Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
41


__ADS_3

Shenina membuka matanya saat merasakan tangan dingin mengusap wajahnya.


Mata Shenina mengerjap beberapa kali, berusaha untuk mengembalikan kesadarannya.


Shenina memegang sudut dahinya dan duduk perlahan.


"Syukurlah, kak Shen sudah sadar," ucap Seta lega.


"Hah ... Payah banget sih elu, elu yang ngajak main di gua hantu, elu juga yang pingsan. Bilangnya, hanya setan buatan, kenapa harus takut," ledek Evgen sedikit kesal.


Evgen meminum botol air mineralnya dan memandang kesal kedepan.


"Sorry, gue kaget banget tadi."


"Untung elu gak mati, kalau elu mati gimana?" Tanya Evgen kesal.


"Mana mungkin gue mati hanya karena terkejut, jantung gue ini masih normal."


"Bagus lah kalau elu gak mati, elu masih harus ganti rugi," ucap Evgen ketus.


"Ganti rugi?" Shenina mengernyitkan dahinya, "Ganti rugi apa? kan hari perjanjian kita sudah selesai,"


"Ini," Evgen menyingkap rambut bagian depannya, memperlihatkan lebam di sudut dahinya.


"Lu pikir ini karena apa? elu yang maksa gue buat masuk,"


"Salah sendiri, kenapa lari gak hati-hati," jawab Shenina tak terima.


"Heh, jelas elu yang ninggalin gue. Okey gak masalah kalau gak ganti rugi, tapi bawa gue ke dokter kulit wajah, gue mau elu biayai perawatan ini,"


"Apa? tingkat lebam seperti itu saja, lihat wajah gue yang elu tumbuk, bisa baik sendiri kan?"


"Oh ya?" Tanya Evgen kesal.


"Kalau bisa baik sendiri kenapa gue harus gantiin elu di kantin? lagian kulit kita itu beda, lihat dari warnanya saja beda, itu artinya perawatannya juga beda. Kulit gue putih, bersih, mulus, kinclong begini. Sedikit saja baret akan mempengaruhi masa depan gue ...."


Shenina langsung membekap mulut Evgen, menghentikan omelan Evgen yang panjang luar biasa.


"Baiklah, kali ini berapa lama lagi?" Tanya Shenina mengalah.


"Satu bulan,"


"Apa?" Ucap Shenina terkejut, "Kenapa lama sekali?"


"Hey Shenina ku yang kecil seperti amoeba. Kemarin itu lu kotori baju seharga delapan ratus ribu. Tapi kali ini elu ngotori wajah gue, perawatannya bisa sampai delapan juta loh," ucap Evgen dengan tersenyum tipis.


Shenina menghela nafasnya dan melirik kearah Evgen. Niat ia hanya mengerjai Evgen, namun lagi-lagi ia terjebak oleh lelaki ini.


"Tenang, hari ini sesuai perjanjian gue akan balikin uang elu. Dan seterusnya, gua akan bayarin gaji elu di part time. Jadi elu gak perlu part time lagi," ucap Evgen lembut.


Sebenarnya Shenina ingin menolak, namun kali ini ia juga tidak bisa menghindar. Jika menolak, makan ia dan Seta harus bagaimana?


Tidak mungkin juga ia bisa part time jika Evgen terus menyita waktunya begini.


Shenina menghela nafasnya dan mengangguk dengan pelan.


Evgen melepaskan senyum kemenangannya. Sampai membuat kedua matanya menyipit karena tersenyum sangat lebar.


Akhirnya, Shenina kembali ketangan ia lagi.

__ADS_1


***


Neha membuka pintu rumahnya dan tersenyum dengan lebar saat melihat lelaki tinggi berdiri didepannya.


Neha membuka lebar pintu rumahnya, mempersilahkan lelaki itu untuk masuk.


Neha menyiapkan secangkir kopi dan beberapa camilan diatas meja.


