
Shenina membuka pintu kamar penginapannya, sudah ada Evgen yang berdiri di balik pintu dengan tersenyum lembut.
"Ayo masuk!" perintah Shenina lembut.
Evgen mengikuti langkah Shenina dan memeluk badan gadis itu dari belakang. Melingkari kedua tangannya di perut ramping gadis itu.
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi begini sudah sok romantis saja?" tanya Shenina tersenyum lembut.
"Gue sudah lihat ramalam cuaca hari ini. Tidak ada hujan salju ataupun badai salju," jawab Evgen lembut.
"Hem, hanya sebuah ramalan. Bagaimana kalau tidak benar?"
"Kalau tidak benar?" Evgen menghela napasnya dan meletakan ujung dagunya di atas pucuk kepala Shenina.
"Kan ada gue yang akan selalu menghangatkan elu."
Shenina tersenyum lembut dan menundukan pandangan matanya. Tersipu malu mendengar ucapan lelaki angkuh itu.
"Eh ... Gue sudah buat sarapan, ayo makan dulu." Tarik Shenina ke depan meja makan.
Evgen melihat menu yang tersaji di atas meja. Padahal ia membelikan bahan makanan yang bagus. Namun Shenina masih saja memasak makanan sederhana.
Kesederhaan dalam diri gadis inilah yang membuat ia berulang kali jatuh cinta pada Shenina.
"Ayo dimakan! Kenapa hanya dilihati saja?" tanya Shenina bingung.
"Baiklah," jawab Evgen semangat.
***
Shenina melemparkan makanan kepada puluhan burung merpati yang berada di lapangan tengah kota. Sedikit melompat saat tangannya menyebarkan makanan untuk para burung jalanan itu.
Shenina tertawa kecil, menikmati permainannya dengan para merpati itu. Sesekali ia melompat, mengejutkan burung itu agar mereka segera terbang.
"Evgen! Ayo sini!" panggil Shenina lembut.
Evgen menggelengkan kepalanya, ia masih asyik duduk sambil memandangi gadis itu bermain.
Shenina tersenyum manja, berjalan mendekati Evgen yang masih asyik duduk di bibir jalan sambil memandangi dirinya.
"Kenapa gak mau ikut main?" tanya Shenina lembut.
"Ngapain gue main sama burung? Gue juga punya burung," jawab Evgen asal.
Seketika wajah Shenina memerah, ia menjadi salah tingkah. Melirik ke arah Evgen, lalu tersenyum tipis.
"Ada apa?" tanya Evgen saat melihat ekspresi Shenina yang sedikit aneh.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Wajahnya mulai memadam, tersipu malu sendiri.
"Jangan-jangan elu mikiri yang macam-macam ya?" tuding Evgen tepat sasaran.
"En-enggak!" sanggah Shenina cepat.
"Jadi kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Evgen kembali.
"Gak ada, gue hanya suka saja lihat burung-burung itu," jawab Shenina seadanya.
"Burung yang mana?" goda Evgen pada gadis itu.
"Burung mana? Ya burung merpatilah," jawab Shenina malu.
"Benarkah burung merpati?" tanya Evgen sambil menhedipkan sebelah matanya.
Shenina menyunggingkan sebelah bibirnya, kembali ia tersenyum geli. Entah apa yang saat ini ia pikirkan.
Evgen ikut tersenyum dan mengelus pucuk kepala Shenina. Memberikan sebotol air ke gadis yang ada di sampingnya itu.
"Lu gak mau foto? Pergi sana, biar gue foto elu dari sini," ucap Evgen lembut.
Shenina menganggukan kepalanya, ia kembali berjalan ke tengah perkumpulan merpati itu.
Merentangkan kedua tangannya, bergaya untuk difoto. Evgen menggelengkan kepalanya, melihat tingkah polos gadis itu semakin membuat ia jatuh cinta.
Evgen bangkit dan kembali melanjutkan perjalanan mereka. Menyusuri jalanan London sambil bermain, dan sedikit bercanda.
Berfoto di beberapa tempat, sampai langkahnya terhenti di depan bianglala raksasa, London Eye, sesuatu yang menjadi impian Shenina selama ini.
__ADS_1
"Wah ... ternyata mata London seperti ini," ucap Shenina riang.
Evgen melirik ke arah gadis itu, bibirnya ikut tersenyum saat melihat wajah gadis itu tersenyum.
