Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 44


__ADS_3

"Masuk!" perintah Sean kasar.


Tanpa banyak berpikir Megi langsung masuk ke dalam mobil. Sean menyerahkan sejumlah uang kepada si pedagang nasi goreng.


"Maaf, Pak."  ucap Sean sambil menyerahkan lembaran uang seratus ribuan.


"Ini uangnya terlalu banyak, Mas." ucap pedagang itu jujur.


"Gak apa-apa, Pak. Rezeki buat keluarga Bapak. Sekali lagi maafkan saya, Pak."


Sean berlalu meninggalkan pedagang itu, memasuki mobil besarnya. Dengan menahan amarah, Sean menatap Megi dengan sinis.


Sementara Megi menahan diri agar tidak menangis, menahan agar tidak terlihat cengeng di hadapan Sean.


Siapa sangka menahan tangisannya membuat Megi batuk dan tersedak. Matanya memerah dan mengeluarkan air karena perih di tenggorokan yang ia rasakan.


Megi tak sempat meminum air karena amarah Sean yang sudah meluap duluan. Semakin di tahan, semakin sakit rasanya.


"Megi, lu kenapa?" tanya Sean yang melihat Megi batuk dan tak berhenti sedari tadi.


"Aku butuh minum, kak." setengah mati Megi menahan perih di tenggorokannya.


Dengan cepat Sean melajukan mobilnya, mencari kios kecil di pinggir jalan. Sean berlari keluar saat menjumpai kios di sudut persimpangan, dengan cepat Sean berlari kembali dan menyerahkan sebotol air.


"Bentar ya, gue belum bayar airnya." Sean kembali berlari menuju kios kecil tersebut.


Setelah meminum sedikit air, Megi tersenyum simpul, melihat Sean yang mondar mandir berlari dengan gaya coolnya.


Sedikit banyaknya Sean menaruh perhatian padanya, dan itu cukup untuk membuat Megi kembali bahagia.


Sean keluar dengan sebatang rokok di bibirnya, menghisap lalu mengepulkan asap dari dalam mulutnya, berjalan santai sesekali ia menyisir rambut gondrongnya ke belakang.


Sean menginjak batang rokoknya sebelum masuk kembali ke dalam mobil.


"Durhaka elu kan sama gue? makanya jangan ngomel aja." celetuk Sean pedas.


"Kakak kok jahat banget sih ngomongnya?"


"Siapa suruh lu ngomelin gue terus, kenak azab kan elu?"


"Ih kakak nyumpahi aku?" ucap Megi keras.


"Gue cuma bilang, bukan nyumpahi."

__ADS_1


"Itu sama aja kakak nyumpahi aku, dasar singa bengis."


Sean memutar bola matanya malas, tak ingin berdebat oleh gadis kecil ini lagi. Perkataannya sudah cukup sadis tadi, cukup membuat Sean berpikir keras.


Sean meninggalkan Megi dan berlalu masuk kedalam kamar. Ia menghempaskan badannya kasar diatas kasur. Sean menutupi dahinya dengan lengan tangannya, satu persatu ucapan Megi kembali terngiang di telinganya.


Sean tau apa maksud dari ucapan Megi, tapi memafkan tak semudah berbicara. Ada luka dalam yang di goreskan Rayen di hatinya. Bagaimana ia sanggup melupakan ini semua.


Rayen bahkan tak pernah mencoba menjelaskan masalahnya. Hati Sean terlalu keras, ia belum sanggup untuk melupakan segala kesalahan Rayen. Rayen harus menebusnya, walau sebenarnya Sean sendiri tak tahu dengan cara apa Rayen harus menebusnya.


Sean terjaga sepanjang malam karena ucapan Megi, sebenarnya ia pun lelah menghadapi situasi ini. Pertentangannya dan Rayen menghabiskan seluruh energinya.


Tapi semua masalah ini tak semudah yang di lihat orang lain, banyak korban dari keegoisan mereka berdua. Imbas yang paling banyak merasakan semuanya adalah, Miranda.


Sean memutuskan untuk kembali ke rumah Miranda sebelum fajar menyingsing. Ia memarkirkan motornya asal di halaman rumah.


Kembali kerumah ini membuat hati Sean kembali meradang. Tapi kali ini dia lebih memilih untuk mengalah pada egonya. Mencoba mengerti hati Miranda. Sebelum ia benar-benar kehilangan Miranda, Sean ingin membahagiakan wanita yang sudah melahirkannya itu.


Berjam-jam Sean duduk termenung di kursi teras mewah milik Rayen. Sampai matahari mulai menyapa hangat tubuhnya, seorang pengurus rumah yang sudah bekerja bahkan lebih lama dari umur Sean keluar.


"Ya ampun, Mas. Kenapa duduk disini? sejak kapan mas Sean disini?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir keriput wanita tua itu.


"Dari jam 2 malam, Mbok. Gue gak mau banguni orang di dalam." ucap Sean tanpa melihat mbok Siti.


