Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
68


__ADS_3

Shenina menyilangkan kedua tangannya didada, menatap Evgen dengan menaikan sebelah alis matanya.


"Kenapa gue harus percaya sama ucapan elu?"


"Lu gak harus percaya kok, lu cuma harus jalani dan rasakan saja. Biar hati elu sendiri yang akan menilainya, pantaskah cinta gue bertahan atau pergi dari dalam hati elu," jawab Evgen lembut.


Shenina terdiam, ia menggaruk kulit kepalamya yang tak gatal. Ia benar-benar kahabisan kata-kata untuk menolak perasaan Evgen.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita jalani," jawab Shenina mengalah.


Seketika Evgen menatap kearah Shenina, ia masih mencerna perkataan Shenina.


"Shen, elu, elu bilang apa?" tanya Evgen tidak percaya.


"Baiklah, ayo kita jalani," jawab Shenina sekali lagi.


Evgen melepaskan tawanya dan berteriak gembira. Ia memeluk badan mungil Shenina dan mengangkatnya.


"Beri aku waktu sampai lulus nanti, aku pasti akan menyayangimu sepenuh hati," ucap Evgen lembut.


"Baiklah, hanya sampai lulus nanti ya," balas Shenina lembut.


"Setelah itu, jika kamu jatuh cinta padaku. Maka kamu harus terima hadiah dariku," ucap Evgen senang.


"Hadiah apa?" tanya Shenina bingung.


"Rahasia dong, kalau dibilang itu namanya bukan hadiah lagi."


"Tapi elu gak rencanain seuatu yang aneh-aneh kan?"


Evgen tersenyum dan merangkul bahu Shenina.


"Tenang saja, gue ini lelaki yang baik kok. Gue pasti akan memberikan elu sesuatu yang baik juga, tunggu sampai saatnya tiba. Elu akan tahu hadiah itu apa," ucap Evgen lembut.


Shenina menyipitkan matanya, melirik kearah Evgen.


"Baiklah, kalah begitu. Gue akan menunggu hari itu tiba," jawab Shenina.


Evgen meraih kedua pipi Shenina dan merapikan helaian rambut Shenina. Tersenyum dengan lembut.


"Shen, gue akan berusaha sekuat tenaga. Gue akan berusaha agar hati elu kembali terbuka. Tunggu ya, gue pasti gak akan buat elu kecewa."


Evgen menarik kepala Shenina dan mencium dahi Shenina dengan lembut. Shenina memejamkan matanya, merasakan debaran jantungnya yang terasa semakin berdetak kencang.


***


Rezi dan Evgen datang bersamaan, mereka saling beradu pandang dan sama-sama tersenyum gembira.


Mereka masuk secara bersamaan dan menaiki anak tangga dengan tertawa lebar. Perasaan mereka benar-benar senang saat ini.


Rezi merebahkan badannya dan menatap kelangit-langit kamar. Ia kembali teringat dengan ciumannya dengan Neha tadi.


Rezi menyentuh bibirnya dan tersenyum sendiri. Ia masih tidak menyangka bahwa Neha sudi mencium bibirnya.


"Ah ... Neha, aku bisa gila karenamu," lirih Rezi sambil tersenyum sendiri.


Mentari pagi menembus dinding-dinding kaca kamar dua lelaki anak kesayangan Sean.


Evgen mengerjapkan matanya, mencoba untuk kembali dari alam bawah sadarnya.


"Evgen, Rezi! ayo turun sarapan!" teriak Megi dari lantai bawah.


Mendengar teriakan Megi, Evgen dan Rezi bersiap untuk turun kebawah.

__ADS_1


Megi meletakan sepiring lauk dan menata makanan lainnya diatas meja. Ia sudah tak tahan lagi, kapan kedua anaknya itu akan turun.


Evgen menuruni anak tangga dengan bersiul, disusul dengan Rezi yang turun dengan bernyanyi lagu-lagu ceria.


Mereka duduk bersebelahan, sama-sama menumpuhkan dagunya diatas tangan dan tersenyum sambil melamun.


Megi dan Sean saling memandang, apa yang terjadi dengan kedua putranya itu.


"Rezi," panggil Sean lembut.


Rezi hanya tersenyum dan menggenglangkan kepalanya. Ia bahkan tidak mendengar panggilan Sean.


"Evgen," panggil Sean kembali.


Namun sama seperti anak tertuanya, Evgen pun hanya memandang kosong kedepan.


Braaak


Seketika Evgen dan Rezi terkejut. Mereka sama-sama menyenggol gelas yang berada disamping tangannya.


"Kakak, aku terkejut," ucap Megi dengan memegangi dadanya.


"Masih pagi, melamun sambil senyum-senyum sendiri. Kalian kenapa? kerasukan demit pohon mahoni?" tanya Sean sengit.


"Eh ... enggak, Pa," jawab Rezi malu.


"Jadi mikirin apa? sampai senyum-senyum segala?" tanya Sean kembali.


