Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
111


__ADS_3

Rezi melepaskan senyumnya, ia mengambil kedua jemari Neha dan berlutut di hadapan gadis itu.


"Neha, terima kasih. Karenamu aku mengerti, bahwa hidup ini bukan hanya tentang keinginan kita saja. Namun juga tentang kewajiban kita."


Rezi mencium punggung tangan Neha, menatap wajah cantik gadis yang selalu memenuhi hatinya selama ini.


"Mulai saat ini, kamu tak perlu lagi khawatir. Karena aku yang akan menjadi suara untukmu. Kamu tidak perlu sembunyi, karena selama ada aku, maka aku yang akan menutupi kekuranganmu."


Neha tersenyum dengan lebar, membalas genggaman tangan Rezi dengan erat.


Mungkin, bagi sebagian orang hidup ini adalah tentang ambisi dan mimpi. Namun, ada sebagian orang lagi yang menganggap hidup adalah tentang rasa ikhlas dan bersabar.


Apapun itu, hal yang menjadikan hidup kita berarti bukanlah pencapaian yang luar biasa. Tetapi bagaimana kita bisa menikmati hidup yang biasa-biasa saja, menjadi lebih indah.


***


Soraya membuka pintu belakang rumah besar milik Sean. Hanya ada Sean yang sedang duduk bersama laptopnya di ruang makan.


"Om," panggil Soraya berjalam mendekat.


Sean memalingkan wajahnya, melihat gadis ramping itu berjalan ke arahnya.


"Ada apa, Aya?" tanya Sean yang masih terfokus oleh layar datarnya.


"Tante cantik mana?"


"Ada di kamar. Coba kamu ke atas dan lihat saja sendiri," ucap Sean datar.


"Ehm." Soraya menganggukan kepalanya, ia menyodorkan sebuah kotak ke hadapan Sean.


Sean menaiki sebelah alis matanya, melihat kotak persegi panjang berwarna merah itu.


"Apa ini?" tanya Sean tanpa menyentuh kotak itu.


"Ini hadiah yang Tante Megi berikan padaku saat lamaran malam itu. Karena lamarannya gak jadi, hadiahnya juga aku balikin saja," ucap Soraya lembut.


Sean menghentikan gerakan jemari tangannya. Menatap gadis yang berdiri di sampingnya itu.


"Kamu balikin saja sama Tante Megi langsung. Dia paling lagi nonton di kamar."


Soraya memainkan bibir tipisnya, menggelengkan kepalanya perlahan.


"Gak usah deh, Om. Aku titip sama Om saja gak apa-apa kan? Lagian gak mau ganggu Tante juga," tolak Soraya lembut.


"Soraya." Sean menarik kursi di sebelahnya, menepuk dengan lembut. Memberikan perintah agar keponakannya itu duduk di sebelahnya.


Soraya berjalan perlahan, mengikuti perintah lelaki dewasa itu.


"Kamu, marah sama Tante?"


"Enggak lah Om. Mana mungkin," jawab Soraya lembut.

__ADS_1


"Jangan bohong sama, Om. Apa kamu pikir Om ini Rezi yang mudah kamu bohongi?"


"Aku beneran enggak marah kok, Om. Lagian aku dan Chen juga baru mulai pacaran. Mungkin dengan begini kami akan belajar untuk saling menguatkan satu sama lain."


Sean menghela napasnya, menutup layar datar yang ada di hadapannya.


"Aya, kalau kamu memang mau acara ini tetap berlangsung, katakan saja pada Papa kamu. Om akan bujuk Tante kamu," ucap Sean meyakini.


Soraya tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya.


"Om seperti gak kenal Papa saja? Jika Tante bilang enggak, maka Papa akan bilang enggak. Papa sangat sayang sama Tante Cantik. Jadi gak mungkin kali ini Papa akan menolak keinginan Tante Megi. Apalagi, hal ini bisa saja menyinggung dan melukai hati Tante Megi."


Sean terdiam, terkadang apa yang di katakan Soraya ada benarnya. Mika sangat melindungi Megi, apalagi saat ini Megi sedang hamil. Pasti Mika akan mengikuti keinginan Megi di bandingkan perasaan putrinya sendiri.


Sean menyodorkan kembali kotak yang dibawa oleh Soraya. Ia tersenyum lembut dan mengelus pucuk kepala gadis itu.


"Pulanglah, bawa hadiah ini bersamamu. Om janji pasti akan mendukung kamu. Jangan khawatir, acara lamaran kamu pasti akan berjalan sempurna."


Soraya kembali mendorong kotak hadiah itu dan menggelengkan kepalanya.


"Hadiah ini tetap aku kembalikan, Om. Percuma saja, mau Om atau aku yang bicara sama Papa, hasilnya akan sama saja. Dari pada aku menyimpan barang ini dan hanya akan menimbulkan luka setiap kali melihatnya. Lebih baik aku kembalikan saja."


Soraya bangkit dari kursinya dan meninggalkan hadiah itu bersama Sean.


Sean memandang hadiah yang di berikan oleh Megi sebagai kenang-kenangan untuk Soraya. Ia masih ingat bagaimana raut wajah Megi yang begitu gembira saat memilihkan hadiah itu. Tapi siapa.sangka jika akhirnya malah seperti ini?


Sean kembali menghela napasnya dan berjalan menaiki anak tangga.