"Mama udah bangun, Mbok?" tanya Sean keluar dari jalur.


"Oh nyonya, mungkin lagi di kamarnya, Mas! tadi sudah turun masak, tapi sekarang mungkin sudah di kamar lagi."


"Apa Rayen gak pulang?"


"Itu, Tuan lagi sakit, Mas. Dua hari gak bangun."


Sean mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataan wanita tua itu. Sean bangkit dan membuka sedikit pintu kamar Miranda.


Matanya menangkap kejadian yang mungkin sudah luput dari pandangannya. Dengan sabar Miranda menyuapi bubur ke dalam mulut Rayen. Menghapus sisa makanan menggunakan tangan halusnya.


Sean menggeleng dan kembali menutup pintu kamar Miranda. Ia menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar Rena. Rena masih terpejam diatas kasur empuknya.


Sean duduk di sudut bibir ranjang Rena, tangannya meraih dahi Rena. Seandainya Rena yang berada diposisi Megi, apa yang akan dilakukannya?


Apakah Rena memilih bertahan, atau menyerah pada keadaan. Saat merasakan sebuah sentuhan tangan, Rena mulai membuka matanya, ia sedikit terkejut melihat Sean duduk di sampingnya.


"Sean." Rena langsung duduk diatas kasurnya.

__ADS_1


"Tumben lu pagi-pagi ada disini?" sambungnya.


"Ren, apa yang lu pikirin tentang gue dan Rayen?" tanya Sean lembut.


"Lu salah minum obat ya? kenapa lu pagi-pagi udah nanya gitu?"


"Gue cuma berpikir, apa selama ini gue terlalu cuek sama elu?"


"Sean, lu aneh tau gak?" ucap Rena bingung.


"Apa lu gak pingin kita sama-sama lagi, Ren? seperti saat-saat elu dan gue masih sering berantem karena rebutan permen! atau elu dan gue yang sering makan dalam satu piring yang sama." ucap Sean parau.


Matanya menatap kosong keluar jendela, mengingat hal-hal manis yang pernah tercipta saat mereka hidup didalam rumah sederhana. Saat itu Rayen masih bekerja di perusahaan swasta. Menjadi seorang manager dan masih sering menghabiskan waktu bersama dirumah.


"Kenapa lu ngomong gitu, Sean?"


"Lu gak lihat Ren? saat ini kita kaya, tapi hidup kita terpisah-pisah. Apa lu bahagia seperti ini? jujur gue gak."


Rena mulai kembali mengingat masa dimana ia dan Sean masih sering bermain bersama. Sean yang sudah sekolah dan ia yang masih belum, harus sabar saat menantikan Sean pulang sekolah. Membawakan jajanan sisa uang saku Sean.


Perlahan buliran air mata Rena mulai mengalir deras, ia sempat punya kakak yang sangat baik. Bahkan pernah saat itu, Sean memberikan sandalnya, saat sandal Rena putus dan aspal saat itu panas karena teriknya matahari.


Atau Sean yang sering menggendong ia di punggung belakangnya saat pulang sekolah, karena jarak tempuh yang jauh dari rumah. Rena sering kelelahan, dan Sean lah yang membantunya berjalan.


Perlahan pengorbanan Sean saat masih kecil mulai terputar diotak Rena. Tanpa butuh waktu lama, Rena sudah nangis sesegukan. Kemana larinya semua kenangan manis itu? kenapa saat ini mereka terpecah belah tanpa ampun.


Rena memeluk badan besar milik Sean. Ia menumpahkan segalanya disana, seperti sudah sangat lama, kakaknya tidak pulang kerumah. Ia sangat rindu dengan kehadiran kakaknya.


Kemana selama ini Sean pergi, mereka sangat dekat tapi kenapa serasa ada jarak yang tak mampu mereka tempuh. Sean selalu ada di bayangan mata Rena, Sean ada disini bersama mereka. Namun Sean seperti jauh menghilang, Sean seperti orang lain yang sangat asing buat mereka.


"Kenapa elu ingeti gue masa-masa itu kak?"


"Karena gue gak mau kehilangan kalian lagi, gue gak mau kehilangan keluarga ini, Ren."


"Tapi keluarga kita sudah hancur tak beraturan kak. Hanya tersisa kenangan manis saat ini."


"Gue janji akan membalikan semuanya, Ren. Gue akan mengalah demi elu dan Mama."


"Percuma kak. Semuanya udah hancur, gak ada lagi yang bisa kita perbaiki, biarin aja semuanya begini. Biarin aja kita semua hancur bersamaan."


"Kenapa lu ngomong gitu, Ren? kita bisa, gue dan elu bisa membalikan keadaan ini."


"Lu gak lihat? gak ada yang tersisa dari kehancuran ini? bahkan puing-puing kehancuran ini pun tak ada sisa, kak."

__ADS_1


"Saat gue bilang, bisa. Maka semua akan bisa, lu lihat aja nanti." Sean mencium dahi Rena dan keluar dari kamar Rena.


__ADS_2