Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 67


__ADS_3

Sean terduduk di kursi penunggu, belum sebulan Megi tersadar, masak iya Megi harus tertidur lagi. Sean kembali mengacak rambut gondrongnya, sudah cukup. Ia sudah tidak punya kesabaran lagi untuk menghadapi ini.


"Mas, di panggil Dokter Valen di ruangannya." Suara seorang suster memanggilnya.


"Baik," ucap Sean pasrah.


Sean menghela nafasnya, langkahnya gontai berjalan menuju ruangan Dokter yang memeriksa keadaan Megi.


"Apa Megi melihat sesuatu?" tanya Dokter itu sesaat setelah Sean duduk di hadapannya.


"Saya gak tau, Dok. Tapi tadi dia minta berhenti di tempat ia kecelakaan. Itu yang membuat ia histeris," jawab Sean lemas.


"Megi punya trauma otak yang mendalam. Banyak berdoa semoga keadaannya tidak memburuk."


"Apa Megi akan kembali koma, Dok?"


"Kita tunggu saja. Semoga tidak."


Sean mengangguk pasrah, ia berjalan gamblang keluar dari ruang konsultasi. Ponselnya berdering kuat, Sean mengangkatnya tanpa membaca namanya.


"Bos, gak jadi datang?"


"Handle aja Farrel, gue gak bisa datang."


"Baik, Bos."


Sean memasukan kembali gawainya ke kantong jeans, namun kembali gawainya berdering keras. Dengan mendecak kesal Sean mengangkatnya kembali.


"Ada apa lagi, Farrel?" tanyanya kesal.


"Sean ini Mama, Nak. Kamu dan Megi dimana sayang? kenapa apartemennya kosong? seharusnya hari ini kalian pulang kan? kalian belum sampai?" Sederet pertanyaan keluar dari bibir Miranda.


Mendengar ucapan Miranda membuat bibir Sean kelu. Ia menyesali, seandainya ia tidak menuruti Megi, mungkin saat ini keadaan dia masih baik-baik saja.


Mungkin jika dia tidak kembali ke jalan itu, mungkin Megi tak akan kembali terbaring lemah.


"Sean, kamu dengar Mama, Nak? Mama di depan apartemen kalian."


Sean masih terlarut pada pikirannya, seharusnya Megi sudah berada di apartemen saat ini. Seandainya dia lebih tegas pada Megi, mungkin ini tak akan kembali terjadi.


"Sean, Hallo ...!"


"Iya, Ma. Sean dengar," jawab Sean pasrah.


"Kenapa diam saja, Nak? kamu dimana?" tanya Miranda.


"Sean dirumah sakit, Ma. Megi ngedrop lagi," ucap Sean gamblang.


"Astagfirullah ... Mama kesana, Nak." Miranda langsung Mematikan ponselnya.


Sean hanya terduduk lesu, pemandangan ini kembali menghiasi matanya. Sean hanya mampu menghela nafas panjangnya.


Tak lama berselang Miranda datang dan duduk mendekat ke Sean.


"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Miranda cemas.


"Tolong jangan tanya apapun, Ma."


Sean memegang dahinya, pikirannya berkecamuk saat ini. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini.


Setelah lebih dari satu jam menunggu, akhirnya ketakutannya berakhir. Megi kembali membuka matanya.


Senyum Sean kembali terukir, Sean membuka pintu kaca UGD dan mendekat keranjang Megi.


Sean mengambil jemari Megi dan duduk di sisi Megi. Sean meletakan jemari Megi di salah satu pipinya.


"Syukurlah, Meg," ucap Sean sambil mengecup jemari Megi.

__ADS_1


"Aku, sakit lagi ya, Kak?" tanyanya sambil memegang dahi.


"Tolong jangan pikiri apapun dulu, Meg," ucap Sean kalut.


Megi hanya Menurut, tapi ia berusaha kembali mengingat terakhir sebelum ia bisa disini.


Tak perlu menahan sakit lagi, kini Megi mengingat kejadian terakhir kali yang membawa ia kesini.


Bersamaan itu, Megi kembali dirawat inap. Mau tak mau, Sean harus kembali memindahkan kantornya ke bangsal Megi lagi.