"Neha, rumah ini masih belum berubah ya," ucap Chen sambil melihat kesekeliling.


Neha memainkan jari tangannya dengan cepat, lalu ia pergi kekebun bunga miliknya.


Chen hanya mengikuti langkah kaki Neha dan berjalan mengikuti Neha.


"Neha, baru kali ini kamu mau minta bantuan aku. Biasanya asal lihat aku kamu selalu kabur," ucap Chen lembut.


Neha tak memperdulikan ucapan Chen, ia hanya fokus merawat bunga-bunga dikebunnya.


"Hah, dari pada bicara sama kamu, lebih bagus aku bicara sama bunga saja," Chen berjalan menjauh dari Neha.


Neha hanya tersenyum melihat Chen yang kembali masuk kedalam rumahnya.


Ia dan Chen pernah dekat dulu, mereka pernah berada didalam satu sekolah yang sama. Kemudian Chen pindah ke kota lain dan baru kembali dua tahun ini.


Neha menghela nafasnya, matanya teralih pada kolam teratai milik Rezi. Sudah ada Rezi yang duduk santai diatas jembatan kayu itu.


Neha memandangi Rezi dari kejauhan, sebenarnya ia tidak tega melakukan ini. Namun mau bagaimana, tidak ada cara lain yang bisa ia pilih agar Rezi ingin pergi menjauh darinya.


Rezi memalingkan pandangannya, seketika Neha langsung menunduk dan sibuk pada pekerjaannya.


Rezi tersenyum dan membereskan ranselnya. Ia bangkit dan berjalan mendekati Neha.


Tidak peduli pada kehadiran Rezi, Neha terus sibuk pada bunga-bunganya.


"Cuaca hari ini bagus ya, mau duduk di kolam gak?" Tanya Rezi kembali.


Neha hanya memalingkan pandangannya sekilas, lalu ia kembali pada kesibukannya.


Chen mengernyitkan dahinya saat melihat punggung belakang seorang lelaki dikebun Neha.


Chen tersenyum tipis dan berjalan keluar. Chen langsung memeluk pinggang Neha dari belakang.


"Sayang, sarapannya sudah siap," ucap Chen lembut.


"Sayang," lirih Rezi terkejut.


Chen mengalihkan matanya saat mendengar lirihan Rezi. Matanya langsung membulat saat melihat Rezi didepannya.


"Pak Rezi," lirih Chen kaget.


"Kamu Chen kan?" Tanya Rezi ketus.


Chen langsung melepaskan pelukannya saat melihat lelaki yang ingin dijauhi Neha adalah Rezi.


'Mati aku, Neha apa kamu ingin menghancurkan nilai kampusku," lirih Chen dalam hati.


"Kamu kenapa bisa ada disini?" Tanya Rezi ketus.


"Oh, itu Pak, Neha ini ...." Chen melirik kearah Neha, ia takut untuk mengakuinya pada Rezi.

__ADS_1


Neha memainkan jarinya didepan Rezi, Rezi hanya mengernyitkan dahinya. Tak mengerti apa maksud dari gerakan tangan Neha.


Neha menghela nafasnya dan memeluk badan Chen. Seperti terhempas dari semua harapan.


Nafas Rezi berhenti seketika, dadanya terasa sangat sesak. Melihat Neha memeluk lelaki lain tepat didepan matanya, membuat pernafasan Rezi tersengal.


"Apa maksudnya ini, Chen?" Tanya Rezi pahit.


"Pak, maaf. Tapi Neha pacar aku," ucap Chen takut.


Rezi memundurkan langkahnya kebelakang. Ia menggelengkan kepalanya, sakit sekali rasanya. Jadi ini kenapa Neha menolaknya selama ini.


Ada hati yang ia jaga, ada sesuatu yang ia tunggu. Dan semua itu bukanlah Rezi.


