Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
72


__ADS_3

Soraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ditemani cahaya kuning lampu jalanan dan desiran suara angin malam.


Ia mendekap tubuhnya sendiri, saat angin memperkenalkan rasa dingin pada tubuhnya.


Soraya menunggu tanpa lelah, matanya menatap nanar ke balik kaca cafe. Dengan menahan cairan yang ingin turun, ia hanya terdiam di tempat ia berdiri.


Menit kemudian, lelaki dan seorang gadis keluar dari dalam cafe. Soraya membalikan badannya dan berjalan menjauh.


"Soraya tunggu!" tahan pria yang baru keluar dari cafe itu.


Soraya menghempaskan tangan yang menyentuh pundaknya. Ia berbalik untuk menatap wajah pria yang sedari tadi ia pandangi dari luar.


"Cukup! Aku lelah, Ari. Lelah dengan semua ini," ucap Soraya pahit.


"Apa akhirnya kamu menyerah? apa akhirnya kamu merasakan apa yang aku rasakan selama bertahun-tahun, Soraya?" tanya pria itu sengit.


"Aku tahu aku salah, tapi sikapmu selama ini bahkan lebih buruk dari kesalahan aku, Ari," balas Soraya lembut


Pria itu tersenyum sinis dan membuang pandangannya ke sisi kosong. Ia menghela napas dan kembali menatap Soraya di depannya.


"Benarkah? Lebih buruk?" tanya pria itu sengit, "benarkah apa yang aku lakukan lebih buruk?!" bentak pria itu lantang.


Seketika Soraya memejamkan matanya, air mengalir dari kelopak matanya yang tertutup karena terkejut.


"Soraya, selama bertahun-tahun aku menunggu hatimu. Pernahkah kamu melihatku jika tidak ada Rezi? Pernah?" tanya Ari meradang.


"Soraya Mikaila, gadis berhati lembut dan berwajah anggun. Pernahkah kamu memandang lelaki, selain Rezi? Pernah?" tanyanya kembali, lantang.


Ari menepuk dadanya dengan sedikit kuat, mencoba untuk meluapkan beban yang selama ini berusaha ia tahan.


"Aku, aku, aku Soraya!" teriaknya keras.


"Aku yang berada di hadapanmu, tapi matamu selalu beralih ke arah belakangmu. Aku yang selalu berada di sampingmu. Tapi tanganmu selalu merangkul bahu Rezi yang hanya bayangan semu untukmu. Selain Rezi, pernahkah kamu melihat aku? Ari, aku Ari, Soraya! Selamanya aku adalah Ari, tak akan bisa menjadi Rezi."


"Iya, benar! Benar jika aku hanya melihat Rezi sebagai lelaki, benar jika aku terus merangkulnya walaupun ada kamu di samping aku. Tapi, Ari, pernahkah kamu sadari? Selama bertahun-tahun aku ingin memulai sesuatu yang baru denganmu, tapi sifat dan kelakuanmu terus membuat aku muak padamu," balas Soraya pahit.

__ADS_1


Ari tersenyum kecut, ia mengacak rambutnya. Kenapa selalu lelaki yang bersalah dalam hal seperti ini.


"Benarkah? Jadi selama ini kamu ingin memulai? Jadi kenapa kamu gak berusaha memperbaiki?" tanya Ari lantang.


"Apa yang harus aku perbaiki? Apa yang harus aku mulai? Jika kamu terus bersikap seperti ini? Dari pada memulai, maka lebih baik mengakhiri!"


"Soraya, beginikah? Beginikah caramu memperlakukan aku? Apa harus selalu seperti ini?" tanya Ari ketus.


"Bagaimana aku memperlakukanmu, itu tergantung bagaimana sikapmu padaku."


Ari mengatupkan rahangnya, ia benar-benar terlahap api amarah saat berhadapan dengan gadis cantik ini.


Ari mencengkeram kedua ujung bahu Soraya. Menatap wajah Soraya dengan tajaman matanya.


"Soraya, aku benar-benar muak. Muak menjadi bayangan Rezi, dan muak bertahan dalam ilusi. Aku muak melihatmu disini." Ari menghempaskan badan Soraya.


Badan Soraya seketika terhuyung dan hampir terjatuh. Sepasang tangan meraih badan ramping Soraya sebelum ia tersungkur jatuh ke tanah.