Keadaannya kembali lemah, walaupun saat ini memorinya sudah kembali tertancap kuat. Megi mulai kembali pada kebiasan-kebiasannya dulu.


Tiga hari Megi dirawat pasca kejadian terakhir kali. Kini rasa bosan mulai menyerangnya. Tak ada ponsel ataupun hal lainnya yang menemani ia saat ini. Sedangkan Sean sudah pergi dari pagi dan belum kembali.


Megi memutuskan untuk keluar dari kamarnya, mencari udara segar dari taman rumah sakit. Megi kembali ceria, ia kembali bermain dengan anak-anak yang memakai baju sama sepertinya.


Sean bersiul sambil melangkahkan kakinya menuju bangsal Megi. Sesekali ia melemparkan kunci motornya keatas dan menangkapnya kembali. Sekedar menghibur diri agar tetap waras pada kegilaan ini.


Sean membuka pintu kamar Megi, namun matanya tak menemukan gadis yang ia cari.


"Megi," panggil Sean saat memasuki bangsal Megi, tak mendapatkan jawaban dari Megi, Sean berjalan memutari bangsal. Mencari ke kamar mandi dan juga balkon. Namun Megi tak ada di setiap sudut ruangan manapun.


"Kemana Megi? kenapa ia kabur-kaburan seperti biasanya." Sean berjalan memutari koridor, tak di temukannya Megi di setiap sudut koridor.


"Sus, lihat Megi?" tanya Sean saat salah satu suter disana melintas di depannya.


"Oh ... tadi ditaman," jawab suster itu langsung.


Memang seluruh porsonil rumah sakit telah mengenal Megi. Bagaimana tidak, Megi dirawat hampir setengah tahun dirumah sakit ini.


Sean langsung berlari kesudut rumah sakit, nafasnya terdengar lega saat melihat punggung Megi. Perlahan ia mendekati Megi. Saat Megi menolehkan pandangannya, Sean berlari memeluk Megi yang berada di tengah taman.


"Ada apa, Kak?" tanya Megi sambil melepaskan pelukan Sean.


"Jangan pernah buat gue cemas lagi, Megi," ucap Sean getir.


"Aku bosen di kamar, kak, lagian aku sudah sehat," bela Megi dengan tersenyum selebar mungkin, membentuk lesung di kedua sudut bibirnya.


Sean hanya mengangguk, kembali melihat lesung itu terbentuk membuat perasaan Sean tenagn. Ia melemparkan bokongnya di bangku taman. Sementara Megi masih bermain bersama penghuni dari rumah sakit lainnya.


Membacakan dongeng cerita pada anak-anak kecil yang sedang dirawat inap. Sean menghela nafasnya, ia seperti melihat Megi hidup kembali. Megi seperti sudah kembali pada tabiatnya, bersinar dan memancarkan cahaya pada orang lain.


Senyumnya terlihat lebih indah dari sebelumnya, melebar dengan sepanjangnya. Sesekali Megi melihat kearah Sean yang terus memandangnya dari jarak lima meter.


Megi melihat Sean, ia menggerakan kepalanya seperti bertanya ada apa, Sean hanya menggelengkan kepalanya.


"Mau pada aku nyanyiin lagu gak?" tanya Megi saat tangannya menutup dongeng.


Pertanyaannya disambut antusias oleh para pendengar setianya.


"Suruh kakak itu carikan gitar, cepat."  Megi menunjuk kerah Sean.


Sean menaiki sebelah alis matanya, ia bangkit tanpa banyak bicara. Lima menit, sepuluh menit, Sean belum kembali juga. Setelah tiga puluh menit ia datang dengan gitar baru ditangannya.


"Lama banget sih, kak!"


"Soalnya gak ada yang buang gitar, yang ada dijual. Lu suruh gue nyari apa beli?" jawab Sean ketus.


Megi hanya memutar bola matanya malas, entah kenapa, Sean merasa kali ini sikap Megi berbeda, ia seperti kembali pada Megi yang dulu.


Megi mulai memetik senar gitarnya, ia seperti menyetel satu persatu senarnya. Setelah beberapa lama, petikan nada sendu mulai terdengar.


