Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
15


__ADS_3

Evgen membuka pintu rumah Bundanya dan meletakan tasnya dengan sedikit membanting. Berjalan dengan cepat kearah dapur dan mencuci tangannya yang terasa sedikit panas setelah mencuci mangkuk.


"Evgen, kamu sudah pulang?"


"Iya, Bunda."


"Kamu mau makan? Bunda masakin sop iga kesukaan kamu loh."


"Aku mandi dulu ya, Bunda. Selesai mandi baru makan."


Evgen dengan cepat memasuki kamar, membasuh badannya yang penuh dengan keringat.


Tak lama Evgen keluar dari kamar, melihat Mirza dan Mika yang sedang duduk berdua di meja makan.


"Evgen, kamu disini?" Tanya Mika saat melihat Evgen keluar dari kamarnya.


"Iya, De. Aku lagi malas sama Papa."


"Eh, tumben sama Papa, biasanya bertengkar sama Mama?"


"Iya, Papa akhir-akhir ini jadi garang sekali. Seperti bukan Papa saja," jawab Evgen sambil menuangkan segelas air ke dalam gelas.


Mika hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Mungkin Papa kamu sudah kembali garang seperti muda dulu. Kamu saja yang gak tahu bagaimana karakter Papa kamu, Evgen."


Mendengar ucapan Mika, Evgen menarik kursi di sebelah Mika dan duduk dengan cepat.


"De, dulu katanya Pak De sama Papa sahabatan ya?"


"Iya," jawab Mika enteng.


"Dulu Papa masih muda seperti apa, De?" Tanya Evgen penasaran.


"Kenapa kamu jadi penasaran sama Papa kamu?" Tanya Mika penasaran.


"Aku hanya ingin tahu saja, De. Sepertinya Papa dulu banyak di takutin sama orang ya."


"Papa kamu pengusaha termuda dengan kekuatan yang luar biasa. Bahkan Opa kamu saja dilawan sama dia," jawab Mirza lembut.


"Memang Papa sekuat apa sih, Ayah? sampai Opa saja bisa Papa lawan?"


"Papa kamu itu dulu dapat julukan singa yang tidak terkendali, Evgen. Kalau bukan karena Mama kamu, mungkin Papa kamu tetap pada julukan itu sampai sekarang."


"Apa bener Papa bisa bunuh orang dengan tangan kosong, Ayah?" Tanya Evgen yang mulai gemetaran, bagaimanapun saat ia mengingat ancaman Sean, hatinya masih bergetar ketakutan.


"Bisa," jawab Mirza cepat. "Bahkan Ayah sempat beberapa kali bertarung sama Papa kamu. Jika mengingat hal itu, untunglah Ayah gak mati di tangan Papa kamu."


Mirza tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya, mengingat kejadian lama, saat ini bagaikan lelucon yang sangat lucu.


"Apa karena Mama, Ayah dan Papa jadi bertarung."


"Iya, karena Mama kamu dan juga Tante Rena."


"Hah? Tante Rena?" Tanya Evgen bingung.

__ADS_1


"Papa kamu itu orang yang tidak suka di sentuh. Jadi apapun yang menjadi miliknya, dia gak suka jika ada orang lain yang menyentuhnya, Evgen." Jelas Mika lembut.


"Aku gak ngerti, De. Maksudnya gimana sih?"


"Megi, Rena dan Tante Miranda, mereka adalah wanita-wanita dalam lindungan Papa kamu, Evgen. Papa kamu bisa meledak jika menyangkut mereka bertiga," jelas Mika lembut.


"Jika kamu penasaran, apa itu singa tak terkendali. Coba saja sakiti tiga nama itu, kamu akan lihat bagaimana Papa kamu berubah," sambung Mirza lembut.


"Ah ... Enggak deh, Ayah. Lupakan saja," jawab Evgen cepat.


Setelah makan malam, Evgen kembali kerumah besar Sean. Ia memandangi foto-foto Sean saat muda dulu.


Dengan tampilan yang berantakan, rambut panjang dan juga celana jeans yang selalu sobek.


Evgen menganggumi gaya Papanya itu, karena itu ia memanjangkan rambutnya. Ia benar-benar ingin terlihat seperti Papanya muda dulu.


Namun sepertinya ia salah. Penampilan keren Sean bukan hanya karena gaya berpakaiannya. Namun juga dengan kekuatannya, itu yang membuat karisma Sean sangat terlihat, bahkan sampai saat ini.


"Singa tak terkendali," lirih Evgen sambil menyentuh wajah Sean dalam figura berukuran 5 inc di depannya.


Sebuah tangan melingkari perut, Evgen. Memeluk pinggang Evgen dengan erat.


"Mama, aku ini Evgen Aulia, bukan Sean Rayen Putra," ucap Evgen saat Megi memeluknya dengan erat.


"Mama tahu kamu Evgen. Kenapa? apa cuma Bunda kamu yang boleh peluk kamu seperti ini?" Tanya Megi tak senang.


Evgen menghela nafasnya dan membalikan badannya. Melihat Megi yang saat ini hanya setinggi bahunya.