Sean meletakan kotak persegi panjang itu di sebelah Megi duduk. Tangan mungil wanita dewasa itu mengambil kotak yang di berikan Sean. Membukanya perlahan, melihat isi yang ada di dalamnya.


"Ini?"


"Soraya menitipkannya padaku barusan," ucap Sean lembut.


"Oh." Megi mengangguk dan menutup kembali kotak persegi panjang itu.


"Meg, apa kamu tidak merasa bersalah pada Soraya? Apa salah dia? Kenapa kamu tega lihat dia menderita seperti ini?" tanya Sean lembut.


"Soraya gak salah, Kak. Hanya saja aku gak suka sama calon mertuanya," jawab Megi enteng.


"Lantas apa hakmu melarang dia menikahi lelaki itu? Yang menjadi menantu Hana dia, bukan kamu," balas Sean dingin.


"Aku punya hak, karena aku Tantenya."


"Lalu apakah dia tidak punya hak atas hidupnya sendiri?"


"Kakak kenapa sih? Setuju sekali dia menikahi anak kak Hana?" tanya Megi mulai geram.


"Apa yang salah dari lelaki itu Megi? Apakah dia yang mau? Apakah dia yang minta lahir dan besar dari keluarga yang mana? Kamu bukan lagi anak kecil, kamu sudah dewasa dan menjadi Mama, bagaimana jika anak kamu yang mengalami penolakan itu hanya karena masa lalu kamu yang tidak baik? Apa kamu akan terima?"


Sejenak Megi terdiam, ia kembali menatap kotak persegi panjang yang dikembalikan oleh Soraya itu.

__ADS_1


"Megi, kita gak tahu bagaimana Hana menjalani hidupnya sekarang. Kita gak bisa menilai dia hanya karena masalalunya. Pikirkan Megi, Soraya berhak bahagia bersama pilihannya. Terlepas bagaimana masalalu Hana, itu sama sekali gak ada hubungannya dengan putra yang ia besarkan," jelas Sean kembali.


"Tapi, Kak. Bagaimana mungkin aku bisa terima? Dia itu bekas pacar Kakak--"


"Apa masalahnya dengan bekas pacar aku atau bukan? Ayolah Megi, kita tidak lagi hidup di masalalu. Aku bukan lagi lelaki remaja yang masih tergoda dengan cinta masalalu. Bertahun lamanya kamu mengenal aku? Hanya sebatas inikah kepercayaanmu terhadapku?" tanya Sean sengit.


Sean mengacak rambutnya dan duduk di sebalah Megi. Menghela napasnya dengan sedikit berat.


"Dengar ya, Megi. Terserah kamu mau anggap apa? Tapi aku, Hana dan Mika. Itu pernah menjadi teman sekolah yang sangat dekat. Terlepas dari kesalahannya padaku, Hana adalah gadis baik dan lembut sekali. Aku bukan ingin mengingat dia, namun Hana, tidak seburuk apa yang kamu pikirkan selama ini."


Sean berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan Megi sendiri dengan segala keraguannya.


Bukan ingin membuat keadaan ini semakin runyam. Namun percuma jika hanya menjelaskan, Megi hanya akan bertindak sesuai keinginan hatinya.


Megi kembali membuka kotak persegi panjang itu. Melihat hiasan kepala yang ia berikan kepada Soraya, dengan harapan keponakannya itu bisa mendapatkan kebahagiaan baru dalam hidupnya.


Megi turun dari kamarnya, berlari memasuki rumah milik Kakaknya. Melihat Soraya yang sedang termenung sendiri di sofa ruang tamu.


Perlahan Megi mendekat, duduk di sebelah gadis muda itu.


"Aya," panggil Megi lembut.


"Hem."


"Kenapa kamu balikin ini sama Tante? Apa kamu gak suka hadiahnya? Mau Tante belikan yang lebih bagus?"


Soraya menggelengkan kepalanya, matanya masih menatap kosong kedepan.


"Gak perlu Tante. Mau Tante belikan yang paling mahal juga, Aya gak mau nerimanya."


"Kenapa? Kamu marah ya sama Tante?"


"Enggak, Tante."


"Terus?"


"Dari pada harus melihat benda itu dan menjadi luka yang semakin dalam di hatiku. Lebih baik aku singkirkan dari pandangan saja. Tak perlu aku jelaskan lagi kan, Tante. Karena aku tahu, yang paling mengerti bagaimana rasanya sebuah luka, itu adalah Tante."


Megi menundukan pandangan matanya, kenapa harus serumit ini jalan kisah cinta keponakannya itu.


Atau, ini bukanlah hal yang rumit sebenarnya. Namun ia sendiri yang membuat kisah ini menjadi berbelit.


"Soraya, maaf. Maaf karena Tante tidak memikirkan perasaanmu."


"Kenapa harus minta maaf Tante? Hubungan aku dan Chen masih awal. Jadi walaupun sakit tapi setidaknya tidak terlalu dalam."


"Tapi, Aya--"


"Sudahlah Tante, aku bukan lagi gadis kecil. Aku bisa menanggung resiko ini sendiri. Tante gak perlu khawatir, aku baik-baik saja."


Soraya bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki kamarnya. Sementara Megi hanya bisa memandangi punggung badan wanita muda itu.

__ADS_1


Walaupun berusaha untuk dipungkiri. Namun tidak ada kata baik-baik saja, untuk sebuah hati yang patah karena menelan kekecewaan dalam sebuah hubungan yang terluka.


__ADS_2