"Hey, Bro. Kita ini lelaki, beginikah caramu memperlakukan wanita?" tanya pria itu dingin.


"Apa urusan dia, jadi urusanku juga. Bukan begini cara menyelesaikan masalah."


"Oh jadi kamu sudah mendapatkan lelaki baru? Oh bukan, bayangan yang baru? Benarkan, Soraya?" tanya Ari dengan nada mengejek.


Soraya mengenggam ujung bajunya, ia berniat melangkah kedepan. Namun sebuah tangan terbentang menghalau langkahnya. Mencoba melindunginya dibalik punggung besar pria tinggi itu.


"Ayolah teman, kita ini lelaki. Jangan bersikap seperti pecundang di depan wanita cantik ini," ucap pria itu ketus.


"Siapa yang temanmu? aku gak sudi menjadi temanmu. Jika kamu ingin dia, maka ambillah, aku bukan bayangan yang butuh tubuh untuk berjalan."


Pria itu menggeratakan giginya, menahan amarah yang ingin tumpah saat wanitanya di lukai oleh lelaki berhati dingin yang ada di hadapannya itu.


"Oh, begitukah? Kalau begitu, kelak jangan pernah dekati dia walau sejengkalpun. Aku melarangmu, walaupun kamu hanya memikirkannya!"


Bugh

__ADS_1


Satu tinjuan menghantam wajah milik lelaki bernama Ari itu. Sebuah kepalan tangan kembali menuju kewajah tampannya. Menghantam dengan membabi buta.


"Chen, hentikan!" tahan Soraya meraih pundak belakang lelaki berkemeja hitam itu.


Chen mencengkeram kera kemeja Ari dan membangunkannya dengan paksa.


"Ambil? Kau bilang ambil? Kau pikir dia barang? Kau pikir dia apa? Sesuatu yang bisa kau buang begitu saja? Kau bahkan tak cukup berharga walaupun hanya untuk mengenalnya saja!" teriak Chen lantang tepat di depan wajah Ari.


"Cukup, Chen. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian," ucap Soraya lembut.


Chen menghempaskan badan Ari, matanya melihat wajah Ari dengan segala amarah yang masih tertahan dalam dirinya.


"Setelah ini, sejengkalpun tak ku izinkan kamu mendekatinya. Jika berani, maka ku pastikan wajah gantengmu itu akan lenyap dari pandangan."


Chen meraih pergelangan tangan Soraya dan menariknya menjauh dari Ari. Ia memasukan badan ramping Soraya kedalam jok depan mobilnya.


Hening, untuk beberapa saat suasana di dalam mobil itu hanya keheningan. Tidak ada yang membuka suara, hanya terlarut oleh pemikirannya masing-masing.


Soraya menundukan kepalanya, satu persatu air matanya jatuh saling menyapa. Hanya terdiam, namun air mata yang berusaha menyampaikan.


Walaupun tanpa rasa cinta, saat hubungan berakir maka tetap akan menyisakan luka.


Suara tangisan mulai terdengar, badan ramping Soraya bergetar dan perlahan isak tangis menjadi kencang.


Chen menarik bahu Soraya, mendekap erat tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Mencoba memberikan ketenangan untuk hatinya yang sedang kacau.


"Lepaskan saja, Soraya. Lepaskan apa yang ingin elu lepaskan dari dalam hati elu. Setelah ini, jangan menangis lagi," ucap Chen menenangkan.


Soraya semakin mengencangkan tangisannya, mencoba meluapkan segala rasa sesak yang rertahan di dalam dada. Entah sejak kapan, hatinya jadi terluka saat melihat Ari terus mengkhianati dirinya.


Dari dulu ia ingin melepaskan, namun hatinya masih terlalu takut. Takut akan kenyataan bahwa ia akan sendiri jika Ari pergi. Takut jika Rezi akan menyadari perasaannya, kalau Ari tidak lagi berada di sisinya.


"Chen, maaf. Maaf jika elu harus melihat keadaan gue yang seperti ini. Maaf, Chen. Maaf jika elu harus melihat gue yang lemah begini," ucap Soraya tergugu, pilu.


"Tak mengapa Aya, menangislah jika elu merasa sedih. Bersandarlah jika elu merasa lemah, ada gue. Ada gue yang bersedia menopang segala kelemahan elu di sini."

__ADS_1


__ADS_2