Rezi melepaskan senyum getirnya dan memandang Chen dengan tajam. Ia hampir kehilangan kekuatan dari tubuhnya saat mendengar ucapan itu dari Chen.


Rezi berbalik dan meninggalkan Neha disana. Tanpa bersuara dan mengucapkan apapun lagi, hanya pandangan mata Rezi yang terlihat begitu terluka.


Neha melepaskan pelukannya saat Rezi tidak lagi berada disana. Neha menundukan kepalanya, menahan sesak didadanya yang kian terasa perih saat harus melihat Rezi tersakiti.


"Sakit kan Neha?" Tanya Chen lembut.


"Gimana, sudah cukup menyakitkan belum?" Tanya Chen kembali.


Neha menghapus buliran air matanya yang sempat jatuh. Ia langsung masuk kedalam rumahnya dan berkutat, menyibukan diri didapur.


Matanya terus berair, melihat ekspresi wajah Rezi tadi. Neha tidak sanggup menahan air matanya.


"Kamu cinta sama dia Neha, kenapa kamu gak coba untuk membuka hati?" Tanya Chen lembut.


Neha hanya diam, ia tidak peduli pada ucapan Chen.


"Neha, Pak Rezi itu asisten dosen di kampus aku. Dia orang yang sangat lembut dan baik, dia dikenal sebagai mahasiswa terbaik dikampus, apa yang kurang dari dia? apa yang tidak bisa kamu terima darinya?" Tanya Chen sedikit kesal.


Bagaimana juga, ia telah mempertaruhkan kampusnya untuk Neha. Tetapi ia sama sekali tidak mendapat alasan, kenapa Neha menolak Rezi. Jelas sekali bahwa Neha juga terluka saat ia melukai Rezi.


"Neha aku bicara padamu, apa yang kurang dari pak Rezi? apa yang membuatmu begitu tega menyakiti dia?" Tanya Chen sedikit keras.


Neha masih tidak peduli, ia terus sibuk mencuci beberapa gelas yang sudah bolak balik ia bilas.


"Neha, aku bertanya padamu. Berikan aku alasan, kenapa kamu menolak orang sebaik dia?" Kembali Chen bertanya dengan sedikit berteriak.


Neha membanting gelas yang ada ditangannya dan menatap Chen dengan bola mata yang berlapiskan cairan bening diatasnya.


Neha menggerakan jarinya, berucap dengan sangat cepat.


Chen menundukan kepalanya, saat ia mengerti apa yang diucapkan oleh Neha.


"Jadi karena dia terlalu sempurna, karena pak Rezi adalah lelaki yang sempurna. Itu yang membuatmu bertingkah seperti ini?" Tanya Chen lembut.


Neha memejamkan matanya dan berjalan keruangan depan rumahnya. Menyingkap kain gorden jendela, dan melihat kekebun bunga.


"Itu semua tidak bisa menjadi alasan, Neha. Tak peduli seperti apa dirimu, tidak peduli seperti apa rupa dan fisikmu. Itu tidak bisa menjadi alasan kamu menyakitinya, jika kamu tidak mau katakan, jika kamu tidak cinta ucapkan dengan jelas. Jangan seperti ini, kamu menyakiti dia dengan cara menusuk dilukanya."


Chen menghela nafasnya dan meraih kedua ujung bahu Neha.


"Neha, jangan pernah tutup hatimu. Sedikit saja, buka matamu untuk melihat dunia yang lebih indah. Mungkin benar, kamu tidak bicara. Tapi tidak benar, jika kamu tidak bisa melihat dan juga merasakan. Satu hal yang harus kamu tahu, Neha. Tak peduli seburuk apa hidupmu, kamu tetap punya hak untuk bahagia," ucap Chen lembut.


Neha memejamkan matanya, membiarkan tetesan air dari kedua kelopak matanya mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Ia juga sakit hati, saat melihat Rezi terluka seperti tadi.


__ADS_2