Sean hanya membuang pandangannya dari perkumpulan anak-anak itu. Ternyata kehilangan ingatan tak membuat ia kehilangan keahlian.


Angin bertiup sendu, membawa rambut Megi terbang, poninya sudah panjang, saat tertiup angin poninya menutupi sebagian wajah Megi.


Sean masih memandang kosong kesisi jalan. Hanya mendengar sekilas permainan gitar Megi.

__ADS_1


'Kemarin engkau masih ada disini...'


Satu bait lagu kemarin dari seventeen yang dinyanyikan Megi membuat Sean memalingkan pandangannya. Kenapa saat ini dia terlihat seperti Megi yang bernyanyi di taman rumah sakit saat itu.


Gayanya, cara bermain gitarnya, suaranya. Masih seperti Megi yang lama. Sean memandang wajah Megi yang tertutup poninya sebagian. Matanya memandang lekat, mencoba mengingat kejadian silam dan hari ini.


'Kemarin dunia terlihat sangat indah...'


'Dan denganmu merasakan ini semua...'


'Melewati hitam putih hidup ini...'


'Bersamamu ... Bersamamu...'


Bait lagu itu semakin mengingatkan Sean akan Megi yang dulu, perlahan Sean berjalan mendekati Megi. Melihat dengan jelas wajah Megi yang tertutup poninya.


'Kini ... Sendiri disini ... Mencarimu, tak tahu dimana...'


Sean mendengar suara Megi mulai sumbang, iramanya terdengar sangat menyimpan luka. Sama persis dengan kejadian sekitar sepuluh bulan yang lalu.


'Aku ... selalu mengingatmu ...


Doakanmu, setiap malamku, semoga tenang kau disana ... selamanya...'


Sean menarik gitar yang di pegang Megi. Sontak Megi melihat kearah Sean, wajahnya yang tertutup poni terlihat. Ada bening bulir di pipi Megi.


"Untuk siapa lagu ini?" tanya Sean dengan mata tajamnya.


"Untuk Papa, Kak."


"Papa?" Sean menaiki sebelah alis matanya.


"Aku rindu Papa, kak. Tapi aku gak tahu mau mencari Papa dimana." jawab Megi getir, bibirnya bergetar karena menahan tangis.


"Megi." Sean membanting gitar yang baru ia beli, manarik tubuh Megi dan memeluknya erat.


"Lu ingat sekarang?" ucap Sean menahan tangis.


"Ingat kak. Aku ingat semuanya."


Sean meleraikan pelukannya, dia memandang wajah Megi lekat. Di hapus buliran yang menetesi pipi Megi.


"Kenapa harus begitu lama, Meg? Kenapa harus begitu lama gue menunggunya?" ucap Sean lirih.


"Semua butuh waktu, Kak. Semua butuh proses."


"Tapi prosesnya terlalu menyakitkan buat gue, Meg. Gue gak bayangin apa yang akan terjadi kalau ingatan elu gak balik."


"Tapi aku yakin, semua ini adalah doa dan kerja keras kakak." Megi tersenyum simpul dan memeluk tubuh Sean.


"Terimakasih, Kak."


Megi meletakan wajahnya di dada bidang Sean. Terdengar nafas Sean yang begitu leganya, bibirnya tersenyum lebar. Seperti kehilangan beban yang ia pikul dengan sangat berat selama ini.


Setelah sekian menit Sean meleraikan pelukan Megi. Megi memandang wajah Sean bingung.


"Jangan lama-lama peluknya!" ucap Sean kembali ketus.


"Kenapa kak?"


"Lu lupa? gue pacar elu bukan suami elu, jadi belum halal."


"Apaan sih, Kak." Megi mencubit dada bidang Sean.


"Betul kan gue bilang, lu bakal nyesel sama permintaan elu kemarin."


"Itu kan karena aku gak ingat, Kak."

__ADS_1


Sean mengelus kedua pipi Megi lembut. Tak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Yang pasti ia lega, semua doanya terkabul, bahkan apa yang dirancang oleh Tuhan jauh lebih indah dari apapun.


__ADS_2