"Mama kenapa? Mama sakit?" Tanya Evgen bingung.


"Mana mungkin bisa aku pilih, Mama dan Bunda sama. Sama-sama orang tua aku."


"Enggak!" Ucap Megi sambil meneteskan air matanya.


"Mama yang melahirkan kamu, Evgen. Bunda kamu hanya pengganti Mama saat asi Mama gak keluar dulu. Mana mungkin Mama sama dengan Bunda kamu!" Ucap Megi kesal.


"Mama kenapa sih? apa yang salah?" Tanya Evgen bingung.


"Salah, salah kalau kamu lebih sayang sama Bunda kamu, ketimbang Mama. Mama ini Mama kamu, Evgen. Mama yang mengandung kamu selama 9 bulan."


"Aku tahu, Mama. Selamanya, Mama tetap Mama aku. Kenyataan itu gak bisa di ubah. Tapi Bunda ya tetap Bunda kan. Bunda selalu bilang, kalau aku ini anak Bunda yang lahir dari rahim Mama."


"Enggak!" Megi menghempaskan vas bunga diatas buffet dengan kuat.


"Mama kamu cuma Mama, Evgen. Kamu gak bisa gantikan Mama dengan wanita lain. Mau itu Mbak Rara ataupun siapapun, enggak boleh!" Ucap Megi dengan menatap Evgen lekat.


Megi berjalan mendekati Evgen, memojokan badan Evgen sampai menempel dengan buffet.


"Mama kamu hanya aku. Hanya Megisia Moran!" Tekan Megi keras.


"Megi, tenanglah." Sean menarik badan Megi yang terus memojokan badan Evgen.


Membalikan badan Megi dan memeluknya dengan erat.


"Evgen, Dek. Kamu naik ke kamar dulu ya. Kakak nanti nyusul kamu keatas."

__ADS_1


"Kak, sumpah. Aku gak buat masalah, lagi. Aku gak tahu kenapa Mama marah," jelas Evgen sedikit takut.


"Kakak tahu, Dek. Makanya kakak bilang kamu naik, dulu. Nanti kakak akan naik nyusul kamu, bicara sama kamu ya!" Perintah Rezi kembali.


"Evgen, naik saja. Nanti Papa juga akan menemui kamu," timpal Sean lembut.


Evgen dengan sedikit berlari menaiki anak tangga. Sean meleraikan pelukannya dan meraih kedua pipi Megi, menghapus buliran air mata Megi yang mengalir deras.


"Ayo, duduk dulu," tarik Sean di tangan Megi.


Rezi membawakan segelas air, meminumkan ke Megi yang masih menangis dengan kencang.


Sean dan Rezi hanya terdiam, memberikan waktu untuk Megi menenangkan hatinya.


"Kenapa kamu bisa seperti itu sama Evgen, Megi? kamu gak bisa membandingkan diri kamu sama Rara," jelas Sean lembut.


"Kenapa gak bisa? hem?" Tanya Megi meradang.


"Apa aku gak cukup baik di bandingkan Mbak Rara, iya?" Tanya Megi kesal.


"Bukan itu maksud aku, Megi. Tapi ...."


"Kak!" Putus Megi kesal. "Aku berhak tahu, kenapa Evgen bisa sedeket itu sama Mbak Rara, tapi gak bisa sedeket itu sama aku?"


"Megi gak ada alasan kenapa seorang anak bisa dekat sama Ibu susunya, hubungan Evgen dan Rara hanya sebatas itu."


"Terus kenapa Evgen gak bisa dekat sama aku? Ibu yang mengandung dia selama 9 bulan?"


"Evgen sama kamu gak pernah jauh, Megi. Evgen dan kamu punya hubungan yang erat," jelas Sean sedikit menekan.


"Hah? benarkah? terus kenapa Evgen gak pernah memperlakukan aku seperti Evgen memperlakukan mbak Rara?"


"Aku yakin Evgen tidak bermaksud untuk membeda-bedakan, Evgen hanya ...."


"Hanya apa?" Putus Megi langsung.


"Evgen hanya memperlakukan Mama seperti apa kata hatinya, Ma," jelas Rezi lembut.


"Maksud kamu?" Tanya Megi melunak.


"Ma, kalau aku bertanya, apakah Mama memperlakukan Rezi dan Evgen itu sama?"


"Tentu saja, kalian anak-anak Mama."


"Tapi dimata aku, Mama memperlakukan kami berbeda."


"Tapi Mama gak pernah memperlakukan kalian berbeda."


"Itu menurut Mama. Tapi tidak seperti itu yang kami lihat, Ma," jelas Rezi lembut.


"Apa yang di bilang Rezi benar, Megi. Seperti itulah juga perasaan Evgen, dia merasa kamu dan Rara di perlakukan sama."


"Tapi Evgen gak bisa seperti itu, Kak. Jelas aku Mama dia."


"Ma, jika aku meminta Mama memilih, antara aku dan Evgen. Siapa yang akan Mama pilih?"

__ADS_1


__ADS_2