Ia tidak tahu, apa menariknya London eye itu. Sampai-sampai gadis ini begitu takjub saat memandangi bianglala raksasa itu.
"Mau coba naik?" tanya Evgen lembut.
Shenina menggelengkan kepalanya, ia menghela napas dan meletakan kedua ujung sikunya di atas pagar.
"Itu terlalu besar, gue gak berani," jawab Shenina malu.
"Lagian ada gue, kenapa elu harus takut?"
"Walaupun ada elu, tetap saja elu gak bisa terbang kalau seandainya London Eye bermasalah," jawab Shenina takut.
Evgen melepaskan tawanya, memasukan kedua tangannya di dalam saku jaket.
"Yah ... sayangnya gue manusia. Gue bukan malaikat yang punya sayap. Seandainya gue punya sayap sekalipun, gue akan tetap milih berjalan kaki," ucap Evgen sembari menatap bianglala raksasa itu.
"Kenapa?"
"Karena kalau gue bisa terbang--" Evgen mengeluarkan satu tangannya.
Meraih jemari Shenina, menggenggamnya erat. Memasukan tangan Shenina ke dalam saku jaket tebalnya.
"Gue belum tentu bisa mengenggam jemari elu seperti ini," sambung Evgen lembut.
Shenina tertawa dan menggelengkan kepalanya. Entah sejak kapan lelaki ini mempuanyai keahlian mengarang kata-kata gombal.
"Dasar gombal," jawab Shenina tersipu malu.
"Ayo duduk di situ," ajak Evgen lembut.
Evgen menarik tangan Shenina, mendudukaan gadis itu di kursi santai yang ada di pinggir taman.
Tanpa sengaja, mata Evgen teralih pada tali sepatu gadis itu. Ia menghela napas dan mulai berjongkok.
Berlutut di depan Shenina, untuk mengaitkan kembali tali sepatu milik gadisnya ini.
"Kan ada elu yang selalu jagain gue," jawab Shenina lembut.
Evgen menghela napasnya dan ikut duduk di samping Shenina.
"Shen, gue gak bisa selalu ada di sisi elu lagi mulai saat ini. Jagalah diri elu baik-baik, karena setelah pulang dari London. Elu harus bisa mengandalkan diri sendiri. Jangan ceroboh seperti ini, atau enggak elu akan merepotkan banyak orang nantinya."
Shenina menundukan pandangannya, ia sadar kalau kebahagiaan ini juga akan berakhir cepat atau lambat.
Walau sebenarnya ada rasa tak rela, namun ia juga tidak bisa bertahan lebih lama.
Shenina tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Memandang kosong ke depan.
Sedang, bola mata Evgen tidak pernah lepas memandangi gadis itu. Melihat wajah Shenina yang mungkin akan sangat ia rindui nanti.
Evgen menarik kepala Shenina, memeluk badan gadis itu erat.
"Shenina, gue mungkin gak akan kembali dalam waktu lima tahun. Jika ada lelaki yang bisa mencintai elu dengan tulus. Maka jangan tunggu gue, gue gak akan marah jika elu menikah lebih dulu," ucap Evgen lembut.
Ia semakin menguatkan dekapannya pada tubuh gadis mungil itu. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia takut kehilangan, namun ia juga tidak mampu untuk menahan. Shenina punya jalan hidupnya sendiri. Mana mungkin ia bisa menahan Shenina agar menunggu dirinya seorang.
"Evgen, bukannya waktu kita gak banyak ya di sini? Saat ini gue gak ingin memikirkan apapun dulu. Hanya ingin menikmati waktu saat bersama dengan elu."
Evgen menghela napas dan meleraikan pelukannya. Meraih kedua belah pipi gadis itu.
"Baiklah, karena elu sudah mengatakan ini. Ayo kita mulai mengukir bahagia hari ini." Evgen menarik tangan Shenina dan berlari menyusuri jalanan kota.
"Tunggu dulu, Evgen. Pelan sedikit!" teriak Shenina saat berlari mengikuti langkah Evgen.
"Ayo jangan lemah, kita masih harus mengunjungi beberapa tempat sebelum malam," ucap Evgen sambil berlari.
Evgen berhenti di depan sebuah gerobak makanan yang berada di Borough Market, ia mengambil salah satu makanan itu dan memberikannya ke Shenina.
"Coba ini," ucap Evgen menyodorkan daging panggang ke mulut Shenina.
