


Hal yang tidak Neha rasakan semenjak ia kecil. Karena ia hidup hanya berdua dengan ayahnya, rasa hangat keluarga itu hanya sekedar saja ia rasakan.


***


Neha berlari ke arah Rezi yang masih mengobrol dengan temannya. Bibirnya tersenyum dengan lebar, puas dengan hasil karya yang ia tampilkan malam ini.


"Bagaimana? Apa lukisanmu sudah terjual?" tanya Rezi lembut.


Neha menganggukan kepalanya dengan cepat. Tersenyum lebar, terlihat jelas bahwa hatinya sangat senang.


"Katakan, berapa harga yang mereka minta? Dan berapa kamu melepaskannya?"


Neha menunjukan dua jepitan rambut kehadapan Rezi. Rezi mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan maksud yang ditunjukan oleh Neha.


"Maksudnya? Kamu jual dengan harga dua buah jepitan rambut?" tanya Rezi tidak percaya.


Neha menganggukan kepalanya kembali, Rezi mengusap wajahnya kasar. Ia kehabisan kata-kata melihat tingkah polos wanitanya itu.


"Astagfirullah, Neha. Kamu kekurangan jepitan rambut? Bilang sama aku, aku akan belikan banyak jepitan rambut untukmu, kenapa kamu jual lukisan itu hanya dengan dua jepit rambut?" tanya Rezi sambil memegangi dua jepit rambut itu.


(Aku sudah bilang kalau lukisan itu tidak dijual. Dia juga tidak memaksaku untuk menjualnya, tapi dia bilang saat melihat lukisan itu, teringat dengan menantunya yang pernah menjalani hidup keras selama ini. Aku memberikan itu sebagai hadiah, lalu wanita itu memberikan aku ini sebagai hadiah rasa sayangnya).


Rezi tersenyum lembut dan memakaikan kedua jepitan rambut itu ke kepala Neha. Menepuk dahi gadis itu dengan lembut.


"Dasar gadis bodoh, ayo sini peluk aku," ucap Rezi lembut.


Neha tersenyum lembut dan memeluk badan bidang Rezi. Tempat yang paling nyaman semenjak ia kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.


"Kenapa aku bisa sangat jatuh cinta pada gadis sebodoh kamu?" ucap Rezi geram sendiri.


Neha hanya tersenyum, membalas dekapan erat kedua tangan lelaki itu.


"Rezi," panggil Rayen lembut. "Kamu di sini?" sambungnya kembali.


Seketika mata Rezi membulat, ia melepaskan dekapan tangannya.


"Opa," jawab Rezi kaget.


Neha membalikan badannya, melihat lelaki yang membuat tangan Rezi terlepas seketika.


"Kamu," ucap Rayen kaget.


Rezi mengenggam jemari tangan Neha erat, kebetulan sekali ia bertemu dengan Rayen di sini.


"Dia siapa?" tanya Rayen memandang tajam ke arah Neha.


"Dia ... dia pacar aku, Opa,"


Rayen menghela napasnya, memandang ke arah Neha dan Rezi secara bergantian.


"Kamu sudah selesai acaranya kan? Ayo ikut Opa pulang, Opa mau bicara sama Papa dan Mama kamu," ajak Rayen.

__ADS_1


Rezi menganggukan kepalanya, menghela napas dan melirik ke arah Neha. Cepat atau lambat, hubungan ia dan Neha pasti akan ketahuan.


Siap, tidak siap kenyataan ini memang harus dihadapi.


__ADS_2