"Aku hanya kepikiran soal virus, Pa," balas Rezi berkelit.


"Pasti virusnya cantik ini, makanya bisa buat senyum-senyum sendiri."


"Mana ada virus yang cantik, Pa."


"Ha ha ha. Papa bisa saja."


"Kamu, Boy? kenapa senyam-senyum sendiri?"


"Aku hanya turut bahagia untuk kak Rezi, Pa."


"Jahat kamu, Dek. Kakak terus yang kena imbasnya," sanggah Rezi.


"Ha ha ha, selamat atas penemuan virus pita ungunya, Kak." Evgen menepuk lembut bahu Rezi.


'Kakak seharusnya juga kasih selamat buat aku dong. Karena Shenina sekarang jadi milik aku,' lirih Evgen dalam hati.


"Eh ... tumben Mama masak enak, ada hal apa ini?" tanya Evgen saat melihat hidangan sarapan yang tidak seperti biasanya.


"Gak ada apa-apa, sudah cepat makan," jawab Sean langsung.


Rezi dan Evgen menyendoki nasi kedalam piring mereka masing-masing. Sementara Sean dan Megi malah asyik bercerita berdua.


Saling berbisik dan tertawa cekikikan bersama. Seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta.


Rezi dan Evgen saling bertukar pandangan, bingung melihat tingkah dua orang dewasa yang ada dihadapannya.


"Mama dan Papa kenapa? kok seperti bahagia sekali?" tanya Evgen penasaran.


"Kamu itu ingin sekali tahu, kenapa?" balas Megi sengit.


"Mama saja gak nanya saat kamu senyam-senyum sendiri seperti orang sakit jiwa," sambung Megi ketus.


"Yaelah, Ma. Hanya sekedar nanya doang. Kalau gak mau bilang juga gak masalah," jawab Evgen kesal.

__ADS_1


"Habiskan saja makananmu itu, habis ini kamu dan Rezi belanja bulanan ya. Ke mall."


"Hem, pantes Mama masak enak, ada maunya sih," jawab Evgen ketus.


"Terus kalau Mama kasih makan enak kamu itu buat apa? kalau gak bisa Mama suruh-suruh buat belanja?"


"Yaelah Ma, suruh ya nyuruh saja. Kenapa harus ceramah segala?"


"Evgen," tekan Sean lembut.


"Iya, iya. Aku tahu," jawab Evgen kesal.


Megi menyilangkan kedua tangannya didada, ia membuang pandangan matanya kesisi kosong. Akhir-akhir ini, emosinya menjadi tidak stabil.


"Mama gak makan?" tanya Rezi lembut.


"Gak, Mama eneg banget lihat ikan," jawab Megi malas.


"Tumben? biasa Mama paling suka makan ikan?"


Megi mengerdikan bahunya, matanya menatap jejeran ikan yang ada dihadapannya.


Seketika perut Megi mulai bergejolak, ingin memuntahakan isi didalam perutnya.


Megi menangkupkan tangannya didepan mulut. Mencoba menahan isi perutnya yang ingin keluar.


Megi langsung berlari kekamar mandi, mengeluarkan sisa isi didalam perutnya.


"Megi," panggil Sean lembut.


"Aku gak apa-apa, Kak," balas Megi dari kamar mandi.


"Eh, Mama sakit, Pa?" tanya Niki.


"Enggak, Sayang. Mama gak sakit," jawab Sean lembut.


"Jadi Mama kenapa? kok muntah?" tanya Niki kembali.


"Mama muntah karena didalam perutnya ada adik," jawab Sean dengan tersenyum lembut.


Puuurft


Seketika Evgen menyemburkan isi didalam mulutnya. Terkejut dengan pengakuan Sean.


"Yaelah Pa, sudah pada tua, kenapa harus nambah adek segala?" tanya Evgen gak senang.


"Memang kenapa kalau Mama mau hamil lagi? seperti kamu saja yang melahirkan dan memberi makan."


"Aku malu, Pa. Aku sudah SMA.  Lagian Papa juga sudah tua, kenapa mau pakai acara nambah anak segala?"


"Yang kamu bilang tua itu siapa? hah?" tanya Sean sengit.


"Ya Papalah, sudah tua juga. Sudah mau punya cucu, kenapa harus punya anak lagi? malu sedikit kek, Pa."


"Cucu dari mana? kamu mau melahirkan cucu buat Papa?"


"Ya jelas enggaklah, aku masih muda dan masih ingin meraih cita-cita."


"Terus, siapa yang mau kasih Papa cucu?"


"Ya kak Rezilah. Kak Rezi kan sudah mau nikah," jawab Evgen langsung.


"Uhuuukkk." Rezi terbatuk saat mendengar ucapan Evgen.

__ADS_1


Ia melihat Evgen yang duduk disebelahnya, bagaimana Evgen bisa tahu kalau dia melamar Neha?


__ADS_2