"Tenang, ini halal kok. Dari daging bebek," sambung Evgen lembut.
__ADS_1
Shenina mulai membuka mulutnya, menggigit ujung daging panggang tersebut.
Ia mengernyitkan dahinya, mukanya langsung memerah padam saat merasakan gigitan daging itu.
Evgen tertawa terbahak, lucu melihat wajah Shenina yang memadan karena menahan pedas.
"Evgen, gue butuh air," pinta Shenina sambil mengibaskan tanganya di depan bibir.
Evgen mencoba menghentikan tawanya, membukakan penutup botol air dan meminumkannya ke Shenina.
"Mau makan lagi?" tanya Evgen menggoda.
Shenina menggelengkan kepalanya, menarik lengan tangan Evgen untuk mengunjungi penjual makanan yang lainnya.
Shenina mengambil sebuah sandwich daging, tetapi dengan cepat Evgen menahan tangan Shenina.
"Jangan! Kalau di sini gak bisa sembarangan. Roti isi itu, dagingnya bukan daging sapi. Kita pergi ke tempat yang lain saja, ayo." Tarik Evgen kembali.
Shenina hanya mengangguk, ia kembali mengikuti langkah Evgen yang berjalan keluar dari area Borough market tersebut.
Evgen menyodorkan sebuah es krim ke hadapan Shenina. Ikut duduk setelah seharian memutari kota London hari ini.
"Gue pikir, saat musim dingin seperti ini tidak ada es krim yang dijual."
Evgen tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Memang salju bisa dimakan? Dingin es krim dan salju itu berbeda, Shenina."
"Iya, gue kan gak tahu. Gue juga baru sekali ini keluar negeri."
"Ehm, bicara soal ini. Kenapa elu bisa pergi ke sini? Lalu Seta bagaimana?" tanya Evgen penasaran.
Shenina menjatuhkan kepalanya di atas bahu Evgen. Menikmati es krim yang ada di tangannya saat ini.
"Seta mungkin sama Kakak elu, karena gue ke sini juga ide Kakak elu sih," jawab Shenina jujur.
Sedikit kecewa oleh jawaban yang diberikan oleh Shenina. Evgen melirik gadis itu dan tersenyum kecut.
Mungkin ia yang berpikir terlalu banyak, mau di pikirkan seperti apapun, tidak mungkin Shenina akan menyusul dirinya tanpa ada dorongan orang lain.
"Jadi ... kalau kak Rezi gak nyuruh elu ke sini. Elu gak akan ke sini?" tanya Evgen kecewa.
"Kalau bukan Kakak elu yang ngasih tiket. Gue mana punya uang buat menyusul elu ke sini. Mau gue kerja lima tahun tanpa makan juga belum tentu cukup," jawab Shenina sendu.
"Jadi, kalau kak Rezi gak beliin elu tiket. Apa yang akan elu lakuin saat ini?"
Seketika Shenina mengangkat kepalanya, ia mamandang wajah Evgen yang berubah dingin seketika.
"Mungkin gue cuma bisa nangis dan menyesali keadaan. Kenapa dulu gue gak berusaha menahan elu, dan malah biarin elu pergi dari sisi gue."
Evgen tersenyum lembut, ia mengeluarkan sebuah syal leher dari dalam jaketnya.
"Gue beli ini untuk elu," ucap Evgen sambil melilitkan syal berwarna dongker itu ke leher Sheina.
"Biar elu gak mati kedinginan di sini," sambung Evgen bercanda.
Shenina tertawa kecil, ia merapikan rambutnya dan memandang wajah Evgen dengan lekat.
"Evgen," panggil Shenina lembut.
"Kenapa?"
Shenina memainkan satu jarinya, meminta agar wajah Evgen mendekat kepadanya.
Evgen menaikan sebelah alis matanya, masih tidak memahami isyarat yang diberikan oleh gadis itu.
"Apa?" tanya Evgen kembali.
"Sini," ucap Shenina memainkan satu jarinya.
Perlahan Evgen mendekatkan wajahnya, sebuah ciuman mendarat di pipi putih lelaki itu.
Evgen tersenyum lebar, menatap wajah gadis yang ada di sampingnya itu.
"Tumben elu mau nyentuh gue duluan?" tanya Evgen senang.
"Karena saat ini gue sadar, kalau gue tetap bertahan pada keangkuhan. Maka selamanya, elu hanya akan menjadi sebuah kisah yang terlewatkan."
__ADS_1